Second Marriage

Second Marriage
Bab 68 Kembali ke Toko



"Pagi..." Sapa seorang wanita yang tak lain adalah kekasih lama suamiku. Dia datang membawa sebuket bunga mawar merah yang indah dan harum.


"Huachi, huachi" Aku terus bersin karena sudah mencium bau harum bunga itu.


"Mbak, kenapa ya ko bersin mulu? Bunga ini saya mau kasih ke Ibu Sonya Lo...


Please deh hentikan bersinnya, bisa kan?"


"Maaf, saya_,huachi" Aku sungguh tidak tahan, lalu ku tinggalkan dia yang masih berdiri di ambang pintu. Terserah dia mau berpikir seperti apa?


Aku terus bersin sambil berjalan hendak ke lantai atas untuk masuk kamar karena merasa sudah tidak nyaman lagi. Saat aku melewati ruang makan, Tuan Nathan yang masih setia duduk di sana, melihatku yang terus bersin lalu menghampiriku yang berjalan terburu.


"Hey, kau kenapa?" Tanyanya sembari memegang kedua bahuku dari samping.


"Pagi sayang..." Sapa Vanesa yang sudah berada di belakang kami.


"Tuh, kekasih anda datang. Saya mau ke atas, gak tahan sama bunganya itu."


"Oh, ya ampun" Gerutunya lirih yang masih ku dengar sembari menengok ke arah suara yang menyapanya.


Tanpa menunggu kata darinya, ku tinggalkan mereka berdua karena aku memang tidak bisa menahan bersin yang terus keluar. Aku hanya akan menyakiti diri kalau terus bertahan bersama mereka karena alergiku belum lagi aku akan mendengar kata demi kata mesra dari mereka.


"Sayang kenapa sih pelayan itu gak sopan banget, terus bersin di depanku?"


"Itu, karena dia alergi bunga yang kau bawa itu."


Masih sempat ku dengar perkataan wanita itu yang mengeluh tentang sikapku yang memang tidak sopan kalau tidak tahu alasannya. Dan Tuan Nathan pun menjawab dengan santai alasannya tanpa embel-embel apapun, atau merasa tidak enak karena aku di sebut pelayan. Yah, walaupun aku sendiri yang mengaku di depannya sebagai pelayan. Tapi seenggaknya kalau orang punya hati tidak bersikap biasa saja gitu kan?


"Huff, mungkin dia memang gak punya hati" Aku sudah duduk di dalam kamar untuk menenangkan diri setelah alergi yang baru saja kambuh.


Sikap yang selalu berubah-ubah membuatku tidak mengerti dia yang sesungguhnya. Mengingat setiap sentuhannya semalam dia seperti orang yang mulai ada rasa sayang padaku, tapi ketika melihat sikapnya yang datar seperti tadi membuatku tidak bisa percaya kalau dia punya perasaan seperti itu padaku.


Tok, tok.


"Iya, sebentar" Ucapku dari dalam, lalu ku buka pintu.


"Pak Didi, apa ini?" Melihat Pak Didi yang membawa secangkir minuman.


"Nyonya, ini ramuan herbal yang bisa mengurangi alergi Nyonya."


"Oh, terimakasih Pak Didi, ini juga dah mendingan kok setelah di kasih minyak."


Aku menerima minuman yang di berikan Pak Didi.


"Nyonya, Tuan juga berpesan kalau Nyonya boleh kembali ke toko dan bekerja seperti dulu"


"Oh, ya? Benarkah?" Senang sekali mendengar aku bisa kembali ke toko ku dulu, karena aku sangat merindukan aktivitas seperti dulu.


"Benar, Nyonya" Jawab Pak Didi seraya tersenyum.


"Sekarang, Tuan di mana? Masih di rumah atau sudah pergi bersama kekasih yang baru kembali itu?"


"Tuan sudah berangkat, Nyonya."


"Pak Didi, benarkah dia yang bernama Vanesa?"


