Second Marriage

Second Marriage
Bab 66 Pura-pura tidur



Banyak pikiran negatif saat aku harus memakai pakaian yang sudah sengaja di persiapkan untukku. Bisakah itu terjadi setelah kami saling punya perasaan yang sama, saling membutuhkan dan saling mencintai. Aku pasti akan dengan senang hati melakukannya.


Mau tidak mau aku harus memakai pakaian itu dan cepat keluar dari kamar mandi sebelum dia datang menggedor pintu bahkan bisa jadi dia akan mendobraknya jika aku tetap di sini terus. Karena aku juga sudah terlalu lama di dalam kamar mandi.


Ku buka pintu perlahan, mengeluarkan kepalaku terlebih dahulu untuk melihat situasinya. Apakah dia ada di dalam kamar atau tidak?


Aku lega mendapati dia sudah terpejam di atas ranjangnya, lalu aku keluar dan berjalan perlahan mencoba menutupi bagian yang seharusnya tak terekspos. Meski sudah di tutupi dengan kain tetap saja setiap lekuk tubuhku dapat terlihat karena kainnya memang sengaja di buat seperti itu.


Berjalan sembari menunduk menuju sebuah sofa panjang yang biasa aku gunakan untuk tidur. Sesampainya di sana aku duduk dan bernafas lega. Jika dia sudah tidur aku aman, karena dia tidak akan berbuat hal itu padaku malam ini.


"Sudah selesai?" Tanyanya masih dengan mata terpejam. Aku kaget mendengar suaranya, aku pikir dia sudah tidur ternyata cuma pura-pura saja.


"Iya" Jawabku singkat.


"Kemarilah..." Ucapnya lalu bangun menyenderkan tubuhnya di head board.


Bagaimana ini? Wahai otak, ayolah berpikir jernih.


"Apa perlu saya datang dan mengangkat mu lagi?" Tanyanya karena melihatku hanya diam. Aku memang masih ragu untuk mendekatinya. Belum sempat otakku bekerja dengan baik mencari cara agar jangan sampai dia meminta haknya malam ini , aku harus segera menghampirinya.


Matanya melihatku tak berkedip saat aku mulai berjalan ke arahnya, dia juga sempat menelan ludahnya dengan susah payah. Ada gairah di netra indahnya yang membuatku gugup dan takut. Aku yakin pasti karena pakaian seksi ini yang membuatnya seperti itu.


Dengan perasaan deg-degan aku berdiri di sisi ranjangnya.


"I-iya, Tuan ada apa?" Aku berusaha santai namun tetap saja tidak merasa nyaman karena pakaian ini.


"Tuan..."


Yah, dia bengong. Sepertinya terpesona melihatku dengan pakaian ini.


"ehem, Naiklah! Tidur di sini jangan di sana lagi!" Dia juga terlihat gugup saat aku sudah dekat dengannya.


"Maaf Tuan, sebelum aku naik dan tidur bersama anda, bolehkah saya minta sesuatu?"


"Apa itu?" Dia mengerutkan keningnya.


Walau sedikit ragu aku harus mengatakannya agar hal buruk yang aku pikirkan tidak terjadi.


"Tuan tidak boleh berbuat kasar lagi pada saya." Ucapku cepat.


"Ada lagi?"


Aku menganggukkan kepala.


"Katakan!"


"Jika nantinya Tuan berniat mencampakkan dan membuang saya. Aku mohon jangan melakukan hal layaknya suami istri sungguhan."


Dia tergelak mendengar permintaan keduaku. Entah tawa apa yang dia tunjukkan? Apa dia pikir yang kukatakan hanyalah lelucon?


"Naiklah lebih dulu. Bukankah kita pernah tidur bersama sebelum ini?"


Dengan terpaksa aku naik ke atas ranjangnya, lalu dia menyuruhku berbaring dan aku pun mengikuti perintahnya sembari berdoa dalam hati agar dia tidak melakukan hal yang lebih.


Ketika aku sudah berada di dekatnya tercium bau segar dari tubuhnya, sepertinya dia sudah mandi karena dia juga sudah berganti kaos sekarang.


"Tidurlah, kau pasti lelah. Jangan pikir macam-macam" Ucapnya lembut setelah aku berbaring.


"Tu_Tuan, tidak akan lakukan itu padaku kan?"


"Kalau aku mau, emang kenapa? Salah jika aku minta hal itu pada istri sendiri?"


"Ta_tapi"


"Sudah, kau bisa tidur dengan memunggungi ku, jika kau merasa nyaman" Ucapnya sembari membaringkan tubuhnya di sampingku.


Setelah dia berbaring aku pun mengubah arah tidurku agar tidak menghadapnya. Dan saat aku sudah membalikkan badan dan merasa nyaman tiba-tiba tangan kekarnya memelukku dari belakang sontak aku langsung menegang dan gelisah.


Tangannya menyentuh tepat di perutku bahkan tubuhnya pun juga sudah menyentuh punggungku.


Akankah dia benar mau meminta haknya?


"Tenanglah..." Bisik-nya di telingaku membuat bulu kuduk langsung berdiri.


"Tidurlah kau pasti lelah, aku juga lelah. Lain kali jangan lagi kau menghilang dan membangkang! Menurut Lah, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Jangan buat aku khawatir dan panik lagi!" Ucapan panjangnya kali ini membuat hatiku sedikit tenang. Tapi tidak membuatku merasakan kantuk justru aku merasakan dada ini berdesir karena pelukan hangatnya.


Bagaimana aku bisa tidur jika seperti ini?


Dia seperti sedang menggodaku


"Tuan, apakah anda benar-benar khawatir dengan saya?" Aku coba mengalihkan kegiatannya yang membuatku merasa geli.


"Hem"


"Apakah Anda juga takut kehilangan saya?"


