Second Marriage

Second Marriage
Bab 59 Waktu yang tidak tepat



Mungkin wanita itu memang sangat terburu karena mempunyai hal yang sangat penting dan mendadak, jadi tidak seharusnya aku berpikir buruk tentangnya. Mengenal saja tidak, bagaimana aku bisa bikin statemen itu? Ku amati dengan jelas terlihat dari cara berpakaian dan dandanannya, aksesoris yang di pakai dan tas jinjingnya yang branded dia bukanlah orang biasa. Setelah aku pikir dia tidaklah sombong. Buktinya dia masih mau berhenti dan sempat membantuku bangun.


So...maafkan aku yang terlalu cepat membuat kesimpulan tentang mu, Nona.


Setelah ku lihat punggungnya menghilang di balik pintu lift, lalu aku meneruskan tujuanku yaitu mengantar bekal makan siang untuk suamiku. Ku langkahkan kakiku dengan pasti menuju lantai atas tempat di mana suamiku bekerja.


Aku melihat sekertaris Ken ada di meja kerjanya tengah serius terdiam dan terbengong. Raut wajahnya seperti sehabis melihat hantu yang berkeliaran. Sorot matanya pun seperti sedang menatap pada satu titik namun tak sesungguhnya melihat. Apa yang sedang di lamunannya saat ini?


"Pak Ken..." Ku sapa dengan ramah, namun sepertinya sekertaris Ken tidak mendengar atau tidak menyadari kedatanganku.


"Pak Ken, hello..." Sekali lagi ku sapa sekertaris Ken sembari mengibaskan tanganku di depan wajahnya, juga ku jentik kan jari hingga berbunyi.


"Eh, Nyo_Nyonya. Anda sudah datang?" Sekertaris Ken yang terkesiap melihatku sudah datang jadi terlihat gugup.


"Iya, dari tadi malahan." Aku mengulas senyum padanya. "Pak Ken, kenapa melamun?"


"Oh itu, saya lagi mikirin kerjaan yang sempat tertunda."


Sepertinya sekertaris Ken sedang berkelit, karena setahuku dia adalah seorang yang sangat bertanggung jawab dan disiplin. Lebih dari separuh waktunya dia dedikasikan pada keluarga Erlangga. Mungkinkah orang sepertinya bisa melupakan pekerjaan?


"Ooo... begitu, tapi kenapa mukanya kelihatan pucat?" Rasa ingin tahu ku muncul.


"Pucat?" Tanyanya tidak percaya, ku anggukan kepala ku.


"Tuan ada di dalam tidak, Pak Ken?"


"Tu_Tuan ada tapi di dalam sedang rapat. Sebaiknya Nyonya tunggu sebentar" Ku lihat gelagat aneh sekertaris Ken yang kembali terlihat gugup saat aku menanyakan Tuan Nathan.


"Oh gitu, ya sudah saya tunggu ya..." Aku duduk di ruang tunggu yang tak jauh dari meja sekertaris Ken.


"Eh, tapi kira-kira lama gak ya, Pak Ken?" Pasti akan merasa jenuh jika harus menunggunya terlalu lama.


"Em, itu bisa jadi, Nyonya"


"Apa saya titip Pak Ken aku ya? Tapi aku ingin menyerahkannya langsung" Aku ragu antara menunggu atau titip ke sekertaris Ken saja.


"Nyonya boleh tinggal saja bekalnya nanti biar saya yang antar ke dalam"


"Tidak perlu Pak Ken, saya bisa menunggu toh saya juga tidak punya pekerjaan, kan?" l


"Begitu ya...?" Ucap sekertaris Ken sembari tersenyum kikuk. Aku semakin penasaran melihat tingkah sekertaris Ken yang tidak biasanya.


"Pak Ken...Ada apa? Kenapa kelihatan bingung dan gelisah?" Ku tanyakan langsung yang ada di pikiranku.


"Tidak, hanya sedang dalam banyak kerjaan saja"


"Oh..." Mungkin benar dia sedang dilema dengan pekerjaannya, menjadi dirinya yang selalu harus memastikan semua berjalan sesuai dengan rencana bukanlah hal yang mudah.


Satu menit, dua menit dan menit-menit berikutnya telah berlalu. Tapi tidak kunjung juga pintu itu terbuka sedangkan waktu hampir menunjukkan jam makan siang. Aku pun sudah mulai tidak nyaman dengan posisi yang duduk dan menunggunya keluar ruangan.


"Nyonya, ingin minum atau makan sesuatu?" Tanya sekertaris Ken yang menyadari kejenuhan ku.