"Benar, Nyonya."


"Pak Didi tahu, kenapa dia baru sekarang kembali setelah sekian lama menghilang?"


Ku lihat Pak Didi diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan ku.


"Maaf Nyonya, saya tidak tahu. Saya tadi juga terkejut melihat Nona Vanesa kembali, saya pikir dia tidak akan pernah kembali lagi."


"Ya sudah tidak apa-apa"


Kemudian Pak Didi pamit keluar, setelah itu aku minum ramuan dari Pak Didi dan merasa sangat enak di badanku.


Aku sangat senang akhirnya aku akan bertemu lagi dengan para karyawan ku dulu dan bekerja bersama mereka lagi. Bersama mereka kadang bisa membuatku melupakan masalah yang sedang terjadi. Sibuk bekerja membuatku mengalihkan pikiran-pikiran tentang masa depan yang masih samar terlihat.


Selama ini dia mengurungku di rumahnya tapi setelah kedatangan wanita itu dia mengizinkan aku keluar bahkan bekerja lagi. Mungkinkah ini awal dia bermaksud akan melepaskan aku?


Terserahlah dia mau bagaimana yang penting sekarang aku bisa menghirup udara bebas dan bisa pergi kemanapun sesuka hatiku.


Aku senang sekali sangat senang melihatnya, seolah aku masih menjadi yang punya toko itu. Dan orang juga tahunya aku masih pemilik toko itu, padahal tokonya sudah pindah ke tangan orang lain.


Ku langkahkan kaki seperti tanpa beban memasuki tempat dimana aku bisa menghabiskan waktu dengan menyibukkan diri bersama orang-orang yang sudah banyak membantu ku selama ini. Bersama mereka aku bisa merasakan senang karena pujian pelanggan dan juga terkadang pusing bersama karena protes juga komplainan dari pelanggan.


"Hai semuanya..." Aku masuk tanpa permisi dan mengejutkan mereka.


Mereka semua melihat ke arahku, untuk sesaat mereka sempat terdiam meyakinkan mata mereka tidaklah salah sudah melihat ku dan di detik berikutnya langsung menjerit meneriakkan namaku dengan bahagia, dan berlari menghampiri lalu cipika-cipiki.


Kami saling bercengkrama di ruangan kerjaku dulu, saling bertukar kabar karena telah lam tak bertemu. Mataku memindai ke segala arah, tempat dan suasananya tidak ada yang berubah semua masih terlihat sama seperti terakhir aku meninggalkannya, hanya saja sudah tidak ada foto keluarga yang ada di atas meja. Entah siapa yang membuangnya.


"Eh, apa Doni masih di sini?" Aku teringat akan Doni yang tak terlihat dari pertama aku datang. Mungkinkah dia sudah tidak bekerja lagi setelah tahu aku jadi istri sepupunya sendiri?


Semuanya diam dan saling pandang, seolah enggan mengatakannya.


"Aku masih di sini, Mbak" Doni masuk ke ruangan tanpa mengetuk dulu.


Melihat ekspresi Doni yang datar dan tidak seperti dulu lagi membuatku merasa canggung dan tidak enak. Dia masuk langsung menghadap ke arahku menatap dengan tatapan yang sulit di artikan mungkin antara senang dan sedih juga kecewa.


Doni, sekali lagi maafkan aku.


"Kalian semua keluarlah, aku ingin bicara pada Mbak Jesi" Doni mengusir Tika, Rara dan juga Evi, tiga gadis yang sedang bersamaku. Tanpa menunggu lama mereka keluar dari ruangan ku.


Saat ini aku sedang berhadapan dengan seseorang yang dulu dekat dengan ku bahkan aku sudah anggap dia sebagai saudara. Tapi sekarang rasanya berbeda aku berhadapan dengan Doni Anggara Putra bukan seperti Doni yang ku kenal dulu.


Doni yang sekarang terlihat lebih dewasa dalam berpenampilan dan sikapnya kepada anak-anak yang lain di sini juga berbeda. Terlihat seperti pemimpin yang tegas.