"Hem"


Kenapa jawabannya cuma hem terus? Sebenarnya dia dengar atau tidak sih?


Aku tidak percaya dia menjawab hem yang artinya iya. Harus ku buktikan sekali lagi agar aku tidak salah dengar.


"Benarkah Tuan?"


"Apa? Berisik sekali. Aku menyuruhmu tidur bukan untuk terus bicara"


Hah, dia malah bilang 'apa'. Tapi aku dengar dengan jelas dia mengatakan 'hem' itu. Kenapa tidak mau memperjelas lagi sih? Dan lagi bagaimana aku bisa tidur kalau dia terus mencoba memunculkan gairah. Meski hanya wajahnya yang terasa terus bergerak menciumi rambut kepalaku tapi aku wanita normal yang sudah pernah merasakan sentuhan yang lebih dari itu dan itu bisa saja membuat nafsu dalam diriku timbul karena sudah lama tidak mendapatkan tindakan dan perlakuan seperti itu.


Aku juga baru menyadari kalau dia sudah mengubah kata saya menjadi aku yang bisa membuat arti lebih akrab. Kemudian aku diam dan pura-pura tidur


"Maaf" Kata itu dia ucapkan lirih, namun telinga tajam ku masih mampu mendengar dengan baik.


Benarkah dia mengucapkan kata itu?


Sulit dipercaya dia mengucapkan kata itu padaku.


Ada rasa bahagia langsung menyeruak ke dalam hatiku mendengar kata itu. Kata yang belum pernah aku dengar dari mulutnya dia ucapkan padaku. Mungkinkah dia sudah sadar telah berbuat salah padaku?


"Apa kau sudah tidur? Harum rambutmu membuatku menginginkan mu malam ini" Dia masih terus menggesek-gesekkan hidungnya di rambut.


"Tu_Tuan, tolong hentikan" Aku sudah merasa gelisah hawa panas sedikit mulai muncul.


Lama-kelamaan dia mulai menciumi bahuku yang terbuka. Tangannya pun tak tinggal diam, sudah mulai mengelus perut ku yang rata. Perlahan mulai naik dan terus naik menuju aset kembar ku, namun sebelum sampai ke area itu aku sudah mencekal tangannya lebih dulu.


"Tu_Tuan, sa_saya belum siap"


"Aku tidak butuh kesiapan mu, aku laki-laki normal dan kau istriku. Jangan pernah menolak ku!" Suaranya sudah terdengar berat karena gairah yang sudah benar-benar menyelimuti seluruh tubuhnya.


"Tap_tapi aku..."


Kemudian dengan lembut dia membalikkan badanku agar menghadapnya pas.


"Diamlah, jangan takut! lakukan tugasmu dengan baik" Kedua tangannya menangkup wajahku.


Mata kami saling beradu pandang, tapi aku tidak mampu menatapnya terlalu lama. Aku takut akan jatuh cinta padanya setelah ini, lalu ku pejamkan mataku. Sesaat kemudian aku merasakan sentuhan dari bibirnya mengecup bibirku, dia mencoba membuka mulutku dengan lidahnya.


Jantungku sudah tidak beraturan lagi dan dadaku juga sudah naik turun merasakan setiap sentuhan lembut yang di berikan. Aku takut jika sampai aku buka mulut maka aku akan mengeluarkan ******* yang tidak bisa di kontrol lagi.


Dengan menggigit kecil bibir bawahku yang akhirnya membuatku buka mulut dan lidahnya langsung menjelajahi rongga mulutku. Aku pun sudah tidak bisa diam saat aku mulai merasakan gairah muncul begitu saja dan tanpa di sadari aku pun membalas ciumannya yang semakin membuat hawa panas tercipta dalam diri kami berdua.


Setelah puas menikmati manisnya bibirku, dia mulai mengarah ke leher dan terus menciumi setiap inci tubuhku. Tangannya tak tinggal diam, dia merusak pakaian yang kupakai dan membuang ke segala arah. Membuka bra lalu mulai bermain di buah kenyal itu. Aku pun wanita normal yang rindu belaian seperti itu hingga aku tak bisa lagi mengontrol suara khas dari orang yang sedang di liputi nafsu, desiran di dada dan rasa nikmat menjadi satu. Rasa yang menuntut lebih dari sekedar cumbuan karena rasa berkedut pun sudah muncul di bawah sana.


Dia juga semakin bergairah menikmati keindahan dan kehalusan kulitku. Tangannya menuntun tanganku yang masih diam untuk memegang benda yang sudah mengeras lalu menyuruh ku mengusap dengan perlahan.


Kini aku sudah berada di bawah kungkungannya. Tangan dan mulutnya terus bermain tak henti hingga dia sudah menjelajahi inti dari tubuhku yang sudah terasa basah.


Pikiran ku yang sebenarnya menolak untuk melakukannya namun ternyata tubuhku tidak mampu menolak setiap sentuhan lembut yang dia berikan.


Diapun sudah mulai melepas kaos putih yang di pakainya dan melemparkan pakaian penghalang dada yang berotot itu. Tinggal celana pendeknya yang belum terlepas.


Kemudian saat hendak menurunkan celananya tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu beberapa kali. Rasanya ingin mengabaikannya namun ketukan pintu itu sangat mengganggu di telinganya.


"Kurang ajar, siapa di luar? Mengganggu saja!" Umpatnya kesal. Lalu dia beralih dari atas ku dan duduk di tepi ranjang.


Dia terlihat sangat ingin marah karena keinginannya belum terselesaikan sudah di ganggu oleh seseorang di luar kamar.


.


.


Bersambung😊


Butuh kesiapan untuk menulis adegan di bab ini, karena tidak terlalu pintar dalam menulis adegan yang 🤔,😀🤫