
Sepanjang perjalanan pulang aku tidak bisa tenang, sebelum mendengar kabar sisi baik-baik saja, aku masih saja terus gelisah.
"Tenanglah, Sisi pasti baik-baik saja." Dia selalu memeluk untuk menenangkan perasaanku.
"Saya sangat berharap begitu."
"Mungkin ini perbuatan mantan suamimu itu."
"Entahlah, jika dia yang melakukannya, Sisi pasti baik-baik saja."
"Jangan terlalu percaya diri."
"Dia itu Papanya, apa mungkin dia tega berbuat kejam pada anaknya sendiri?"
"Tidak ada yang tidak mungkin!"
"Iya, benar."
"Sebenarnya, apalagi yang mereka inginkan darimu?"
Aku pikir suamiku harus tahu tentang semua yang aku bicarakan dengan Karla. Perlahan aku mulai menceritakan dari kedatangan Mas Arsya ke toko hingga aku sampai di rumah sakit.
Aku juga menceritakan tentang keinginan Karla yang meminta Sisi untuk hidup bersama mereka. Dan juga ketika Karla meminta aku agar meminjamkan rahim untuk melahirkan anak dari Mas Arsya. Semuanya tidak aku tutup-tutupi lagi.
"Lancang sekali wanita itu!" Merasa geram mendengar semua yang aku ceritakan, terlebih saat dia dengar rahimku akan di pinjam.
"Perlu di berikan pelajaran yang sesuai untuk manusia seperti itu."
"Tidak perlu suamiku, dia sudah mendapatkan balasan dari semua perbuatannya. Aku tidak ingin melihat suamiku kejam pada orang lain."
"Tapi mereka sudah melewati batasan."
"Aku hanya tidak ingin berhubungan dengan mereka lagi, aku tidak akan menyerahkan Sisi pada mereka. Biarlah saat Sisi dewasa nanti yang akan datang pada mereka."
"Kenapa aku bisa punya istri sebaik dirimu? Kebaikanmu membatasi tindakan yang ingin aku lakukan."
"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu."
Dalam perjalanan, dia terus berusaha untuk membuat aku tenang. Mudah-mudahan saja yang membawa Sisi bukanlah orang yang jahat.
Sampailah kami di rumah, dan aku langsung berlari mencari Ibu mertua.
"Ibu, bagaimana? Apa sudah ada kabar dari pihak sekolah atau dari orang-orang yang mencari Sisi." Ku hampiri Ibu yang sedang mondar-mandir sembari memegang ponselnya.
"Belum sayang, tapi tenanglah. Ibu yakin sebentar lagi Sisi akan di temukan. Saya sudah menambah orang untuk mencari di semua tempat."
"Ayo, kita duduk. Minumlah dulu, Pak Didi barusan membuatnya. Percayalah, Sisi baik-baik saja." Ibu mengajakku duduk lalu memberikan aku secangkir minuman hangat.
"Terimakasih, Ibu." Ucapku setelah meletakkan minuman di atas meja.
Terdengar suara ponsel suamiku yang berdering nyaring. Buru-buru dia mengakatnya.
"Ken, menelpon." Dia memberitahukan pada kami orang yang menelpon.
Aku sudah tidak sabar ingin mendengar kabar dari sekertaris Ken. Sangat berharap sekertaris Ken sudah menemukannya.
"Bagaimana? Apa Pak Ken sudah menemukannya?" Tanyaku setelah suamiku selesai berbicara dengan sekretarisnya.
"Belum, Ken bilang kalau Sisi tidak bersama dengan Arsya dan Karla."
"Lantas siapa yang membawa Sisi? Jangan-jangan orang asing yang membawanya atau_" Ingin aku katakan apa yang ada di pikiranku tapi aku takut dia akan tersinggung.
"Atau apa?" Tanya Ibu mertua bersamaan dengan suamiku.
"Maafkan aku sebelumnya. Aku berpikir kalau Vanesa bisa jadi yang melakukannya karena dia tidak terima kau sudah menikah dan melupakannya."
"Nesa! tidak. Aku rasa tidak. Dia tidak akan seberani itu bertindak yang bisa membaut citranya hancur." Terlihat suamiku tidak percaya kalau mantan dia bisa berbuat hal yang buruk.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk berpikiran negatif padanya."
"Sudahlah, jangan berpikir buruk. Aku yakin, sebentar lagi juga ada kabar."
Mendengar ucapan suamiku seperti itu, entah kenapa aku sedikit kecewa. Secara tidak langsung suamiku tidak percaya mantan kekasihnya yang terlihat baik bisa saja berbuat yang tidak baik. Dia bisa saja berubah karena merasa sakit hati.
Suasana jadi hening, aku terdiam setelah itu. Terus berdoa dalam hati agar anakku tetap baik-baik saja. Kami tidak ada yang bicara, sibuk dengan pikiran masing-masing sembari menunggu dering telpon berbunyi.
