
" Makasih Mas, sudah di belikan jajanan banyak banget!" Kata Ferdi, mengucapkan rasa terima kasihnya kala teman Lintang memberikan cemilan begitu banyak pada adik-adiknya.
" Sama-sama." Jawab Satya, senyum tulus pada Ferdi dan anak-anak lainnya saat ini sedang berdiri di hadapannya.
" Sering-sering ke sini ya mas sama mbak Lintang." Kata Boni, membuat Lintang hanya meliriknya.
" Boleh ini aku main ke sini lagi."
" Ya boleh mas! Kan ini rumah singgah kita. Siapa saja boleh datang ke rumah ini. Asal orangnya baik.. Ya kan mbak Lintang!" Jawab Boni, dan menatap Lintang. Lintang hanya mengangguk dan tersenyum.
Dirinya yang bilang pada semua anak-anak, siapapun boleh singgah ke rumah kita. Asalkan orang itu baik dan juga memberi bantuan dengan iklas pada anak-anak terlantar seperti mereka.
Tapi untuk Satya, Lintang rasanya ingin sekali melarang untuk tidak lagi datang ke rumah kita dan menolak pemberian dari lelaki itu. Tapi melihat tulusnya Satya pada anak-anak asuhnya, dan juga anak-anak senang dengan kehadiran orang baru sebagai teman Lintang begitu sangat gembira. Membuatnya mengurungkan niatnya yang sedikit jahat pada Satya.
" Oke kalau gitu.. Setiap mbak Lintang ke sini, aku juga akan ke sini." Kata Satya senang, merasa mendapatkan lampu hijau di rumah kita. Dan bisa leluasa mencoba mengenal Lintang lebih dalam.
" Yei..!!" Riang anak-anak kecil, senang mendapatkan orang baru begitu baik sama seperti Lintang.
Hari menjelang sore, Lintang dan Satya berpamitan pulang. Lintang sebenarnya enggan sekali pulang bersama Satya, apa lagi kini harus berboncengan dan juga mengantarkannya pulang menuju arah rumahnya. Di perjalanan Satya seakan sengaja memelankan laju motornya. Membuat Lintang dengan sebal memukul lengannya.
" Kalau jalannya kayak gini kapan nyampeknya!!" Seru Lintang. " Kencangin sedikit motornya!" Imbuhnya lagi dengan ketus.
" Mana bisa cepat... Lihat, jalanannya macet. Banyak pekerja yang pulang." Jawab Satya.
Memang benar jalanan sedikit macert, Tapi juga bukan bearti Satya berjalan sangat pelan seperti ibu-ibu. hingga banyak pengendara lain bisa menyalipnya berkali-kali.
" Berhenti?" Pinta Lintang, membuat Satya menatapnya dari spion.
" Mau ngapain? Rumah kamu masih jauh."
" Udah.. menepi dulu aku bilang. Ih.." Sebal Lintang, mau tidak mau Satya menepikan motornya di samping trotoar dengan pengendara yang masih terlalu ramai.
" Turun." Perintah Lintang, membuat Satya mengerutkan kening menatap Lintang yang sudah turun dari boncengannya.
" Ayo cepetan turun!"Serunya lagi melototkan mata, karena Satya masih duduk di atas motornya.
" Mau ngapain Lintang!" Ucap Satya, tapi masih mau menuruti perintah perkataan Lintang dan kini berdiri tepat di hadapannya.
" Mana kuncinya?" Tanya Lintang. Satya menunjuk kunci yang masih menempel di motornya.
Lintang segera naik di atas motor Satya, kini mengubah posisi. Lintang yang akan mengemudikan motor milik Satya, sedangkan Satya harus duduk di belakang Lintang sebagai penumpang.
" Eh!!" Pekik Satya.
" Kalau gak juga naik. aku tinggal di sini!" Ancam Lintang, membuat Satya dengan cepat naik di atas boncengan menyentuh ke dua bahu Lintang.
Dan untungnya Satya hari ini sekolah memakai motor matic punya mamanya. Bila memakai motornya mana bisa Lintang mengendarainya? Apa lagi dengan memakai rok sepan sekolah seperti ini. Bisa berabe.
Lintang sungguh gemas dengan Satya yang mengendarai motornya begitu pelan. Dan rasanya tak sabar sekali ingin cepat pulang, hingga dirinya kini harus beralih menjadi joki untuk Satya.
