
Tatapan menyelidik di tunjukkan Ibu mertuaku untuk kedua pria dewasa di depanku. Mereka hanya diam dan saling melihat, mata tajam Doni tunjukkan pada Tuan Nathan.Keduanya terlihat enggan untuk menjawab.
Dan aku, ah... Bagaimana aku harus bersikap? Tetap diamkah atau aku yang harus bicara? Aku tak hanya bingung tapi juga merasa malu dan tidak enak pada Ibu. Karena yang wanita yang di harapkan oleh keponakannya adalah sebenarnya menantunya.
"Hmm, kenapa diam? Tidak ada yang mau bicara?" Ibu mertua akhirnya bertanya lagi karena tak kunjung dapat jawaban dan mereka masih tetap diam.
"Jesi, kau pasti tahu kan...Apa yang mereka ributkan sebenarnya? Jadi ceritakan pada saya, apa yang membuat mereka berdebat?" Ibu beralih bertanya padaku.
Tiba-tiba aku juga menegang saat Ibu mertua melontarkan pertanyaan itu padaku. Harus ku jawab apa dan bagaimana? Sebentar aku diam tapi tidak ada juga di antara mereka yang buka suara. Akhirnya aku harus menjawab juga pertanyaan Ibu, perihal Ibu mau memandangku seperti apa itu terserah dia.
"Ibu, sebenarnya..., saya yang membuat mereka jadi berdebat" Masih dengan sedikit ragu untuk mengatakannya.
"Maksudnya? Ibu kurang mengerti" Ibu sedikit mencondongkan tubuhnya karena terlalu penasaran.
"Emm..." Entah perasaan apa ini? malu, sedih merasa bersalah, tidak enak hati sudah jadi satu. Mulutku benar-benar terasa kaku untuk bisa menjelaskan duduk permasalahannya.
"Doni, sudah menyukainya sejak lama. Dan bodohnya dia yang hanya diam, tapi masih terus berharap pada istri orang" Akhirnya Tuan Nathan yang membuka jawaban karena melihatku yang tampak ragu untuk berbicara lebih jauh.
"Jadi, wanita yang selama ini Doni tunggu dengan sabar adalah Jesi, menantu Ibu? Benar begitu?"
"Benar Tante" Jawab Doni.
"Hemm, mengejutkan. Takdir yang membuat semua jadi seperti kebetulan. Ibu bangga padamu, Jesi"
"Hah?" Aku pikir Ibu akan marah dan benci padaku tapi malah kagum padaku.
"Iya, karena kau sudah mampu menaklukkan pria-pria keras kepala seperti mereka" Ucap Ibu sembari terkekeh.
"Tapi Bu, aku tidak_" Merasa tidak pernah berbuat apapun untuk menarik perhatian mereka.
"Tapi kak Nathan hanya main-main saja dengan mbak Jesi" Doni mencoba memberitahu pada Ibu mertua bahwa anaknya tidaklah serius dalam pernikahannya bersamaku.
"Ini adalah hidupku, kau tidak berhak ikut campur" Hardik Tuan Nathan.
"Kak, jika suatu saat nanti kau menyakitinya. Aku benar-benar siap menghadapi mu!" Doni memberikan ancaman yang serius.
"Sudah, sudah...Jangan berdebat lagi. Doni, Tante mengerti akan perasaanmu, tapi sekarang Jesi sudah menjadi istri Nathan. Apapun yang terjadi kedepannya biarlah waktu yang menjawabnya."
Terimakasih Ibu sudah membantu memberi pengertian pada Doni. Aku berharap Doni kali ini tetap seperti dulu tidak pernah mengusik rumah tangga ku. Mudah-mudahan Doni mampu mengubur perasaannya padaku dan secepatnya menemukan cinta yang baru.
"Doni, maafkan... Mbak" Aku bersalah karena tidak peka akan perasaannya selama ini.
"Tak perlu minta maaf" Ketus Tuan Nathan.
"Nathan..." Ucap Ibu mertua lembut sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Terimakasih untuk semua yang pernah kau lakukan padaku" Aku benar-benar merasa punya banyak hutang budi padanya.
"Ck, sudahlah...ikut aku ke atas"
Terlihat Tuan Nathan sudah jengah mendengarkan ucapan ku. Entah apa yang dia mau mengajakku ke kamar, sedangkan tamu masih belum pulang. Rasa tidak enak menyeruak dalam hatiku melihat kekecewaan pada wajah tampan Doni. Wajah yang selalu terlihat ceria dan mampu menghiburku sekarang menjadi wajah mendung di musim hujan.
"Doni, maaf" Ucapku sekali lagi, sebenarnya aku masih ingin bersama mereka namun suamiku telah menarik paksa tanganku untuk mengikutinya.
