
Haaaaaaaa...
Teriakan yang menggelegar memenuhi ruangan kamar ini, mengagetkanku yang sedang tertidur pulas. Aku juga merasakan tubuhku terasa terpental dari ranjang.
Buk...
Aku jatuh dari ranjang yang besar, tulang-tulangku terasa sakit karena terbentur lantai marmer. Walaupun sudah beralaskan karpet yang tebal tapi masih saja terasa ngilu.
"Apa yang kau lakukan?" Ucap Tuan Nathan setengah berteriak padaku.
"Apa? Saya tidak melakukan apapun!" Ucapku sembari berdiri.
"Tidak melakukan apapun? lalu kemana baju saya?" Tanya Tuan Nathan yang sudah sadar kalau sudah tidak mengenakan bajunya.
"Oh, baju Tuan...tu ada di keranjang pakaian kotor" Ucapku santai.
"Ke_kenapa bisa?" Ucapnya bingung. "Kenapa juga kau bisa tidur sini?"
"Semalam Tuan pulang dalam keadaan tidak sadarkan diri atau, bisa di katakan pulang dalam keadaan mabuk berat. Pak Ken yang menyuruh saya bantuin Tuan melepas baju karena bau alkohol" terang ku padanya.
"Jadi karena itu, kau cari kesempatan bisa tidur dengan saya? Pintar sekali kau"
"Hah, Siapa juga yang mau tidur dengan anda" jawabku sengit.
Ceklek
Saat kami sudah mulai beradu mulut dengan sengit, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Muncul seorang wanita yang sudah berdandan rapi.
"Ada apa ini? Pagi-pagi berisik sekali" Ibu mertua masuk dan menghampiri kami.
"Kenapa dia bisa ada di kamar ku?" Tanya Tuan Nathan pada Ibu.
"Kenapa? Kau bilang!" jawab Ibu. "Apa kau lupa? Dia ini sudah jadi istrimu, jadi wajar dong dia ada di sini. Di kamar yang seharusnya" Ucap Ibu mertua yang membelaku.
Tuan Nathan diam, dan seperti masih mengingat-ingat kejadian kemarin yang sudah menjadikan aku sebagai istrinya. Bisa-bisanya dia melupakan hari kemarin dengan mudahnya.
"Apa kau sudah ingat?" Tanya Ibu, namun suamiku masih tetap diam tapi sepertinya dia sudah ingat.
"Mulai hari ini dan seterusnya, Jesi harus ada di kamar ini!" Ibu mulai tegas.
"Pindahkan pakaianmu kemari" Suamiku akhirnya menyuruhku pindah ke kamarnya.
"Jesi, lakukan. Ingat dia adalah suamimu dan bukan Tuan mu lagi, mengerti!" Ucap Ibu mertua.
Ah, aku juga sebenarnya malas untuk tidur dan jadi satu kamar dengannya, tapi benar kata Ibu. Sekarang aku adalah istrinya jadi aku harus ada di kamar ini. Tidak perduli dengan foto wanita itu atau dengan yang namanya Nesa, orang yang sepertinya sudah membuat suamiku tergila-gila padanya.
"Baik, Ibu" jawabku menurut.
Kemudian aku dan Ibu keluar dari kamar itu. Aku melihat Ibu sedikit heran pagi-pagi sudah rapi, apa mungkin Ibu mau ke kantor atau mau ke Galerinya.
"Ibu, kok sudah rapi. Ibu mau kemana?" Tanyaku saat aku sudah berada di depan pintu kamarku.
"Ibu mau antar Sisi sekolah, terus lanjut ke Galeri" Jawab Ibu.
"Ibu, kalau Ibu sibuk biar saya saja yang mengantar Sisi ke sekolah. Saya juga tidak kerjaan"
"Eh, siapa bilang kau tidak punya kerjaan? Kau urus itu suamimu. Ibu ingin cucu lebih dari satu" Ucap Ibu lalu pergi.
Ucapan Ibu membuatku terbengong, Ibu meminta cucu, mana mungkin. Aku hanya istri kontrak saja, bagaimana bisa memberikan cucu sedangkan anaknya saja tidak suka di sentuh. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika Ibu tahu kalau kami hanya menikah kontrak.
Lalu aku masuk dan membereskan semua pakaian yang ada di lemari. Setelah itu aku keluar menggeret koper besar milikku menuju kamar suamiku.
Aku masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, ku lihat suamiku sudah terlihat rapi juga dengan pakaian kerjanya. Hanya tinggal sepatu yang belum di pakainya.
"Kau masuklah ke ruangan itu, letakkan pakaianmu di lemari yang kosong" Ucapnya yang duduk di sebuah sofa panjang.
"Hem" jawabku singkat.
