Second Marriage

Second Marriage
Bab 20 Tuan rumah vs Nyonya rumah



Aku sudah gemetar mendengar suaranya, jantungku berdegup kencang kembali, tanpa sadar kedua tanganku *******-***** apron yang ku pakai.


tring, tring


Di saat aku sedang tegang terdengar nyaring bunyi telfon dan itu suara panggilan dari ponsel dalam apron ku. Aku ingin mengangkat nya namun aku tidak berani, waktunya tidak pas jika aku menerima panggilannya.


"Matikan! telfon jelek mu itu" perintahnya tegas.


Buru-buru aku ambil ponsel dan mematikannya supaya Tuan Nathan tidak bertambah marah lalu aku masukkan kembali ke kantong.


"Sekarang, katakan. Kenapa kau duduk sini? bukankah tugasmu ada di taman?" tanyanya masih dengan berdiri.


"Nathan..., duduklah dulu" ucap Nyonya Sonya lembut mengajak nya untuk duduk tenang.


"lihatlah dia, mukanya pucat! dia sedang sakit jangan kau paksa untuk bekerja" ucap Nyonya Sonya setelah Tuan Nathan duduk.


"Benarkah? tadi kau baik-baik saja bukan, kenapa tiba-tiba sakit?" matanya tidak lepas dari menatapku.


"Maaf, Tuan" ucapku masih dengan menunduk.


"Jesi alergi dengan bunga, Nathan" ucap nyonya Sonya, "tadi dia bersin-bersin terus saat menyiram bunga, lalu aku bawa kemari"


hening


"Apa kau keberatan?" tanya Nyonya Sonya.


"Tentu! itu adalah pekerjaan yang istimewa untuknya, karena tidak sembarang orang bisa masuk dan mengurus taman rumah ini"


Aku melihat Nyonya Sonya menghembuskan nafas panjang lalu tersenyum seraya menggelengkan kepala.


"Kau bisa mencari orang lain, bukan?" Nyonya Sonya tidak ingin aku kembali melakukan pekerjaan itu.


"Tidak, aku hanya ingin dia yang_,"


"Nathan, biarkan dia membantu Pak Didi atau yang lain" tawar Nyonya Sonya.


"Tidak!" tolak Tuan Nathan tegas.


"Dasar keras kepala!" umpat Nyonya Sonya. "Jika kau tidak mau memindahkannya, biar Jesi jadi pelayan ku, titik" Nyonya Sonya juga bersikap tegas mengambil keputusan sepihak.


"Tapi_" ucap Tuan Nathan terpotong


"No, no, tidak ada kata tapi!"


Aku semakin tidak enak, Nyonya Sonya terus membelaku bahkan dia berdebat Demi aku. Ketegasan Nyonya Sonya telah membuat Tuan Nathan tidak berani membantah lagi.


"Hei, apakah dia termasuk golongan suami takut istri?" dalam batinku bertanya, aku sedikit tersenyum membayangkan jika itu benar terjadi.


"Kenapa kau senyum-senyum?" ucap Tuan Nathan seraya berdiri menatap ku tajam.


"Tidak, Tuan" ucapku sembari menggelengkan kepala.


Kemudian Tuan Nathan pergi meninggalkan kami berdua, aku bisa bernafas lega setelah kepergiannya. Nyonya Sonya menepuk bahuku pelan lalu mengajak untuk duduk kembali.


"Jesi, kau bisa tenang sekarang karena tidak harus mengurus bunga-bunga ku, biar nanti Pak Didi mencari orang lagi. Tugasmu sekarang bersamaku"


"terimakasih, Nyonya"


"Baiklah, sekarang habiskan minum mu, lalu ikut denganku".


Setelah aku meneguk habis minuman yang di berikan Pak Didi, aku mengikuti kemana Nyonya Sonya pergi. Dia mengajakku ke ruang wardrope untuk merapikan baju-bajunya, setelah itu dia mengajakku ke sebuah ruang pribadinya, ruangan tempat dia sering menghabiskan waktunya. Aku membereskan kuas yang berserakan juga menata gambar-gambar yang tergeletak begitu saja, ya aku di bawa ke ruangan melukisnya. Aku terpukau melihat setiap lukisan yang ada, meski aku tidak mengerti tentang lukisan yang kadang hanya bercorak atau bergaris berantakan tapi aku yakin itu punya makna yang dalam.