Lintang mengendari motor Satya, meleak-leok, menyalip kanan kiri, memepet celah dua mobil, dan truck besar hingga membuat Satya terkadang jantungan atau terkadang takut sendiri. Ini pertama kalinya Satya di bonceng wanita selain mamanya yang sama mengerikannya bila berkendara.
Rasa jantungnya tak begitu aman, apa lagi gadis ini memboncengnya seperti dirinya yang sedikit nekat dan kencang. Satya selalu saja meremas dua bahu Lintang, bila Lintang menyalip mobil atau truck. Dan Lintang pun selalu menggeliat serta marah bila Satya mencengkram bahunya dengan kuat.
Tapi di sini satya senang, karena inilah Satya bisa lebih dekat dengan Lintang.
Jarak empat rumah dari rumah Lintang. Lintang memberhentikan motornya dan segera turun dari balik setir motor. Menyerahkan helm pada Satya, dan satya menerima helmnya.
" Aku yang harusnya makasih, kan kamu yang nyetir." Kata Satya. Membuat Lintang mengendus sebal.
" Terserah kamu lah! sudah sana pulang." Usir Lintang cepek dengan sikap Satya.
" Kamu jalan dulu sana, aku mau nungguin kamu sampai masuk rumah." Perintah Satya.
Lintang hanya berdecak sebal, melengos dari Satya dan berjalan menuju rumahnya tanpa lagi mempedulikan Satya yang benar-benar masih menunggunya hingga dirinya sudah tak terlihat di mata satya.
" Malam ini aku harus dukung mama. Mama kan minta motor baru sama ayah." Gumam Satya senang. dan mengusap-usap motor matic mamanya dengan bangga.
Motor sejarah pertama kali bersama Lintang.
****
" Aiman?" Panggil wanita cantik dan dewasa dalam penampilannya.
Aiman yang sedang mengecek pemasukan di kasir, menoleh ke sumber suara. Dan kembali lagi dengan melihat komputer tanpa mempedulikan wanita itu berjalan ke arahnya.
" Aiman?!" Panggilnya manja, berdiri tepat di hadapan Aiman hanya dengan penghalang meja bar.
" Ada apa." Tanya Aiman dingin.
" Kamu masih marah sama aku... Maaf Ai?" Ucap wanita cantik itu, duduk di kursi dengan wajah di buat cemberut.
Aiman berdecak, menatapnya dingin dan wajah tak selembut dulu saat masih menjadi kekasih wanita itu.
" Kamu kenapa ke sini." Tanya Aiman lagi, tanpa mempedulikan permita maafannya.
Karena wanita itu yang membuat Yasmin salah paham dengannya. Dan membuat Yasmin hampir meninggalkannya.
" Aku cuma ingin ketemu sama kamu... Ingin ngajak kamu jalan. Sudah lama kita gak jalan ke taman ko-,"
" Aku gak bisa Sya, Cafe sedang ramai. Maaf." Ucap Aiman. Mantan kekasih bernama Marsya.
" Ayolah Ai, sekali ini saja? Kamu selalu bilang gak bisa, tinggal sebentar apa salahnya sih Ai!! Lagian juga kan kamu bosnya!" Seru Marsya.
Mulai marah, setiap kali dirinya mengajak Aiman keluar. Lelaki itu tidak pernah mau, dan alasannya tetap sama. Cafe?
Doni mendengar serta melirik bos dan wanita yang selalu membuat drama di cafe. Hanya bisa menggelengkan kepala dan berdecak, hingga ia memilih beranjak ke dapur.
" Aku memang pemilik cafe ini, tapi bukan berarti aku semena-mena sama karyawanku." Jawab Aiman. " Sudah lah Sya.. lebih baik kamu pergi saja dari sini saja, kalau masih mau Memaksaku. Jawabanku masih satu, aku gak bisa." Tekannya, malas meladeni wanita yang egois dan ingin menang sendiri.
" Aku jauh-jauh ke sini Ai, datang menemui kamu. Tapi kamu kayak gini? Apa gak bisa kita seperti dulu lagi?" Ucap Marsya mulai meneteskan air mata. Sesak rasanya saat Aiman menolaknya dan berubah sangat dingin dengannya.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