
Bagaimana ini? Haruskah aku masuk? Atau lebih baik aku kabur saja, atau aku panggilkan sekertaris Ken, Pak Didi, Ibu.
Huaaaa, tidak mungkin... Mereka pasti menertawakan ku.
"Hey, cepatlah!" teriaknya lagi dari dalam kamar mandi.
"Iya, Tuan" Balasku berteriak juga.
Dengan terpaksa kaki ini melangkah berat dan gontai menuju sebuah ruang yang terasa dingin, berharap suhu ruangan itu tidak akan menjadi panas. Menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan, menyiapkan hati dan pikiran untuk semua kemungkinan yang akan terjadi.
"Tuan, sebenarnya kau atau aku yang bodoh sih...?" Lirihku menggerutu.
Harusnya dia tahu kalau aku belum jadi siapkan air mandinya. Karena dia sendiri yang buat aku menundanya, dengan semua cara di otaknya dia berhasil membuatku gugup sekaligus merasa deg-degan.
Sadar atau tidak, aku merasa dia tidak sebenci dulu saat berdekatan denganku sekarang. Mungkinkah dia sudah berubah menjadi manusia normal?
Apa iya, secepat itu dia berubah?
Semakin dekat pintu kamar mandi justru jantung ku semakin memompa dengan cepat. Semua pikiran dan bayangan buruk menjadi satu di otakku.
Dengan perlahan dan ragu aku memegang daun pintu lalu membukanya.
Ceklek.
"Masuklah dan turunkan tangan yang menutup matamu" Titahnya, aku memang masuk dengan menutup mata menggunakan satu tangan karena aku takut melihat benda pusaka nya.
"Tidak, saya rasa begini saja" Aku berjalan mendekat masih dengan menutup mata.
"Kau gila! Bagaimana kau bisa lihat kalau matamu di tutup, hah?"
"Tenang saja Tuan, saya punya indera ke enam" ucapku sembarangan.
Aih, ngomong apa aku ini?
Tuan Nathan tergelak mendengar perkataan ku yang ngawur. Suara tawanya menggelegar memenuhi ruangan ini, tawa riang tanpa beban. Jarang sekali aku bisa tahu dan mendengar tawanya seperti ini.
"Sudah, sudah, turunkan tanganmu" Dia menarik tanganku yang masih menutup mata sembari terkekeh.
Jreng
Pemandangan pertama yang terlihat dada putih mulus dan perut seperti roti sobek. Syukurlah dia hanya telanjang dada, bagian bawahnya dia lilit dengan handuk warna putih. Meskipun begitu, aku masih merasa tidak nyaman dan malu sendiri.
Tubuh yang hampir sempurna, wanita mana yang tidak tergoda saat melihatnya. Tanpa sadar aku menelan ludah dengan susah payah. Aku wanita normal, wanita yang sudah menikah, tidak mungkin aku bisa terlihat biasa saja saat di hadapkan dengan pemandangan seperti ini. Eh, tapi bukan berarti wanita yang belum menikah akan bisa biasa saja ya, belum tentu.
"Lihat apa?" Tanyanya, karena aku malah terbengong.
Oh, ya ampun. Kenapa dia begitu seksi?
"Cepat isi airnya" Dia menyadarkan ku.
"Ah, i_iya baik, Tuan" Lalu ku hidupkan air mengisi bathtub yang ada di belakang Tuan Nathan.
"Tambahkan sedikit essentials oil, saya ingin rileks"
"Baik, Tuan"
Selesai aku menyiapkan air untuk mandinya, ingin sekali aku bergegas untuk keluar, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. Namun Tuan Nathan mencegah ku.
"Mau kemana?"
"Keluar"
"Apa saya menyuruh mu keluar?"
Aku menggeleng sebagai jawaban. Aku rasa dia berniat menahan ku di kamar mandi. Lalu, untuk apa? Jangan bilang kalau dia ingin di temani saat mandi.
"Temani saya mandi"
Tuh kan...benar yang ku pikirkan.
"Ta_tapi saya harus itu, e_anu?" Aku sudah mulai gugup lagi saat di minta untuk menemaninya mandi.
"Harus apa?" Tanyanya lembut dan tatapan yang menggoda sembari mendekat padaku.
kakiku sedikit demi sedikit melangkah mundur ke belakang, saat dia semakin dekat dan terus mendekat hingga tubuhku mentok di dinding.
Kalau sudah begini, bagaimana aku bisa kabur?
Kedua tangannya sudah di letakkan di dinding untuk mengapit tubuhku agar tidak bisa lari. Deru nafas yang memburu telah keluar dari ku.
Aku merasa hawa panas mulai memenuhi ruangan menggantikan hawa dingin yang sebelumnya ada.
Tatapan matanya yang tajam mampu menghipnotis dan mengintimidasi tiap lawan, membuatku tidak berani menatapnya balik.