"Tidak Pak Ken, terimakasih" Ucapku sembari mengulas senyum.


"Iya, silahkan."


Kenapa aku merasa rapatnya lama dan kenapa sekertaris Ken di luar tidak ikut rapat. Bukannya seharusnya dia di dalam kan? Mengikuti rapatnya karena dia kan orang yang paling berpengaruh dalam pekerjaan.


Bermunculan pertanyaan di otakku dan pertanyaan itu memang benar. Harusnya dia memang mendampingi bos-nya dalam meeting.


Aku berdiri dan berjalan kesana-kemari, ingin rasanya aku mendekat ke arah pintu itu namun aku ragu. Aku takut mengganggu perbincangan mereka. Tapi jika aku diam saja mau sampai kapan aku di sini?


Kenapa cuma antar makanan saja bikin galau sih?


Ah, mungkin tidak ada salahnya aku mencoba mendekat. Ini sudah waktunya makan siang, siapa tahu saat aku mengetuk pintu mereka sudah selesai meeting.


Perlahan ku langkahkan kaki menuju pintu ruang kerja Tuan Nathan. Sebelum aku mengetuknya, aku menempelkan telingaku ke pintu itu. Mungkin dengan sedikit menguping aku bisa tahu situasi di dalam.


Hening, sepi, tenang dan tidak ada suara-suara yang keluar dari mulut manusia. Mungkinkah sekertaris Ken berbohong padaku? Dia mengatakan ada rapat di dalam tapi tidak ada yang namanya sahutan suara di antara manusia.


Apa maksud sekertaris Ken berbohong padaku?


Atau mungkin Tuan Nathan sedang tertidur pulas hingga tidak mau di ganggu? Mengingat kemarin dia sangat bersemangat bermain dengan Sisi.


Mungkin sebaiknya ku ketuk pintu saja, biar semuanya jelaskan. Aku berharap ini bukanlah kesalahan karena aku telah mengetuk pintu lebih dulu tanpa menunggu sekertaris Ken.


Tok, tok, tok.


Beberapa kali ku ketuk namun tidak ada jawaban dari dalam, ku coba sekali lagi dan hasilnya masih sama. Akhirnya usaha yang terakhir adalah mencoba memutar kenop pintu lalu membukanya jika tidak terkunci.


Saat aku mencobanya ternyata benar pintu tidak terkunci, langsung saja ku dorong pintu perlahan agar masuk ke dalam. Dan saat pintu sudah terbuka.


Tereeeeng...


Aku di kejutkan dengan sebuah pertunjukkan yang menyilaukan mataku. Jantungku mulai berdetak tidak normal, entah perasaan apa ini? Aku tercengang dan seketika mematung melihat wanita yang tadi menabrak ku di bawah sekarang berada di sini bersama suamiku.


Keduanya saling memeluk erat satu sama lain, seolah melepaskan rindu yang teramat sangat dalam. Bahkan aku juga sempat melihat wanita itu mencium mesra suamiku di depan mataku.


Bodohnya aku, kenapa aku tidak menyadari saat di bawah tadi? Wanita itu tidak terlihat menggunakan pakaian formal layaknya orang bekerja.


Hah, situasi apa ini? Haruskah aku diam saja dan melihat mereka bermesraan terus menerus. Sedikit menyesal karena datang pada waktu yang tidak tepat. Ternyata ini rapat yang di bilang sekertaris Ken, pantas saja dia tidak ikut masuk ke dalam. Sebuah rapat kemesraan.


Sia-sia ku bawakan bekal makan siang, ternyata dia sudah kenyang karena kekasihnya datang. Berangkat kerja terburu-buru hingga melupakan aku ternyata mau menyambut kekasihnya yang baru muncul kembali. Setelah sekian abad menghilang bagai di telan bumi dan membuat seorang Tuan Nathan frustasi.


Dan sekarang dia telah muncul di keadaan yang sudah berbeda. Kekasih baiknya yang setia menunggu telah menikah denganku. Dengan wanita yang jauh berbeda bila di bandingkan dan di sandingkan.


Eh, tapi mungkinkah benar dia Vanesa? Atau wanita yang lain? Aku harus tahu sekarang juga siapa wanita itu. Dan agar semua pertanyaan yang ada di benakku akhirnya akan terjawab. Ku harap setelah ini semua akan menjadi jelas.


"Ehem, ehem" Dua kali aku bersuara agar mereka sadar akan kehadiran ku.


*


*


Bersambung 😊