
Saat tidak sengaja mataku menangkap wajah orang yang duduk di depanku, dia sedang melihatku dengan tatapan membencinya. Sengaja dia menusuk-nusuk daging di piringnya dengan kuat, namun matanya fokus ke arahku.
Aku tersenyum cuek padanya, bahkan sengaja aku mengambilkan makanan tambahan di piring suamiku.
"Sudah cukup, jangan terlalu banyak." Tuan Nathan melihat piringnya yang tadi sudah hampir habis tapi ku tambah lagi porsinya. Bukan aku tidak tahu kalau malam hari dia cuma makan sedikit, aku hanya ingin membuat wanita itu sedikit terbakar api cemburu.
"Oh, iya. Saya lihat hari ini anda terlalu lelah jadi sengaja saya tambahkan asupan makanannya."
"Kau sengaja bukan, ingin membuatnya gemuk?" Ucap Vanesa padaku.
Aku hanya membalasnya dengan tersenyum. Kenapa dia jadi khawatir kalau Tuan Nathan gemuk? Apa menurutnya pria gemuk itu tidak menarik, mungkin?
Setelah makan malam selesai, aku menyuruh Sisi untuk naik ke atas supaya dia tidak mendengar perkataan pedas wanita itu. Supaya dia juga tidak tahu apa yang sedang terjadi sekarang ini.
Awalnya anak kecil yang selalu ingin tahu itu menolak, namun akhirnya menurut dengan perintah ayah tirinya. Tentunya tidak setegas saat berhadapan denganku.
"Kau, kenapa masih saja ikut bergabung dengan kami?" Tanya Vanesa padaku yang ikut duduk di ruang keluarga.
"Aku?" Belum sempat aku menjawab Doni sudah menjawab duluan.
"Apa ada masalah kalau dia masih ada di sini? Jawab Doni dengan pertanyaan.
"Tante, Nathan. Adakah yang bisa menjelaskan padaku siapa wanita ini sebenarnya" Vanesa sudah terlihat sangat kesal dan penasaran.
"Dia itu_" Sepertinya Ibu akan menjelaskan siapa aku dalam keluarga ini.
"Sayang, kemarilah." Tuan Nathan menyuruhku untuk duduk di sampingnya.
"Sayang!" Wanita itu terkejut mendengar aku di panggil sayang.
Sama aku juga terkejut saat dia memanggilku sayang, dan itu di depan mantan calon istrinya. Apakah ini bisa di bilang sebuah harapan di ujung ketidakpastian.
Perlahan aku mendekat dan duduk di sampingnya, setelah aku duduk tangan satunya langsung melingkar di pinggangku dari belakang.
Sedikit terkejut si dengan perlakuannya seperti ini di hadapan Ibu dan yang lain tapi ku coba untuk bersikap biasa aja. Aku tersenyum malu karena situasi ini.
"Perkenalkan, ini istriku!" Singkat padat dan jelas.
Ku tatap wajahnya lekat, saat dia mengucapkan kata itu. Tenang dan tidak ku lihat ada sedikit keraguan di sana.
"Istri?" Ucap Vanesa yang sepertinya tidak percaya.
"Benar, Nesa. Jesi adalah istri Nathan." Sambung Ibu mertuaku.
"Tapi, Tante. Aku_"
"Tidak ada alasan yang bisa mengubahnya, kau pergi sudah terlalu lama dan aku pikir kau tidak akan pernah kembali. Aku laki-laki normal yang membutuhkan wanita di sampingku."
Benarkah apa yang di ucapkan nya? Bolehkah aku berharap pernikahan ini akan terus berlanjut.
"Tante berharap kau bisa mengerti."
"Ya, ya. Tentu aku bisa mengerti, Nathan pasti butuh wanita penghibur saat aku tiada dan aku bisa memakluminya."
Ucapan wanita itu sungguh membuat ku merasa sakit. Aku bukan wanita penghibur seperti yang dia pikirkan, aku bahkan tidak menginginkan pernikahan terjadi.
"Maaf, tapi saya bukan wanita penghibur. Saya wanita baik-baik meski tidak berkelas seperti anda." Tandas ku langsung.
"Oh, terus anak tadi anak siapa?"
"Anak Kami"
"Anak saya" Aku dan Tuan Nathan menjawab bersamaan namun berbeda.
