Our Story

Our Story
Terbongkar



" Lintang?" Lirih Roy, Suami baru mama Lintang.


" Mama!" Teriak Lintang, kala melihat mamanya yang berbaring di brankar. Di tangani beberapa dokter dan perawat.


Roy yang melihat putri istrinya yang akan menghampirinya, mencegahnya agar tidak mengganggu para dokter yang sedang memberikan penanganan pada istrinya yang tak sadarkan diri.


" Lintang tenang Nak?"


" Aku mau lihat mama! Mama kenapa Om, mama kenapa!!" Ucap Lintang, mencoba memberontak saat ke dua bahunya di cekal Suami baru mamanya.


" Tolong sebaiknya anak anda di bawa keluar, Jangan mengganggu konsentrasi dokter." Tegur perawat wanita.


" Maaf Sus." Ucap Roy sedikit mengangguk.


"Ayo kita keluar Lintang." Ajak Roy.


" Enggak.. Aku mau lihat ma-,"


" Tolong dengarkan Om Lin.. Biar mama di tangani dulu sama dokter." Sela Roy, menggeret tubuh Lintang agar mengikutinya keluar dari ruang igd.


Sebenarnya Roy enggan sekali keluar dari ruang igd. Ia ingin menemani istrinya, ia sangat khawatir dan sangat takut, takut kehilangan Rosa.


Roy membawa putri sambungnya duduk di kursi panjang penunggu. Ia melihat kekhawatiran di mata Lintang, sangat jelas putri sambungnya itu masih ada rasa sayang pada ibunya. Hanya saja, rasa marah dan kecewa membuat hati gadis itu menutup mata. Seakan-akan Lintang menganggap ibunya adalah orang lain.


Lintang menghapus air mata, menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan pelan. ia mengulangi beberapa kali, hingga dirinya mencoba tenang saat semua orang menatapnya.


" Maaf." Lirih Lintang, menundukkan kepala. Lintang benar-benar terkejut, melihat ibunya berada di rumah sakit. Dengan matanya sendiri ia melihat bagaimana para dokter menangani ibunya yang tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir di hidungnya.


Dulu bila Lintang melihat ibunya hampir pingsan di rumah ibu tirinya, ia masih bisa mengendalikan diri untuk tidak histeris. Tapi saat ke dua kali ia melihatnya lagi dan berada di rumah sakit, tepat para dokter mencoba memberi penanganan membuat hatinya bergerak dengan begitu saja bibir memanggil mamanya, Dan air mata mengalir deras di pipinya. Batinnya mengatakan bila mamanya tidak baik-baik saja.


" Mama kamu akan baik-baik saja?" Ucap Roy, menenangkan putri sambungnya. Padahal ia tidak tau apa Rosa benar-benar akan baik-baik saja. Atau malah sebaliknya?


Sungguh ia sangat takut, tapi sekuat tenaga ia mencoba tenang. Agar putri sambungnya tidak menangis kembali.


Lintang hanya menangguk, menundukkan kepala dalam-dalam. Berdoa di setiap detik, meminta pada yang kuasa untuk kesembuhan ibunya, entah penyakit apa yang di derita ibunya.


Hening, dua orang menundukkan kepala. Berdoa dan juga bergulat dengan pikiran masing-masing. Hingga suara pintu terbuka, membuat Roy serta Lintang mendongak dan beranjak. cepat mengerumuni dokter yang menangani Rosa.


" Bagaimana keadaan istri saya Dok." Tanya Roy.


Lintang memandang suami baru ibunya, jelas raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran. Ada rasa hati yang lega, ibunya menemukan pengganti ayahnya yang baik dan sangat jelas mata mencintainya.


" Saya belum bisa memastikan detailnya, tapi ibu rosa haus menjalankan rawat inap. Dan menjalani tas lab kembali." Kata Dokter.


" Lakukan yang terbaik pada istri saya." Ucap Roy.


" Baik Dok." Jawab Roy, mengangguk. menghembuskan nafas panjang setelah doktet kembali masuk ke ruang igd.


" Maksud dokter apa? Kenapa harus di kemoterapi, Mama sakit apa? Apa sebegitu parahnya? " Cecar Lintang, membuat Roy menoleh ke arahnya.


