
Sekarang sudah pasti mukaku bersemu merah karena sedikit terasa panas, tubuhku juga tiba-tiba merasa gerah. Ruangan yang bersuhu dingin menjadi panas ku rasakan.
Seseorang telah dengan lancang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, suara yang sangat aku kenal terdengar jelas di telingaku. Dari nada yang terkejut aku tahu dia tidak menyangka akan melihat pemandangan yang memalukan menurutku. Mungkin menurutnya pemandangan ini adalah sebuah hiburan langka yang jarang di lihat.
Aaaaaa, sungguh memalukan sekali. Kenapa jadi seperti ini?
"Maaf, maafkan saya" ucap sekertaris Ken seraya menundukkan kepalanya.
Ya, ya, kenapa sekertaris Ken selalu muncul tiba-tiba di saat yang tidak tepat seperti ini. Kali kedua dia melihatku dengan posisi yang berdekatan dengan Tuan Nathan dan sekarang dia melihat posisiku yang tumpang tindih bersama dengan Tuan Nathan. Aku sangat yakin pikiran sekertaris Ken sudah berkeliaran kemana-mana, melihat adegan yang mirip di sebuah sinetron.
"Pak Ken, kenapa tidak mengetuk pintu dulu kalau mau masuk? Apa Pak Ken sengaja? Kenapa Pak Ken main nyelonong aja?" Ceriwis ku padanya karena geram. Setelah aku sudah bangkit berdiri.
Entah keberanian dari mana aku bisa marah pada sekertaris Ken di hadapan Tuan Nathan. Mungkin aku terlalu malu dengan situasi tadi yang sudah di lihatnya secara live.
"Maaf Nyonya, saya tidak_" sekali lagi sekertaris Ken meminta maaf.
"Saya apa? mau bilang saya tidak sengaja, gitu?" Ucapku memotong langsung perkataan sekertaris Ken yang belum selesai.
"Bukan, Nyonya"
"Lalu, apa alasanmu? mau bilang saya yang ceroboh!" Ucapku yang masih tidak terima karena kejadian tadi harus di lihat oleh orang.
"Ti_tidak, Nyonya"
"Lantas apa?" tanyaku seraya melipat tangan di dada.
"Saya tidak lupa untuk mengetuk pintu, Nyonya" terang sekertaris Ken.
"Benar, Ken sudah mengetuk pintu tadi, kenapa harus marah-marah?" ucap Tuan Nathan yang sedari tadi hanya diam melihatku marah pada sekretarisnya.
"Hah?" aku tidak percaya karena aku tidak mendengarnya dan kalau memang Tuan Nathan sudah mendengarnya, kenapa juga tidak membukanya.
Mataku melihat ke arah sekertaris Ken yang mengangguk dan juga tersenyum padaku.
"Karena kau terlalu nyaman, makanya tidak dengar" ucap Tuan Nathan yang membuatku kembali malu.
Aku tersenyum seraya berjalan mendekat pada sekertaris Ken, merasa bersalah karena sudah menuduh dan juga marah-marah padanya.
"Pak Ken..., kenapa tidak bilang dari tadi?" ucapku sembari menjabat tangannya dengan tersenyum manis.
"Ken..." ucap Tuan Nathan dengan intonasi yang memanjang.
"Iya Nyonya, maaf" ucap sekertaris Ken seraya mencoba melepaskan tangan yang sedang aku jabat dengan erat.
"Ken!" Seru Tuan Nathan.
Suara bentakan dari Tuan Nathan langsung membuatku melepaskan tangan sekertaris Ken. Suara Tuan Nathan yang meninggi menandakan sang pemilik sudah mengeluarkan amarahnya.
"Iya Tuan, Maaf"
"Kemarilah, apa kau sudah bawa yang aku minta?" tanya Tuan Nathan yang sudah menurunkan nadanya, pelan.
"Sudah, Tuan. Ini barangnya" sekertaris Ken menyerahkan paper bag ke tangan Tuan Nathan.
"Bagus! Sekarang kau pergilah" ucap Tuan Nathan setelah melihat isi paper bag.
Waduh, kenapa sekertaris Ken malah di suruh pergi? Aku tidak bisa membiarkan sekertaris itu pergi. Dengan adanya dia di sini kan bisa membantu Tuan Nathan untuk bersiap, dan yang seharusnya pergi adalah aku.
"Tunggu, tunggu! Pak Ken sepertinya Tuan Nathan membutuhkan anda di sini. Jadi tetaplah di sini" ucapku mencegah kepergian sekertaris Ken.