Tidak terasa waktu sudah sore dan saatnya aku harus pulang, pekerjaan juga sudah selesai. Aku meminta izin setelah selesai mengganti pakaian pada nyonya Sonya, untuk pulang dan aku di izinkan pulang olehnya.


"Ah, akhirnya hari ini selesai" aku merentangkan kedua tangan yang terasa kaku, membuat peregangan sedikit di leher dengan memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri.


Krek, krek


Suara otot leher yang juga terasa kaku saat di luruskan kembali. Setelahnya aku baru ingat kalau aku jalan kaki dan kalaupun aku memesan ojol, pasti menunggu di depan pintu masuk perumahan. Aku coba menghubungi taksi online juga tidak ada yang bisa.


"Terpaksa jalan lagi" gumam ku.


Aku mulai melangkahkan kaki, menyusuri jalanan perumahan Erlangga. Mengambil ponsel dalam tas teringat akan panggilan tadi, beberapa panggilan tak terjawab dari Doni dan juga chat. Dia menanyakan tentang keberadaan ku.


"Astaga, aku lupa memberitahu kalau aku tidak bisa datang ke toko" Aku mencoba menghubungi balik no Doni, tapi beberapa kali tidak di angkat.


Tin, tin


Suara klakson mobil dari arah depan mengagetkanku yang sedang fokus menatap layar ponsel, mobil putih Fortuner mendekati dan berhenti di dekatku.


Mobil siapa ya? aku tidak mengenal mobil ini. Mungkin mobil orang sekitar sini, tapi aku juga tidak mengenal orang sekitar sini.


Keluar seseorang berkacamata hitam, berjalan menghampiriku seraya membuka kacamatanya .


"Doni" lirihku, terkejut melihat ternyata Doni yang keluar dari mobil.


"Don, ngapain kamu di sini?" aku penasaran, kenapa dia bisa sampai di tempat ini? sedangkan aku belum pernah cerita apapun tentang permasalahan ku dengan Tuan Nathan.


"A_ku, hanya lewat saja dan lihat Mbak jalan kaki makanya aku berhenti"


"Lewat! mau kemana?"


"Ke rumah teman Mbak!"


"Yakin?" aku masih tidak percaya dengan jawabannya.


"Mbak, sendiri dari mana? kenapa tidak ke toko dan kenapa telfon ku tidak di angkat? Bahkan chat ku juga tidak di balas!" pertanyaan beruntun keluar dari mulutnya.


"A_aku, Mbak lagi meeting dengan suplayer baru di toko" aku masih tidak ingin Doni tahu tentang masalahku dan Tuan Nathan.


"Hem, ya, ya," ucapnya dengan manggut-manggut. "Sekarang kita akan pulang, Mbak masuklah!" Doni membukakan pintu depan mobil.


"Tunggu, tunggu, ini mobil siapa?" tanyaku sebelum menaiki mobil yang harganya juga lumayan bagi ku.


Aku benar-benar di buat penasaran tentang siapa Doni sebenarnya, semalam dia membawaku ke sebuah apartemen mewah dan sekarang tiba-tiba dia membawa mobil yang juga golongan atas. Dia juga bilang punya teman di sini, berarti temannya termasuk keluarga Erlangga.


Kenapa Doni jadi misterius bagi ku? dia dari dulu memang anak yang baik pada siapa saja, bahkan dia sangat baik padaku sampai sekarang. Doni tidak pernah bercerita atau menyinggung tentang keluarganya, aku juga tidak berpikir untuk bertanya karena dia tidak memulai.


"I_ini, aku rental Mbak!" jawabnya tanpa menatapku.


"Oh, ya sudah. Ayolah" aku tidak mau berpikir lebih lagi, yang penting aku tidak jadi jalan jauh.


Tin, tin, tin


Sebelum aku benar-benar masuk ke mobil, terdengar lagi suara klakson mobil dari arah belakang. Bukan sekali dua kali berbunyi tapi berkali-kali hingga memekik di telinga.


"Siapa sih berisik sekali?" ucapku sembari menoleh ke belakang.


Sebuah mobil hitam sedan yang sudah terlihat jelas mewah berhenti di belakang mobil sewaan Doni.


Bersambung...


Happy reading 😚


Mudah-mudahan sampai di sini masih menghibur😊