Second Marriage

Second Marriage
Bab 79 Cara Vanesa



"Pagi semua..." Dengan senyum merekah, dia menyapa kami.


Mau apalagi dia? Apa semalam kurang jelas? Masih saja ingin menggoda suami orang.


"Maaf, Tuan, Nyonya. Nona Nesa memaksa masuk." Ucap sekertaris Ken di belakang Vanesa.


"Tidak apa-apa" Jawab suamiku.


"Pagi Nesa" Sapa ku balik sembari tersenyum tapi tak di beri respon. Justru dengan cepat dia berjalan ke arah suamiku, hendak mencium pipi nya. Beruntung suamiku menolaknya, lega hati ini.


"Duduklah Nesa, ada apa kau pagi-pagi kemari?"


"Aku ingin sarapan denganmu, sayang..." Jawabnya manja.


"Uhuk, uhuk." Tiba-tiba saja aku tersedak saat menelan makanan mendengar ucapannya.


"Kau tidak apa-apa? Ini minumlah, kenapa bisa tersedak cuma makan roti saja?" Dia memberiku segelas air.


"Ups, aku lupa ada wanita pengganti ku ya?" Sindirnya langsung.


"Terimakasih, sayang..." Ucapku setelah meminum airnya.


"Ishh, apa perlu kalian bersandiwara di depanku? Sudahlah tidak perlu seperti itu, di sini tidak ada Ibu. Jadi tidak perlu berpura-pura saling mencintai."


Apa dia pikir semalam hanyalah sandiwara saja?


"Vanesa, katakanlah apa yang kau inginkan?"


"Sayang, kau tahu persis apa yang ku inginkan, bukan?"


Kenapa wanita ini? pagi-pagi sudah bikin aura panas saja.


Aku hanya akan mendengar saja, tidak akan bicara kalau tidak di minta. Akan ku lihat bagaimana laki-laki di depanku ini bersikap. Apakah dia juga masih berharap bisa bersama wanita itu atau tidak?


"Terlalu lama kalau mau membicarakan hal yang kau inginkan. Dan aku harus secepatnya bekerja."


"Ok, baiklah. Tidak sekarang tapi lain kali."


Tidak sekarang dan tidak ada lain kali Nona, gak akan ku biarkan ada orang lain yang bisa merebut suamiku lagi.


"Terus terang, aku ke sini ingin menyampaikan sesuatu hal, yang pasti kau akan tertarik."


"Apa itu?" Suamiku terlihat penasaran dari raut mukanya.


"Perusahaan Papaku ingin mengajukan kerjasama denganmu. Dan Papa menyuruhku untuk mewakilinya."


"Dalam bidang apa?"


"Garmen, dan aku akan memberikan desain terbaikku untuk launching nanti. Dan seterusnya perusahaan akan menggunakan desain-desainku. Bagaimana?"


"Apakah menguntungkan untukku?"


"Tentu saja, aku tidak akan mematok harga mahal sebagai ganti karyaku. Daripada kita mengunakan orang lain yang pasti akan lebih mahal dan belum tentu sebaik punyaku." Ucapnya dengan percaya diri.


Oh, ternyata dia seorang desainer. Sehebat apa dia hingga sangat percaya diri?


"Sepertinya menarik, akan kita bahas nanti selanjutnya saat meeting. Masih harus ada yang di pertimbangkan."


Wah-wah, pintar sekali wanita ini. Menggunakan cara yang sesuai dengan keahlian suamiku untuk selalu dekat dengannya. Dan kelihatannya dia tertarik.


Sepertinya aku harus mengakhiri obrolan pagi mereka. Secepatnya menyuruh sang suami untuk pergi ke kantor agar wanita itu tidak lagi dekat dengannya. Dan aku juga harus pergi ke Toko.


"Suamiku sayang, sepertinya saya harus pergi ke Toko. Apa kau mau berangkat sekarang atau..." Aku hanya ingin lihat dia mencegahku atau membiarkan aku pergi.


"Baiklah, kau bisa berangkat."


Duaaar


Dia tidak mencegahku pergi. Kecewa pasti aku kecewa, karena dia memilih bertahan duduk bersama mantan kekasihnya daripada pergi, atau seenggaknya menawarkan tumpangan untukku.


Sungguh menyebalkan sekali jawabannya, lalu apa sikap dan perlakuannya semalam hanya pura-pura?


Dan lihat wajah wanita itu, lebih menyebalkan. Senyum mengejeknya membuatku ingin menjambak rambutnya yang panjang. Dia pasti merasa menang.


"Ke atas dulu, tas masih tertinggal di kamar" Ucapku seraya berdiri.


"Iya, sekalian bawain jam tangan. Tadi kau lupa memakaikannya."


"Oh, iya." Lalu aku beranjak pergi.


