Second Marriage

Second Marriage
Bab 24 Kebaikan yang tidak gratis



Sekertaris Ken datang pagi-pagi di perintahkan untuk menjemput ku dengan alasan Tuan Nathan tidak mau jika aku terlambat seperti kemarin. Doni tidak mengizinkan sekertaris Ken untuk membawaku lagi, itulah yg menjadi sebab kegaduhan nya.


Aku meminta Pak Ken untuk menunggu sebentar di dalam. Sebelum pergi aku menitipkan Sisi pada Doni, merepotkan nya lagi untuk mengantar Sisi pergi ke sekolah. Untunglah Doni tidak keberatan dengan itu, sekaligus aku berpesan untuk bilang pada Tika dan yang lain untuk tidak bekerja lagi.


Sekertaris ken mendengar saat aku membicarakan tentang toko, saat itu aku sengaja membicarakannya di depan sekertaris Ken. Hal yang tidak aku kira, sekertaris Ken sebagai kaki tangan Tuan Nathan memberikan perintah untuk pegawai toko tetap bekerja. Aku sedikit lega mendengarnya, meskipun aku bukan lagi yang punya tapi setidaknya Doni, Tika dan yang lain tidak jadi pengangguran. Mereka masih punya penghasilan yang mungkin akan lebih besar dari sebelumnya.


Aku mengikuti langkah sekertaris Ken keluar dari gedung apartemen menuju mobil yang sudah terparkir di depan. Aku berpikir sekertaris Ken akan membawaku langsung ke rumah Tuan Nathan ternyata tidak. Dia membawaku ke sebuah gedung pengadilan agama.


Saat aku memasuki gedung itu, tampak di sana sudah ada Mas Arsya. Oh, jadi tujuannya adalah agar urusan perceraian ku cepat selesai bahkan berkas-berkas yang di butuhkan pun sudah lengkap tersedia. Dan benar saja proses perceraian yang biasanya memakan waktu beberapa bulan, ini tidak sampai satu bulan aku sudah bercerai dengan Mas Arsya.


Kami berdua sudah sama-sama menandatangani surat perceraian, punya surat salinannya masing-masing. Aku tidak mengira akan secepat dan semudah ini berpisah dengan orang yang sudah hampir sepuluh tahun bersama. Aku tahu ini karena siapa? pasti Tuan Nathan yang mengatur segalanya agar menjadi mudah. Entah apa sebenarnya tujuannya? dia sudah masuk jauh ke dalam masalah privasi ku.


Aku merendahkan hati untuk menjabat tangan mas Arsya dan meminta maaf atas kesalahan yang pernah ku buat padanya.


"Mas Arsya, aku minta maaf atas salahku padamu" ku ulurkan tangan kananku.


"Jesi, aku bangga padamu" ucap Mas Arsya seraya menyambut uluran tanganku. Badannya sudah mendekat hendak memelukku namun aku menolaknya.


"Apa maksudmu?" aku sampai mengerutkan kening mendengar kata bangga yang ia ucapkan.


"Yah, karena dari sekian banyak wanita yang ingin mendekati Tuan Nathan. Kau yang mampu berhasil dekat dengannya" ucap Mas Arsya dengan senyum menyeringai.


Di saat sudah berpisah Mas Arsya masih sempat menuduhku secara langsung. Aku sudah seperti wanita penggoda di matanya.


"Terserah! apa yang kau pikirkan? aku sudah tidak perduli !" aku menatap tajam Mas Arsya lalu meninggalkannya.


Perasaanku sekarang benar-benar sudah lega, akhirnya aku bisa lepas dari sebuah hubungan yang rumit. Aku juga merasa senang karena hak asuh Sisi jatuh ke tanganku. Akan ku pulihkan hatiku perlahan, dan sekarang fokus dengan hidupku juga anakku.


Sekertaris Ken yang mengawasi aku dari jauh, melihatku keluar dari gedung pengadilan agama langsung membukakan pintu mobil. Menyuruhku untuk segera masuk.


"Bagaimana urusannya? apakah sudah beres nyonya Ars_?" tanya sekertaris Ken saat mobil yang kami tumpangi sudah berjalan.


"Stop!, Pak Ken. Jangan panggil saya lagi dengan nyonya Arsya!" kataku tegas.


Entah sekertaris Ken lupa atau memang sengaja meledek ku. Terlihat sekertaris Ken mengangkat sudut bibirnya.


