Second Marriage

Second Marriage
Bab 69 Cerita Doni



"Doni, kau kenapa? Seperti sulit percaya kalau wanita itu sudah kembali." Melihat ekspresi Doni aku jadi penasaran, ada apa sebenarnya?


"Mbak, sumpah gak salah liat?" Lagi-lagi pertanyaan yang sama di lontarkan.


Aku menaikkan alis sebelah, karena heran dengan sikap orang-orang yang bertemu dengan wanita itu. Pertama sekertaris Ken yang memperlihatkan ekspresi hampir sama dengan Doni. Pak Didi pun juga hampir tidak percaya kalau tidak melihatnya sendiri.


"Kenapa sih, semua orang seperti gak percaya kalau Vanesa sudah kembali? Memangnya selama ini dia itu pergi kemana?" Aku heran pada mereka yang melihat Vanesa, mereka seperti melihat mayat hidup saja atau orang yang baru bangkit dari kubur.


"Selama ini yang kami tahu, dia sudah tiada dan tak akan pernah kembali"


"Apa?" Giliran aku yang terkejut mendengar ucapan Doni yang mengatakan kalau Vanesa tiada, lalu siapa yang ku lihat kalau bukan dia?


"Tapi, dia benar-benar wanita yang sama dengan foto yang ada di kamar, Don" Aku yakin mereka adalah orang yang sama.


"Apa mungkin dia punya kembaran? Ah, tidak, tidak mungkin" Doni kembali duduk tegak dan bertanya pada diri sendiri.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa semua orang mengira wanita itu meninggal?" Ku harap Doni mau memberikan penjelasan yang bisa menarik kesimpulan kemunculannya yang tiba-tiba.


"Kak Nathan dan dia berpacaran sejak kuliah, mereka berdua saling mencintai hingga memutuskan untuk menikah. Saat menjelang hari pernikahan Kak Nesa mengalami kecelakaan, mobilnya rusak parah dan kondisi Kak Nesa juga. Wajahnya rusak karena pecahan kaca, sopir dan asistennya pun meninggal. Kak Nesa yang masih hidup di larikan ke rumah sakit terdekat, namun akhirnya dokter menyatakan Kak Nesa tidak bisa tertolong" Penjelasan Doni membuatku sedikit mengerti.


Tuan Nathan yang terlalu mencintainya hingga tidak mau mencari pengganti di hatinya. Pantas saja dia sampai melarikan diri ke alkohol saat pernikahan kami, rupanya dia sudah merasa berkhianat pada dirinya sendiri.


"Setelah itu, apa kalian juga melihatnya di kuburkan?"


"Iya, kami semua hadir di acara pemakamannya. Semua keluarganya pun ikut hadir."


"Em, lalu kenapa dia masih hidup dengan baik, bahkan wajahnya juga masih seperti semula?" Aku pun ikut tidak mengerti dengan situasi yang terjadi jika memang yang di ceritakan Doni itu benar adanya.


Tapi mereka semua adalah orang kaya yang punya kuasa, mereka sanggup melakukan apapun. Dengan uang yang mereka punya, mereka bisa melakukan hal yang di luar pikiran kita. Bisa saja yang di makamkan bukanlah Vanesa tapi orang lain, kan? Mendengar dari cerita Doni, kemungkinan itu sangat bisa terjadi.


"Entahlah..." Doni angkat tangan seperti bingung jika memikirkannya.


"Bisa jadi itu orang lain, maksudku yang di kuburkan adalah jenazah orang lain." Entah perkiraan ku salah apa benar.


"Mungkin, karena setelah itu keluarganya pindah ke luar negeri dan tidak ada kabar lagi."


Lah, ini mah bisa di pastikan akal-akalan dari keluarganya, atau bisa jadi permintaan dari wanita itu sendiri yang memang ingin menghilang.


"Tapi kenapa ya Don, mereka harus membuat kebohongan publik seperti itu?" Pikiranku malah terus menerus mendalami hal yang terjadi pada wanita itu. Harusnya tak perlu ku pikirkan, karena mau di cari alasannya pun tidak akan ada yang berubah dan kenyataannya dia sudah kembali.


