
Sungguh liburan yang menyebalkan sepanjang hidupku. Pertama sekertaris Ken selalu meneror ku lewat ponsel supaya aku terus update setiap kegiatan yang aku lakukan. Sekarang seseorang yang diktator telah datang dan akan memimpin jalannya liburanku. Oh, rasnya aku ingin pulang saja.
Bagaimana aku bisa merasakan senang dengan kebebasanku yang sesaat? jika si pemberi kebebasan ada bersamaku. Aku sudah memutar otak tapi tetap tidak ku temukan cara agar dia bisa meninggalkan Resort ini.
"Ikutlah aku" ucap Tuan Nathan setelah kami semua selesai makan.
"Saya, Tuan" kataku sambil menunjuk diriku sendiri.
"Siapa lagi? Apa iya saya harus ngajak Doni untuk masuk ke kamar?"
"Tapi, saya kan_"
"Biarkan saya yang temani, Tuan" ucap Doni memotong kata-kataku. Sepertinya Doni sedang over thinking.
Aku tidak tahu maksud Tuan Nathan mengajak ku masuk ke kamarnya. Mungkin dia akan mengeluarkan taringnya? Yang pasti aku harus bersiap menerima kemarahannya.
"Yang saya butuhkan dia, bukan kamu!"
"Tapi Mbak Jesi itu wanita, tidak pantas masuk kamar Tuan" ucap Doni sudah sedikit emosi.
"Kenapa? bukankah dia juga satu atap denganmu?"
Jeb
Kata-kata Tuan Nathan langsung membungkam mulut Doni yang sudah siap menyambar ucapan Tuan Nathan. Situasi yang tidak bisa terus di biarkan, pasti akan jadi panjang urusannya kalau sampai berantem di sini.
"Sudah, sudah. Doni jaga Sisi sebentar, Mbak tidak akan lama" ucapku menyudahi perdebatan mereka.
"Kau tidak perlu khawatir, dia hanya akan membantu ku bersiap. Aku tidak akan menyentuh yang bukan milikku" ucap Tuan Nathan yang terang-terangan menyindir.
Setelah aku berpamitan pada Sisi, aku mulai setengah berlari menyusul Tuan Nathan yang sudah berjalan terlebih dahulu. Langkah cepat Tuan Nathan membuatku sedikit tergopoh-gopoh.
"Tuan tungguin!" teriakku dari belakang, namun Tuan Nathan mengabaikan ku.
"Tuan, Kenapa harus ajak saya? kalau cuma untuk bersiap." tanyaku yang sudah bisa mensejajarkan langkahnya.
"Jaga jarak mu" ucap Tuan Nathan. Akhirnya aku mundur mengekor di belakangnya, diam tidak bertanya lagi.
Sepertinya dia beneran akan marah, baguslah aku akan membuatnya lebih marah hingga dia mengusirku.
Setelah mendekati pintu kamar, aku sengaja memperlambat jalanku. Kebetulan ada seorang cleaning servis lewat, aku menyapa dan sedikit tanya-tanya tentang penginapan di sini dengan sengaja aku berpura-pura tidak melihat ke depan dan asyik berbincang sembari berjalan.
Bruk
Aku menabrak Tuan Nathan yang tiba-tiba berhenti karena sudah berada di depan pintu kamar. Punggung Tuan Nathan tersentuh oleh mukaku, kali ini sengaja aku lakukan untuk menambah amarahnya yang sebentar lagi akan meledak.
"Maaf, Tuan" ucapku sambil menunduk.
"Jalan pakai mata, jangan pakai mulut" ketus Tuan Nathan.
Tuh...kan, aromanya dia sudah mulai marah.
"Iya, Tuan" ucapku masih dengan menunduk tapi seraya tersenyum girang.
"Ini kunci, buka pintunya?" Tuan Nathan menyerahkan kunci pintu kamarnya padaku.