"Sial, pagi yang buruk" Gerutu ku, pagi yang ku kira akan bejalan dengan indah ternyata tidak. Kedatangan wanita itu memperburuk suasana hatiku saja.


"Apa yang mereka bicarakan? kelihatan serius banget." Saat aku menuruni tangga, melihat mereka berdua tengah berbincang.


"Sayang, ini jam tangannya. Sini aku pakaikan." Biarlah aku harus terlihat mesra di hadapan wanita itu meskipun sebenarnya aku sedang kesal padanya.


"Sudah, sempurna." Aku masih tersenyum memujinya.


"Sayang, berdirilah. Saya benerin dulu dasinya, sepertinya kurang pas, tadi." Sengaja aku ingin memperlihatkan pada wanita itu, kalau aku ini istrinya sesungguhnya.


Cup


Setelah membenarkan dasi yang sebenarnya sudah bener, aku beranikan mengecup bibirnya sekilas. Meski sehabis itu mukaku seperti kepiting rebus rasanya.


Aku senang melihat ekspresi suamiku yang terkejut dan melihat Vanesa yang sudah cemberut sembari matanya terbelalak sempurna.


Rasain kau, mungkin dulu aku akan diam tapi sekarang tidak.


"Sayang..., aku berangkat dulu ya." Pamit ku lalu ku cium punggung tangannya.


"Tunggu!"


"Iya, ada yang kurang?"


"Pergi sama siapa?"


"Bisa pergi sendiri, atau di antar Pendi atau bisa juga minta di jemput sama Doni."


"Pendi? Pendi siapa?"


Yah, sama pelayan nya sendiri gak tahu keculai sama Pak Didi.


"Orang yang bertugas di garasi bawah."


"Garasi bawah?" Dia coba mengingat-ingat.


"Tidak, jangan! Aku tidak kenal."


"Ya udah sendiri aja."


"Tidak!"


"Biar di jemput Doni aja"


"Tidak!"


Terus gimana? semua tidak boleh. Jangan bilang aku di suruh di rumah aja.


Aku menatapnya serius, sembari mengangkat kedua bahuku.


"Kali ini aku yang mengantar."


Suuurrr...


Hati yang tadi panas seperti tersiram air dingin langsung adem, lega sekali mendengarnya akan mengantarku ke Toko.


"Hem, baiklah" Ucapku sembari tersenyum.


"Nathan, bukankah tadi kau bilang akan meeting denganku?" Vanesa mencoba mencegahnya.


"Benar, lalu masalahnya?"


"Ya, harusnya aku berangkat bersamamu."


"Nesa, saya rasa kamu bisa berangkat duluan. Bukannya bawa mobil sendiri juga ke sininya, kan?" Tandas ku padanya.


"Kau pergilah duluan, nanti aku kabari waktu meetingnya."


"Ck" Dia berdecak sembari mendengus kesal lalu pergi.


"Ayo kita berangkat..."


Ngajakin berangkat bareng, aku di tinggal jalan duluan.


"Gak romantis banget sih?" Lirihku sembari mengikuti di belakangnya.


Dalam perjalanan ku perhatikan dia sibuk terus dengan ponselnya, hah! maklumlah punya suami tajir yang super sibuk. Pasti istri jadi yang ke dua.


"Jangan menggodaku di sini, aku tidak akan tahan jika melihat bibirmu seperti itu terus"


Aku yang dari tadi melihat ke luar dari balik kaca mobil, akhirnya memutar kepala ke arahnya.


Masih sempat dia bilang aku menggodanya, padahal dia sedang sibuk dengan ponselnya.


"Apa? Apa yang ingin kau katakan, hem?"


Aku hanya menggeleng, malas bicara dengannya.


"Apa kau tidak setuju kalau aku dan Nesa kerja bareng?"


"Kalau aku bilang tidak, apa kau akan menyetujuinya?"


"Tidak!"


"Lalu, untuk apa bertanya?" Ucapku dingin lalu menghadap lurus ke depan.


Yah, dia tersenyum. Apa dia pikir aku bercanda.


"Auww" Reflek aku langsung menoleh ke arah dan ternyata...


Cup


Aku di kejutkan dengan serangan dadakannya, cepat-cepat aku melepaskan diri sadar kalau sedang di mobil dan ada sekertaris Ken.


"Satu balasan ciuman tadi."


"Sssst, ada Pak Ken." Ucapku dengan wajah yang terasa panas.


" Kenapa? Dia tidak melihat. Benarkan ken?"


"Benar, Tuan."


Benar apanya? dia saja senyum-senyum gitu.


Sejujurnya sampai detik ini aku belum sepenuhnya percaya dia mencintaiku. Dalam hatiku masih ada kekhawatiran tersendiri, tapi ku coba menerima rasa apapun yang muncul saat bersamanya.


.


.


Bersambung😊