Second Marriage

Second Marriage
Bab 57 Teka-teki



Ibu mertuaku memang amat baik, dengan caranya dia berusaha melindungi ku dan juga anakku agar tidak mendapatkan penghinaan dari orang lain. Beliau sudah terang-terangan menyebutku sebagai keluarganya di hadapan mantan suamiku. Menjadikan aku sangat berharga di mata seorang Nyonya Erlangga.


Hari sudah berganti, setiap manusia pasti berharap dengan datangnya hari yang baru maka datang pula harapan baru. Harapan untuk


menjalani hidup lebih baik terus menerus, meningkat dan berkembang dalam segi apapun itu.


Begitu pula dengan ku yang ingin mempunyai warna pelangi yang indah sehabis hujan. Pagi ini saat ku buka mata, ku lihat dia masih terlelap dalam tidurnya berselimut tebal dan mendengkur halus.


Aku mendekati ranjangnya dengan perlahan agar tidak membangunkan orang yang sedang di alam mimpi. Ku amati wajah tampannya dengan intens, hidung Bangir dan lesung pipi yang terlihat saat tersenyum. Siapa yang tidak akan tertarik pada pria sepertinya, banyak wanita yang berharap bisa bersamanya bahkan hanya dekat sekedar berfoto saja, namun sayang dirinya terlalu berharga.


Dan siapa yang menyangka aku menjadi wanita yang beruntung bisa dekat dengannya bahkan menjadi istri meski hanya istri kontraknya. Aku bisa menikmati segala fasilitas dan uang yang dia punya, walaupun hati ku belum mau mengakui ingin berharap lebih dari sekedar istri kontrak saja. Karena berharap pada sesuatu yang sepertinya tidak mungkin adalah pekerjaan yang melelahkan. Rasa takut dan trauma di khianati masih jelas ada di benakku.


"Jangan terlalu lama melihat, nanti bisa naksir" Ucapnya masih dengan mata terpejam. Aku kaget dan reflek berdiri dari tempat dudukku.


"Sa_saya hanya ingin membangunkan Tuan. Biar gak telat ke kantor. E_, saya siapkan air mandi dulu" Aku gugup dan salah tingkah karena sudah ketahuan mencuri pandang. Ku hendak beranjak ke kamar mandi namun sebuah tangan besar dan kokoh memegang tanganku.


"Duduklah" Ucapnya seraya bangun lalu bersandar di headboard.


Sedikit enggan untuk menurutinya, tapi suara khas bangun tidurnya seperti menyihir ku. Warna pipi merona mungkin sudah nampak terlihat di wajahku saat ini.


"Kau mau kemana, hem?" Tanyanya setelah aku duduk di tepi ranjang.


"Em_, i_itu, siapkan sarapan, eh salah. Siapkan air untuk mandi" Sudah sangat jelas aku gugup di hadapannya, bicara saja aku sudah belepotan.


Ayolah Jesi, tata otakmu dengan benar.


"Kenapa harus buru-buru?"


"Nanti bisa terlambat, Tuan"


"Saya bos-nya, mau terlambat atau tidak berangkat sekalipun itu tidaklah jadi masalah, bukan?"


"Ah, iya benar, Tuan" Ucapku sembari tersenyum malu.


Astaga, sepertinya otakku sudah bergeser sampai aku tidak ingat kalau dia adalah rajanya.


"Hari ini juga weekend, saya ingin bersantai"


"Weekend?" Ucapku lirih. Aku bahkan lupa dengan hari ini.


Tuan, sihir apa yang kau gunakan padaku? Hanya menatapmu saat tidur saja sudah membuatku sejenak hilang akal.


"Adakah hal yang ingin kau ceritakan padaku waktu di tempat mantan suamimu?" Tuan Nathan mulai mencari tahu langsung kejadian kemarin dengan bertanya padaku.


"Tidak ada, saya hanya tinggal di mobil saja. Ibu dan sisi yang masuk ke dalam" Aku pikir tidak perlu menceritakan tentang setiap perkataan Karla dan Mas Arsya.


"Benarkah? Apa menurutmu saya tidak penting bagimu, hingga kau tidak pernah berbagi masalah padaku? Apakah hanya Doni yang bisa jadi tempatmu berbagi?"


"Hah?" Aku terbengong mendengar setiap pertanyaan yang membuatku tidak mengerti. Bukan tidak tahu tanyanya apa melainkan maksud dari pertanyaannya itu. Dengan membawa nama Doni juga di dalamnya. Aku hanya tidak ingin salah mengartikannya.