Dengan senang hati aku membuka pintu kamarnya, lalu mempersilahkan Tuan Nathan untuk masuk duluan.
"Tutup pintunya!" Perintahnya padaku.
"Tapi, Tuan" aku ragu untuk menutup pintu, takut Tuan Nathan akan bertindak lebih.
"Apa kau mau tiap orang lewat melihatku sedang telanjang?"
"Hah" aku tersentak mendengar kata telanjang, otakku pun sudah berpikir negatif.
Tuan Nathan sudah berdiri membelakangi ku dan sepertinya dia sudah mulai membuka kancing atas kemejanya setelah melepas jas dan melemparkan ke sembarang tempat.
"Hey, tutup pintunya!" tegasnya lagi padaku, tanpa menoleh ke arahku.
"Malah bengong."
"Tapi" ucapku masih ragu untuk melaksanakan perintahnya.
"Apa lagi?" tanya Tuan Nathan sembari membalikkan badannya.
"Ba_baik, Tuan" jawabku gugup karena takut.
Kemudian aku benar akan menutup pintunya tapi kakiku melangkah keluar hendak menutup pintu dari luar.
"Hey, kau mau kemana?"
"Ke_keluar, Tuan" jawabku yang sudah di ambang pintu.
"Kalau kau keluar, siapa yang bantuin saya?"
"Tapi" ucapku yang masih enggan menurut.
"Masuk!"
Aku diam dan menggeleng kepala sembari mengeluarkan jari telunjuk untuk menunjuk arah luar kamar.
"CK." Tuan Nathan berdecak kesal.
Sepertinya Tuan Nathan sudah kehilangan kesabaran. Matanya tajam bak elang sudah tertuju padaku, aku semakin gugup saat langkah tegasnya mulai mendekat. Tubuhku terasa kaku dan sulit untuk di gerakkan, jantung yang tadinya normal sekarang pun sudah berdegup kencang. Blank, blank, aku sudah tidak bisa berpikir lagi, dan tiba-tiba...
Set
Brak
Bruk
Entah apa yang terjadi, tiba-tiba aku merasakan sekaligus mendengar degup jantung seseorang yang sedang berlarian. Hidungku juga mencium aroma parfum maskulin tahan lama yang langsung menyeruak dalam otakku. Aroma yang mampu meningkatkan mood seseorang. Kulit yang halus dan hangat juga bisa aku rasakan.
"Apa kau selalu nyaman jika bersentuhan dengan saya?" Suara lembut seseorang terdengar ditelinga. Punggung juga terasa berat seperti tertindih tangan kekar.
Aku membuka mataku lebar setelah tadi terpejam, karena kejadian yang begitu cepat hingga membuatku tidak bisa menghindar. Sadar setelah mendengar suara itu, suara dari calon suami kontrakku. Entah bagaimana bisa terjadi? Sekarang posisi ku berada di atas tubuh Tuan Nathan yang tergeletak di lantai. Seingatku tadi Tuan Nathan sempat menarik kasar tanganku, dan setelah itu aku tidak tahu kenapa bisa jatuh bersamaan di lantai? Semua terjadi di luar dugaan ku.
Aku benar-benar terkejut berada di atas tubuh Tuan Nathan, namun merasa nyaman. Astaga aku mungkin sudah tidak waras jika aku sampai merasa nyaman bersama dengan laki-laki yang dingin dan diktator.
Belum sempat aku bangun dan berdiri tegak, terdengar suara pintu yang sudah tertutup tiba-tiba terbuka.
Ceklek
Rasanya aku ingin lari dan bersembunyi karena malu. Bukan saat yang tepat jika posisi seperti ini harus di lihat oleh orang.
.
.
Bersambung...
Happy reading 😊
Terima kasih buat yang sudah like dan komen, yang selalu ngikutin cerita ini dari awal dan tetap setia menunggu update nya.
Terimakasih juga buat yang sudah kasih vote plus hadiahnya 🥰🥰🥰