Braaak
Aku terjingkat saat Tuan Nathan menutup pintu dengan kasar setelah kami sudah masuk ke dalam kamar. Wah sepertinya aku akan kena marah dua kali nih, pertama aku pergi tanpa izin darinya dan yang kedua karena kedatangan Doni.
"Siapkan air, saya mau mandi. Rasanya sangat gerah!" Ternyata dia hanya ingin mandi saja. Memintaku untuk menyiapkan air, mungkin dia mau berendam.
"Baik, Tuan." Tanpa menunggu di perintah dua kali aku lalu berjalan ke kamar mandi.
"Tunggu!" Suara tegasnya menghentikan langkahku.
"Iya, Tuan" Aku membalikan badan menghadapnya, dia melambaikan tangan menyuruhku untuk mendekat.
"Kau lupa?" Pertanyaannya membuatku bingung, hal apa yang ku lupakan.
Terlihat tangan Tuan Nathan menunjuk ke arah bawah lebih tepatnya ke kakinya. Oh, ternyata sepatu masih terpasang di kakinya. Kemudian aku berjongkok di depan orang yang sedang duduk di tepi ranjang lalu melepaskan sepasang sepatunya.
"Hey, mau kemana?" Tanyanya saat aku usai meletakkan sepatu pada tempatnya dan hendak ke kamar mandi, aku pikir tugasku sudah selesai.
"Kau lihat, aku mau mandi tapi kemeja masih menempel di badanku"
"Hah?" Jadi maksudnya aku di suruh melepas kemejanya juga. Hadeeh, kenapa tidak lepas sendiri saja?
Aku berjalan pelan menuju ke arahnya, dengan perasaan dag dig dug aku mencoba mendekatkan diri padanya untuk menggapai kancing atas kemejanya.
"Tutup matamu! biar gak netes air liur mu"
Siapa juga yang pengen melihatnya.
"Pasti, Tuan"
Ku mulai menutup mataku agar tidak melihat isi dalam kemejanya, dada putih mulus yang terbentuk pernah ku lihat tanpa sengaja. Harum wangi tubuhnya masih terasa fresh tercium hidungku, membuat otakku terasa penuh bayangan.
Gerakkan tanganku sedikit gemetar karena nervous, harus meraba setiap kancing yang masih menjadi satu. Biasanya membuka kancing baju tidaklah membutuhkan waktu yang lama, tapi kenapa sekarang waktu terasa lambat berjalan bahkan aku sedikit kesusahan dalam melepaskan tiap kancingnya. Aku juga bisa merasakan badannya sedikit bergetar.
Apa yang sedang dia lakukan? Apakah dia sedang tertawa?
Tenangkan dirimu Jesi, lakukan dengan mudah seperti kau melepas seragam sekolah anakmu.
Aku menghela nafas panjang, lega rasanya akhirnya semua kancing sudah terpisah dari pasangannya.
"Sudah beres, Tuan." Ucapku setelah selesai dan membuka mata kembali.
"Good job"
"Ada lagi? Tuan" lebih baik aku bertanya dulu ketimbang aku dah mau sampai ke kamar mandi harus di panggil lagi.
"Ada, nih" Tuan Nathan menunjuk ke arah celana dengan memanyunkan bibirnya.
"Hah?" Mulutku sampai ternganga saat dia menunjuk celana panjangnya.
Celetak
"Auw..." Tiba-tiba kurasakan tangan Tuan Nathan menyentil keningku.
"Jangan harap!" Ucapnya sembari berlalu pergi.
"Dasar sinting!" Umpatku kesal.
"Apa kau bilang?" Tanyanya berhenti tanpa membalikkan badan.
Ah Sial, apa mungkin dia mendengarkan ucapanku?
"Kau bilang apa?" Tanyanya sekali lagi.
Untunglah dia tidak mendengar.
Aku mengusap dadaku saat tahu dia tidak mendengar makianku.
"Tidak ada, Tuan" Ku lihat lagi pundaknya bergetar, ah aku rasa dia sedang menertawakanku.
"Tuan, tunggu!" Aku teringat kalau tadi belum jadi menyiapkan air mandi untuknya kan. Tapi teriakanku terasa percuma karena dia sudah masuk duluan.
"Satu, dua, tig_"
"Hey, kau kemari cepatlah!" Tebakanku benar hitungan sampai tiga, dia pasti berteriak padaku.
Tapi bagaimana aku bisa datang, kalau dia sudah telanjang? Tidak mungkin kan aku harus berdua di dalam kamar mandi dengan dia yang sudah bugil.
Haduh...ini hukuman yang lebih berat ketimbang di marahin dan di teriakin dengan raungannya yang keras.
.
.
Bersambung 😊
Happy reading 🥰