"Maksud, Tuan?" Tanyaku sembari mengerutkan kening.


"Ah, sudahlah tidak perlu di pikir. Hari ini kita akan pergi bersama Sisi. Saya sudah janji padanya mau main trampoline bersama" Dia sedikit jengkel dengan pertanyaan ku, lalu mengalihkan dengan topik lain.


"Oh, ya?" Aku senang sekali mendengarnya, memang sudah lama dia tidak pergi bermain trampoline. Terakhir bermain di saat aku masih berstatus sebagai istri Mas Arsya dan di saat aku kali pertama bertemu dengan seorang yang ada di depanku ini.


"Apa kau senang?"


"Tentu, sudah lama kami tidak pergi ke sana"


"Bagus" Ucapnya tersenyum sembari mengusap-usap kasar pucuk kepalaku seperti anak kecil.


"Sekarang, imbalan apa yang ingin kau berikan? Karena aku telah menyenangkan mu."


Dia minta imbalan, padahal kan aku tidak menyuruhnya untuk membuatku senang.


"Imbalan, imbalan apa? Saya tidak punya apa-apa yang bisa di berikan, Tuan."


"Ada"


"Apa?"


"Ambil kotak itu" Dia menunjuk kotak yang ada di atas nakas, sekali lihat saja aku tahu itu sebuah kotak handphone.


Kemudian aku mengambilnya dan ku berikan padanya, dia tidak menerimanya tapi menyuruh ku untuk membukanya. Mataku terbelalak melihat ponsel yang pastinya tidak murahan.


"Itu untukmu, mengganti ponsel yang kemarin"


"Benar ini untuk saya, Tuan?" Aku tidak percaya bisa punya ponsel sebagus ini.


"Ini terlalu mahal, tidak sebanding dengan ponsel yang kemarin" Sebenarnya yang lebih penting isinya dan SIM card yang ada di handphone ku yang rusak.


"Kau harus tetap gunakan ponsel itu, apa kata orang nanti kalau tahu istri dari seorang Nathan Darwin Erlangga menggunakan ponsel busuk"


Kata orang, bukankah orang luar tidak ada yang tahu kalau aku ini istrinya?


"Jangan membuat saya malu!"


"Iya, baiklah. Terimakasih"


"Sekarang kemarilah, naiklah" Tuan Nathan menyuruhku naik di atas ranjang dan duduk di dekatnya.


"Naik, untuk apa?"


"Sebagai imbalan" Ucapnya sembari menaik turunkan alisnya.


Hah, mau apa sebenarnya dia? Kenapa selalu memberikan teka-teki yang menjerumus ke otak mesum ku?


Kemudian dengan paksa dia menempelkan kepalaku di dadanya. Mataku melotot seketika atas perlakuannya, apalagi saat ini dia sedang bertelanjang dada. Kehangatan suhu tubuhnya terasa di wajahku.


"Saya tahu, Kau sudah menyukaiku kan?"


"Hah?" Aku reflek dan mengangkat kepalaku namun di tahan dengan kuat oleh tangannya.


Darimana dia bisa punya asumsi seperti itu?


"Kau boleh mengambil foto sekarang menggunakan ponsel baru itu. Dan kau beruntung karena kau wanita pertama yang saya izinkan mengambil foto bersama ku di antara banyak wanita di luar sana." Terangnya dengan santai padaku.


"Apa?" Jadi ini imbalannya, kenapa dia narsis sekali? Aku bahkan tidak pernah kepikiran untuk berfoto dengannya lagi setelah pernikahan.


"Ayo, lakukan!"


"Iya, iya baiklah" Meski malas tapi aku juga tidak bisa menolaknya, dan akhirnya aku ambil beberapa foto yang terlihat sedang di peluk dan memeluknya.


Meski sedikit aneh dengan tingkahnya hari ini, tapi aku senang karena tidak ku dapati amarahnya pagi ini. Mengingat kemarin aku habis bertemu dengan mantan suamiku dan dia tidak melakukan tindakan kasar padaku.


Aku masih ingat betul hukuman yang di berikan saat tanganku di sentuh Mas Arsya, dia seperti singa yang mengamuk dan mengeluarkan taringnya untuk menggigitku hingga aku meringis kesakitan.


Setelah itu aku mulai menyiapkan air untuknya mandi dan juga pakaian gantinya. Aku masuk ke dalam walk-in closet untuk mencari pakaian yang cocok di pakai untuknya pergi bermain.