Lalu aku masuk ke sebuah ruangan yang sudah dia tunjukkan. Sebuah ruangan yang besar hanya untuk menaruh pakaian-pakaian. Semua barang-barangnya terlihat tertata rapi pada tempatnya.
Aku mulai membuka setiap lemari, mencari tempat yang kosong tanpa ada satu pakaian pun di dalamnya. Dan akhirnya aku menemukannya satu lemari yang terakhir yang belum aku buka.
Jreng...
Saat aku buka lemari yang terakhir aku terkejut, melihat ada beberapa lingerie seksi yang sudah tergantung di dalamnya.
"Punya siapa ini? Mungkinkah ini punya wanita yang namanya Nesa?" ucapku.
"Hanya tinggal lemari ini yang ada baju wanitanya dan tidak ada lagi yang kosong. Lalu mau ku letakkan di mana pakaian ku?" Aku berkata pada diriku sendiri.
"Hey, lama sekali kau di dalam!" Seru suamiku.
Sebelum dia berteriak kembali, aku segera keluar dari ruangan untuk menemuinya.
"Ada apa?" Tanyaku.
"Saya mau berangkat ke kantor"
"Iya, baik" Ucapku
"Kau tahu apa yang kurang? Sesuatu yang belum saya pakai"
"Tahu, anda belum pakai sepatu" jawabku melihat kakinya masih telanjang.
"Lalu, apa yang seharusnya kau lakukan?"
Pertanyaan yang memberikan isyarat agar aku memakaikan sepatu yang sudah berada di antara kedua kakinya.
"Baiklah, saya akan membantu memakaikan" Ucapku lalu berjongkok di depannya.
Aku mulai memakaikan sepatu satu persatu dari mulai kaos kaki nya.
"Hati-hati jangan sampai kuku panjang mu itu melukai kulit saya" Ucapnya saat aku mulai memakaikan kaos kakinya.
Aku diam tidak menjawab perkataanya, sengaja aku lakukan dengan sedikit kasar.
"Kenapa kasar sekali?"
"Tidak, memang seperti ini kalau saya memakainya?" Jawabku yang sengaja melakukannya, agar besok dia tidak menyuruh ku lagi.
"Sudah, beres." Ucapku lalu berdiri.
Suamiku sedikit menghentakkan kedua kakinya, untuk memastikan kenyamanannya. Kemudian dia berdiri. Tangannya memegang kerah kemejanya.
"Hem, ehem"
"Kenapa?" Tanyaku yang pura-pura tidak mengerti.
Dengan mata tajamnya ia menunjukkan sebuah dasi yang tergeletak di ranjang.
"Yakin, saya yang harus memakaikannya juga?" Aku harus memastikan agar dia tidak marah karena aku dekat dengannya.
Dia tampak berpikir dulu sebelum aku benar-benar melakukannya. Sesaat kemudian terdengar dering telepon dari saku celananya.
Setelah mengambil ponsel dalam sakunya, kemudian matanya melihat ke arahku sambil mengangguk. Itu artinya aku juga yang harus memakaikannya.
Aku memakaikan saat dia sedang menerima telepon, sedikit kesusahan dalam memakaikannya karena postur tubuhnya yang lebih tinggi dariku. Aku sedikit menjinjit agar bisa sampai.
"Auw" pekiknya kesakitan.
"Ah, maaf, maaf. Tidak sengaja" karena dia terlalu tinggi jadi saat aku menarik dasinya tanpa sengaja mencekik lehernya.
Hahahaha
Batinku tertawa melihat mukanya yang merah karena kesakitan.
"Sudah, sudah. Biar saya sendiri" Ucapnya yang kesal karena kelakuanku.
Setelah dia mematikan teleponnya, lalu dia membenarkan sendiri dasi yang terpasang tapi belum sempurna.
Kemudian setelah semua selesai dan siap untuk berangkat dia mengajakku turun untuk sarapan. Tapi aku menolaknya karena aku belum mandi.
"Saya rasa, Tuan sarapan lebih dulu saja. Karena saya harus mandi dulu" Ucapku agar dia tidak perlu menungguku.
"Apa perlu saya mandikan? biar cepat selesai" Suamiku memberikan tawaran yang tidak aku duga.
"Hah? Tidak, tidak!" Tolak ku cepat.
"Baik, saya akan mandi cepat. Secepat kilat, hehehe..." Ucapku lalu berjalan ke arah kamar mandi.
Saat aku sudah masuk teringat sesuatu, aku belum membawa pakaian ganti. Kemudian aku keluar lagi, namun saat aku baru menutup pintu kamar mandi, aku terlonjak mendengar pekikan tingginya.
"Apa? Kurang ajar!" Umpat suamiku lewat telepon genggamnya.
Sepertinya suamiku sedang marah pada seseorang. Siapa yang sudah berani membuat masalah dengannya? Habislah kau.
.
.
Bersambung😊