"Doni, apa kabar?" Aku berdiri dan mengulurkan tangan padanya, namun dia tidak mau menyambutnya melainkan dia langsung merengkuh tubuh rampingku.


Aku yang terkejut karena tindakannya, hanya bisa diam dan tak mampu menolak pelukan kangen darinya. Kami berpelukan dalam diam tanpa ada satu katapun yang keluar. Pelukan hangat dan penuh kerinduan juga bisa ku rasakan.


"Mbak Jesi, apa kabarmu? Kau baik-baik saja kan? Kak Nathan tidak menyakitimu kan?" Rentetan pertanyaan langsung keluar setelah kami berdua dua duduk di sofa panjang.


Aku hanya menggeleng sembari tersenyum melihat ekspresi Doni yang begitu mengkhawatirkan tentang kondisi ku, setelah dia tahu aku menjadi istri dari saudara sepupunya sendiri. Rasanya dalam hatiku terharu melihat ada orang yang benar-benar baik tanpa meminta balasan dariku.


"Doni, terimakasih atas perhatianmu dan semua yang kau lakukan padaku selama ini."


"Akhirnya aku bisa menghabiskan banyak waktu lagi bersama Mbak seperti dulu lagi, meskipun aku tidak bisa bersikap sama karena sekarang Mbak Jesi adalah istri dari saudara ku." Terlihat ada rasa bahagia dan kecewa di wajah Doni.


"Doni, aku tidak tahu harus bilang apa padamu tentang pernikahanku dengan saudara mu. Kau pasti tahu siapa dia dan bagaimana sifatnya, ku rasa aku tidak perlu menjelaskan padamu bagaimana dia bisa menikahi ku."


"Iya, aku tahu tapi aku tidak habis pikir dia akan memaksa Mbak Jesi untuk menikah dengannya, sedangkan dia masih dalam kondisi yang kacau hatinya setelah kepergian calon isterinya."


"Dia sudah kembali, Don."


"Maksud Mbak, dia_?" Doni pasti akan mengatakan nama wanita itu.


"Benar, Vanesa Priscila sudah kembali!."


"Tidak Mbak, gak mungkin itu" Doni seperti tidak percaya akan datangnya kekasih saudaranya itu.


"Apanya yang tidak mungkin, ha? Nyatanya dia sudah kembali pada kakakmu."


"Mbak gak salah lihat?" Doni masih berusaha untuk meyakinkan dirinya.


"Enggaklah...Aku bahkan sudah dua kali bertemu dengannya. Pertama aku melihat dia datang ke kantor menemui Tuan Nathan dan pagi ini juga dia datang ke rumah."


Setelah mendengar ceritaku dia menyenderkan badannya ke belakang sofa. Entah kenapa dia sepertinya syok mengetahui Vanesa kembali? Bukankah dia harusnya senang, karena dengan begitu saudaranya akan bahagia. Meskipun aku yang merasa kurang senang.


Jujur, andai mereka benar-benar menikah maka aku akan merasakan kegagalan dua kali dalam pernikahan dan yang lebih menyakitkan adalah melihat anakku bersedih karena yang kulihat dia sudah bahagia dengan keluarga barunya.


Lalu, bagaimana dengan Ibu? Apakah Ibu juga akan merelakan aku pergi dari rumahnya?


.


.


Bersambung😊


Happy reading ya... teman-teman. Terimakasih buat doa kalian semua. Sekarang keadaan saya sudah membaik dan mulai bisa beraktivitas. Saya merasa terbebani jika gak bisa up lama-lama, yang pasti sudah merindukan kalian semua🥰🥰🥰.


Bukan lebay ya...tapi beneran ✌🏻, buat saya membaca novel dan menulis udah jadi hobi meski butuh energi besar dan waktu yang gak sedikit. Tapi tetap di usahakan untuk menulis walaupun harus curi2 waktu😅