Deg


Saat aku buka lemari gantung nya, ku lihat jas berselimut plastik tergantung rapi di situ. Aku ingat jas itu adalah jas yang jadi awal masalahku dengannya, jas branded yang sangat berharga untuknya.


Setelah kejadian itu, tak pernah lagi aku melihat dia memakainya. Mungkin jas ini ada kaitannya dengan Vanesa? Aku sangat yakin tentang itu. Bahkan fotonya sampai sekarang masih tergantung di atas tempat tidurnya.


Entah kenapa ada sedikit rasa tidak enak tiba-tiba datang masuk ke relung hati. Sebisa mungkin aku mengusir rasa itu, dengan memikirkan bahwa suatu saat dia akan kembali. Di saat hati sedang pergi, dia tahu kemana dia akan pulang.


Benar saat dia kembali, mungkin aku juga akan kembali ke kehidupan normalku seperti dulu. Aku sadar aku bukanlah sinderela dalam dongeng. Aku akan kembali menjadi rakyat jelata seperti kebanyakan orang.


Tidak mau lama-lama, aku segera mengambil pakaian yang kira-kira cocok. Kemudian aku letakkan di atas ranjang, lalu aku pergi ke luar untuk membangunkan Sisi dan menyuruhnya bersiap.


"Sayang, bangun" Ku usap kepala Sisi agar dia terbangun saat merasakan sentuhan.


"Mama, Sisi masih ngantuk... Ini kan hari libur, Sisi mau bangun siang" Ucapannya sembari menggeliat malas.


"Yakin gak mau bangun?" Dia menggeleng dan masih menutup matanya.


"Ok, Mama hari ini mau pergi bersama Ayah main trampoline" Aku sengaja memancingnya untuk segera bangun.


"Bener, Ma?" Dia langsung bangun dan duduk tegap, dan pancinganku berhasil. Mata yang tadinya masih lengket sekarang sudah terbuka lebar. Sinar kebahagiaan pun nampak jelas terlihat di sana.


"Iya sayang, makanya cepat bangun dan bersiaplah. Mama mau siapkan sarapan"


"Mama, ayah sudah bangun?"


"Sudah sayang..."


"Ok kalau gitu Sisi mau mandi, Mama siapkan sarapan yang enak"


Lalu ku tinggalkan Sisi sendiri di kamarnya dan aku turun ke bawah langsung menuju dapur. Ku lihat Pak Didi di bantu pelayan lain sedang menyiapkan sarapan pagi.


"Pagi pak Didi..." Sapa ku ramah.


"Pagi Nyonya, ada apa Nyonya sampai datang ke dapur?" Tanya langsung Pak Didi.


"Saya mau bantu siapkan sarapan" Ucapku sambil melihat bahan-bahan makanan.


"Tidak perlu Nyonya, sebaiknya anda menunggu saja. Jika Tuan tahu pasti akan marah" Pak Didi menolak bantuan dariku.


"Tidak apa-apa Pak Didi, anak saya ingin makan masakan saya. Sejak tinggal di sini dia belum pernah makan masakan saya dan lagi saya juga ingin sesekali melayani suami" Aku masih kekeh untuk memasak meski Pak Didi menolak ku dengan alasan Tuan akan marah. Tapi aku yakin dia tidak akan marah.


"Tapi, Nyonya"


"Tenang saja, saya sudah terbiasa melihat kemarahan Tuan. Jadi pak Didi jangan khawatir"


"Terserah Nyonya saja"


"Pak Didi, sudah lama kerja di sini ya?" Aku bertanya sembari menyiapkan bahan untuk di masak.


"Sudah, Nyonya"


"Berarti Pak Didi tahu tentang wanita yang bernama Vanesa Priscilla?" Aku mencoba mencari tahu informasi lewat Pak Didi.


"Pak, Pak Didi?" Ku panggil ulang namanya karena tak kunjung dia mengeluarkan suara untuk menjawab.


"Pak Didi, mungkinkah suatu saat dia akan kembali?" Sekali lagi aku bertanya dan berharap mendapat jawaban yang pasti.


Ku lihat Pak Didi masih tetap diam dan seperti enggan menjawab. Entah kenapa nama Vanesa tidak pernah di sebut dalam keadaan sadarnya Tuan Nathan. Tidak pernah juga ku dengar namanya di sebut oleh para pelayan di sini.


Sebenarnya kemana perginya Vanesa? Siapa Vanesa sesungguhnya?


*


*


Bersambung 😊


Hari ini saya tambahin jumlah kata dalam bab ini, mudahan-mudahan masih menghibur.


Terimakasih and happy reading 🙏