
Aku buru-buru berlari menuju arah pintu setelah mendengar teriakan dan gedoran pintu yang keras, sampai aku lupa memakai alas kaki.
Ceklek
Aku terkesiap melihat tubuh yang tinggi dan besar itu bisa mendarat di di bahu sekertaris Ken. Untung saja badan sekertaris Ken tidak jauh beda dengan Tuan Nathan.
"Pak Ken, ada apa? Kenapa ini dengan Tuan Nathan?"
"Nyonya, tolong bantuin saya bawa masuk Tuan Nathan"
"Ah, iya, ya." Ucapku gugup lalu mengambil satu tangan Tuan Nathan untuk ku lingkarkan di leher belakangku.
"Eh, Pak Ken. Bawa saja ke kamar Tuan sendiri" Ucapku menahan gerakan sekertaris Ken yang hendak membawa masuk ke kamarku.
"Terserah Nyonya saja" Ucap sekertaris Ken menuruti ku. Mungkin juga sudah merasa keberatan memapah Tuan Nathan.
Kemudian aku dan sekertaris Ken membawa Tuan Nathan masuk ke kamarnya. Sekertaris Ken membuka pintu kamar dengan tangan satunya, lalu kami letakkan tubuh tuan Nathan di atas ranjang yang berukuran besar.
"Ken, mungkinkah dia kembali?" Tanya Tuan Nathan yang saat ini sedang mabuk dan sudah setengah tak sadar.
Yeah Tuan Nathan pulang dalam keadaan mabuk berat. Entah apa yang membuatnya begini? Tuan Nathan yang biasa terlihat tegas sekarang terlihat tak berdaya dan menyedihkan.
"Pak Ken. Apakah Tuan selalu seperti ini?" Tanyaku pada sekertaris Ken setelah membaringkan tubuh suamiku di ranjangnya.
"Tidak, Nyonya"
"Lantas, apa yang membuatnya seperti ini?" Aku penasaran, kenapa jadi mabuk kalau tidak pernah mabuk.
"Nesa, apa benar kau kembali?" ucap Tuan Nathan memegang tanganku yang masih berdiri di sisi ranjang.
"Siapa Nesa? Pak Ken" Tanyaku yang tidak pernah mendengar nama itu di sebut.
"Maaf Nyonya, saya harus pulang dan istirahat. Saya rasa, Nyonya bisa mengatasi Tuan seperti ini" Ucap sekertaris Ken pamit untuk pulang sekaligus maksudnya adalah mengalihkan pertanyaanku.
"Pak Ken, tapi saya" aku ragu dan masih canggung kalau harus membuka pakaiannya.
"Permisi, Nyonya" Pamit sekertaris Ken lalu keluar kamar sembari menutup pintu.
"Hei, penguasa gila. Kenapa kau jadi begini?" ucapku seraya membuka sepatu dan kaos kakinya.
Setelah meletakkan sepatu pada tempatnya aku menyempatkan untuk melihat ke seluruh sudut kamar ini. Saat aku melihat dinding, aku di kejutkan dengan pemandangan foto yang berada dalam frame yang besar dan menempel di dinding atas ranjang.
Foto seorang wanita yang amatlah cantik dengan body yang padat dan berisi. Rambut yang lurus tergerai dengan senyum yang natural.
"Mungkinkah dia yang namanya Nesa?" tanyaku lirih. "Jika memang dia, sungguh sangat terlihat serasi bersanding dengan Tuan Nathan."
Kemudian aku teringat hendak melepas baju yang masih menempel di tubuhnya. Meski ragu tapi aku harus lakukan. Dengan gugup aku mulai membuka kancing kemeja satu persatu.
Bidang dada yang besar dan berotot kini nampak jelas terlihat di mataku. Tanpa sadar aku sempat menelan Saliva secara kasar. Dada yang putih dan halus tanpa ada bulu-bulu kecil yang biasanya tumbuh menempel.
Tuan Nathan sempat mencengkeram tanganku saat aku mulai membuka kancingnya. Matanya yang tidak bisa terbuka lebar coba dia tajamkan untuk melihat sebentar lalu terpejam lagi. Kembali ku dengar lirih dia menyebut nama Nesa lagi.
Mungkinkah wanita yang namanya Nesa adalah wanita yang selama ini dia cintai?
