
Persoalan mungkin tak memiliki tangan, tapi ia bisa memukul dengan keras dalam dada kita. Tetaplah kuat, karena Tuhan izinkan kita dalam labirin persoalan bukan untuk membuat kita lemah, melainkan untuk menguji seberapa gigihnya kita dalam mencari jalan keluar.
Saat sudah menjelang pagi aku baru merasakan benar-benar tertidur, samar-samar terdengar suara dering telfon tapi aku malas untuk mengangkatnya, mungkin itu telfon dari salah satu pegawai toko. Aku justru menarik selimut tebal untuk menutupi wajahku, namun suara itu tak juga berhenti. Aku sungguh merasa terganggu dan akhirnya suara telfon itu berhenti saat aku sudah akan mengangkat panggilan itu, aku melihat beberapa panggilan tak terjawab dari sekertaris Ken.
"Astaga, Pak Ken, kenapa aku bisa lupa kalau hari ini aku harus bekerja dan tidak boleh terlambat" aku menyibak selimut turun dari ranjang lalu berdiri, tapi sesaat kemudian aku duduk kembali.
"Di mana aku?" gumam ku saat aku lihat sekeliling kamar dengan jelas kalau kamar ini bukan kamarku, aku mengingat-ingat kembali sampai aku sadar kalau aku sedang berada dalam apartemen Doni.
Bib, bib
Suara notifikasi pertanda pesan masuk di ponselku.
[Nyonya Arsya...] Pak Ken.
Dua kata saja sudah membuatku terbirit-birit ke kamar mandi, kata yang punya makna banyak bagiku. Aku membongkar isi dalam koper untuk mencari pakaian ganti, biasa aku selalu menggunakan celana bahan setiap bekerja dan juga baju yang simpel, yang penting sopan.
Aku sampai berlarian mengambil tas dan juga ponsel karena waktunya sudah hampir telat. Aku keluar kamar tapi tidak menemukan keberadaan Doni, aku panggil-panggil juga tidak ada jawaban, tapi aku lihat di meja makan sudah ada sarapan. Mataku hanya melirik sarapan itu karena untuk menyentuhnya sudah tidak ada waktu, aku keluar dengan buru-buru tapi tak lupa untuk mengunci pintu, sudah tidak perduli di mana Doni saat ini, yang terpenting aku bisa sampai tepat waktu.
"Ah...sial!" setelah aku keluar dari lobi, aku baru ingat kalau aku sudah tidak punya mobil lagi. Aku sempat mondar-mandir berpikir bagaimana aku bisa pergi, jika Doni sudah di toko, kembali juga butuh waktu lama. Akhirnya aku putuskan untuk naik ojek online agar cepat sampai, tak berapa lama Abang ojek datang. Aku menyuruhnya untuk mengeluarkan kehebatan tukang ojek yang mampu meliuk-liuk menikung kendaraan yang ada di depannya, untungnya si Abang ojek mau menuruti ku, akhirnya aku sampai di gerbang utama perumahan Erlangga.
Prit, prit
Suara peluit pak satpam memberhentikan laju motor Abang ojol. Seperti biasa pak satpam pasti akan banyak tanya dan memperlambat waktuku.
"Pagi Pak," aku turun dari motor dan membuka helm agar pak satpam ingat dengan wajahku.
"Masih ingat dengan saya kan... Pak?" aku tersenyum ramah padanya.
Pak satpam diam dan mengamati wajahku dengan teliti, bahkan dia sampai mengitari ku beberapa kali.
"Aduh... Bapak, ini saya yang kemaren antar Tuan Nathan!" aku mulai sebal dengan sikap pak satpam.
"Beneran, Mbak orang yang semalam?" masih melihatku tak percaya.
"Kenapa tidak bawa mobil Mbak?"
"Em...mobil saya mogok,Pak" bohongku padanya, "Biarkan saya masuk ya Pak, please" pintaku memohon padanya.
Pak satpam pun menganggukkan kepala sebagai tanda setuju, aku pun tersenyum lalu naik ke motor lagi.
"Eit...tunggu Mbak!"
"Apa lagi, Bapak..." ucapku malas.
"Mbak boleh masuk, tapi tukang ojek di larang masuk, Mbak!"
