
Hari ini pun tiba, di mana aku akan menyandang status sebagai seorang istri kembali setelah belum lama bercerai. Sebentar lagi aku akan memakai nama besar keluarga ini sebagai nama belakang ku, entah sampai kapan?
Aku berharap pernikahan ini adalah yang terbaik untukku meskipun tidak ada cinta antara aku dan calon suamiku. Biarlah semua berjalan dan mengalir seperti air. Melakukan tugas sebagai istri dengan baik dan tak perlu berharap banyak jika suatu saat dia akan mencintaiku sepenuh hati. Sekali lagi ku tegaskan pada diriku sendiri, pernikahan ini hanyalah sebuah perjanjian hitam di atas putih. Bukan atas dasar cinta antara kedua belah pihak.
Saat ini di kamarku sudah ada seorang MUA sedang menata rambut dan merias wajahku. Di lihat dari caranya bekerja diapun bukan seorang MUA yang abal-abal. Pastinya tidak mungkin juga Ibu Sonya mengundang yang tidak berkualitas.
"Nona, Anda terlihat sangat cantik sekali" Ucap MUA itu yang tak ku ketahui namanya.
"Terimakasih..." Ucapku sembari mengulas senyum.
"Anda sungguh beruntung, bisa bersanding dengan Tuan besar. Selama ini tidak pernah terdengar sedikitpun ada wanita yang dekat dengannya sejak_" Entah kenapa dia tidak bisa meneruskannya.
"Sejak apa?" Tanyaku yang sungguh penasaran, melihat MUA itu tiba-tiba terdiam.
"Ah, itu. Maksud saya sejak dulu. yah sejak dulu!" Ucapnya yang gugup.
"Oh."
Apa benar yang di katakanya? Kenapa harus berpikir dulu? kalau cuma itu alasannya.
Suara ketukan pintu terdengar, terlihat sosok wanita yang anggun dan cantik terpancar dari wajahnya. Sosok yang penuh kewibawaan.
"Gimana, sudah selesai?" Tanya Ibu Sonya, lalu menghampiri aku yang duduk di tepi ranjang.
"Wah, Kau sangat cantik sayang" Ibu Sonya memujiku juga.
Setelah aku berkaca melihat diriku sendiri, teenya benar aku memang terlihat cantik kali ini. Pasti karena riasan yang bagus dan sesuai dengan wajah ku.
"Terimakasih, Ibu" Ucapku dengan senyum yang tulus.
"Semua berkat dia ibu" ucapku yang ku tunjukkan untuk MUA.
"Ah bisa saja Nona, sebenarnya Nona memang cantik hanya perlu polesan sedikit saja!" Ucapnya.
"Sudah waktunya, ayo turun! Nathan sudah menunggu di bawah." Ucap Ibu Sonya.
Kemudian aku keluar kamar bersama dengan Ibu Sonya yang mengapit lenganku. Aku menuruni tangga satu persatu dengan perlahan karena takut terjatuh.
Baju pernikahan berwarna putih bersih yang panjang kebelakang, dan pas di badan juga terlihat sedikit seksi dengan adanya belahan di dada yang memperlihat sedikit dua gunung kembar milikku. Sepatu yang berheel tinggi membuatku sedikit susah dalam berjalan.
Setelah sampai di bawah Tuan Nathan memang sudah menunggu ku. Dia juga terlihat tampan dengan pakaiannya. Tuan Nathan menatap ku tak berkedip saat aku sudah mulai berjalan mendekatinya. Matanya tidak tertuju pada wajahku namun pada gaun yang ku pakai.
Tidak ada ekspresi senang ataupun sedih dari mukanya.
Prosesi pernikahan pun di laksanakan tanpa ada tamu siapapun dari luar, yang ada hanya Pak Didi, sekertaris Ken, Ibu Sonya dan juga seseorang yang meresmikan pernikahan ini. Bahkan seorang MUA yang tadi meriasku sudah di suruhnya pulang. Anakku juga tidak di hadirkan namun sebelumnya aku sudah memberitahunya dan memberi pengertian. Beruntung Sisi tidak menolak dan malah terlihat senang.