"Sudahlah Don, gak perlu di pikir lagi. Belum tentu perkiraan ku itu benar, kan? Ayo kita mulai bekerja kasihan yang lain kerja sendiri, kita malah enak-enakan bergosip" Lanjut ku menyudahi obrolan dengannya, mau di pikir sampai manapun tidak akan tahu, kalau yang bersangkutan tidak mau bicara. Aku sudah berdiri bersiap menghadap ke meja kerjaku.


"Tapi Mbak, apa mbak gak apa-apa? Kalau kenyataannya kak Nesa kembali!" Doni ikut berdiri tapi masih menahan ku dengan pertanyaannya.


"A_aku, tentu saja tidak apa-apa" Ucapku seraya tersenyum padanya.


"Sudah, ayo kita selesaikan kerjaan hari ini dengan baik. Ok, semangat..." Menyudahi pertanyaan Doni, yang ingin tahu tentang perasaanku saat ini.


Ku tinggalkan Doni yang masih bergeming melihatku sampai aku duduk di kursi kerjaku. Aku mengulas senyum natural padanya agar dia yakin aku baik-baik saja dan cepat beranjak dari ruangan ku.


Aku mulai membuka buku laporan dari anak-anak yang bekerja, mulai menyibukkan diri dan melupakan sejenak tentang suamiku dan kekasihnya. Kemudian Doni juga pergi setelah aku tidak memperhatikannya lagi.


Hahaha, kalau dipikir miris juga ya perjalanan hidupku. Pernah punya suami yang berpacaran dengan sahabat sendiri dan sekarang punya suami yang punya kekasih lama tapi baru kembali. Bagaimana jika kalian dalam posisiku? Aku berharap tidak ada wanita yang bernasib sama sepertiku di luaran sana.


Dan tetap berharap aku akan menikmati lagi hidup yang bahagia. Meski di dunia ini tidak ada yang selamanya, karena semua ada waktunya. Kapan kita menangis, kapan kita tertawa, kapan kita di atas dan kapan kita di bawah, semua hanya waktu yang akan menghantarkan kita pada titik-titik itu.


.


.


"Mbak, waktunya makan siang" Doni masuk mengingatkan aku untuk istirahat.


"Bentar Don, dikit lagi ni... tanggung." Ucapku masih fokus dengan kerjaanku.


"Jesi, stop! Waktunya makan!" Ucap tegas Doni yang sudah berada di samping dan menutup laptopku.


Aku tercengang mendengar Doni menyebut namaku tanpa ada kata 'Mbak' di depannya. Menatapnya dengan kening yang mengerut, baru kali ini ku dengar dia menyebut namaku langsung.


"Kenapa? Gak suka kalau ku sebut nama saja?"


"Bukan..., hanya berasa aneh aja"


"Nanti juga akan terbiasa!"


"Iya, ya...aku ngalah deh. Ayo cepat aku sudah lapar" Doni sudah menarik paksa aku untuk berdiri dan beranjak dari tempat dudukku.


"Eh, eh tunggu. Tas ku..." Tangan ku ayunkan mengambil tas di atas meja.


Doni mengajakku seperti orang yang terburu-buru karena kelaparan. Padahal aku berniat untuk mengajak yang lain juga untuk makan siang bersama, tapi Doni tidak mengizinkan mereka.


"Aku hanya ingin makan berdua dengan Mbak Jesi, tidak ada orang lain!"


Ya, aku mengerti. Mungkin Doni sangat merindukan kebersamaan kami seperti dulu, setelah lama kami tidak bertemu.


Setelah identitas Doni sudah terbongkar, dia tidak lagi menyembunyikan dirinya di balik topeng kesederhanaannya. Mobil yang aku naiki sekarang adalah mobil yang sama pernah aku naiki dulu. Mungkin teman-teman yang lain juga sudah tahu.


Doni membawaku ke sebuah tempat makan Chinese food yang berada agak jauh dari toko.


