Our Story

Our Story
Ijab khabul



Pulang ke rumah, di sambut hangat ayah dan bunda yang menunggunya dengan penuh kekhawatiran.


Saskia menghampiri Lintang, memeluk anak tirinya dengan hangat. Bersyukur putrinya tidak melakukan tindakan merugikan bagi dirinya sendiri.


Saskia menangis, merasakan bagaimana hati putri tirinya terpukul karena kepergian lelaki muda yang selalu bersamanya setiap saat.


Remaja lelaki yang saskia tau sebagai teman baik menyukai putri tirinya, dan selalu menjaga putrinya. Remaja lelaki yang menurut Saskia baik, sopan dan rendah hati. Tidak pernah mendengar kata kasar dari bibir remaja itu.


Beberapa kali mengobrol, dan membantunya saat lelaki yang menyukai putrinya sedang menjemput atau mengantar Lintang pulang. Saskia sebagai seorang ibu, menyukai Satya. Lelaki itu bisa membuat putrinya menjadi anak yang baik, dan tidak lagi seperti dulu.


Lintang meneteskan air mata, tapi tak bisa bersuara. Ia seperti lelah menangis, atau air matanya habis terkuras menangis di pemakaman.


Teguh, menghampiri putrinya. Bergantian dengan Saskia, ia memeluk putrinya. Mengusap lembut punggung dan mencium puncak kepala sang anak. Menguatkan Lintang agar anak tak menangisi kepergian Satya.


Teguh pun juga sama merasa sedihnya. Hanya Satya yang bisa merubah Lintang menjadi lebih baik. Ia tak tau nanti, bagaimana Lintang akan memulai hidupnya tanpa Satya. Ia hanya takut, Lintang kembali seperti dulu.


" Yang sabar mbak, doakan semoga Satya tenang di sana." Kata Saskia, mengusap lengan Lintang.


Lintang melepas pelukan ayahnya, hanya mengangguk dan mengusap pipinya yang basah.


" Aku mau ke kamar Yah, Bun." Ucap Lintang.


" Kamu gak makan dulu nak?" Kata Teguh.


" Sudah tadi, di rumah singgah." Bohong Lintang.


Tidak menceritakan sebenarnya, bila ia tidur di rumah Satya semalam. Dan menolak sarapan pagi buatan ibu Satya sendiri.


Sebenarnya Teguh dan Saskia tau di mana anaknya tidur semalam. Di rumah orang tua Satya, Lintang menginap. Itu karena orang tua Satya menelpon rumah Lintang, memberitahukan bila putrinya meminta izin tidur di kamar Satya. Dan begitu baiknya orang tua Satya memperbolehkan putrinya menginap di sana, meskipun hanya semalam saja.


Memberikan waktu bagi Lintang untuk sendiri. Putrinya melangkah dengan kaki lemas menuju kamarnya. Bahu tak setegar dulu, kepala tak setegap dulu meskipun ia mempunyai masalah dan kesedihan. Ini sangat jelas, kehilangan satya membuat hati Lintang sakit. Lebih sakit dari kehilangan seorang ibu.


Mengunci pintu kamar, merosotkan tubuhnya di lantai dingin sambil memeluk ke dua kakinya dan menyembunyikan kepalanya di atad lutut.


Kembali menangis, begitu menyedihkan dirinya sekarang. Bila dulu ia baik-baik saja tanpa ada lelaki di sampingnya, kini tidak lagi. Ia merasa ada yang kurang dalam hidupnya. hari-harinya bersama Satya, keusilan, cerewet, godaan, gombalan dan juga sandaran gratis setiap ia menangis dan gundah. Tidak ada lagi, yang ada kini tinggal kenangan.


Kenangan yang akan sulit di lupakan. Dan tak akan bisa di gantikan.


" Dan aku kembali seperti dulu lagi. Sendiri." Isak Lintang.


*****


Dua minggu sudah kepergian Satya, dan kini hari pernikahan sahabatnya. Ia sudah berjanji, akan menemaninya dan tersenyum manis di hari bahagia Yasmin.


