Second Marriage

Second Marriage
Bab 43 Perkara pakaian



Perlahan aku mendekati suamiku yang sedang terlihat menahan amarahnya. Tampaknya dia sedang berpikir tentang persoalan yang barusan dia dengar.


"Kenapa dengan wajah, Tuan? tiba-tiba jadi merah"


"Kenapa kau keluar lagi?" Bukannya menjawab malah balik bertanya.


"Saya mau ambil pakaian ganti" jawabku sembari berjalan.


"Ck, cepatlah! Saya tunggu kau di bawah" teriaknya.


"Tuan bisa duluan saja" Teriakku juga dari dalam yang sedang membongkar pakaian.


"Kau lupa? Siapa kau sekarang?" Tanya suamiku yang sudah membuka pintu.


"Astaga!" Aku terkejut tiba-tiba mendengar suaranya sudah ada di dalam saja.


"Iya, saya sekarang istri kontrak yang merangkap jadi pelayan anda, Tuan" Ucapku sembari memberi penekanan pada kata istri kontrak dan pelayan.


Entah apa yang ada di otaknya? Tiba-tiba dia terkekeh mendengar ucapan ku.


"Dasar aneh" gumam ku lirih sembari berdiri dan meninggalkannya.


"Apa kau bilang?" Suamiku mengekor di belakang.


"Anda sangat tampan hari ini" Ucapku seraya tersenyum paksa setelah membalikkan badan menghadapnya.


"Saya memang selalu tampan setiap hari" Dia memang selalu percaya diri.


"Ayo, cepatlah!" Ucapannya sembari membalikkan badanku lalu mendorong agar berjalan cepat ke kamar mandi.


"Dia sendiri yang sudah membuatku lambat" gerutu ku sembari membuka pintu kamar mandi.


*


*


Di sebuah meja makan yang besar, hanya ada aku dan suamiku. Ibu mertua dan anakku, mereka sudah berangkat. Karena saat ini jam sudah menunjukkan angka delapan, itu berarti aku dan suamiku bangun terlambat.


"Kemana Sisi?" Tanya suamiku sembari sarapan roti dan selai.


"Sudah berangkat, Ibu tadi yang mengantar sekalian mau ke galeri katanya" Jawab ku.


"Ini, kau pakai. Beli semua pakaian baru dan kebutuhanmu. Pulang nanti saya tidak mau melihat ada pakaian dari mantan suamimu ada di rumah ini!" Ucapnya tegas sembari memberiku kartu kredit tanpa batas.


"Ambilah, tak perlu sungkan. Ingat baju yang kau pakai sekarang juga harus kau buang!" Dia meletakkan kartu itu di atas meja.


"Tapi, ini_"


"Kenapa? Apa kau masih sayang dengan laki-laki brengsek macam dia?"


"Tidak, hanya saja_" Ucapku ragu, karena bukan masih sayang dengan orang yang memberikannya, tapi semua masih terlihat bagus.


"Apa perlu Ken yang harus membakarnya?" Dia menyuruh sekertaris nya untuk membantuku.


"Ken..." Dia memanggil sekretarisnya yang berada tak jauh darinya.


"Siap, Tuan" Jawab sekertaris Ken.


"Eh, tidak. Tidak perlu, biar saya sendiri saja" Ucapku sembari mengambil kartu kreditnya.


Kalau sekertaris Ken yang membantuku maka di pastikan semua akan habis terbakar tanpa sisa. Aku rasa lebih baik di berikan pada orang yang membutuhkan. Ya, meski hanya pakaian bekas tapi semua masih layak untuk di pakai dan tidak memalukan.


"Bagus, ingat jangan ada sehelai benangpun tertinggal!" Ucapnya mengingatkan aku lagi.


"Iya...,baik."


Kemudian setelah selesai sarapan dia berangkat ke kantor, aku pun ikut mengantar sampai ke depan hingga mobilnya melaju meninggalkan rumah dan tak terjangkau oleh mataku.


Setelah itu aku langsung masuk kembali dan menuju ke kamar untuk membereskan semua baju yang masih berantakan dan belum sempat tertata di lemari.


"Nyonya, apa perlu saya bantu" Tawar Pak Didi sesaat sebelum aku naik ke lantai dua.


"Tidak perlu Pak, terimakasih" Ucapku seraya tersenyum.


Kenapa aku justru di sibukkan dengan pakaianku? Keluar masuk dalam koper. Untung bajuku belum tertata dengan rapi di lemari.


