
Aku menarik nafas dalam-dalam untuk mengumpulkan keberanian yang telah tercecer saat kedatangannya, meletakkan pena yang sudah sempat aku pegang. Menutup kembali map merah itu, walaupun dengan sedikit gemetar aku memberanikan diri bertanya padanya, agar tahu pasti, alasannya berbuat sejauh ini.
"Tu_an, ada yang belum jelas di sini" ucap ku sedikit terbata.
"Katakan" katanya singkat.
"Atas dasar apa, Tuan mengikat saya dengan ini?" tanyaku seraya mengangkat map merah itu dengan tangan kananku.
"Bukankah sudah jelas, itu sebagai ganti rugi dari kesalahanmu!"
"Ta_pi, Tuan saya bisa menggantinya dengan uang atau saya akan membelikan jas anda yang baru" aku mencoba meminta penawaran, mungkin dia bisa berubah pikiran.
"Apa?" suaranya mulai naik satu oktaf, aku tersentak mendengarnya hingga aku mengusap dadaku, suara yang menambah kecepatan debaran jantungku yang belum mereda. "Menganti dengan uang, membelikan yang baru, kau menghina saya?" sambungnya mengulangi ucapan ku, yang akhirnya kembali membuat aku merasa bersalah dengan perkataan ku.
"Bu_kan Tuan, tapi saya punya anak dan suami, bagaimana mungkin saya bisa ada di rumah Tuan" sedikit menjelaskan tentang keadaanku, mudah-mudahan dia bisa mengerti.
Hei, kenapa dia malah tertawa? apa ada hal yang lucu? sungguh mengerikan orang ini.
Aku menatap heran padanya, tertawa dengan lepas tanpa beban mendengar alasan yang ku berikan. Mungkinkah aku salah bicara lagi? ataukah dia menganggap ucapan ku hanya lelucon? ah aku rasa tidak.
"Suami! hahaha, suami penghianat seperti dia, tidak pantas untuk di pertahankan!"
"Apa?" lirihku terkejut mendengar kata penghianat, itu artinya dia tahu kalau mas Arsya mempunyai istri lain selain diriku, aku jadi penasaran seberapa jauh dia tahu tentang diriku.
"Tu_an, tahu_"
"Tidak penting!" potong Tuan Nathan. "Pikirkanlah tentang usahamu dan karyawan mu jika toko itu tutup, apa kau sanggup menghidupi anakmu yang masih kecil jika nanti kau di ceraikan, apa yang akan kau berikan untuk masa depannya? tidakkah juga kau merasa kasihan dengan pegawai mu?" ucapannya panjang lebar, mengancam menggunakan toko ku, tapi apa yang dia bilang ada benarnya, aku harus memikirkan nasib Tika, Doni dan yang lainnya, aku tidak tega, karena berkat kerja keras mereka juga usahaku lancar dan mengalami peningkatan. Aku berpikir ini benar-benar gila, jika aku menyetujui maka aku akan terikat dengannya tanpa tahu kapan aku bisa lepas, jika tidak, masa depan anakku dan karyawan akan jadi taruhannya. Kenapa dia kejam sekali, kesalahan ku yang tidak sengaja menabrak dan mengotori jas nya bisa membuatnya murka begini, aku tidak habis pikir.
"Saya bisa melakukan lebih dari ini, kepada suami tercintamu dan orang-orang yang kau sayangi, di manapun berada dan kapanpun saya mau"
Glek
Aku menelan kasar salivaku lagi, mendengar ancamannya yang lebih mengerikan. Dia tidak memberikan pilihan lain yang lebih baik dari ini, dengan terpaksa aku harus menerimanya. Ku ambil pena warna perak lalu ku buka kembali map warna merah itu seraya memejamkan mata, aku masih berharap saat aku membuka mata tulisan itu akan berubah atau menghilang sekaligus.
