Second Marriage

Second Marriage
Bab 75 Biar saya yang melayani



Ibu, kenapa kau diam saja?


"Ibu, maaf kalau saya harus cerita ini pada Ibu" Merasa tidak enak karena menggangu ketenangan Ibu mertua.


"Tapi, saya tidak mungkin bisa diam saja dalam situasi yang saya rasa sulit."


"Ibu tahu perasaanmu, dan Ibu juga sudah tahu kalau Vanesa sudah kembali." Ibu memandang seraya menggenggam tanganku.


Pantas saja, Ibu tidak kelihatan terkejut.


"Ibu diam, bukan berarti tidak peduli dengan hubungan kalian. Ibu hanya ingin tahu perasaan Nathan yang sesungguhnya sekarang." Rupanya Ibu juga memperhatikan sikap putranya.


"Ibu, terimakasih sudah peduli dengan perasaanku." Sungguh langka ada Ibu mertua the best seperti dia. Bisa di bilang aku beruntung punya mertua seperti beliau.


"Kau tidak perlu khawatir, Ibu akan mencoba bicara pada Nathan. Dia harus mengatakan sebenarnya kalau dia sudah menikah dengan mu sekarang."


"Ibu, apakah Ibu masih ingin saya tetap terus bersama putramu? Meski wanita yang di cintai oleh putramu telah kembali."


"Tentu saja! Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau adalah istri dari anakku."


"Ak_aku hanya tidak percaya diri. Ibu tahu aku bukan siapa-siapa di bandingkan dengan Nona Vanesa, dia tidak hanya cantik tapi juga punya segalanya. Tidak hanya itu, aku cuma seorang janda beranak satu sedangkan dia masih singgel."


"Biarpun dia masih singgel bukan berarti dia masih perawan kan? Dan bagaimanapun keadaanmu, sekarang kau adalah istri Nathan. Menantu Erlangga, kau berhak mempertahankan orang yang sudah menjadi suamimu saat ini. Kalian punya sebuah ikatan yang tidak mudah untuk di putuskan begitu saja." Ibu memberikan support agar aku percaya diri.


"Apa kau ingin gagal dua kali dalam rumah tangga mu?" Pertanyaan Ibu membuatku sadar bahwa pernikahan bukanlah mainan. Tapi bagaimana bila Ibu tahu kalau pernikahan kami hanya sebatas hitam di atas putih?


"Tidak, Ibu..." Jawabku jujur. Walaupun pernikahan kami tidak di dasarkan cinta, aku ingin bertahan asalkan tidak ada wanita ke dua dalam rumah tangga kami.


"Lakukan, apa yang seharusnya kau lakukan, Jesi. Ibu tahu kau orang baik yang tulus pada anak saya, tidak peduli anak saya nantinya seperti apa. Ibu percaya padamu kau tetap bisa bertahan dengannya."


Ibu, aku tidak sebaik yang kau pikir. Aku tidak akan bisa bertahan jika putramu menyakitiku terus dan tidak juga memberi kejelasan dalam hubungan ini.


Ucapan Ibu yang seperti itu, justru jadi beban dalam pikiranku. Secara terang-terangan Ibu tetap menyuruhku bertahan, apapun yang akan terjadi kedepannya.


"Akan ku coba."


Tok, tok, tok.


"Nyonya, makan malam sudah siap." Pak Didi yang datang, dia sudah selesai menyiapkan makan malam. Kedatangan Pak Didi juga mengakhiri obrolan serius ku dengan Ibu mertua.


"Iya, baiklah. Terimakasih Pak Didi." Ucapku.


"Ibu, ayo kita turun. Aku sampai lupa kalau di bawah ada doni." Ajakku untuk segera turun.


"Kapan anak itu datang?" Tanya Ibu sembari kami menuruni anak tangga.


"Tadi kami pulang bersama."


"Oh, iya. Doni bekerja di tempatmu, kan?"


"Iya Bu, selama aku tidak datang, Doni yang mengurus pekerjaan di Toko."


"Sebenarnya anak itu punya bakat di bidang manajemen, tapi dia tidak mau kalau ada di bawah tangan Nathan."


*Tapi sekarang, bukankah dia bekerja untuk Tuan Nathan? Itu berarti yang dia lakukan hanya semata-mata untukku.


CK, dasar anak itu. Kenapa harus sebaik itu? Belum tentu aku bisa membalasnya*.


"Benar, Ibu" Ucapku seraya pikiran terus bicara sendiri.


Saat kami sudah sampai di bawah, ku lihat Doni dan Sisi juga sudah duduk menunggu di depan meja makan.


"Hai...Don, sudah dari tadi ya...?" Sapa Ibu sembari menarik kursi lalu duduk.


"Malam Tante, iya nih...,kita sampai kelaperan nungguin para ratu keluar. Benarkan Sisi?" Jawab Doni sembari menaik-naikan alisnya ke arah Sisi.


"Benar, Oma..." Ucap Sisi berakting sedih.


"Iya, maaf deh. Tadi Mama sama Oma ngobrol sebentar." Ucapku yang sudah duduk di samping Sisi.


"Ya sudah, ayo kita mulai makan kalau sudah laper." Ucap Ibu, tapi yang ngajak makan malam bersama malah belum nongol juga.