Ia lupa bila masih ada putri Rosa di sampingnya, membuat gadis itu bertanya-tanya tentang penyakit Rosa.


Apa ia harus mengatakannya? Apa ini bisa membantu Rosa? Tapi, Rosa akan marah?


Ya, Rosa akan marah padanya. Rosa tidak ingin anaknya mengetahui penyakitnya, ia sudah tau kenapa Rosa memilih cerai dengan suaminya dan meninggalkan anaknya jauh. Itu semua demi Anak dan mantan suaminya, Rosa tidak ingin menjadi beban dari dua orang yang di sayangnya.


Begitu pula dengannya, Bagaimana dulu ia harus bersudah payah mengejar Rosa dan juga meyakinkan hati wanita rapuh yang ia cintai untuk menjadi istrinya. Beberapa kali dirinya di tolak, beberapa kali dirinya menyakinkan dan beberapa kali ia membawa Rosa ke rumah sakit, menemaninya dan juga membayar pengobatannya sebelum menjadi istrinya. Itu semua ia lakukan dengan iklas dan penuh dengan cinta.


Ia tidak peduli dengan perkataan orang, tidak peduli dengan cemooh orang yang mengoloknya bod*h karna mencintai wanita penyakitan. Bila ia sudah mencintai wanita selain mendiang istrinya, berarti wanita itu bisa menggeser cinta mendiang istrinya di hatinya.


" Jawab Om, mama sakit apa! Apa separah itukah sakitnya!" Desak Lintang, ia butuh jawaban dari suami baru mamanya.


Hati Lintang sudah resah, berdebar dan takut akan apa yang ia dengar dari ayah barunya.


" Mama kamu sakit, leukimia stadium empat. "


Bagai di sambar petir, tubuh Lintang kaku terdiam di tempat dengan mata melebar sempurna. Mendengar jawaban yang tak terduga dari ayah sambung.


Leukimia?


" Tidak." Gumam Lintang, kembali meneteskan mata. Berat, sungguh berat menerima kenyataan.


Kenyataan, bertemu kembali dengan keadaan yang menyedihkan. Bisahkah sembuh, atau malah sebaliknya. Ia tau, penyakit leukimia sangat membahayakan dan bisa mematikan. Tidak bisa di sembuhkan, bagaimanapun pengobatannya. Hanya bisa meringankan rasa sakit dan juga memberi waktu untuk bertahan hidup, dan entah kapan nyawanya akan hilang.


Roy memberanikan diri mengusap lengan anak tiri. Menangis begitu pilu saat dia mendengar jawaban darinya. Bukan maksud untuk membut anak tirinya sedih saat mengatakan penyakit yang di derita ibunya. Tapi bagaimanapun juga Lintang harus tau, sebelum ibunya benar-benar pergi meninggalkannya selam-lamanya.


Roy meminta Lintang menemani ibunya, sedangkan dia akan mengurus semua administrasi agar istrinya segera di tindak lanjuti oleh dokter. Lintang melangkah masuk ke dalam ruang igd, ibunya masih tidak sadarkan diri. terbarik di atas brankar dengan infus dsn selang oksigen berada di hidungnya.


Pucat sekali wajah mamanya, perlahan menyentuh tangan mamanya. Kurus dan lemah tangan Rosa. Lintang mencium tangan Rosa, kembali meneteskan air mata. tubuhnya bergetar, isak tangis lirih begitu menyahat hati siapa saja yang mendengar.


" Maafin Lintang Ma? Maafin Lintang." Ucap Lintang dalam isaknya.


Kebencian serta kemarahan Lintang seakan hilang begitu saja, mengetahui mamanya mengidap penyakit mematikan.


Sejak kapan mamanya sakit dan mengidap penyakit mematikan hingga stadium empat itu. Apa sudah lama, atau masih baru. Sungguh ia masih tidak percaya.


Ia memang tidak lagi bersama mamanya, tapi bukan berarti ia harus kehilangan mamanya untuk selama-lamanya. Tidak apa bila keluarganya hancur belah, tapi bukan berarti ia harus kehilangan salah satu orang tuanya untuk selamanya dan tidak bisa bertemu lagi.


Tidak, bukan itu keinginannya.