
Yasmin dan Aiman menjadi raja dan ratu malam ini. Begitu cantik dan tampan berjalan di atas karpet merah menuju tempat duduk singgah sana untuk semalam di hadapan para tamu.
Yasmin mengapit lengan Aiman serta membawa bunga di tangan kanannya. Ia tersipu malu kala semua orang bertepuk tangan padanya. Para undangan mertuanya begitu banyak, mungkin dari kalangan colega dan juga karyawan perusahaan Papa aiman yang ikut hadir memeriahkan pesta pernikahannya.
Tak menyangka, ternyata mertua Yasmin seorang pebisnis. Hanya saja, putranya belum siap untuk meneruskan bidang usahanya. Aiman lebih senang menjalankan usahanya sendiri tanpa harus ribet mengurus kertas-kertas begitu banyak di atas meja.
Tapi yang namanya penerus, harus tetap menjadi penerus. Dan Aiman sudah saatnya meneruskan perusahaan yang Papanya dirikan sendiri dengan keras.
Di pesta pernikahan Aiman dan Yasmin. Hanya Yasmin saja yang tidak mengundang teman-teman sekolahnya. Hanya sahabat dan teman kerjanya saja yang ia undang. Mungkin, ia trauma dengan teman sekolahnya dan tak ingin mencari malu keluarga Aiman bila ada yang mendengar soal ibunya.
Yasmin sangat terlihat gugup hingga tangan Aiman mengusapnya dengan lembut untuk menenangkan hati istrinya. Beruntungnya, memiliki suami yang peka dan mengerti keadaannya. Dan Yasmin mencoba tenang serta tersenyum manis di hadapan semua para tamu undangan.
Satu persatu para undangan naik ke atas panggung. Memberikan selamat pada mempelai dan meminta foto bersama.
Cukup lama di atas panggung dan matanya tak melihat Lintang serta Bimo. Hanya ada Galuh yang sedang mengobrol dengan wanita lebih tua darinya. Yasmin tak tau siapa wanita bersama Galuh itu. Hanya bisa menggelengkan kepala melihat Galuh sedang merayu wanita.
" Bimo sama Lintang, kok gak kelihatan ya kak." Bisik Yasmin pada Aiman.
" Mungkin sedang di tempat makan Sayang." Jawab Aiman.
" Ih.. Makan melulu sih Bimo!" Gerutu Yasmin.
Sebenarnya juga tidak masalah Bimo, Lintang dan Galuh menikmati makan. Tapi ia juga ingin sekali makan, dan berkumpul dengan sahabatnya. Serta foto bersama.
Tapi lihatlah, mereka tidak ada. Entah kemana dua sahabatnya itu. Aiman tau pasti istrinya sedikit bosan tidak melihat kehadiran sahabatnya di atas panggung. Ia pun mencoba mencari di mana keberadaan dua sahabatnya dan Aiman tersenyum melihat Bimo serta Lintang berjalan mendekati Galuh.
" Sayang, lihat di sana." Tunjuk Aiman dengan pandangan mengarah ke Galuh.
Yasmin mengikuti pandangan suaminya dan ikut tertawa kecil kala melihat Galuh di pukul oleh Bimo.
" Maaf mbak, jangan mau di gombalin sama bau kencur ini!" Kata Bimo, memiting leher Galuh di bawah ketiaknya.
" Aduh-aduh, sakit begok." Umpat Galuh, sambil memukuli tangan Bimo.
" Gak peduli. Kamu gak lihat Itu pangantin wanitanya cemberut dari tadi." Kata sambil menggeret Galuh. " Ayo kita foto." Imbuhnya.
" Ih! Lama banget." Dumel Yasmin.
" Nungguin Galuh ngrayu tante-tante, tapi gak dapat nomer telponnya." Jawab Bimo, membuat Galuh melepas paksa tangan Bimo dari lehernya dan berdecak sebal.
" Butuh perjuangan anj*ng! Padahal Tinggal dikit lagi, malah kamu datang merusak semuanya." Cibik Galuh pada Bimo.
" Mas Aiman kenal gak sama wanita itu." Tanya Galuh antusia.
" Kelihatannya karyawan kantor papa." Jawab Aiman.
" Wauu.. Kenalin dong mas." Semangat Galuh.
" Kenalan sendiri, jangan nyuruh-nyuruh suamiku ya." Ketus Yasmin, sambil menggelayut manja di lengam Aiman.
" Wih!! Sudah bilang suami! Gila, posesif bener ini istri baru." Ucap Bimo.
Menggelengkan kepala menatap tak percaya Yasmin yang sudah menunjukkan kecemburuan. Galuh sama menggelengkan kepala. Yasmin hanya bisa menjulurkan lidahnya dan semakin memeluk lengan Aiman, menggoda sahabatnya yang seperti merasa mual melihat tingkahnya.
" Udah-udah, Ayo kita foto. udah banyak yang antri di bawah tu!" Sela Lintang.
" Iya, aku nek lama-lama lihat pengantin wanitanya begini!" Gumam Galuh.
" Ih!" Seru Yasmin, memukul lengan galuh dengan kuat. Dan membuat mereka tertawa.
Foto bersama, meninggalkan kenangan terindah yang akan di abadikan di setiap lembaran foto. Berbagai pose mereka lakukan, saling memeluk dan saling berbagi kebahagian. Persahabatan yang akan pernah terpisahkan, meskipun kelak mereka sudah menikah.
Kini Yasmin sudah menemukan kebahagian bersama Aiman. Lelaki yang mencintainya tanpa syarat, menerima masa lalu ibunya dan tidak mempedulikan status keluarganya yang serba kekurangan. Bersyukur, mempunyai mertua yang baik dan pastinya ia tidak akan menyangka menikah dengan lelaki yanng ternyata kaya. Bonus untuk Yasmin, bagi Tuhan yang sudah menguji kesabaran dan kesengsaraannya.
Kini tinggallah Lintang, Bimo dan Galuh sahabat yang akan menemukan kebahagian.
Sekian terima kasih.
Tamat.