"Saya bukan istri Arsya Sanjaya lagi, panggil saya Je-si! Bukankah Pak Ken sudah tahu itu?" lagi-lagi sekertaris Ken hanya tersenyum.


Sekertaris Ken menambah rasa jengkel perasaanku yang masih kurang baik karena perkataan mas Arsya. Aku rasa dia sengaja membuatku sebal, sudah seperti sifat Tuan nya saja.


"Mbak Jesi harus berterimakasih pada Tuan Nathan, karena beliau sudah baik hati pada anda" ucap sekertaris Ken.


Apa? berterimakasih. Sudah baik? yang benar saja...


"Jarang sekali Tuan Nathan bersikap begini dengan orang lain, Mbak Jesi termasuk orang beruntung" lanjut sekertaris Ken memuji Tuan Nathan.


Anda juga jarang berbicara banyak seperti ini, Pak Ken.


"Mbak, Mbak Jesi dengerin saya tidak?" tanya sekertaris Ken lewat kaca spion.


Padahal aku juga ingin lihat bagaimana ekspresinya saat dirinya ada di posisiku, bertanya dan hanya di jawab dengan senyum saja. Ternyata dia bermuka datar, aku tidak melihat ekspresi yang bisa membuatku senang karena sudah berhasil mengerjainya.


Sekertaris Ken tidak membawaku ke rumah Tuan Nathan lagi, melainkan membawaku ke gedung pusat utama perusahaan Cakradana group. Aku yakin dia membawaku untuk bertemu dengan Tuan Nathan. Mungkinkah sekertaris Ken menyuruhku berterimakasih sekarang?


Saat kami sudah sampai di depan resepsionis, aku di berikan kartu ID tamu. Mungkin saat aku berpapasan dengan securyti, dia tidak akan mempermasalahkan kedatanganku karena aku datang sebagai tamu.


Aku di bawa naik lift menuju lantai atas. Setiap aku berpapasan dengan karyawan di sana, mereka melihatku dengan tatapan aneh, tatapan yang penuh tanya.


Tok...tok...tok...


Sekertaris ken mengetuk pintu ruangan Tuan Nathan. Mendengar suara dari dalam lalu sekertaris Ken membukanya. Sekertaris Ken sedikit membungkuk tiap bertemu dengan Tuan Nathan, aku juga mengikutinya.


"Duduklah" ucap lembut Tuan Nathan.


Aku terdiam melihat ke arah sekertaris Ken yang sudah berdiri di samping Tuan Nathan. Aku masih ragu untuk menempatkan bokongku di kursi depan meja kerjanya.


Apakah dia salah minum obat? kenapa tiba-tiba jadi manis begini...


"Hey, kau..." sentak Tuan Nathan. Baru juga belum lima menit di bilang manis seperti kucing Persia, sekarang sudah kembali lagi jadi singa hutan.


"I_ya, Tuan" jawabku sedikit kaget dengan naiknya intonasi suaranya.


"Mbak Jesi, silahkan duduk" ucap sekertaris Ken mengulangi perkataan tuan Nathan.


Kemudian aku duduk di kursi depan meja kerjanya. Biasanya aku berdiri di jarak yang aman tapi sekarang aku bisa duduk di depannya dengan jarak meja kerja saja.


"Tidak adakah yang ingin kau sampaikan?" Tanya Tuan Nathan tanpa melihat ke arahku, matanya fokus ke laptop yang ada di depannya.


Eh, maksudnya apa ya? bukan kah dia yang mengundangku ke sini. Bagaimana bisa aku yang memulai duluan.


Kemudian aku teringat akan ucapan sekertaris Ken yang menyuruhku untuk berterimakasih padanya, berkat dia urusan perceraian ku berjalan dengan cepat tanpa harus ribet.


"Oh, i_ya Tuan. Saya berterima kasih pada anda karena telah membantu dalam proses perceraian dengan baik."


"Hem" katanya lalu menatap ku intens. "Itu tidak gratis!" jelasnya.


Ya ampun... apalagi yang mau dia minta dariku? bukankah dia sudah mengambil toko yang ku punya satu-satunya.


Aku sedikit syok mendengar kata tidak gratis. Membuatku memutar otak, imbalan apa yang harus ku berikan padanya. Bukankah dia sudah punya segala-galanya, harta melimpah, istri juga cantik. Apa yang kurang?


Sesaat kemudian aku ingat, tentang yang belum ada di rumahnya. Jika yang ku pikirkan benar, aku tidak akan sanggup hidup lagi. Membayangkannya saja aku tidak sanggup.


Bersambung...


Happy reading 😊