Sesuai keinginan Yasmin, akad pernikahan sederhana di rumah Yasmin dengan para kerabat, dan tetangga saja yang menghadirinya sebagai saksi.


Terlihat gugup, ibu dan anak saling menggenggam tangan saat acara akad akan di mulai.


" Mama hanya bisa mendoakan, semoga nanti menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohma." Ucap Mama Yasmin, dengan mata berkaca-kaca.


Rasanya sulit sekali ingin mengatakan apa yang ada di hatinya. Hanya bisa mengatakan doa-doa baik pada putrinya. Andai, suaminya masih ada. Mungkin suaminya juga akan bahagia bercampur sedih, karena putri kesayangannya akan menikah dengan lelaki baik dan dewasa.


" Maafin Yasmin ya ma, kalau aku punya salah selama ini." Ucap Yasmin, meminta maaf pada ibunya sebelum ia menjadi istri orang dan memulai berumah tangga.


" Mama juga minta maaf Yas, kalau mama selama ini membuat kamu di bully. Maafkan mama ya Nak, mama belum bisa menjadi contoh mama yang baik buat kamu." Mama Yasmin, menitihkan air mata mengingat tangisan dan juga kebenciannya dulu saat masih bekerja di dunia malam.


" Mama sudah menjadi mama yang baik selama ini. Yasmin saja yang belum bisa mengertiin mama." Balas Yasmin, ikut menangis bersama mamanya.


" Jangan nangis Yasmin, nanti hiasan kamu rusak. Kasihan penata riasnya nanti." Ucap mamanya, menghapus air mata di pipi sang anak dengan tissu.


" Yasmin, tante?" Panggil Lintang, membuka pintu kamar Yasmin. " Ayo, sudah di tunggu di bawah." Imbuhnya, tersenyum tipis.


Yasmin dan mamanya mengangguk. Berdiri dari duduknya di ranjang dan berjalan bersama menuju calon mempelai yang sudah menunggunya bersama penghulu dan para saksi.


Berdebar jantung Yasmin, kini ia akan menikah dengan kekasih yang di cintainya. Para tamu yang melihat Yasmin turun dari anak tangga bersama sang ibu, membuat semua orang terpana, kebaya putih dengan ekor panjang dengan riasan sederhana dan sanggul ala keraton membuatnya tampil elegan.


Aiman yang melihat ikut tersenyum, gadis yang baru lulus sekolah kini ia akan nikahi. Dan gadis yang ada di hadapannya ini terlihat cantik seperti wanita dewasa.


Senada dengan kebaya Yasmin, memakai warna putih di tambah blankon ala keraton.


Lintang mengantar Yasmin duduk di samping calon mempelai pria. Tersipu malu kala Aiman menatapnya tak berkedip hingga penghulu menggodanya untuk menyadarkan calon mempelai.


Tentu semua orang menjadi tertawa mendengarnya. Aiman dan Yasmin sama-sama malu. Kini suasana dalam ruangan menjadi sedikit tegang, saat penghulu mulai membacakan surat-surat kecil sebelum melantunkan nama dua mempelai yang akan sah di mata semua saksi dan agama.


Dengan satu tarikan nafas, Aiman melantangkan ijab kabul di hadapan semua para saksi tanpa salah ucapan dan nama mempelai.


Kata sah dari Bimo dan Galuh begitu lantang, hingga membuat para tamu dan menghulu sedikit terkejut hingga tertawa semua mendengarnya.


Begitu haru dan bahagia mendengar putra dan putri dari dua pihak orang tua menyaksikan ijab kabul anak-anaknya yang kini sudah menjadi sepasang suami istri dan memulai kehidupan yang baru.


Mama Aiman dan Mama Yasmin saling berpelukan serta meneteskan air mata kebahagiaan.


Begitu pula Lintang, Bimo dan Galuh. Ikut bahagia dan meneteskan air mata, karena sahabatnya sudah sah menjadi seorang istri dan menikah dengan lelaki yang tepat.