"Maaf Nyonya, Tuan sudah menyuruh saya pergi, itu artinya Tuan tidak_" ucap sekertaris Ken.
"Tu_tuan, sekarang kan, Pak Ken sudah ada. Apa tidak sebaiknya Pak Ken saja yang membantu Tuan untuk bersiap" aku mencoba memberi usul yang menurutku baik.
"Tidak!" Tolak Tuan Nathan tegas.
"Permisi, Nyonya" ucap sekertaris Ken lalu pergi.
"Kau, ambil ini" Tuan Nathan melempar paper bag yang di bawa sekertaris Ken tadi ke arahku.
"Apa ini? Tuan" Tanyaku heran.
Mungkinkah dia memberiku hadiah? ah sepertinya tidak.
Aku lalu melihat isi dalam paper bag yang ada di tangan ku, ternyata isinya adalah pakaian wanita.
"Untuk apa ini, Tuan?" yang masih tidak mengerti dengan adanya pakaian itu.
"Untuk apa? kau bilang...CK, CK" Tuan Nathan malah balik bertanya sembari berdecak dan menggeleng.
"Cepat pakailah! saya tunggu Lima menit. Jika tidak maka saya akan robek celana pantai mu itu di sini"
Aku terbengong dan reflek menyatukan paha dan menutupi dengan kedua tanganku. Aku bingung kenapa aku harus menggantinya, bukankah ini memang pantas aku pakai karena sudah sesuai dengan tempatnya.
Celana pantai bermotif bunga-bunga di atas lutut yang aku pakai sekarang, harus aku ganti dengan rok yang panjangnya sampai mata kaki. Memang roknya juga bukan rok yang sempit, tapi tetap saja tidak mempermudah saat aku bergerak.
"Waktumu tinggal empat menit!" ucap Tuan Nathan.
"Hah, Tu_tuan tapi"
"Tiga menit"
"Ah, iya, iya baiklah" ucapku sambil terbirit ke kamar mandi.
Oh ya ampun, kenapa aku bisa bertemu dengan orang seperti dia?
Di dalam kamar mandi aku merasa kesal sekali, bahkan aku mengumpatnya beberapa kali, dengan cacian dan makian yang bisa membuatku lega. Tuan Nathan yang terus memaksakan kehendak pada orang lain sukses membuatku seperti orang bodoh. Selalu di buat kesal dan tidak berani melawan.
Setelah selesai mengganti celana dengan rok, aku melihat masih ada yang tertinggal di dalam paper bag. Sebuah t-shirt yang ukurannya seperti pas di tubuh Tuan Nathan. Aku bingung, apakah aku juga harus ganti dengan t-shirt nya juga.
"Tuan, apa baju saya juga harus di ganti?" aku munculkan kepala dari balik pintu kamar mandi.
Ternyata Tuan Nathan sedang duduk di tepi ranjang sedang menatap layar ponsel, tapi seraya senyum-senyum sendiri.
Persis ODGJ π€, entah apa yang sedang di lihatnya? Saat aku sudah ketahuan sedang melihatnya sesaat sebelum aku bertanya tentang t-shirt, Tuan Nathan langsung kembali ke mode coollnya.
"Kenapa bertanya, bukankah itu juga ada di dalamnya?" ucap Tuan Nathan.
"Jika dalam satu menit belum selesai, saya yang akan masuk membantu agar cepat selesai"
"Apa?" teriakku, "benar-benar sinting itu orang!" umpatku lirih.
"Saya hitung mundur, sepuluh, sembilan, delap_"
"Ya baik, Tuan" jawabku sambil menutup pintu dengan kasar.
Kembali aku masuk kamar mandi mengganti baju ku dengan t-shirt yang menurutku terlalu kebesaran di badan. Dan aku juga harus melakukannya dengan cepat, kalau tidak dia akan benar-benar masuk mendobrak pintu kamar mandi ini. Perkataannya memang tidak pernah main-main, dia sanggup melakukan apapun sesuai keinginannya.
Setelah ini, aku tidak tahu lagi apa yang di persiapkan untukku. Kejutan apa lagi yang akan dia tunjukkan?
.
.
Bersambung...
Happy reading π
Maafkan author karena telat up atau jarang up, maaf juga belum bisa crazy up seperti yang lainπππ
Dunia nyata author masih sangat sibuk, karena harus bekerja jugaπ. Mudah-mudahan masih tetap setia dengan karya iniπ
Terimakasih π