
Aku sudah sedikit mendengar perdebatan mereka, tapi entah hal apa yang membuat Doni tidak mengizinkan terjadi? Doni Anggara Putra, aku juga baru tahu nama lengkapnya hari ini, selama ini tidak ada yang menyebut nama panjangnya. Mungkin aku terlalu sibuk mengurus diri sendiri hingga aku tidak tahu.
Sekertaris Ken selalu saja datang pagi-pagi, dan pasti selalu ada keributan antara Doni dan sekertaris Ken. Sebenarnya kenapa dia harus datang menjemput, padahal aku juga tidak akan kabur. Kalaupun aku ingin kabur aku juga tidak bisa, dia yang berkuasa pasti akan menemukan ku meski di lubang semut sekalipun. Tidak akan membiarkan aku lepas dengan mudah.
"Apa yang terjadi?" Tanyaku sembari berjalan mendekati mereka.
"Doni, apa yang sebenarnya di bicarakan Pak Ken?" Tanyaku pada Doni yang terlihat sedikit gugup.
"Itu Mbak, Pak Ken mau jemput. Tapi aku melarang karena terlalu terburu-buru untuk berangkat kerja" jawab Doni.
"Tuan Nathan menyuruh anda berkemas dan segera pindah dari sini bersama putri, Nyonya" sahut sekertaris Ken langsung.
"Nyonya?" Doni terkejut sekertaris Ken memanggilku dengan kata Nyonya.
"Hehehe, Pak Ken. Kenapa bisa salah sebut si?" Ucapku seraya mengedipkan mata sebelah, pertanda kode untuknya.
"Tapi saya_," ucap sekertaris Ken
"Baiklah Pak Ken, tunggu sebentar saya akan berkemas. Doni, ayo bantuin Mbak berkemas biar cepat selesai" aku sengaja mengajak Doni untuk ikut berkemas karena aku tidak mau Doni tahu kalau aku akan menikah nantinya.
"Tapi Mbak, tunggu! Siapa yang mengizinkan Mbak keluar dari sini?" Ucap Doni menghentikan langkahku dengan menarik tangan yang sudah aku gandeng terlebih dulu.
"Ehem, hem. Tolong jaga jarak anda?" ucap sekertaris Ken melihat kedekatan ku dengan Doni.
Aku dan Doni menoleh bersamaan ke arah sekertaris Ken yang sudah duduk di sofa. Mataku sengaja ku tajam kan untuk memberi kode agar sekertaris Ken diam dan jangan banyak bicara lagi. Doni sebenarnya heran dengan setiap ucapan sekertaris Ken dan mungkin di kepalanya sudah banyak pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Aku tidak perduli dengan peringatan sekertaris Ken, aku terus membawa Doni masuk kamar agar bisa jauh darinya.
"Ma, Om Doni. Ada apa?" Tanya Sisi penasaran.
"Sayang, sudah siap berangkat ke sekolah?" tanyaku melihat Sisi sudah rapi dengan seragamnya. Sisi sudah mulai belajar mandiri setelah tidak ada si Mbak yang membantunya.
"Sudah dong, Ma" jawab Sisi riang.
"Mbak, aku tidak izinkan Mbak keluar dari sini" ucap Doni yang melihatku sudah mengambil koper di dalam lemari dan mulai menata pakaian ku dan Sisi.
"Doni, maafkan Mbak. Semalam kan Mbak dah bilang, Mbak tidak bisa tinggal di sini terus menerus. Mbak harus secepatnya pindah dari sini!" Ucapku
"Tapi, gak secepat ini kan, Mbak bisa tinggal di sini, Mbak bisa memilih sebelah mana yang ingin Mbak tinggalin. Aku akan berikan untuk Mbak Jesi" ucap Doni yang berusaha mencegahku.
"Berikan untukku?" aku sedikit heran dengan ucapannya.
Apa maksud Doni menyuruhku tinggal memilih dan dia akan berikan untukku. Sudah seperti pemilik tempat ini saja. Terkadang perkataan Doni membuatku bingung dan menimbulkan berbagai pertanyaan dalam otakku.
"Maksudku, aku akan membantu Mbak buat cari tempat tinggal di sini saja, tidak perlu harus keluar dari gedung Apartemen ini" Jawab Doni.
"Oh, tidak perlu Don, terimakasih. Lagian Mbak gak punya cukup uang untuk menyewa tempat di sini" ucapku meneruskan berkemasnya.
"Mama, kita akan pindah lagi?" tanya Sisi yang dari tadi hanya menyimak.
"Iya sayang, kita akan cari tempat baru. Tidak baik kalau harus merepotkan orang lain terus. Mengerti sayang?" jawabku, Sisi hanya mengangguk saja dan menurut.
