
Sesampainya aku dalam rumah, suasana sudah terlihat sepi semua orang yang ada di dalam sudah pasti terlelap dalam tidurnya, lampu di setiap sudut ruangan juga telah padam. Aku langsung berjalan ke arah kamar Sisi, anakku. Membuka pintu dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan tidurnya. Terlihat gadis kecil itu tidur dengan badan meringkuk, aku tarik selimut yang teronggok ke bawah untuk menutupi tubuhnya, membelai kepalanya lalu mencium keningnya.
"Sayang, mama sudah pulang" lirihku bilang padanya.
Tanpa terasa air mataku lolos begitu saja, aku merasa dia yang lebih tersakiti dengan apa yang terjadi dalam rumah tangga ku, takut Sisi akan terganggu oleh kehadiranku, aku segera keluar dari kamarnya menutup pintu kembali dengan pelan.
Aku melangkah melewati satu kamar yang biasanya kosong, menghentikan langkah karena samar-samar mendengar suara berisik, mendekat menempelkan daun telinga ke pintu, ternyata kamarnya berpenghuni. Aku mendengar ada suara *******-******* yang begitu seksi, yang akhirnya suara erangan keduanya pun terdengar jelas di telingaku. Suara yang sudah bisa ku tebak siapa pemiliknya. Hatiku benar-benar sakit mendengarnya, seperti ribuan jarum telah menusuknya, dadaku tiba-tiba terasa sesak mendalam hingga membuatku sulit bernafas.
Aku menutup telingaku, tapi sepertinya mereka telah menyudahi pertempuran malamnya itu, aku mendengar percakapan mereka yang sedang membicarakan aku dan Tuan Nathan.
"Mas, sebenarnya apa yang terjadi dengan Jesi dan Tuan Nathan? kenapa jas Tuan Nathan bisa ada pada Jesi?" tanya Karla.
"Entahlah..." jawab singkat Mas Arsya.
"Coba Mas lihat ke kamarnya, apa dia sudah pulang atau belum."
"Baiklah, kau tidurlah duluan."
Setelah itu, buru-buru aku masuk ke kamarku dan tidak mengunci pintu, aku berbaring di ranjang berpura-pura sudah tidur. Aku mendengar suara pintu terbuka tapi tak ku dengar ada langkah yang mendekat, sesaat kemudian terdengar suara pintu tertutup kembali. Ternyata Mas Arsya lebih memilih tidur dengan Karla ketimbang denganku.
Aku bangun dan duduk di tepi ranjang, tubuhku bergetar, kali ini aku benar-benar menangis menumpahkan segala perasaan yang ada. Aku tahu apa yang mereka lakukan tidaklah salah karena mereka juga sudah terikat dalam pernikahan, tapi hatiku sungguh tidak bisa menerima kenyataan kalau suamiku telah mendua dan membuat aku harus berbagi suami. Suatu kenyataan yang tak pernah terbayang olehku. Akhirnya aku berbaring, merasa amatlah lelah hati dan pikiran tanpa sadar aku pun tertidur.
* * *
Sinar mentari pagi yang hangat telah masuk menyusup lewat kaca jendela, menandakan tirai jendela sudah terbuka sedangkan aku masih di alam mimpi. Aku merasakan guncangan pada tubuhku hingga membuat mataku yang masih ingin tertutup memaksaku untuk membukanya dan harus siap menghadapi hari ini.
"Jesi, bangunlah" Mas Arsya menggoyangkan badanku, lalu menyibak selimut di tubuhku dengan sedikit kasar.
"Pagi Mas..." sapa ku seraya menggeliat, meregangkan otot-otot yang terasa kaku, aku duduk melihat mas Arsya berdiri dan sudah berpakaian rapi.
"Ini sudah waktunya sarapan, bukankah harusnya kau sudah bangun dan membuat sarapan" ucapnya, " pulang jam berapa kau semalam?" lanjutnya bertanya tentang waktu ku pulang.
"Kan ada Mba Asih, dia juga bisa bikin sarapan" jawabku, aku turun dari ranjang hendak pergi ke kamar mandi, enggan bicara dengannya karena masih merasa sakit hati mengingat kejadian semalam tentangnya.
"Sudah hampir pagi, Mas" ku duduk kembali di tepi ranjang, karena tanganku sudah di tariknya saat kakiku hendak melangkah.
"Apa!" suaranya memekik, mukanya tampak merah padam dan rahangnya mengeras.
"Ada hubungan apa kau dengannya? apa yang kau lakukan hingga larut malam? sampai kau kelelahan dan tak sanggup bangun pagi untuk membuat sarapan" pertanyaan yang banyak mengandung kecurigaan.
"Tidak ada" jawab ku santai.
"Tidak ada, lantas kenapa jas Tuan Nathan bisa ada bersamamu? oh...jadi sekarang kau membalas perbuatan ku, tak ku sangka kau pintar dalam mencari pelampiasan. Tuan Nathan adalah orang terkaya di negara ini, dan kau berhasil dekat dengannya, wah kau hebat sekali, aku pikir kau masih wanitaku yang lugu tapi ternyata kau sudah pandai memilih."
Aku menatap Mas Arsya heran, mendengar perkataannya yang merendahkan ku, setahuku Mas Arsya bukanlah orang yang seperti itu.
Aku merasakan sakit saat tangan kekar Mas Arsya mencengkeram bahuku. Dulu dia tidak pernah berpikir buruk tentang ku apalagi berbuat kasar seperti sekarang.
"Lepaskan!" aku mencoba menurunkan tangannya dari pundak ku, "apa yang kau bicarakan Mas?" tanyaku padanya agar dia memperjelas arah perkataannya.
"Aku bicara tentang kelakuanmu, apa kau puas sudah melayani orang paling terpandang dan terhormat, sejak kapan kau menjadi wanita simpanannya? ha!" semakin marah mendengar pertanyaan ku, tangannya beralih mencengkeram daguku, mataku mulai terasa panas dan mengeluarkan buliran air yang membasahi pipi. Dia melepaskan tangannya melihatku sudah menangis, dia duduk mengusap wajahnya dengan kasar.
Sekarang bukan hanya hati ini yang sakit tapi fisik ku juga telah tersakiti.
Bersambung...
Happy reading ya teman-teman 🥰
Jangan lupa untuk tap gambar jempol, love, komen juga ya😁
buat nambah semangat author yg masih amatiran.
maaf ya jika masih banyak kekurangan 🙏
Terimakasih 😊