Tidak lama kemudian dering telepon itu pun terdengar. Suara dering yang terdengar dari ponsel Ibu sekarang.
"Iya Jo, bagaimana?" Tanya Ibu pada seseorang yang menelpon.
[.......] Jo.
Mendengar pembicaraan Ibu lewat telepon yang memuji tentang pekerjaan, aku sedikit mataku sedikit berbinar. Berharap itu adalah orang suruhan Ibu dan sudah menemukan keberadaan Sisi.
"Ibu, apa ada kabar tentang Sisi?" Tanyaku yang sangat penasaran.
Melihat Ibu yang tersenyum, membuatku semakin penasaran. Dalam hati sudah ada rasa bahagia yang tiba-tiba muncul.
"Ibu, kenapa malah tersenyum? Apa yang di katakan Jo?" Tuan Nathan juga sangat ingin tahu.
"Tenang, kita sudah bisa tenang. Sisi baik-baik saja." Jawab Ibu mertua.
"Benarkah Ibu?"
"Iya sayang, dia tidak apa-apa."
"Syukurlah..." Meski aku belum melihat anakku, tapi mendengar dia baik-baik saja aku sudah sangat senang.
"Lalu, di mana Sisi sekarang? Dan siapa yang sudah berani membawanya pergi?" Tanya Tuan Nathan.
"Nyonya Widya."
"Ibu Widya!" Aku tidak percaya mantan Ibu mertuaku yang melakukannya.
"Dasar, Ibu sama anak kelakuannya sama saja, sama-sama lancang." Umpat Suamiku yang sudah membenci keluarga Sanjaya.
Setelah mendengar Sisi baik-baik saja dan tahu keberadaannya sekarang, aku lega sekali. Rasa takut dan khawatir sudah hilang berganti dengan bahagia.
Aku memutuskan untuk secepatnya menjemput Sisi ke rumah Ibu mertua. Aku ingin melihat langsung anakku tidak kenapa-kenapa.
"Ibu, terimakasih sudah mau membantu mencari anakku." Ucapku dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak perlu berterimakasih, kita sudah jadi keluarga. Sisi juga sudah menjadi tanggung jawab kami." Ucap Ibu mertua.
"Ibu, kau sangat baik padaku." Ucapku lalu memeluk hangat tubuhnya.
"Ck, hanya Ibu. Ya...di sini cuma Ibu yang bekerja keras." Sepertinya Suamiku merasa di lupakan.
"Eh, bukan begitu sayang..." Ucapku lalu dengan cepat duduk di sampingnya.
"Kau juga sudah bekerja keras, terimakasih sudah mengkhawatirkan Sisi, terimakasih sudah peduli dengan anakku, terimaksih sudah menyayanginya seperti anakmu sendiri." Sambungku berterimakasih dengan tulus itu yang bisa kau lakukan.
"Hem." terucap datar dan tanpa ekspresi
Apa masih tidak terima dengan ucapan ku? Kenapa tidak mau tersenyum.
Aku jadi merasa tidak enak melihatnya seperti itu. Aku bingung, harus bagaimana? Saat mataku berpindah ke Ibu, dia hanya tersenyum saja melihat tingkah anaknya.
"Emmm, suamiku..., sepertinya saya harus cepat pergi untuk menjemput Sisi." Mencoba mencairkan mukanya yang seperti es.
"Tidak perlu!"
"Hah!"
Tidak perlu, apa maksudnya tidak perlu? Apa dia akan membiarkan anakku tinggal bersama mereka?
"Bukan tidak perlu, mungkin maksud Nathan biar Ibu saja yang menjemputnya. Iya kan sayang?" Ucap Ibu tersenyum padaku, namun saat menatap anaknya dia sedikit membelalakkan matanya.
"Iya..." Jawab Tuan Nathan.
"Tenang saja, Ibu akan bawa pulang Sisi. Tidak akan ku biarkan mereka mengambil Sisi dengan sembarangan lagi. Mereka harus tahu siapa cucu nya sekarang?!."
"Baiklah, ibu." Ku percayakan Sisi pada Ibu mertua, karena aku yakin dia pasti akan menunjukkan kuasanya yang bisa membuat mantan mertuaku menunduk.
"Kau urus suamimu, sepertinya dia butuh mood booster." Ucapnya sembari tersenyum lalu pergi meninggalkan kami.
Mood booster...?
Setelah kepergian Ibu, ku lihat suamiku masih saja diam. Dia seperti anak kecil yang sedang merajuk. Apa mungkin juga dia sedang merajuk saat ini? Lalu, apa yang membuatnya jadi merajuk?
Ah, kenapa dia jadi kekanak-kanakan sekali...?
.
.
Bersambung☺️
Biarpun nggak banyak😁, di usahain untuk up terus.
Dukung terus ya karya ini 🙏