"Tapi, Mbak" Doni masih enggan membiarkan aku pergi.
"Don, mengertilah. Ini akan baik untuk kita semua, terlebih untuk Sisi. Dia masih kecil, apa jadinya kalau teman-teman sekolahnya tahu kalau ibunya tinggal serumah dengan orang yang bukan siapa-siapa lalu dia di olok-olok, pasti Sisi akan malu." Terang ku padanya, sebisa mungkin memberi pengertian pada Doni, yang kadang-kadang berpikir seperti anak-anak.
Terdengar Doni mengambil nafas beratnya, aku tahu dia masih belum bisa menerima keputusan ku. Ada perasaan lega juga aku bisa keluar dari tempat Doni, tapi setelah ini kemana sekertaris Ken akan membawaku? Mungkinkah Tuan Nathan mencarikan rumah untukku? Yah mudah-mudahan saja.
"Pasti, Don!" Ucapku.
Setelah selesai berkemas aku mengajak Sisi keluar kamar, Doni membantuku membawa 2 koper yang ukurannya lumayan besar.
"Pak Ken, saya sudah siap" ucapku setelah sampai di ruang tamu.
Kemudian sekertaris Ken mengambil dua koper dari tangan Doni. Doni sempat mengeratkan pegangan kopernya, seolah tidak rela untuk melepaskannya.
"Pak Ken, tolong jaga dia. Jangan sampai Tuan mu itu menyakitinya" pesan Doni pada sekertaris Ken, lalu menyerahkan koperku padanya.
"Tuan Doni tenang saja. Tuan Nathan hanya ingin membantunya" ucap sekertaris Ken.
"Om Doni, terimakasih ya...Om Doni sudah baik sama Sisi dan Mama" ucap Sisi lalu mencium punggung tangan Doni. kemudian Doni berjongkok agar sejajar dengan Sisi lalu memeluknya.
"Sama-sama, sayang" ucap Doni mengusap pucuk kepala Sisi.
"Doni, terimakasih atas bantuan mu selama ini" ucapku sembari menjabat tangannya, lalu juga memeluknya.
"Ehem, tolong jaga sikap!" Ucap sekertaris Ken.
Sekertaris Ken benar-benar membuatku merasa tidak leluasa bergerak, dari tadi dia selalu mencoba memberi peringatan agar aku jangan terlalu dekat dengan Doni. Aku hanya memberikan pelukan dan aku pikir itu adalah hal yang wajar.
"Pak Ken, sebenarnya kenapa? Kenapa tiap kali mbak Jesi dekat dengan saya, Pak Ken selalu mencoba melarang?" Doni sudah terlihat kesal kembali dengan sekertaris Ken, setelah mengurai pelukannya.
"Sudah, sudah. Jangan di perpanjang! Doni tenanglah, jaga diri baik-baik. Nanti Mbak akan hubungi kau lagi" ucapku menyudahi perdebatan yang sudah sempat akan di mulai.
Setelah itu, aku dan Sisi juga sekertaris Ken keluar dari Apartemen Doni. Aku minta tolong pada sekertaris Ken untuk mengantar Sisi ke sekolah sebelum sampai di tempat yang tinggal yang baru. Sekertaris Ken pun menyetujui permintaanku.
"Pak Ken, apa Tuan Nathan sudah menyiapkan tempat tinggal untuk saya sebelum hari pernikahan?"
"Sudah tentu, Nyonya" jawab sekertaris Ken.
"Terimakasih ya, Pak Ken" ucapku sumringah.
Eh, bukannya aku mau di bawa ke tempat tinggal yang baru, kenapa sekarang malah masuk ke perumahan Erlangga?
"Pak Ken, ini kenapa kita ke sini ya? bukan seharusnya ke tempat saya yang baru dulu lalu kita ke sini ya?" Tanyaku sedikit tidak mengerti maksud sekertaris Ken menyuruhku pindah.
"kita akan segera sampai, Nyonya" jawab sekertaris Ken.
Aku sudah memasang muka cemberut, karena harus ke rumah Tuan Nathan lebih dulu. Akan menjadi panjang ceritanya kalau harus bertemu dengannya dulu. Pasti banyak aturan yang di berikan untukku, ah tidak juga. Aturannya hanya satu tapi sudah mewakili semuanya.
"Oh iya, Nyonya. Saya hanya mengingatkan untuk jaga sikap anda pada orang lain!"
Aku mengerutkan kening mendengar ucapan sekertaris Ken. Sikap yang seperti apa? Aku merasa aku selalu menjaga sopan santun pada siapa saja. Aku juga tidak pernah berbuat senonoh pada orang lain. Apa maksud perkataan sekertaris Ken sebenarnya?
.
.
Happy reading 😊