Second Marriage

Second Marriage
Bab 34 Pernyataan Doni



Akhirnya liburan yang berjalan tidak sesuai dengan ekspektasi sudah selesai. Sekarang aku telah kembali ke tempat Doni. Hanya rasa lelah yang tersisa saat ini, harusnya aku bisa bahagia kemarin menikmati waktu yang jarang akan aku dapatkan nanti saat sudah menjadi istri palsu Tuan Nathan.


Tapi ternyata liburan berantakan, terganggu dengan adanya sang pemilik Resort. Padahal aku sudah berpikir untuk membuatnya murka, dengan mengirimkan foto-foto bahagiaku hingga dia memutuskan untuk tidak melakukan pernikahan kontrak dengan ku. Justru Tuan Nathan menyusul, aku juga pikir dia akan marah besar lalu menghakimiku dan menendang ku dari hadapannya, eh malah dengan santainya dia datang ikut bergabung. Bahkan dengan mudahnya dia terlihat akrab dengan anakku.


Tuan Nathan yang selalu terlihat angkuh dengan semua orang, kenapa dengan Sisi tidak? Mungkinkah dia juga seperti itu dengan anak yang lain? Jika dia memang seperti itu berarti tidaklah aneh. Tapi jika tidak, akan menjadi tanda tanya besar dalam otakku.


Mungkinkah dia menyukaiku? Tidak mungkin. Kenapa pikiran ini tiba-tiba ke arah yang mustahil. Aku hanya berharap bisa menjaga hati ini dengan baik, jangan sampai tergores luka yang baru dengan orang yang baru pula.


Ayolah Jesi, berhenti memikirkan hal yang tidak akan terjadi. Cukup jalani sesuai aturan yang di berikan, toh kau juga tidak akan rugi. Justru akan beruntung karena masa depan anakmu sudah terjamin, bukan?


"Mbak, lagi ngapain?" Suara Doni sedikit mengagetkanku. Tanpa ku tahu dia sudah berada dekat tepat di belakangku.


Saat ini aku tengah berada di dapur untuk membuat minuman yang sederhana namun memberikan efek besar dalam tubuhku.


"Eh, Don. Ini Mbak lagi merebus air mau bikin susu jahe. Kau mau?" tanyaku


"Mau mbak" jawab Doni menganggukkan kepala.


"Tunggulah sebentar di depan tv"


Doni hanya menggeleng saja sembari tersenyum-senyum melihatku meracik minuman di dapur.


"Kenapa ngeliatin aja? mau coba bikin?" Doni masih saja cuma tersenyum.


"Lalu, kenapa?"


"Aku bahagia, " ucap Doni.


Doni bahagia, apa yang membuatnya bahagia? Bahkan liburannya tidak menyenangkan. Liburan yang membuat dia menjadi sosok yang tiba-tiba pendiam.


"Apa yang buatmu bahagia?" ucapku seraya meletakkan dua gelas susu jahe di atas meja makan.


Aku penasaran dan ingin tahu, apa yang membuatnya sebahagia ini? Mungkin dia sudah menemukan jawaban dari cintanya, semoga saja begitu. Aku ikut senang jika Doni selalu bahagia, orang baik pasti akan mendapatkan yang baik juga.


"Bisa di bikinin minuman spesial dari Mbak Jesi" jawaban Doni membuatku menyunggingkan senyuman.


"Apa lagi bisa tiap hari" sambungnya.


"Ya, Mbak juga senang liat kau senang" ucapku seraya menyeruput susu jahe yang masih panas.


"Benar itu, Mbak?" ucapnya dengan nada yang di ayun.


"Iyalah, tapi kalau tiap hari bikinin, Mbak gak bisa Don"


"Kenapa tidak?"


"Gak mungkin dong selamanya, Mbak tinggal di sini!"


"Kenapa?"


"Yah jelaslah, kita kan bukan suami istri!" terang ku padanya sambil tertawa.


"Gampang lah itu, Mbak jadi istriku saja"


"Apa?" ucapan Doni membuatku terkejut dan seketika itu menghentikan tawa renyah ku.


Aku yakin Doni hanya bercanda tentang tawarannya, karena dia juga sudah punya wanita impian yang sedang dia tunggu.


"Kenapa? Mbak tidak mau?" pertanyaannya semakin menggodaku. Pertanyaan yang tidak pernah terlintas dalam pikiranku.


Tiba-tiba kedua tangan Doni meraih satu tanganku di atas meja. Matanya menatap ku lekat dengan penuh harap. Aku tahu tatapan seperti itu menyatakan suatu kebenaran, namun aku masih tidak mau mempercayainya. Ku tepis jauh-jauh pikiran Doni yang mengajakku menikah.