Isi hatiku memberikan semangat yang membuat aku berani membuka mata dan menatap tulisan itu sekali lagi dengan seksama. Dengan sedikit gemetar aku mulai membuat coretan cacing yang di awali dengan bentuk huruf J, yang artinya aku telah menyetujui surat ini. Aku mengambil nafas berat lalu menutup kembali map dan meletakkan pena sedikit kasar. Sekertaris Ken melihatku dengan tersenyum kemudian mengambil map dan pena itu, membuka dan memastikannya apakah aku benar tanda tangan atau tidak, sedangkan Tuan Ken melihatku dengan datar.
Harusnya dia tersenyum atau tertawa bukan? karena aku telah menuruti permintaanya, kenapa dia tidak berekspresi apapun.
"Sudah Tuan" ucap sekertaris Ken.
"Hem" ucap Tuan Nathan lalu berdiri hendak melangkah pergi, namun dia berhenti saat aku berbicara lagi.
"Tuan tunggu, bisakah anda mengembalikan keadaan toko saya seperti semula" pintaku seraya ikut berdiri, supaya toko ku berjalan kembali, agar Doni dan yang lain bisa bekerja kembali seperti biasanya.
"Ken lakukan seperti yang dia inginkan" ucapnya tanpa melepas pandangannya ke arahku.
"Baik, Tuan"
"Terimakasih, Tuan" ucapku dan tersenyum tipis lalu sedikit membungkuk padanya. Dia mulai melangkah meninggalkan ruangan ini, tapi berhenti lagi dan memberikan pesan padaku.
"Makanlah sebelum pulang, sisanya bisa kau bungkus dan bawa pulang, jangan membuang-buang makanan"
Pesan yang mengandung perhatian tapi sekaligus penghinaan, dia menganggap aku tidak mampu membeli semua makanan ini, Bahkan dia memberiku nasehat seperti anak kecil, menyebalkan sekali. Aku terduduk lesu setelah kepergiannya menatap banyaknya makanan dia atas meja sembari berpikir. Bagaimana dengan hidupku selanjutnya? jikalau setiap hari aku harus berhadapan dengannya. Mendengar suaranya yang senang naik oktaf, bisa-bisa aku kena spot jantung. Lantas bagaimana dengan mas Arsya, apa yang harus ku bilang padanya? jika setiap hari aku pergi pagi dan pulang malam, itupun kalau di izinkan untuk pulang kalau tidak?
Aaaaah
Kenapa harus ada seseorang yang menambah rumit hidupku seperti ini.
"Nathan Darwin Erlangga" ucapku geram mengeratkan gigi juga mengepalkan tanganku dengan kuat. Tanpa pikir panjang aku mulai menyantap apa yang ada di meja dengan kesal, akan ku anggap makanan itu adalah dirimu, aku kunyah dengan kasar lalu ku telan habis hingga kau tak terlihat lagi. Tapi, sejenak aku berpikir tidak mungkin juga aku bisa menghabiskan semua ini, bisa-bisa perutku jadi seperti ikan buntal. Aku sedikit bisa tertawa kecil membayangkan diriku sendiri yang berbadan kurus tiba-tiba seperti ikan buntal, namun aku terdiam ketika ada seseorang masuk. Wajahku terasa panas, mungkin sudah sedikit memerah karena malu, mulut orang itu terbuka membentuk huruf O yang tak beraturan ketika melihat paha ayam yang berada di ujung bibir ku, apalagi dia menatap makanan di atas meja sudah tak terbentuk, semuanya acak-acakan, berantakan seperti habis di ceker ayam. Andaikan aku punya sihir, aku pasti akan menghilang saat ini juga, supaya dia tidak dapat merekam muka ku kedalam otaknya dan menyimpannya dalam memori.
Aku menurunkan paha ayam yang sudah ku gigit dengan perlahan seraya menyengir kuda, lalu ku menundukkan sedikit kepalaku padanya.
Happy reading ☺️
Semoga tetap menghibur dan hari kalian menyenangkan 🤗