"Mana yang benar, anak kalian atau hanya anakmu saja?"
"Anak saya!" Jawabku
"Hah!" Dasar wanita gila, jadi dia akan tetap mendekati Tuan Nathan meski sudah tahu beristri.
"Apa maksud kak Nesa?" Tanya Doni yang dari tadi hanya diam.
"Doni, aku dan Nathan sudah lama berhubungan. Aku tahu sesungguhnya perasaan Nathan padaku tidak pernah berubah. Sebagai penebus rasa bersalahku maka aku tidak keberatan dengan adanya wanita lain. Apalagi dia datang sepaket, itu tidak masalah". Jawab panjang lebar Vanesa.
"Nesa, ternyata kau masih tangguh seperti dulu." Ucap Tuan Nathan.
Apa yang suamiku katakan? Pujian atau apa?
"Sepertinya ini sudah larut malam, tidak baik jika seorang wanita singgel berada di rumah laki-laki yang sudah beristri." Ucapku yang sengaja mengusir lewat sindiran.
"Ok, baiklah kalau begitu aku pamit. Nathan aku sudah di usir oleh istrimu, aku minta di antar pulang." Dengan percaya diri dia masih meminta suamiku secara terang-terangan.
Benar-benar gak tau diri, wanita berkelas tapi otaknya kampungan.
"Nesa, aku_"
"Maaf Nona Nesa yang terhormat. Suami saya bukan sopir anda, saya akan menyuruh Pak Ken atau yang lain untuk mengantar anda pulang."
Tanpa pikir panjang aku langsung menyambar dengan cepat seperti kilat, sebelum Tuan Nathan mengatakan untuk bersedia mengantarnya pulang.
Aku tidak perduli jika kau mau marah, kau sudah mengatakan aku adalah istrimu di hadapannya. Jadi aku berhak untuk melarang mu dekat apalagi berhubungan dengannya yang jelas-jelas masih ingin memilikimu.
"Benar, atau mau Doni yang mengantar?" Ibu mertua menawarkan jasa keponakannya.
Wajah wanita itu nampak jelas marah di depan kami, karena aku menghalangi niatnya untuk berdua dengan suamiku.
"Sebentar saya panggilkan Pak dulu. Dia ada di depan, atau mau sekalian saya antar keluar?" Ucapku seraya berdiri.
Vanesa Priscilla, perempuan terhormat yang merasa harga dirinya di injak-injak oleh wanita seperti ku. Dia langsung bangkit berdiri dan berjalan keluar tanpa meninggalkan kata lagi.
Sebagai Tuan rumah yang baik, aku pun mengantarkan dia sampai di luar dan bertemu sekertaris Ken. Tidak lupa aku titip pesan pada sekertaris Ken untuk mengantarkan ke rumahnya dengan selamat.
"Pak Ken, hati-hati ya...,jangan sampai dia mengalami kematian untuk kedua kalinya."
"Baik, Nyonya."
Vanesa langsung masuk ke belakang dan menutup pintu mobil sekuat tenaganya.
Aku merasa lega setelah kepergian dia, terlebih aku amat lega karena sudah di akui sebagi istrinya kali ini. Walaupun aku belum tahu isi hatinya yang sebenarnya.
Apakah dia hanya pura-pura dan bermain saja? Seperti yang sudah dia lakukan selama ini.
Sesaat setelah kepergian Vanesa, Doni keluar dan juga berpamitan untuk pulang karena memang sudah malam.
Sesampainya aku di dalam, aku sudah tidak menemukan manusia lagi di ruang keluarga.
Kenapa mereka sudah tidak ada?
Mungkin sudah kembali ke kamar, aku yang tidak mau berpikir panjang langsung saja naik ke atas. Pasti dia sudah ada di kamar.
Pintu kamar aku buka dan benar, dia sudah ada di dalam sedang menungguku.
"Apa yang kau lakukan di luar? lama sekali!"
Belum saja aku duduk sudah di berikan pertanyaan. Pertanyaan yang mengandung kecurigaan di dalamnya.
.
.
Bersambung☺️
Sampai di sini dulu ya..., Mohon sabar menunggu bila review nya lama. Walaupun sebenarnya saya juga kurang sabar😁