Mobil Doni memasuki area parkir dan saat aku turun dari mobil, aku melihat sebuah mobil yang ku sangat ku kenal.


"Don, Don. Tunggu!" Aku menarik tangan Doni agar berhenti sebelum masuk ke dalam.


"Ada apa?" Doni menghentikan langkahnya.


"Bukankah, itu mobilnya_" Aku menunjuk sebuah sedan mewah berwarna hitam.


"Oh, iya benar" Benar itu mobilnya Tuan Nathan.


"Apa gak sebaiknya kita pindah, cari tempat yang lain, gitu?" Aku tidak mau bertemu dengannya di dalam, bisa runyam jadinya nanti.


"Kenapa? Bukankah Mbak bilang baik-baik saja, meski Kak Nesa telah kembali. Aku tahu, Mbak pasti mikir di dalam ada Kak Nathan bersama Kak Nesa, kan...?"


Aku mengangguk, tapi bukan cuma itu saja yang ada dalam pikiranku. Aku khawatir dia akan marah padaku dan tidak mengizinkan aku untuk bekerja lagi.


"Tidak apa-apa, aku juga ingin sekalian lihat seperti apa Kak Nesa sekarang?" Doni menggandeng tanganku dan mengajak untuk tetap masuk, meskipun dia tahu suami dari istri yang tangannya di gandeng sekarang ada di dalam tempat makan itu.


Aku masuk dengan perasaan deg-degan, tapi Doni dengan santainya dia terus menggandeng tanganku walaupun aku sudah berusaha untuk melepaskan tapi justru dia mempererat genggamannya.


Dan benar saja, aku melihatnya makan bersama dengan kekasihnya. Ku lihat dia makan dengan tenang, sampai dia tidak menyadari kehadiran kami yang duduk tidak jauh darinya.


Sesekali wanita itu ingin memberikan suapan padanya tapi dia menolak, mungkin karena malu di tempat umum? Dia juga harus ja'im.


"Gak perlu di lihat, nanti juga mereka akan melihat kita" Ternyata Doni dari tadi memperhatikan aku, bukan buku menunya.


Aku tersenyum malu, ketahuan sudah mencuri pandang di hadapan Doni.


"Mau pesan apa, Mbak?" Tanya Doni.


"Aku mau yang pedas-pedas aja, terserah kamu yang penting pedas" Aku memang lagi pingin makan makanan pedas untuk menaikkan mood.


"Sepedas hati Mbak jesi?" Ucap Doni santai.


"Apa? Hahaha...bisa aja kau, Don" Tanpa sadar aku tertawa lepas di ikuti Doni, hingga orang yang sedang fokus dengan makanannya itu menoleh ke arahku.


"Ups!" Aku langsung menutup mulutku.


Netraku bertemu dengan matanya, dia terlihat terkejut melihatku. Sorot matanya tajam dan melebar. Wanita itupun tak kalah terkejut saat memandangku, dia tertegun dan heran nampak dari mimik wajahnya.


"Baiklah, aku pesankan kung pao chiken, fuyunghai, juga mapo tahu" Doni menyebutkan menu pesanan. Lalu ku alihkan pandanganku ke arah Doni.


"Don, mereka melihat kita" Ucapku lirih.


"Baguslah, aku ingin lihat, apa yang yang mereka akan lakukan. Terutama kak Nathan."


Bukan maksudku untuk menarik perhatian mereka, tapi aku benar tertawa tanpa di buat-buat. Perkataan Doni yang menyindirku langsung malah membuatku ingin tertawa.


.


.


Bersambung😊


Hay, hay... ☺️Kasih info sedikit ya..., walaupun cuma satu bab tapi pasti lebih dari seribu kata Lo..., seperti yang sudah saya bilang kemarin kalau harus curi2 waktu di tengah kesibukan yang lain. Maklumlah kerjaannya emak-emak bukan cuma nulis aja😅. Cari tambahan cuan karena saat ini semua harga bahan pokok naik😓.


Moga tetep terhibur🤗🥰