Second Marriage

Second Marriage
Bab 33 Situasi berubah



Seusai aku mengganti pakaian yang sesuai dengan keinginan Tuan Nathan, lalu aku keluar dari kamar mandi. Rok panjang yang menjuntai menutupi seluruh kaki dan t-shirt dengan ukuran XXL sudah melekat sempurna pada tubuhku yang ramping.


Sungguh sangat tidak nyaman berpakaian seperti ini.


Saat aku sudah keluar ternyata Tuan Nathan juga sudah mengganti pakaiannya. Celana sebatas lutut dan kemeja polos berlengan pendek yang berbahan tipis memperlihatkan keindahan tubuhnya. Tubuh atletis yang selalu di sukai para wanita kini nampak di depan mataku, sangat terlihat tampan dan mempesona.


Aku tertegun memandangnya, jujur dari hati saat ini Tuan Nathan terlihat lebih menarik di banding saat dia harus berpakaian formal. walaupun sekarang ini Tuan Nathan tengah menggunakan pakaian santai, tapi kharismanya tetaplah Tuan Nathan yang nyaris sempurna dalam segala hal.


"Hey, kau. Usap air liur mu yang hampir menetes" ucap Tuan Nathan yang menyadarkan aku dari lamunan.


Dengan cepat aku mengikuti apa yang di katakan Tuan Nathan, tapi tidak ada sedikitpun air liur yang terasa keluar. Betapa bodohnya aku yang percaya dengan ucapan Tuan Nathan.


Aku yang awalnya malu jika itu sampai terjadi, sekarang aku jadi ingin memukul wajah yang saat ini sedang meledakkan tawanya melihat tingkahku.


"Sudah, Tuan?" Tanyaku setelah Tuan Nathan puas tertawa.


"Hem"


"Baiklah, mari kita keluar" ujar ku untuk cepat keluar kamar.


"Tunggu!" ucap Tuan Nathan menghentikan langkahku yang sudah mendekati pintu.


"Ada sesuatu yang kurang" lanjut Tuan Nathan yang sedang berpikir.


"Apa lagi, Tuan?" tanyaku malas.


"Pilihkan untukku, mana yang lebih cocok?" ucap Tuan Nathan seraya menunjukkan deretan topi dengan warna dan bentuk yang berbeda.


"Ok, baiklah Tuan. Saya rasa anda cocok pakai yang ini" ucapku sembari mengambil topi dengan asal.


"Tidak, saya rasa cocok yang ini" Tuan Nathan mengambil topi bentuk Dad hat.


Kalau memang sudah menentukan pilihan, kenapa musti minta pendapat ku ya?


"Sudah, Tuan?" tanyaku yang tidak mau berdebat dengannya, terserah dia mau pakai yang seperti apa.


"Ok, ayo keluar" ucap Tuan Nathan yang sudah siap untuk keluar.


Akhirnya aku merasa lega bisa keluar dari kamar, karena jika terlalu lama aku yakin akan di buatnya mati kesal. Pasti juga Doni akan khawatir bahkan bisa jadi dia akan berpikir buruk tentang aku.


Ketika kami sudah keluar dari penginapan, aku di kejutkan kembali dengan situasi Resort yang tadinya ramai sekarang menjadi sepi. Hanya terlihat beberapa orang yang berpakaian hitam dan juga sekertaris Ken. Doni dan Sisi juga sudah terlihat berada di bibir pantai tengah bermain pasir.


Ada apa lagi ini? Kenapa para pengunjung sudah tidak nampak lagi?


Pada saat bertemu salah satu pegawai Resort, aku menanyakan tentang keadaan yang berubah hanya dalam waktu yang sesaat.


"Mas, mas, tunggu!" aku menghentikan seorang pria yang sedang berjalan cepat.


"Iya, ada apa Mbak?" tanya pria itu.


"Ini kenapa jadi sepi begini? Kemana pengunjung yang tadi ramai" tanyaku menyelidik.


"Oh, sebenarnya saya kurang tahu juga, Mbak. Dengar-dengar yang punya tempat ini mau berlibur" jawab pria itu.


"Em...gitu" aku sedang berpikir, siapa pemiliknya?


"Sudah ya Mbak, saya mau lanjut kerja lagi" kata pria itu yang sepertinya sedang di buru-buru.


"Tunggu dulu, dong" jiwa kepo ku mulai muncul.


"Hey, kau. Sampai kapan akan terus bergosip?" Teriak Tuan Nathan yang sudah jauh berjalan.


Dia sadar aku tidak ada di belakangnya.


"Iya, Tuan" teriakku juga.


"Baiklah, terimakasih ya, Mas" ucapku menyudahi sedikit pertanyaan ku.