"Tapi, Ayah kan belum pulang. Nunggu Ayah sebentar lagi aja deh." Sisi menolak untuk makan sekarang, teringat akan Ayah tirinya yang selalu sibuk.


"Pak Didi, apa Tuan mau makan malam di rumah?" Tanya Ibu pada Pak Didi yang berdiri tidak jauh dari kami.


"Benar Nyonya." Jawab Pak Didi.


"Iya, tadi si berpesan seperti itu. Tapi, gak tau deh sekarang setelah bertemu dengan kak Nesa." Seloroh Doni.


"Kak Nesa, siapa kak Nesa?" Tanya Sisi yang belum pernah mendengar nama Vanesa.


Kami semua diam mendengar pertanyaan Sisi yang ingin tahu. Mata kami saling pandang bergantian, seolah bingung untuk menjawab pertanyaan seorang anak kecil yang belum bisa menangkap dengan jelas permasalahan orang dewasa.


Kami tidak menyangka kalau Sisi akan mengajukan pertanyaan seperti itu. Pertanyaan yang sebenarnya adalah hal biasa di tanyakan namun butuh jawaban yang berat jika harus di jawab dengan jujur.


"Dia itu kawan lama Ayahmu, sayang" Ibu mertua langsung menimpali.


"Oh, pasti cantik orangnya ya...?"


Hah, dasar anak kecil. Dia itu rival Mama tau?


"Kenapa bisa begitu?" Tanya Doni.


"Ayahku kan tampan pasti temen wanitanya cantik, Benarkan Ma?" Anakku juga mengakui ketampanan ayahnya, rupanya.


"Hah? Iya, benar" Ucapku seraya tersenyum canggung.


"Idih...anak kecil, sok tau nih." Gurau Doni.


"Om sih, jones mulu!" Cibir Sisi.


"Hah, apaan tuh?" Doni terlihat penasaran.


"Jomblo ngenes!" Jawab Sisi lalu terbahak.


Melihat ekspresi Doni yang masam, Ibu juga ikut tergelak, sedangkan aku sedikit menahan tawa saja agar Doni tidak tersinggung.


Aku tidak tahu dapat darimana kata-kata itu, mungkin saja dari teman-teman sekolahnya. Anak jaman sekarang seperti dewasa belum waktunya, efek perkembangan zaman yang makin modern.


"Wah, kelihatannya bahagia sekali ya...?" Kami semua menoleh ke arah suara yang tiba-tiba muncul. Suara orang yang sedang di tunggu telah datang.


Dan ternyata dia tidak sendirian, ada Vanesa di belakangnya mengikuti langkah suamiku masuk ke arah ruang makan.


"Ayah...!" Seru Sisi yang hendak berlari ke arahnya, tapi dengan cepat aku mencegahnya.


"Sayang, ayah masih kotor belum mandi. Tidak boleh peluk, ok" Ucapku agar Sisi tidak tersinggung.


"Iya, benar sayang." Ucap Tuan Nathan.


"Nesa?" Ibu pura-pura terkejut di hadapan kami.


"Tante, Nesa kangen sekali." Ucap Nesa yang langsung menghambur ke pelukannya.


"Apa kabarmu sayang?" Ibu juga memeluknya.


Aku dan yang lain diam melihat mereka berdua saling berpelukan dan pasti akan bercengkrama dalam waktu yang tidak sebentar sambil menunggu Tuan Nathan turun dan bergabung untuk makan malam.


"Sudah, kita makan dulu. Ngobrolnya di lanjut nanti" Ucap Tuan Nathan yang sudah siap di tempat duduknya.


"Iya, kami sudah lapar Ayah." Ucap Sisi.


"Ayah? Aku tidak salah dengar kalau anak kecil itu memanggilmu Ayah?" Tanya Vanesa.


Deg


Aku sudah deg-degan mendengar pertanyaan Vanesa, aku takut Tuan Nathan akan menjawab tidak sesuai dengan keinginan ku.


"Tidak." Jawabannya datar.


Hah, dia mau mengakuinya.


Aku tersenyum dalam hati mendengar pengakuan Tuan Nathan. Aku berharap sebentar lagi dia mau mengakui ku.


"Aku ingin makan, mari kita makan tanpa ada suara."


"Benar kata Nathan. Jesi, layani dia seperti biasa." Sambung Ibu dengan cepat.


"Tidak perlu Tante, kan ada aku" Ucap Vanesa.


"Maaf ini tugas saya, biar saya yang melayaninya." Ucapku seraya mengambilkan nasi dan pelengkapnya.


"Tapi, kau kan_"


"Kak Nesa, bisa kan? Kita mulai makan tanpa ada suara." Doni langsung memotong ucapan Vanesa.


Akhirnya semua makan dalam diam, suara sendok, garpu dan piring yang beradu juga terdengar lirih. Sisi yang hendak bersuara pun dengan cepat aku mencegahnya. Suasana makan malam yang tidak biasa.


Semua mulut sibuk dengan makanannya, begitu juga pikiran mereka. Aku yakin dalam benak mereka hanya fokus pada satu nama yaitu Vanesa. Kecuali Vanesa, dalam benaknya pasti banyak pertanyaan tentang hadirnya aku dan anakku dalam lingkaran meja makan ini.


.


.


Bersambung☺️


Hai...Hai..., Tetap tinggalin jejaknya buat dukung cerita ini🙏


Salam sehat and happy reading 🥰🥰