
Melihat tawa dan keakraban mereka membuat pikiranku melayang berangan angan ke masa depan. Mungkinkah suatu saat nanti kami bisa menjadi keluarga yang sebenarnya?
Tapi rasa takutku mengalahkan imajinasi yang tiba-tiba muncul begitu saja dalam benakku.
"Nyonya, ada apa? Kenapa diam?" Suara sekertaris Ken menyadarkan lamunanku.
"Eh, Pak Ken. Tidak apa-apa"
"Mama..." Seru sisi dari dalam kamar melihat keberadaan ku di ambang pintu.
"Iya, sayang" Ucapku lalu menghampirinya.
"Kau sudah pulang?" Ucap Tuan Nathan.
"Iya, barusan. Maaf kalau lama" Ucapku sambil tersenyum.
"Mama, kemarilah duduk bersama kami" Ucap Sisi yang berada di atas ranjang bersama suamiku.
"Tidak, jangan!" Sahut Tuan Nathan langsung.
"Maksudku, Ibumu baru pulang dari keramaian pasti banyak menyentuh benda-benda kotor dan juga tersentuh oleh orang. Biarkan dia bersih-bersih dulu" Sambung Tuan Nathan.
Memang benar apa yang di katakan nya, tapi ada yang membuatku mengerutkan kening saat dia menekankan kata tersentuh oleh orang.
"Benar sayang, Mama harus mandi dulu" ucapku lalu mundur lagi setelah sempat untuk ikut bergabung.
"Mainlah sendiri sendiri dulu, Ayah antar Mama ke kamar dulu" Ucap Tuan Nathan kemudian dia turun dari ranjang.
"Baik, Ayah" Ucap Sisi.
Ayah, sejak kapan bahasa ayah itu di mulai?
"Ayo, cepatlah! bersihkan dirimu" Ucap suamiku seraya melewati ku.
"Ah, iya"
"Ken, bawa semua ke kamar" perintah Tuan Nathan untuk mengantarkan semua barang belanjaan ku ke kamar.
"Baik, Tuan"
* *
"Permisi, Tuan, Nyonya" Ucap sekertaris Ken setelah meletakkan semua barang ku di atas sofa.
"Terimakasih, Pak Ken" Ucapku sembari tersenyum.
"Kau selalu saja bisa berterimakasih pada orang lain dengan mudah dan tulus"
"Apa maksud, Tuan?" Aku tidak mengerti dengan ucapannya.
"Sudahlah, pergilah mandi. Saya tidak mau terus menerus mencium aroma pria brengsek itu di tubuhmu!"
Dia tahu aku bertemu dengan Mas Arsya, Mungkinkah dia mengawasi ku?
"Kenapa malah bengong?" Dia sudah mulai menaikkan suaranya.
"Eh, iya. Baik" Buru-buru aku lalu pergi ke kamar mandi dan membersihkan seluruh tubuhku.
Sepertinya benar dia tahu kalau aku bertemu dengan mantan suamiku. Dan dia marah karena aku pulang setelah dia sampai di rumah duluan.
Selesai mandi ku lihat dia duduk di ranjang dengan memangku laptop dan tangannya sibuk di atas keyboard. Aku lalu duduk di depan meja rias sembari mengeringkan rambut yang masih basah setelah keramas.
Aku meliriknya lewat kaca, terlihat dia sangat serius menatap laptopnya. Entah apa yang sedang di lihatnya?
"Tidak ada yang ingin kau ceritakan padaku hari ini?"
"Saya hanya pergi ke tempat badan sosial tanggap bencana untuk memberikan semua barang bekas ku lalu ke sebuah mall untuk membeli semua pakaian baru seperti yang Tuan perintahkan."
"Benarkah, hanya itu?" Dia sepertinya tidak percaya.
"Benar, Tuan" sengaja aku tidak mengatakan tentang pertemuanku dengan Mas Arsya. Aku ingin meyakinkan sekali lagi tentang tebakanku.
"Lepaskan tanganmu" Ucapnya lembut. Dia menyuruhku melepaskan tangan yang sedang memegang handuk di kepala.
"Biar saya bantu mengeringkannya" lalu dia mengambil alih kegiatanku mengeringkan rambut.
"Tidak, tidak perlu Tuan. Saya bisa sendiri" Ucapku gugup karena tingkah aneh suamiku.
"Harum sekali rambutmu, kau pakai shampo apa?" Tanya Tuan Nathan sembari mencium rambutku.
