Second Marriage

Second Marriage
Bab 50 Pertengkaran saudara



Aku tersudut dengan keadaan yang ada saat ini. Melihat ekspresi Doni yang sangat berharap mendapat kejelasan dan mengingat kebaikannya selama ini padaku, tidak adil jika aku masih terus berbohong padanya.


Meskipun bukan hak Doni untuk tahu lebih jauh tentang kehidupanku, tapi secara tidak langsung selama ini dia sudah masuk dalam lingkaran perjalanan hidupku. Terlepas apapun itu statusnya, sahabat, teman baik, atau adik ketemu gede, aku rasa dia mungkin harus tahu keadaan yang sesungguhnya. Toh, selama ini juga dia yang selalu membantu dalam kesulitan ku.


"Doni, maaf. Jika Mbak tidak memberi tahu mu tentang yang terjadi sesungguhnya. Mbak hanya tidak mau terus merepotkan mu" Aku merasa terlalu banyak berhutang budi padanya.


"Apa pernah, aku merasa keberatan?"


"Meskipun kau tidak pernah keberatan, tapi kau berhak hidup dan mengejar mimpimu tanpa harus terbebani oleh masalah yang Mbak hadapi"


"Mbak, aku senang bisa selalu bersamamu. aku tidak pernah merasa terbebani sedikitpun, bila perlu aku sanggup menjadikan Mbak sebagai prioritas utama ku."


Deg


Aku lebih terkejut mendengar ucapan Doni kali ini. Perkataan yang merujuk pada suatu hubungan yang lebih dari sekedar teman atau sahabat baik. Mungkinkah dia selama ini menyukaiku? Lalu kebaikan yang dia berikan atas dasar rasa suka. Berarti apa yang di bilang waktu di apartemen itu bukanlah candaan semata.


Mungkin benar di antara pria dan wanita itu tidak bisa jadi sahabat, karena salah satu di antara mereka pasti akan menyimpan rasa lebih, entah cepat atau lambat pasti akan menyadarinya.


"Apa maksud ucapan mu? Doni" Lebih baik aku bertanya langsung dari pada harus menerka-nerka sendiri.


"Doni Anggara putra" Suara yang sangat familiar terdengar dari arah pintu masuk.


Aku dan Doni bersamaan melihat ke arah sumber suara. Melihat kedatangan Tuan Nathan, aku langsung berdiri dan menjauh dari Doni agar dia tidak memberikan hukuman padaku seperti kemarin. Derap langkah tegasnya sangat jelas terdengar dalam ruangan yang sunyi.


Mati aku, kenapa jam segini dia sudah pulang? Mungkin Pak Didi yang memberitahunya kalau di rumah ada Doni.


"Sudah pulang rupanya?" Aku berjalan mendekatinya.


Tuan Nathan melepaskan jas nya lalu memberikan padaku, kemudian dia menghampiri Doni yang masih duduk diam memandangi kegiatan yang aku lakukan.


"Pak Ken, kenapa tidak bilang dulu padaku kalau Tuan akan pulang cepat" Ku ucapkan lirih di samping sekertaris Ken.


"Maaf Nyonya, saya tidak sempat karena Tuan sangat ingin cepat tiba di rumah" Sekertaris Ken juga mengatakan dengan lirih.


"Doni, apa kabarmu? Sudah lama sekali kau tidak berkunjung ke rumah" Tanya Tuan Nathan saat sudah duduk di hadapan Doni.


Sudah lama tidak berkunjung, itu berarti Doni pernah datang ke rumah ini. Siapa Doni sebenarnya?


"Kemarilah, duduk di sini" Suamiku menyuruhku untuk duduk di sampingnya, aku pun menuruti kemauannya dan duduk di sampingnya.


Kebetulan dia tidak menyuruhku pergi, karena aku ingin tahu juga siapa sebenarnya Doni. Ada hubungan apa dia dengan Tuan Nathan?


Suamiku tersenyum padaku saat aku sudah duduk di sampingnya, dia masih menepuk sofa lagi agar aku bisa duduk lebih dekat dengannya hingga tidak ada jarak lagi.


Ku lihat mata Doni menatap kami dengan tajam, ekspresi wajahnya menggambarkan sebuah jawaban dari rasa penasarannya.


"Aku baik-baik saja" Jawab Doni.


