
Tok...tok...
Setelah selesai mengganti pakaian dan bersih-bersih, terdengar pintu kamarku di ketuk dari luar. Aku bergegas untuk membukanya, siapa tahu itu yang di luar adalah suamiku.
"Pak Didi...,ada apa Pak?" Ternyata yang mengetuk pintu adalah kepala pelayan di rumah ini.
"Nyonya, makanan sudah siap. Anda dari tadi belum makan kan?" ucap pak Didi menyuruhku untuk makan.
"Iya, terimakasih Pak Didi. Sebentar lagi saya turun."
"Baik, Nyonya."
"Pak Didi, tunggu!" Aku menghentikan Pak Didi saat sudah memutar badannya.
"Ada apa, Nyonya?"
"Pak Didi, bisa panggil saya Jesi saja tidak perlu Nyonya" ujarku yang masih merasa canggung saat semua pelayan di rumah ini harus memanggil Nyonya, sedangkan aku tidak merasa menjadi Nyonya yang sebenarnya.
"Ini sudah jadi perintah, Nyonya" ucap Pak Didi.
"Nyonya, saya harap anda tidak mempersulit pekerjaan saya" pinta Pak Didi.
"Baiklah, Pak Didi. Terimakasih" ucap ku, tiba-tiba merasa tidak enak karena telah meminta sesuatu hal yang tidak bisa di lakukan Pak Didi, menurutnya.
Seusai berkata seperti itu, Pak Didi lalu kembali turun ke bawah. Tak lama kemudian aku menyusulnya sebelum aku turun, aku masuk dulu ke kamar Sisi untuk melihatnya. Ternyata Sisi belum pulang, biasanya jam segini sudah pulang.
Kemudian aku menuruni anak tangga menuju ruang makan dengan perasaan sedikit khawatir. Aku lihat Pak Didi berdiri di dekat meja makan.
"Pak Didi, anak saya belum pulang biasanya jam segini sudah pulang. Siapa yang menjemputnya?" Tanyaku setelah duduk di kursi.
"Sopir Nyonya besar, Nyonya" jawab Pak Didi.
"Oh, apa mungkin macet, ya Pak?"
"Anda tidak perlu khawatir, Nona Sisi pasti akan pulang" ucap Pak didi yang melihatku gelisah.
"Terimakasih, Pak"
"Nyonya, apa ada yang kurang semua ini?" Ucap pak Didi menunjuk ke semua makanan.
"Tidak Pak, terimakasih. Ini lebih dari cukup dengan meja makan yang besar dan makanan yang banyak, namun tidak ada siapapun yang di sini. Hanya ada aku" Ucapku sedikit sedih karena tidak punya teman untuk makan.
"Tuan Nathan kemana Pak?" Tanyaku seraya mengambil makanan.
"Tuan sedang keluar ada pekerjaan" jawab Pak Didi.
Bukankah ini harus nya menjadi hari yang penting bagi seseorang, tapi lain dengannya justru malah sibuk bekerja dan pergi begitu saja tanpa pamit padaku pula.
Terserahlah, mau ngapain dia?
"Pak Didi, duduklah temani saya makan" ucapku agar punya selera makan jika ada temannya.
"Maafkan saya, Nyonya"
"Kenapa?"
Pak Didi hanya diam dan menggeleng. Mungkin dia merasa tidak pantas atau memang tidak boleh?
"Nyonya, bukankah tadi saya saya sudah bilang. Tolong jangan persulit tugas saya" akhirnya Pak Didi membuka suara melihatku yang diam dan terus menatapnya.
"Ya, ya, baiklah Pak Didi" Ucapku menyerah untuk tahu alasannya.
"Sebenarnya kenapa sih? Apa aku begitu menyulitkannya?" gumam ku lirih setelah Pak Didi pergi ke belakang.
Suasana rumah terlihat sepi sekali, meski pelayanan di rumah ini banyak tapi mereka semua tidak ada yang terlihat santai. Dari awal aku datang ke rumah ini tidak ada dari mereka yang mau sedikit berbincang denganku. Makan juga terasa tidak enak apalagi anakku belum pulang.
Sesaat kemudian terdengar suara bel pintu berbunyi, aku hendak segera membuka pintu. Tapi Pak Didi mendahuluiku dan memintaku untuk melanjutkan makan.
"Mama..." suara Sisi terdengar dari arah depan, dia berlari sembari membawa beberapa paper bag di tangannya.
Ternyata di belakang Sisi ada Ibu Sonya yang menenteng tas sekolah Sisi. Berarti Ibu tadi pamit mau menjemput anakku.
Ibu, kau sungguh baik padaku. Terimakasih.