"Ha! terus saya gimana? Pak", Pak satpam cuek dan hanya mengangkat kedua bahunya.
"Oh, ya ampun, kenapa bisa menyebalkan seperti Tuannya" gerutu ku pelan.
Aku lihat jam di pergelangan tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 07.15 WIB, itu artinya aku tinggal punya waktu lima belas menit lagi. Aku memutuskan untuk membayar Abang ojol, dan masuk dengan berjalan kaki, tapi jika aku jalan kaki aku pasti akan terlambat, mungkin aku harus lari agar cepat sampai dan tidak terlambat.
Keringat sudah menetes saat aku sampai di depan gerbang rumah Tuan Nathan, beruntungnya aku, pak satpam di rumahnya masih mengenaliku dan memperbolehkan aku masuk tanpa banyak bertanya lagi.
Aku mengatur nafas saat sudah di depan pintu masuk, kemudian aku hendak memencet bel, namun pintu terbuka sesaat sebelum aku menekannya. Sosok seorang kepala pelayan yang menyambut ku, aku tersenyum dan memberi salam padanya.
Jantungku mulai tak terkendali lagi saat aku harus berhadapan dengannya, dag, dig, dug, semakin kencang saja saat langkah ini mulai masuk ke ruangannya. Aku menundukkan kepala, tidak berani memandangnya, aku tahu dia akan marah besar karena di hari pertama bekerja aku sudah terlambat. Aku harus siap menerima hukuman yang dia berikan.
"Pagi, Tuan" sapa ku setelah kepala pelayan itu meninggalkan aku, masih dengan menunduk.
"Hem"
"Maaf saya terlambat, Tuan" hal yang pertama harus aku lakukan hanyalah minta maaf.
"Hem"
Kenapa dia hanya menjawab dengan kata Hem aja? apa mungkin dia lagi sariawan?
"I_itu karena saya tidak bawa mobil, Tuan" aku mencoba memberikan alasan supaya di berikan toleransi, tapi justru Tuan Nathan malah tertawa.
Apa yang dia tertawa kan?
"Siapa yang bertanya padamu tentang alasannya?" ucapnya datar, setelah puas menertawakan aku.
"Tidak ada, Tuan"
"Tidak disiplin, di hari pertama kau sudah terlambat, bagaimana untuk selanjutnya?" ucap nya ketus.
"Sekarang, hukuman apa yang kau inginkan?" lanjutnya bertanya padaku.
Jika aku boleh memilih, maka aku akan memilih lari dari sini.
"Jangan berpikir kau bisa lari dari sini!"
"Ti_tidak Tuan, mana berani saya" ucapku dengan tertawa kecil dan menatapnya, kenapa dia bisa baca pikiranku?
"Ken, persiapkan dia!" perintahnya pada sekertaris Ken yang berdiri di sampingnya.
"Baik, Tuan" jawab sekertaris Ken, kemudian membawaku keluar ruangan Tuan Nathan.
Aku berpikir dan berjalan mengekor di belakang sekertaris Ken, hukuman apa yang akan di berikan padaku nanti. Sekertaris Ken terus berjalan sampai berhenti pada sebuah pintu ruangan yang tertutup, hatiku semakin tidak enak rasanya, mungkinkah aku akan di kurung bersama kecoa, tikus dan yang lainya? aku tiba-tiba merinding membayangkannya.
Sekertaris Ken mulai membuka kunci pintunya.
ceklek, klek
Kemudian memutar kenop pintu, akhirnya terbukalah ruangannya. Aku terkesiap melihat dalam ruangan itu.
"Nyonya Arsya, silahkan masuk" sekertaris Ken menyuruhku masuk ke dalam. "Semua sudah siap di dalam" sambungnya.
Aku masih diam, memandangi sekertaris Ken dengan penuh tanya, tapi aku urungkan niatku untuk bertanya, karena lagi-lagi melihatnya tersenyum, percuma saja jika aku bertanya dia pasti tidak akan menjawab. Aku tarik nafas dalam-dalam dan mulai melangkahkan kaki.
"Persiapkanlah diri anda dengan baik, nyonya Arsya!" pesannya padaku, aku menoleh dan tersenyum paksa melihatnya.
Bersambung 👉
Happy reading ☺️