
Matahari yang bersinar telah masuk menelusup lewat jendela kamar, hangat terasa di wajahku. Saat ku buka mata sinarnya menyilaukan mataku. Setelah sedikit perdebatan semalam membuatku tidak bisa tidur dan akhirnya bangun kesiangan lagi.
Aku duduk di sofa tempat tidurku semalam, ku edarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan tidak nampak sosok yang ku cari. Hanya tempat tidur yang masih berantakan, aku beranjak ke kamar mandi dan mencoba melihat ke dalamnya, nyatanya juga tidak ada.
"Mungkin dia sudah berangkat ke kantor, kenapa aku tidak di bangunkan?" Aku berbicara pada diriku sendiri.
Kemudian lekas aku membersihkan diri setelah selesai merapikan tempat tidurku dan ranjangnya. Sesekali aku melirik foto yang tergantung di atas ranjang.
Akankah suatu saat dia benar-benar kembali?
Aku teringat akan malam itu saat malam pertama pernikahan, suamiku pergi dan pulang dalam keadaan mabuk dan selalu menyebut namanya. Yah, mereka sepertinya saling mencintai. Tapi entah kenapa dia tidak pernah menyinggung tentang wanita itu saat sadar dan bersamaku?
Jesi, ingat kau hanya istri kontrak. Tidak boleh menumbuhkan rasa cinta padanya kalau tidak ingin sakit dan hancur kedua kalinya. Anggap saja kau sedang bekerja dengannya, lakukan pekerjaan dengan baik dan jangan libatkan perasaan!
Aku selalu meyakinkan diriku sendiri agar tidak terjatuh untuk kali ke dua. Meskipun terkadang sifatnya menunjukkan perhatian bukan berarti dia menyukaiku atau mencintaiku sebagai pasangannya.
Sebuah foto yang masih tergantung membuktikan dengan jelas bahwa tidak ada wanita lain di hatinya selain wanita itu.
Setelah semua selesai dan tertata rapi, kemudian aku turun ke bawah. Aku melihat ibu masih ada di meja makan sendirian, tengah sibuk dengan ponselnya.
"Pagi, Ibu" Sapa ku dengan tersenyum.
"Pagi...,sudah bangun?" jawab Ibu lalu meletakkan ponselnya.
"Iya, maaf kesiangan lagi..." Aku merasa malu, karena selalu saja Ibu yang bangun duluan.
"Ibu, Sisi sudah berangkat ya?" Dari aku bangun tidak melihat keberadaannya, aku cek di kamarnya juga sudah tidak ada.
"Iya, tadi di antar Nathan sekalian berangkat ke kantor." Ibu mertua selalu santai dengan sikapku. Maafkan aku Ibu kalau aku belum bisa menjadi menantu yang baik.
Dia bahkan sekarang bersedia mengantar anakku ke sekolah, gimana tidak, terkadang juga aku bisa baper. Sikapnya dengan anakku kadang meluluhkan hatiku.
"Oh" Dengan sedikit malu aku hanya mengucap satu kata sembari mengoles roti tawar dengan selai.
"Hari ini, apa kegiatanmu?" Tanya Ibu mertua seraya menatapku.
"Saya tidak punya kegiatan apapun. Semalam saya meminta izin untuk kembali bekerja tapi tidak boleh, mengantar dan menjemput Sisi juga katanya tidak perlu." Sedikit ku adukan tentang sikap anaknya yang kadang berlebihan.
Ibu mertuaku malah terkekeh mendengar sedikit curhat yang aku ucapkan begitu saja tanpa rasa sungkan padanya. Sikap Ibu yang hangat membuatku merasa seperti bersama orang terdekat.
"Biarlah, sudah lama Ibu tidak melihat sifatnya yang seperti itu" Ibu mertua malah tampak senang dengan kelakuan anaknya.
Ibu, kau senang tapi aku merasa terpenjara.
Memang selama ini dia seperti apa? Aku pikir itu sifatnya dari orok. Pemarah, suka-suka hatinya, pemaksa, ah masih banyak sekali kalau di kumpulin sikap minusnya.
"Hari ini, Ibu ada pertemuan dengan teman-teman. Dan Ibu ingin mengajakmu biar gak bosan di rumah, sudah lama juga Ibu tidak kumpul bareng mereka."
Ibu mengajakku bertemu dan bergabung dengan teman-temannya, itu berarti aku akan bertemu dengan para wanita sosialita. Aku masih kurang percaya diri.