"Langsung saja, apa tujuanmu kemari? Apakah kau ingin tahu kabar Ibuku? Atau ada yang lain?"


"Aku ingin bertemu dengan Mbak Jesi." Jawabnya jujur.


"Apa kau sudah membuat janji padanya?" Suamiku bertanya padaku, buru-buru aku menggelengkan kepala.


"Baguslah" Suamiku mengusap lembut pucuk kepalaku.


"Apa?" Doni terkejut dan meninggikan suaranya.


"Apa yang sudah kakak lakukan?" Tanya Doni sembari berdiri.


"Kakak? jadi kau adik dari_" Aku pun terkejut saat Doni memanggil kakak pada suamiku.


"Jangan main-main kak Nathan!" Doni terlihat sudah mulai marah dengan kenyataan yang ada.


"Aku selalu serius dan tidak pernah main-main dengan ucapan ku" Jawab santai suamiku.


"Mbak Jesi, katakan kalau itu bohong" Doni mendekat padaku lalu memegang lenganku.


"Doni, jaga sikapmu pada kakak iparmu" Tuan Nathan mulai tidak suka saat orang lain menyentuhku.


Aku pun melepas paksa tangan Doni yang memegang lenganku erat. Situasi mulai terasa panas.


"Doni, jangan begini. Maafkan Mbak!" Aku terpaksa tidak mengizinkan Doni untuk tetap menyentuhku.


"Jadi benar, pantas semua orang di sini menyebut Mbak dengan Nyonya. Kenapa Mbak? Alasannya apa Mbak mau menikah dengannya?" Doni terlihat frustasi dengan mengusap kasar wajahnya, dia sangat kecewa.


"A_aku," Bingung harus menjawab seperti apa. Tidak mungkin juga aku menjawab jujur kalau aku hanya istri kontrak dari kakaknya.


"Tidak semua hal harus kamu tahu, apa hak mu untuk terus ikut campur urusan pribadi orang lain?" Ucap Tuan Nathan sinis.


"Kak, kau tahu betul aku tidak mau menerima tawaran untuk pindah dan kuliah di luar negeri darimu, untuk apa?"


Jadi Doni selama ini juga berbohong padaku katanya dulu tidak mampu membayar kuliah makanya dia bekerja padaku. kenapa juga dia tidak menceritakan dari awal kalau dia ada hubungannya dengan Tuan Nathan? Apa maksud sebenarnya?


"Untuk mengharapkan wanita yang sudah menjadi istri orang! Cintamu sungguh konyol"


"Apa bedanya dengan kakak? Kakak bahkan tahu betul Mbak Jesi masih istri orang tapi kakak membuat jalan mudah agar mereka cepat bercerai, lalu sekarang apa? Kakak menikahinya, dengan dalih awal kesalahan yang sepele."


Pertengkaran sengit sudah di mulai antara kakak dan adik, perdebatan yang melibatkan namaku. Aku merasa tidak mengerti dengan setiap ucapan mereka dan tujuan mereka masing-masing. Mereka seperti mempermainkan hidupku yang hanya seorang biasa saja.


"Stop! Hentikan!" Aku sengaja berteriak pada mereka agar mereka berhenti berdebat.


Mereka diam tapi malah menatapku tajam, apa mereka tidak sadar yang mereka bicarakan ada di tengah mereka?


"Ada apa ini?" Ibu juga sudah pulang dan langsung di suguhkan dengan ketegangan antara kedua anaknya.


"Doni, apa kabar?" Ibu mertua langsung menghampiri Doni dan memeluknya.


"Baik, Tante" Jawab Doni dengan tersenyum setelah mengurai pelukannya.


Tante? jadi Doni bukan adik kandung Tuan Nathan. Lalu siapa dia? Kenapa memanggil kakak?


Sampai di sini aku menyimpulkan kalau aku benar-benar tidak mengenal siapa Doni sesungguhnya. Hanya kebaikannya saja yang ku kenal, tidak dengan lainnya. Aku juga tidak pernah tahu masalah yang di hadapinya selama ini, aku sibuk dengan urusan ku sendiri. Doni kau selalu baik padaku tapi kenapa kau tidak mau jujur dan terbuka dengan hidupmu yang sebenarnya.


.


.


Bersambung😊