Genggaman tangan dan tatapannya membuatku terdiam lagi. Aku masih bingung harus berkata apa? situasinya membuatku sedikit nervous. Keberadaan Doni yang selalu ada saat ku butuhkan dan juga waktu yang kami lewati bersama selama ini, tidak menuntut kemungkinan menumbuhkan sebuah rasa yang lebih dari sekedar teman atau saudara yang tidak sedarah.


Rasa yang hadir tanpa bertanya lebih dulu, kemana dia harus singgah? Dan saat rasa itu sudah benar-benar hadir maka tidak akan mudah untuk pergi begitu saja.


Aku tarik perlahan tanganku dari genggamannya, agar dia juga tidak tersinggung. Aku menggelengkan kepala sembari sedikit tertawa.


"Sudah bercandanya? minumlah keburu dingin" ucapku sembari pergi meninggalkan dia sendiri di dapur.


"Mbak, tunggu dulu!" teriaknya.-


"Mbak mau tidur, dah malam" teriakku juga.


"Mbak, aku serius!" serunya lagi.


Aku hanya menggeleng kepala sembari melambaikan tangan tanpa menoleh. Masuk ke kamar melihat anakku yang tertidur lelap, hati ini rasanya damai melihatnya tenang. Tidak nampak lagi kesedihan di wajahnya, meskipun ayahnya jarang menghubunginya.


Aku baringkan tubuhku dekat dengannya, mencium pucuk kepalanya dengan lembut.


"Sayang, Mama selalu sayang kamu" lirihku.


Aku mulai memejamkan mata, tapi ternyata pikiran ku melayang jauh menerawang masa depanku. Hari pernikahan tinggal sebentar lagi, tapi aku belum bisa jujur pada Doni. Apalagi mengingat perkataannya tadi, mungkinkah dia benar-benar serius mengatakannya?


Aku yakin Doni hanya mengajakku bercanda, melihatku yang selalu cemberut dan kesal waktu di pantai makanya dia berusaha membuatku tertawa. Ah, dia memang teman yang baik. Andaikan dulu aku tidak bertemu dengan Mas Arsya aku pasti sudah jatuh hati padanya.


Sekarang aku ingin menutup rapat hati ini, karena luka di khianati terlalu dalam mengendap di hati, jiwa dan perasaanku.


Meskipun aku nanti akan kembali menyandang gelar seorang istri lagi, aku harap tidak akan ada hati yang kembali berbunga untuk laki-laki itu. Semoga saja permainan nikah-nikahannya cuma sebentar, setelah itu aku bisa bebas mengepakkan sayap ku kembali.


Waktu tak terasa berlalu, entah jam berapa semalam aku tertidur. Pagi ini aku bangun untuk bersiap kembali ke rumah Tuan Nathan. Selesai mandi aku bangunkan Sisi untuk bersiap kembali ke sekolah. Terdengar dari dalam kamar ku ada suara kegaduhan lagi di pagi hari. Kemarin yang membuat ramai ialah sekertaris Ken, kali ini mungkinkah dia lagi?


Aku keluar kamar dengan masih memakai handuk di kepala, rasa ingin tahuku membuat lupa kalau aku belum selesai bersiap.


"Pak Ken, apa maksudmu?" Suara Doni sudah sedikit meninggi.


"Maafkan saya, Tuan. Ini adalah perintah Tuan Nathan" ucap sekertaris Ken.


"Tidak bisa, aku tidak mengizinkannya!" Doni mengucapkan dengan tegas.


"Tuan Doni Anggara Putra. Saya rasa anda sangat paham dengan_"


Sekertaris Ken melihatku yang berdiri tidak jauh darinya lalu menghentikan perkataannya, kenapa dia tidak meneruskan ucapannya? Doni juga terlihat memutar kepalanya menoleh ke belakang. Dia sedikit terkejut melihat kedatanganku yang tiba-tiba, mungkin dia pikir aku masih tertidur lelap dan mimpi indah di ranjang.


.


.


Happy reading ๐Ÿ˜Š


Terimakasih buat dukungan semuanya, buat like, komen, hadiah dan juga vote nya๐Ÿ™


Maaf kalau membuat kecewa karena tidak bisa crazy up. Kalaupun juga author nya bisa tapi kenyataannya karyanya belum memenuhi syarat untuk bisa double up bahkan lebih๐Ÿ˜“


Author harap masih mau dukung karya yang masih amatir ini๐Ÿ˜Š, sampai author bisa menyelesaikan dengan baik.