"Tu_tuan, mau apa?" Aku benar-benar gugup plus takut hingga aku mengalihkan pandanganku.
"Pejamkan matamu" Lirihnya saat mendekatkan wajahnya hingga nafas yang keluar dari mulutnya terasa di wajahku.
Tidak, jangan sekarang Tuan, aku belum siap.
Jarak yang tinggal beberapa senti membuatku tak bisa terus membuka mata dan akhirnya aku mengikuti kemauannya.
Perlahan tapi pasti aku merasakan mataku tertutup rapat oleh sebuah kain sutra yang dia lilitkan di kepalaku. Entah dia dapatkan darimana kain itu? Mungkin ada di depan cermin yang ada di dekatku.
"Tuan, mau apa? Kenapa harus di tutup kain?" Aku mulai penasaran, apa yang sebenarnya dia inginkan?
"Ikutlah saya" Seusai menutup mataku, dia menuntunku untuk duduk, duduk di tepi bathtub.
"Duduklah dengan tenang kalau kau tidak ingin terjatuh"
"Tuan, sebenarnya mau apa?" Ini sudah seperti mau main petak umpet saja.
"Bukankah saya sudah bilang kalau saya mau di temani mandi. Dan tugasmu adalah membantu menggosok punggung karena tanganku tidak sampai" Ucapnya seraya masuk ke dalam bathtub.
"Oh..." aku ber oh ria, lega karena apa yang ku pikirkan tidak akan terjadi.
"Benar, tidak mungkin aku berikan kau melihat cuma-cuma aset milikku. Ini sungguh sangat berharga bagiku"
"Pufff..." sedikit menahan tawa yang hampir meledak.
Hey, mau cuma-cuma atau tidak. Aku juga tidak mau melihatnya kali.
"Kenapa kau tertawa? Apa benar kau ingin melihatnya? Jika benar maka kau harus berani bertanggung jawab!"
"Hah? Tidak, tidak, Tuan" Ucapku sembari mengibaskan tangan.
Terdengar gelak tawanya kembali. Apa menurutnya aku ini lucu? Dia selalu tertawa saat aku sudah mati kutu di hadapannya.
Tuan, apakah kau terhibur saat melihat tingkah konyol ku? Andaikan kau dan aku bukanlah orang asing, dengan senang hati aku akan menghiburmu agar kau selalu tertawa renyah.
"Ayo, mulailah gosok punggungku" Dia memberikan aku spon yang sudah berisi sabun dengan wangi Citrus yang menyegarkan.
Dia juga menuntun tanganku ke punggungnya agar aku tidak salah menggosok. Ku gosok punggung yang lebar itu dengan lembut dan perlahan agar tidak sedikitpun tergores kuku ku.
Dasar gila, mana ada orang yang minta bantuan seperti ini kalau bukan dirimu.
"Ternyata kau lumayan juga ya, kau pintar dalam menggosok" Pujinya padaku.
"Hehehe, iya Tuan. Saya mantan tukang pijat" Jawabku sengaja asal.
"Apa?" Tuan Nathan langsung gerak cepat menjauh.
Aku tersenyum meski aku tidak melihatnya, aku bisa membayangkan ekspresi di wajahnya.
"Yang benar? Itu berarti tanganmu sudah menyentuh tubuh banyak orang!" Dia sepertinya syok.
Aku tersenyum sembari mengangguk, tertawa dalam batinku karena kebohongan yang aku ciptakan instan.
Tok, tok, tok, dor, dor.
Terdengar suara ketukan pintu kamar mandi yang awalnya pelan lama-lama menjadi lebih keras. Kami sama-sama diam mendengarnya.
"Tuan, apa tadi pintu kamar tidak di kunci?" Tanyaku yang sudah panik.
"Tidak" Singkat dan jelas.
"Bagaimana ini? Siapa yang berani masuk?" Aku benar-benar sudah panik, malu kalau sampai orang lain tahu kami sedang berdua di kamar mandi.
"Hanya Ibu yang berani masuk"
"Ibu?" Apalagi kalau Ibu yang tahu, aku akan lebih malu lagi.
"Nathan, apa kau di dalam?"
Yah...benar itu suara Ibu berteriak dari balik pintu kamar mandi.
"Tuan bagaimana ini? Kalau ibu tahu kita di dalam berdua bagaimana?"
Aku merasa lebih panik dan kacau setelah mendengar suara Ibu mertua, seperti pencuri yang ketahuan. Aku reflek bangkit berdiri dengan bingung, hingga aku berputar dan menjatuhkan spon sabun di lantai.
Dan akhirnya yang terjadi pijakan ku tak seimbang dan jatuh ke dalam bathtub tempatnya berendam.
Byiurrrr
Aaaaaaaa... Sial sekali si?
.
.
Bersambung😊
Slow ya BESTie nunggu kelanjutannya 🥰
Please biasakan setelah baca untuk tinggalkan jejaknya ya...
Terimakasih 🙏