"Pakai shampo yang ada di kamar mandi" jawabku jujur, dan memang hanya ada satu shampo di kamar mandi. Aku rasa itu juga yang di pakai olehnya.
"Saya tahu kau lelah hari ini, berbelanja sendirian tanpa ada satu pelayan pun yang menemanimu belanja sebanyak itu" Ucapnya masih sembari mengeringkan rambutku dengan lembut.
Apa sebenarnya maksud dari semua tingkah lakunya, sampai dia bersedia memegang rambutku bahkan menciumnya. Mungkinkah ini awal yang baik? Pikiran ku sudah terbang kemana mana. Tadi dari nada suaranya dia terlihat marah padaku dan sekarang justru sikapnya sangat lembut hingga membuatku menegang.
"Tenanglah, rileks kan dirimu. Jangan tegang!" Dia mengungkapkan kata itu sembari menempelkan bibirnya ke daun telingaku. Jelas saja itu semakin membuatku menegang dan merinding di bulu kuduk.
"Pejamkan matamu! Ingat saya bukan orang lain di sini, saya adalah suamimu" Sambungnya mengeluarkan kata-kata yang semakin membuat jantungku berdetak kencang.
Tanpa sadar aku mengikuti ucapannya untuk memejamkan mata. Entah setan mana yang sedang merasukinya saat ini, sikapnya membuat aku bingung dan bertanya-tanya.
Dengan perlahan aku merasakan sentuhan tangannya mengusap-usap punggung tangan kananku. Lalu dvia mengangkat tanganku.
"Tetap pejamkan matamu" Ucapnya masih masih menempel di telingaku.
Kali ini aku benar-benar merasakan sulit untuk bernafas. Aku takut dia akan berbuat lebih dari ini, aku belum siap untuk melakukan kewajibanku sebagai seorang istri.
Tuhan, tolonglah aku.
Dalam hatiku terus berdoa agar hal yang ku pikirkan tidak terjadi sekarang, karena aku belum sanggup untuk kecewa lagi. Perlakuannya kali ini membuatku melambung tinggi dan aku tidak mau jika tiba-tiba aku harus terjatuh ke dasar jurang yang curam.
Perlahan namun pasti aku merasakan sentuhan di atas punggung tanganku. Sebuah ciuman lembut mendarat di situ.
Sesaat kemudian aku merasakan hal yang luar biasa, dan tidak pernah terpikir olehku sebelumnya.
"Auww...!" Teriakan keras dari mulutku.
Ciuman yang lembut berubah menjadi gigitan yang sangat keras, dan itu membuat ku reflek menarik tangan yang sedang di pegangnya.
Sebuah gigitan membekas di atas punggung tanganku. Dia tidak hanya mengeluarkan taringnya saja melainkan menancapkan juga di kulitku.
Dasar singa gila.
Aku hanya berani mengumpatnya dalam hati saja, gigitannya membuat mataku berair dan membuat kulitku ada cap gigi-giginya.
Aku meniup punggung tangan yang terasa panas dan sakit karena ulah suami baruku.
Kenapa nasibku sial begini? selalu saja di sakiti saat sudah merasa nyaman.
"Sakit?" Tanya Tuan Nathan tanpa rasa bersalah.
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban, karena aku takut saat suaraku keluar pasti akan bergetar karena tidak mampu menahan tangis.
"Ingat itu adalah tanda dariku. Jangan sampai kau berikan tanganmu di sentuh orang lain, apalagi dia seorang laki-laki" Ucapnya marah dan memberiku peringatan.
"Selagi kau masih menjadi istriku, itu berarti kau adalah milikku. Semua yang ada di dirimu adalah milikku. Dan saya tidak suka orang lain menyentuh apa yang saya punya dan telah menjadi milikku. Ingat itu!" Dia memberikan ketegasan padaku sekali lagi.
Sebenarnya tidak perlu harus dengan cara kasar seperti ini untuk membuatku mengerti, tapi kembali lagi dia adalah Tuan Nathan Darwin Erlangga. Mungkin jika bukan dia, tidak akan seperti ini juga caranya memberitahuku.
Semua ucapannya sudah membuktikan bahwa dia mengawasiku dari jauh. Setiap hal yang ku lakukan dia pasti tahu.
Aku terus menahan rasa sakit dan meniupnya terus menerus, berharap rasa sakit akan cepat berkurang.
Aku melihat dia mengambil ponsel lalu menelpon seseorang. Entah apa lagi yang akan dia lakukan?
.
.
Bersambung 😊