Melihat lingerie yang masih tergantung di lemari, aku jadi berpikir kenapa aku sendiri yang harus membuang baju dari mantan? Sedangkan dia justru menyimpannya dengan rapi.


Selesai memasukkan semua ke dalam koper, kemudian aku bawa keluar untuk ku sumbangkan bagi orang yang membutuhkan.


"Nyonya, mau di bawa kemana?" Tanya Pak Didi yang melihatku menggeret koper.


"Mau saya sumbangkan bagi orang yang membutuhkan ketimbang cuma di bakar atau di buang begitu saja" Jawabku.


"Oh, begitu..." Ucap Pak Didi.


"Pak, saya mau keluar tapi bagaimana bisa saya pergi kalau Babang ojol atau taksi online tidak bisa masuk ke sini?" Tanyaku yang sempat bingung.


"Apa ada motor di sini, Pak Didi?" Lanjut ku bertanya melihat Pak Didi yang tengah berpikir.


"Ada, Nyonya"


"Baguslah, saya pinjam motornya sebentar."


"Baik Nyonya, saya telepon Tuan dulu sebentar" Ucap Pak Didi langsung memencet ponselnya.


"Ya,ya. Terserah Pak Didi aja. Daripada aku tidak bisa keluar dari sangkar emas ini"


"Nyonya, kata Tuan, anda boleh menggunakan motor sesuai dengan yang anda sukai" Ucap Pak Didi seusai menelepon.


"Ya, terimakasih Pak."


Kemudian Pak Didi membawaku ke garasi di lantai bawah. Mengejutkan ada banyak koleksi motor di sini dari yang klasik sampai yang jaman now. Dan jangan di tanya masalah harga dan kelasnya, yang pasti bukan kelas rakyat jelata pada umumnya.


Aku jadi bingung dan ragu antara mau pakai atau tidak, takut jika sampai nanti akan tergores.


"Tidak ada yang lain? Pak Didi. Maksud saya motor yang biasa di pakai banyak orang di jalan gitu"


"Tidak, Nyonya"


"Mungkin punya Pak Didi atau pelayan lainnya, kalau ada saya pinjam."


"Maaf Nyonya, sebaiknya pakai yang ada di sini saja. Kalau Tuan tahu anda pakai yang di luar maka kami akan dapat masalah besar."


"Benarkah?" Tanyaku.


"Tentu, Nyonya" Jawab pasti Pak Didi.


"Ya sudah saya pakai yang itu saja" Aku menunjuk motor matic yang tidak terlalu besar ukurannya.


"Baiklah Nyonya, saya akan ambilkan kuncinya. Nanti Pendi yang akan membantu mengeluarkannya" Ucap Pak Didi lalu mengambil kunci dan membawa orang yang namanya Pendi.


"Ini, Pendi. Dia yang bertugas menjaga tempat ini" Pak Didi memperkenalkan aku dengan penjaga garasi di ruang bawah.


Dengan senang hati aku berkenalan dengannya, namun saat aku mengulurkan tangan, dia tidak menyambutnya dan hanya mengatupkan kedua tangannya sembari menundukkan kepala.


Aku jadi merasa malu dan canggung, karena dia tidak mau menyambut uluran tanganku. Lalu aku hanya tersenyum dan ikut menundukkan kepala juga.


"Nyonya, mohon jaga sikap anda?" Tiba-tiba Pak Didi memberi peringatan padaku.


Aku tidak mengerti, sikap mana yang menurutnya harus aku jaga.


"Pak Didi, kenapa sekertaris Ken juga sering berkata seperti itu pada saya? Sikap yang seperti apa yang harus saya jaga? Saya tidak merasa ada sikap saya yang salah!"


"Nyonya harus tahu, sesuatu yang sudah menjadi milik Tuan Nathan maka tidak boleh di sentuh orang lain. Apalagi Nyonya adalah istrinya" Pak Didi menjelaskan alasannya.


Bagaimana bisa, aku bukan barang. Aku butuh berinteraksi dengan manusia lain. Aku beneran bisa stres kalau itu terus terjadi.


Ternyata beneran ada orang yang seperti di dunia cerita fiksi.


Aku hanya berpikir dan menelaah perkataan Pak Didi yang membuatku geleng-geleng.


.


.


Bersambung😊


Terimakasih buat dukungan semuanya, buat vote, like dan komentarnya juga hadiahnya. Tanpa kalian author tidak akan semangat untuk menulis.


Untuk beberapa hari ke depan menjelang lebaran, mungkin author tidak bisa up. Tapi kalau ada waktu saya akan usahakan untuk up.


Terimakasih 🙏🥰