"Gimana, kau mau kan...?"
Sejujurnya aku ingin menolaknya, tapi melihat ekspresi Ibu yang berharap dan terlihat senang, aku tidak tega. Aku juga belum izin dengan suamiku.
"Iya Bu, tapi saya kan tidak boleh kemana-mana." Berharap Ibu tidak jadi mengajakku, karena bagaimanapun aku juga belum siap kalau sampai orang luar tahu aku adalah menantu dari keluarga Erlangga.
"Baiklah, Bu" Akhirnya aku benar tidak bisa menolaknya, andai nanti anaknya marah maka Ibu yang akan ku jadikan alasan.
Kami melanjutkan sarapan yang sempat tertunda dengan sedikit obrolan. Aku juga tiba-tiba teringat ingin menanyakan sesuatu pada Ibu. Mungkin ini saat yang tepat karena kami hanya berdua.
"Ibu, ada yang ingin saya tanyakan" Walau sedikit ragu tapi aku harus tetap bertanya.
"Tentang apa itu?"
"Em..., tentang foto seorang wanita yang ada di kamar?"
Ibu mertuaku tertegun mendengar pertanyaan ku, dia berpikir dan nampak segurat kesedihan di wajahnya.
"Ibu, maaf. Jika Ibu tidak berkenan menjawabnya tidak apa-apa. Tidak perlu di pikirkan." Melihat ekspresi Ibu, aku mengurungkan niatku untuk tahu siapa wanita itu sebenarnya.
"Tidak Jesi, Ibu tahu kau pasti akan menanyakannya. Cepat atau lambat kau memang harus tahu." Ibu mengambil segelas jus alpukat dan meminumnya sebelum melanjutkan perkataannya.
"Dia adalah Vanesa Priscilla, wanita yang sangat di cintai Nathan. Dia juga adalah calon istri Nathan, namun takdir tidak menyatukan mereka hingga membuat Nathan jadi seperti ini. Nathan tidak mau di sentuh dengan wanita lain bahkan dia sempat bersumpah tidak akan menikah." Akhirnya Ibu menjelaskan siapa wanita itu sesungguhnya.
Mendengar penjelasan Ibu, kini aku mulai sedikit mengerti tentang sikap dingin suamiku. Ternyata dia tipe pria yang setia, tapi kenapa akhirnya dia mau menikah? Bahkan sekarang dia sudah tidak terlalu benci saat tersentuh dan menyentuh ku.
"Makanya Ibu sangat bahagia mendengar dia mau menikah, tapi Ibu juga takut dia hanya akan bermain-main saja." Ibu yang tadinya sempat tersenyum tiba-tiba sedih.
Memang benar, kami hanya bermain saja. Tidak ada hal yang serius diantara kami, aku juga tidak ingin bermimpi menggantikan Vanesa.
"Ibu tenang aja, semuanya akan baik-baik saja" Maafkan aku jika harus berbohong. Aku tidak ingin melihat kekecewaan yang mendalam di wajah cantiknya.
"Jesi, berjanjilah pada Ibu. Kau tidak akan pernah meninggalkan Nathan, apapun yang terjadi" Kedua tangan Ibu memegang tanganku erat.
Sekali lagi maafkan aku Ibu, aku tidak bisa berjanji.
Meski aku mengangguk tanda setuju, tapi dalam hatiku berkata lain. Aku tetap harus membentengi hati ini dengan kuat agar tidak terluka lagi.
"Jesi, apakah semalam Nathan bisa tidur dengan nyenyak?" Ekspresi Ibu mertua menunjukkan penasaran.
"Iya, kenapa Ibu bertanya seperti itu?" Setahuku dia memang selalu tidur nyenyak bahkan sampai mendengkur.
"Syukurlah..." Ibu terlihat lega. "Sejak di tinggal Vanesa, dia susah tidur terkadang sampai minum pil tidur atau kalau tidak dia akan bekerja dan tidak perduli dengan waktu."
"Hmm, sampai segitunya" Aku bergumam lirih.
Waktu berjalan dengan cepat saat pembicaraan serius terjadi. Namun Ibu tetap ingat kalau beliau punya janji bertemu dengan teman-temannya. Sebenarnya bisa saja lupa karena terlalu asyik berbincang, tapi itu tidak mungkin bagi wanita yang mempunyai jadwal yang rapi dalam kesehariannya seperti Ibu mertuaku.
.
.
Bersambung😊
Maaf telat up ya🙏
Harap maklum lagi oleng😁