
Mungkinkah semua ada hubungannya dengan ini? ah..aku rasa tidak. Apa ini ulah Mas Arsya? karena tadi pagi aku minta cerai, mungkinkah dia akan mengambil kembali apa yang sudah dia berikan?
Dalam lamunanku terus muncul beberapa pertanyaan, menghubungkan dan terus menghubungkan setiap hal yang terjadi baru-baru ini. Bisa jadi memang mas Arsya yang lakukan, karena sepertinya rasa cintanya kepadaku sudah memudar terganti oleh istri keduanya. Apalagi dia melahirkan seorang putra, seorang anak laki-laki yang di idamkan oleh ibu mertuaku.
tok, tok
seseorang membuka pintu, menampilkan senyum manisnya, dengan Hem warna merah marun dan celana slim warna hitam, dia terlihat ceria. Di tangannya membawa sebuah tentengan seperti makanan. Aku tersentak dari lamunanku, melihat sosok yang sedang aku pikirkan tiba-tiba muncul di hadapanku. Panjang umurnya dia.
"Mas..."
"Aku bawakan makanan untukmu, waktunya makan siang dan kau masih di sini" mas Arsya meletakkan dua bungkus makanan di atas meja.
Ada apa dengannya, tadi pagi marah-marah dengan frontal, sekarang dia menyempatkan mengantarkan makanan, tumben sekali.
"Hei...malah bengong, kenapa?" ucapnya sembari duduk di sebelahku, tangannya mengusap lembut kepalaku.
"Eh, ti_dak mas, terimakasih sudah sempetin datang dan bawa makan siang untuk kami."
"Di mana Sisi?" matanya memindai ke segala arah, mencari keberadaan anaknya.
"Sedang keluar bersama yang lain untuk makan siang"
"Oh, ya sudah, makanlah keburu dingin nanti tidak enak" mas Arsya membuka pembungkus makanan. ini jadi aneh, sudah lama mas Arsya tidak perhatian seperti ini. mungkinkah ada yang dia inginkan di balik semua ini?
Biasanya sikapnya acuh tak acuh, dan sekarang yang dia tunjukkan adalah sikapnya yang dulu sebelum kehadiran Karla dalam hidupnya, aku sedikit senang mendapati mas Arsya yang seperti dulu karena sejujurnya aku juga merindukan perhatiannya. Dengan kedatangannya sendiri membuat aku lupa jika ada wanita lain yang juga mendapat perlakuan sama darinya bahkan mungkin lebih dari ini.
"Mas tidak perlu, aku bisa sendiri" aku menurunkan tangan Mas Arsya yang hendak menyuapiku dan mengambil sendok juga makanan dari tangannya, buatku ini sudah berlebih. Dengan perhatiannya yang mampu membuatku melambung tinggi tapi dalam sekejap juga mampu menghempaskan aku ke dasar lembah. Aku takut akan goyah dengan keputusan yang sudah ku ambil untuk bercerai dengannya.
Aku makan dengan lahap karena Mas Arsya membawakan makanan kesukaanku, mie goreng super pedas dengan banyak sayur dan juga toping. Dia lupa kalau perutku belum terisi nasi, andai dia ingat makanan ini pasti akan di buangnya dan tidak akan membiarkan aku menyentuhnya, itu dulu. Dan sekarang entahlah sudah lama dia tidak seperhatian ini.
Sesekali dia memberikan aku minum melihat aku kepedesan dan juga mengelap keringat di dahi ku dengan tisu.
" Mas, boleh aku bertanya sesuatu?" selesai makan aku berniat bertanya tentang masalah toko walupun sedikit ragu.
"Tanya saja, kenapa harus bilang dulu" ucapnya tanpa melepaskan tatapan ke layar ponsel di tangannya.
"Em..., jika nanti kita sudah resmi bercerai, apa Mas Arsya akan mengambil toko ini?" lagi-lagi dia hanya diam, tidak perduli dengan pertanyaan ku jika berbicara masalah perceraian,dan itu membuat bingung.
"Waktunya aku harus balik ke kantor" melihat arloji di tangannya seraya menghembuskan nafas kasarnya.
"Mas, tunggu" memegang tangannya yang hendak berdiri, "aku hanya ingin tahu_"
ceklek
Suara pintu terbuka dari luar, masuklah Sisi dan Doni yang juga membawa bungkusan makan siang, Doni terkejut melihat Mas Arsya tiba- tiba berkunjung, setelah setahun tak pernah terlihat datang walau hanya sekedar mampir.