"Sayang, apa yang kau bawa ini?" tanyaku setelah Sisi mendekat.
"Wow, keren!"
"Jesi, maafkan saya membuatmu khawatir! Karena telah menjemput Sisi dan membawa pulang terlambat" Ucap Ibu mertuaku.
"Tidak apa-apa, Ibu. Saya justru berterimakasih karena Ibu mau menyayangi anakku seperti cucu sendiri."
"Tentu Jesi, dia adalah anakmu dan kau adalah istri dari anakku. Saya pasti akan menyayanginya seperti cucu sendiri"
"Sekali lagi terimakasih, Ibu" Aku merasa beruntung punya mertua seperti beliau.
"Sayang, pergilah ke kamar bersihkan dirimu. Mama tunggu kau untuk makan" aku menyuruh anakku untuk bersih-bersih. Rutinitas yang harus di jalani tiap pulang sekolah.
"Ok, Mama. Tapi Sisi udah kenyang tadi makan sama Oma. Sisi mau mainan di kamar" Ucap Sisi.
"Ya, baiklah" Ucapku lalu Sisi pergi dan membawa semua barang-barang yang barusan di beli.
"Jesi, Ibu juga mau ke kamar dulu ya. Lengket ni badan rasanya" Pamit Ibu.
"Baik, Bu." Ucapku seraya tersenyum.
"Oh iya, kok kau makan sendiri. Di mana Nathan?" Tanya Ibu mertua yang tidak melihat keberadaan anaknya.
"Tadi kata Pak Didi, ada pekerjaan" Jawabku jujur.
"Dasar anak kurang ajar, baru juga menikah sudah pergi gitu aja" Umpat Ibu kesal.
"Masalah pekerjaan tidak ada habisnya, bukankah Ken juga bisa handle" lanjutnya menggerutu.
"Sudahlah, Ibu tak perlu marah. Pekerjaan kan juga penting" Ujar ku melihat Ibu yang sudah kesal.
"Tapi, dia keterlaluan!"
Dari dulu juga memang sudah keterlaluan.
"Sudahlah Bu..." Ucapku pelan menenangkannya.
"Katanya tadi badannya lengket, mandi saja dulu Bu biar seger" Sambung ku agar Ibu tidak terus emosi.
"Iya, ya sudah. Ibu mandi dulu, kau yang sabar ya" Ucap Ibu lalu berdiri dari duduknya sembari mengusap pundak ku.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum seraya mengusap punggung tangan Ibu mertua yang menempel di bahu ku. Kemudian Ibu juga pergi ke kamarnya, dan aku melanjutkan makan yang sempat tertunda karena kedatangan Sisi dan Ibu. Kembali menikmati makanan hanya sendirian.
*
*
Waktu malam sudah datang, tapi tak juga ku dengar suara dari Tuan Nathan yang juga suamiku. Bahkan sekarang jam sudah menunjukkan angka sembilan, sosoknya pun tak juga terlihat. Lelah aku menunggu, setiap jam sudah terlewati dari sejak dia pergi. Aku hanya duduk di depan tv sambil sesekali melihat ponsel dan memeriksa pesan dari sekertaris Ken. Karena dia berpesan untuk menyambut kepulangan Tuan Nathan.
Ini sudah larut malam tapi belum juga pulang dan sekertaris Ken tidak mengirimkan pesan lagi.
Mungkinkah dia tidak mau pulang?
Mataku sudah mulai terasa berat, tapi aku harus bisa menahan nya agar tidak tertidur. Aku mulai mengganti-ganti Chanel tv mencari acara yang menarik mataku ini tetap terbuka lebar. Namun semakin waktu berlalu mataku semakin berat untuk bertahan terbuka.
Dan akhirnya aku di kejutkan dengan suara ketukan pintu yang keras. Entah kapan aku mulai tertidur di sofa depan televisi. Jantungku berdetak kencang kala ku dengar teriakan suara sekertaris Ken dari luar kamarku.
"Nyonya, Nyonya. Tolong buka pintunya! Ini saya, Ken" Teriak sekertaris Ken.
Kemudian aku langsung gugup, cepat-cepat membuang selimut yang membungkus badanku dan berlari ke arah pintu.
Entah apa yang terjadi? Kenapa sekertaris Ken berteriak-teriak dengan suara berat? Dari nada suaranya seperti meminta bantuan.
.
.
Bersambung ๐
Maafkan author ya karena belum bisa update setiap hari๐
Kesibukan dunia nyata author memakan waktu lebih banyak.
Terimakasih buat semua dukungan para readers yang tetap setia dengan karya ini๐