Setelah melepas bajunya, aku melihat celana masih menempel juga di kakinya. Aku bingung antara melepaskan atau tidak. Jika aku lepaskan itu berarti aku akan melihat juniornya.
Aaaa tidak, tidak. Sebaiknya ku biarkan saja.
Andai Tuan Nathan sadar, aku telah melepas bajunya dia pasti akan marah dan mengeluarkan taringnya. Apalagi aku sampai melepaskan celananya, bisa-bisa dia menuduhku akan memperkosanya.
Tuan Nathan memelukku sangat erat, hingga aku sulit bernapas. Terdengar jelas detak jantungnya yang belum normal. Aku merasa sesak dan mencoba melepaskan diri tapi justru Tuan Nathan lebih mengeratkan pelukannya.
"Jangan pergi, tetaplah di sini temani aku" Pinta Tuan Nathan yang masih lemah.
"Baiklah, tapi aku kesulitan bernapas. Ini terlalu erat"
Kemudian Tuan Nathan sedikit melonggarkan pelukannya membuatku sedikit lega.
"Aku mohon jangan pergi lagi" Ucapnya sedih.
Tuan Nathan sampai memohon, belum pernah aku melihatnya memohon pada seseorang. Itu artinya dia benar-benar membutuhkan.
"Peluklah aku, biarkan aku tidur tenang sejenak" Ucap Tuan Nathan kembali.
Bagaimana ini, apa aku harus memeluknya?
Mungkin aku harus memeluknya agar dia cepat tertidur dan aku bisa pergi dari kamar ini. Aku mulai menaikkan kakiku di atas ranjang dengan gugup dan perlahan kemudian tanganku ku letakkan di atas bidang dadanya.
Kenapa Tuan Nathan malah merubah posisi? Yang tadinya terlentang sekarang jadi miring menghadap ku.
Eh, eh. Mau apa dia? Kenapa kepalanya di sumputkan ke leherku?
"Maafkan aku, karena telah mengkhianati mu. Aku telah melanggar sumpah setiaku" Ucapnya lagi tanpa sadar.
Pasti Tuan Nathan masih menganggap aku adalah dia, Nesa mungkin? Banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul di otakku tentang siapa Nesa. Kenapa dia bilang berkhianat? Mungkinkah Nesa adalah istrinya?
Tidak, tidak mungkin. Aku ingat jelas waktu itu di bilang masih lajang.
Yang pasti sepertinya Nesa adalah orang yang penting baginya. Lalu kemana Nesa sekarang? Kenapa dia meninggalkan Tuan Nathan?
Pertanyaan yang muncul memenuhi otakku membuatku sedikit berpikir keras sedangkan Tuan Nathan sepertinya sudah tertidur. Jantung yang sudah berdetak normal dan nafas yang teratur sudah terdengar.
Dia benar-benar terlihat tidur dengan tenang, seperti beban pikirannya yang berat sudah terlepas. Ternyata dia juga bisa setenang ini.
Aku merasa lega karena dia sudah tertidur. Aku mencoba mengangkat tangannya yang kekar dia atas tubuhku. Masih terasa berat, dan dia juga masih merasakan pergerakan tanganku yang hendak memindahkan tangannya.
Pelukan yang tadinya sudah longgar sekarang mengerat kembali.
Bagaimana ini? haruskah aku juga tidur di sini?
Aku tidak bisa membayangkan esok hari jika Tuan Nathan tau aku tidur dengannya. Tapi dia adalah suamiku dan aku sudah jadi istrinya, tidak ada larangan untuk kami tidur bersama.
Mataku pun juga sudah terasa berat kembali, dan aku rasa untuk pindah dari sini akan sulit. Karena tangan ini benar-benar menempel erat.
Bahkan kakinya sekarang mengapit kakiku, dan itu membuatku sulit bergerak.
Akankah suatu saat Nesa akan kembali? Jika dia kembali aku pasti akan di ceraikan lagi dan jadilah aku menjanda untuk kali kedua. Sebenarnya meskipun tidak ada cinta antara aku dan Tuan Nathan, aku ingin tetap mempertahankan rumah tanggaku. Jangan sampai hancur kembali karena orang ketiga.
Mungkinkah aku harus membuatnya jatuh cinta padaku? Dan aku juga harus menumbuhkan rasa cinta padanya? Apakah aku bisa? Sedangkan nama Nesa sepertinya sudah mendarah daging.
.
.
Bersambung☺️