"Sayang, Papa sengaja ke sini buat anter makan siang untuk Mama juga kamu" menghampiri lalu menggendongnya tak lupa untuk mengecup pipinya yang gembul.
"Sisi sudah makan Pa, tadi sama om Doni"
Mata Mas Arsya beralih menatap Doni yang membawa bungkusan. Doni tersenyum, sedikit membungkukkan badannya, lalu meletakkan bungkusan itu di atas meja, setelah itu dia berpamitan keluar, masih sempat dia berbicara lirih padaku untuk menyuruhku makan.
"Terimakasih, Don" ucapku dengan tersenyum. Setelah kedatangan Sisi tidak mungkin lagi aku menanyakan hal itu pada Mas Arsya, tapi sungguh aku sangat penasaran, apakah mungkin Mas Arsya tega melakukan semua ini.
Sesaat setelah kami berbincang, mas Arsya memutuskan untuk pulang ke rumah ibu, tidak jadi balik ke kantor karena Sisi merengek minta di antar ke rumah neneknya, aku rasa dia kangen dengan kakeknya yang selalu memanjakannya.
"Mas, tunggu" saat ini Sisi sudah keluar duluan, jadi aku bisa bertanya lagi tentang masalah toko. Mas Arsya menghentikan langkahnya.
"Apa Mas Arsya yang melakukannya?" tanyaku langsung
Mas Arsya menatapku dengan ekspresi heran,
"Apa maksudmu? melakukan apa?"
Aku bisa melihat dari tatapan matanya, sepertinya dia tidak terlibat dalam masalah di toko ku, pertanyaan yang dia tunjukkan justru membuatku jadi tak enak hati. Aku gugup dan merasa salah bicara, karena secara tidak langsung aku menuduhnya meskipun aku tidak bermaksud begitu.
"ah, itu_, melakukan surat pengajuan perceraian kita" kelit ku, untuk mengalihkan pertanyaan ku yang sebenarnya tentang para suplayer yang tiba-tiba berhenti mengirimkan barang.
Mendengar jawabanku dia hanya menatapku tanpa ekspresi, lalu tanpa berkata-kata diapun pergi, menutup pintu dengan sedikit kasar.
Mungkin memang bukan Mas Arsya yang melakukannya, aku mengingat kembali hari-hari yang telah lalu, untuk memastikan kalau aku tidak punya masalah dengan sesama pemilik toko, kami bersaing secara sehat.
Saat aku kembali duduk, hendak mengambil ponsel tiba-tiba aku teringat dengan kertas itu, aku ambil kertas yang ku simpan di bawah buku, saat Mas Arsya masuk ke dalam tadi. Mungkinkah ini akar dari masalahnya? ku coba menghubungi lewat chat ke no yang tertera dalam kertas itu. Dan tanpa menunggu lama chat yang ku kirim menerima balasan, pada akhirnya kami membuat janji untuk bertemu di sebuah restoran yang sudah di tentukan olehnya.
* * *
Aku turun dari mobil dengan perasaan campur aduk berbagai pertanyaan muncul dalam benakku, aku melangkah dengan pasti masuk ke dalam restoran itu. Salah seorang pelayannya membawaku masuk ke dalam sebuah ruang khusus yang tertutup rapat dan di jaga oleh salah satu pegawai restoran di luar pintu. Pengawai tersebut membukakan pintu dan mempersilahkan aku untuk masuk, tampak pemandangan pertama hidangan lengkap tertata di atas meja, namun tidak ada seorangpun duduk di dalam. Aku tampak ragu antara duduk atau harus pergi, tapi semua sudah terlambat karena kakiku sekarang sudah berdiri tegak di sini tidak mungkin aku melangkah mundur. Aku duduk dengan perasaan cemas, menatap berbagai macam menu makanan di atas meja. Ini merupakan penyambutan yang luar biasa bagi orang sepertiku, apalagi aku hanya datang seorang diri.
Ceklek
Jantungku dag dig dug saat mendengar suara pintu terbuka, sontak aku langsung berdiri mendengar suara langkah seseorang, pelan tapi pasti masuk dan mendekat.
Siapakah dia🤔
Bersambung...
Happy reading teman-teman😚