"Pak Ken, ada apa? Kenapa sepi sekali?" tanya ku yang berharap mendapat jawaban.


"Nyonya, Tuan sungguh perhatian pada anda" ucap sekertaris Ken yang melihat penampilanku.


"Apa maksudmu, Pak Ken" bukanya menjawab pertanyaan ku malah berkomentar gak jelas.


"Nyonya terlihat cocok dengan pakaian itu" ucap sekertaris Ken dengan menyunggingkan bibirnya.


Oh, ya ampun menyebalkan sekali.


Aku tinggalkan sekertaris Ken, malas karena pasti aku tidak akan mendapatkan jawabannya. Kemudian aku berjalan kembali menyusul Tuan Nathan yang sudah sampai di bibir pantai.


"Mbak, kenapa lama sekali? Mbak tidak apa-apa kan?" Tanya langsung Doni, ketika aku barusan sampai. Sorot matanya terlihat khawatir.


"Tidak, Don..."


"Kenapa Mbak ganti pakaian? ada apa dengan pakaian Mbak Jesi?" Tanya Doni yang terlihat sangat penasaran.


"It_itu karena_,"


"Robek" jawab Tuan Nathan santai.


Doni terdiam seperti sedang menelaah ucapan Tuan Nathan. Entah apa yang ada di pikirannya? Mudah-mudahan dia tidak berpikir aneh-aneh melihatku yang sudah berganti pakaian dan terlalu lama di sebuah kamar bersama pria yang bukan suamiku.


"Don, ini tidak seperti yang kamu pikir" jelas ku padanya yang sudah terlihat curiga.


"Iya, aku percaya" ucap Doni seraya tersenyum.


Ku lihat Tuan Nathan bermain asyik dengan Sisi dan juga tumpukan-tumpukan pasir yang menggunung. Entah apa yang membuatnya terlihat amat senang bermain dengan anakku, bahkan terlihat akrab. Terlihat dia membisikkan sesuatu.


"Mama, mama terlihat cantik dengan pakaian itu" ucap Sisi setengah berteriak.


Aku yang sedang duduk di bawah payung pantai bersama Doni terbengong mendengar ucapan Sisi. Aku tahu di balik pujian itu mengandung ejekan dan pasti itu dari Tuan Nathan.


"Doni, kenapa pantai jadi sepi begini? Kemana perginya orang-orang yang ramai tadi?" teringat dengan situasi yang tiba-tiba sepi.


Terdengar Doni menghela nafasnya dengan kasar. Sepertinya Doni tahu penyebab situasi ini, dan Doni juga tidak merasa senang dengan keadaan yang sepi.


"Karena sang pemilik ingin berlibur dan dia tidak senang dengan keramaian. Dia juga tidak senang di lihat banyak orang dan di liput oleh media saat aktivitas nya di luar pekerjaan" jawab Doni yang menjelaskan .


"Memang siapa sih pemiliknya? Apakah beliau sudah datang? Kenapa kita tetap di sini?" Rentetan pertanyaan keluar begitu saja.


"Mbak ini pura-pura tidak tahu atau memang tidak tahu?"


"Ya, tidak tahulah, Don" jawabku yang memang tidak tahu.


"Orang yang dekat dengan Mbak Jesi saat ini"


"Maksudmu? Tuan Nathan?" tanyaku mencari kepastian tentang yang ku pikirkan.


"Ya, siapa lagi? dia selalu menggunakan kekuasaannya untuk mencapai yang dia inginkan. Bahkan dari dulu sampai sekarang dia tidak berubah, dia semakin tidak punya hati setelah ada hal yang tidak tercapai dalam keinginannya. Mungkin hatinya sudah terlalu sakit." Sedikit banyak Doni menjelaskan siapa Tuan Nathan yang sebenarnya.


Aku merasa heran mendengar penjelasan Doni, sepertinya Doni sudah mengenal Tuan Nathan sejak dulu. Mungkin jauh sebelum bertemu denganku dia sudah mengenalnya. Dan waktu itu Doni juga bisa masuk ke perumahan Erlangga padahal tidak sembarang orang bisa masuk kawasan itu.


Jika memang Tuan Nathan yang punya Resort ini aku tidak akan terlalu kaget, dengan sifatnya, Tuan Nathan mampu membuat keadaan sesuai dengan keinginannya. Yang menjadi pertanyaan dalam pikiranku saat ini justru tentang Doni. Siapakah dia sebenarnya? kenapa aku yang mengenalnya lama tidak tahu apa-apa tentangnya?


Aku yang bodoh, atau aku yang terlalu cuek padanya? Padahal Doni selalu saja membantu ku saat aku sedang susah. Mbak macam apa aku ini?


.


.


Happy reading 😊