Tidak ada acara yang digelar setelah selesai tanda tangan, hanya sedikit berfoto saja atas permintaan Ibu sonya. Awalnya pun Tuan Nathan menolak saat berfoto yang sedikit mesra padaku.
"Apa, Tuan sudah puas?" Tanyaku lirih saat sedang berfoto dengan posisi Tuan Nathan memelukku dari belakang.
"Tentang apa?" dia justru balik bertanya.
"Tentang apalagi? ya tentang pernikahan inilah!"
"Siapa yang memberikan gaun ini?" Tanya Tuan Nathan, dingin.
"Ibu" jawabku jujur. Tuan Nathan diam dan langsung menghentikan sesi foto bersama.
Selesai berfoto Tuan Nathan langsung pergi ke kamarnya meninggalkan aku yang masih di bawah bersama Ibu mertua dan sekertaris Ken.
"Nathan, tunggu! Bantu istrimu naik ke atas" teriak Ibu Sonya pada Tuan Nathan yang sudah menapaki anak tangga. Namun Tuan tidak berhenti dan pura-pura tidak mendengar teriakan Ibunya.
"Sabarlah Jesi," Ucap Ibu seraya mengusap punggung tanganku.
"Tidak apa-apa, Ibu" Jawabku yang juga tidak perduli dengan kelakuan suamiku.
"Ken, tolong bantu Jesi antar ke kamar Nathan" Ucap Ibu Sonya.
"Saya?" Ken terkejut dan menunjuk diri sendiri.
"O o tidak, Nyonya. Kali ini saya membantah, maaf! saya belum ingin cuti, Nyonya" Ucap sekertaris Ken.
Ibu terkekeh mendengar ucapan sekertaris Ken. Sepertinya Ibu tahu apa yang di maksud sekertaris Ken.
"Ibu, saya bisa naik sendiri" ucapku.
"Baiklah hati-hati, Ibu ada keperluan mau keluar" ucap Ibu mertua. Aku mengangguk sembari tersenyum.
"Jesi" Ibu mertua kembali memanggilku saat aku sudah berada di tangga pertam. Aku menoleh ke arah Ibu mertuaku.
"Berjuanglah!" Ucap Ibu mengangkat tangannya memberikan semangat padaku. Aku hanya mengulas senyum.
Dengan melepaskan sepatu yang berheel tinggi sengaja aku lepas dan tak lupa tanganku pakai untuk mencingcingkan gaun panjang ku agar tidak terinjak.
Jika cuma seperti itu, kenapa juga harus seribet ini?
Aku menaiki tangga sembari ngedumel karena acara yang tidak sesuai dengan berapa lama aku harus berdandan dan bersiap hingga segini rupa.
Setelah sampai di atas, aku merasa bingung. Kamar mana yang harus aku masuk lebih dulu? Apakah aku harus langsung masuk kamar suamiku? Ah, tidak, tidak. Sepertinya dia sedang bad mood. aku putuskan untuk masuk kamarku sendiri.
Setibanya di dalam kamar aku langsung menghempaskan tubuhku di atas ranjang yang besar tanpa melepas gaun terlebih dahulu. Pikiran ku menerawang jauh tentang rumah tangga yang baru aku mulai tadi.
Bagaimana selanjutnya hari-hari yang akan aku lewati nanti? Akankah Tuan Nathan yang sudah berubah status menjadi suamiku akan meminta haknya? Aku berharap itu tidak akan terjadi sebelum aku di anggap sebagai istri yang sesungguhnya.
Pernikahan kontrak yang sesuai dengan jalannya proses acara, benar terlihat hanya seperti sebuah mainan saja.
Ada hal yang tadi sempat mengganjal dalam pikiranku. Ada apa dengan Tuan Nathan yang seperti tidak suka melihatku memakai gaun ini?
.
.
Bersambung 🤗