Our Story

Our Story
Jam istirahat



" Nanti bangunin ya, kalau jam istirahat sudah selesai. Aku ngantuk, mau tidur sebentar." Ucap Lintang. merebahkan tubuhnya di bawah meja di apit dengan kursi dan tidur di alas kardus dengan bantalan jaket.


Mata sudah tidak bisa lagi untuk di tahan, beberapa kali menguap saat pelajaran. Mata terasa pedih, sulit sekali untuk di ajak melihat tulisan. Sungguh, Lintang butuh tidur untuk setengah jam saja.


" Kamu gak makan dulu?" Kata Yasmin.


berdiri di samping meja, menatap Yasmin yang sudah meringkukkan diri di alas kardus. Melipat ke dua tangan di dada dan memejamkan mata.


" Enggak lapar, aku cuma ingin tidur saja." Jawab Lintang lirih. " Di tas ada bekal makan.. Itu, kamu makan saja sama Bimo." Imbuhnya. Tanpa mau membuka mata, rasanya sudah ingin terbawa mimpi.


Tidak menghiraukan lagi siapa yang ingin berbicara dengannya, atau tidak mempedulikan suara bising di kelas, sungguh itu tak akan mempan sekarang. Telinganya seakan sudah tuli, dan mata benar-benar sudah merapat seperti di beri lem.


Yasmin mendesah, menggelengkan kepala saat Lintang tak lagi bersuara. Hanya terdengar nafas halus dan teratur. Bimo yang baru saja selesai mengantarkan buku-buku ke ruang guru, melihat Yasmin sedang membongkar tas Lintang dan mengeluarkan kotak bekal makan.


" Lintang mana?


" Tuh... tidur!" Jawabnya, mata menunjuk ke bawah kolong meja.


" Lintang pasti capek." Gumam Bimo, mata sedikit sendu melihat Lintang tertidur di bawah kolong meja.


Sahabatnya begitu kuat dan juga tanggung jawab dengan anak-anak singgah yang dia bangun. Tidak ada kata mengeluh selama merawat anak singgah, tidak pernah juga menelantarkan mereka. Semua kebutuhan murni dari Lintang, ya walaupun terkadang ada orang-orang baik yang juga menyumbang bahan makanan untuk anak singgah dan membuat Lintang sedikit ringan.


Selama Ferdi di rumah sakit, Lintang dan Tina yang selalu bergantian. Terkadang Bimo juga ikut membantu Lintang, seperti menengok keadaan rumah singgah, membelikan stock makanan atau juga menemaninya di rumah sakit hingga larut malam. Meskipun sebenarnya dirinya tidak di perlukan di rumah sakit... Karna di sana sudah ada Satya yang setiap malam menemaninya hingga pagi hari.


Apa ada hubungan yang lebih serius?


Entah lah.. Tapi Lintang tidak secuek dan sejudes dulu saat masih awal-awal berteman dengan Satya. Gadis itu selalu ketus bila berbicara dengan mantan kakak kelasnya, tapi sekarang malah mereka semakin akrab. Ya meskipun kadang Lintang masih saja berbicara ketus padanya.


" Lintang bawa bekal ini? Katanya suruh makan saja." Ucap Yasmin, duduk di bangku lain dan menaruh kotak bekal makan di atas meja.


" Dia sudah makan?" Tanya Bimo, ikut nimbrung duduk di depan Yasmin.


" Dia gak mau makan.. Ngantuk katanya." Jawab Yasmin. " Di makan apa enggak, kasian nanti kalau dia bangun takut lapar." Imbuhnya.


" Nunggu dia bangun saja. Kita makan sama-sama.. Aku ke kantin, mau nitip atau ikut?" Tanya Bimo.


" Nitip saja... kasihan kalau ninggal tu anak. Takut nanti ada yang jailin." Yasmin mandang Lintang yang sama sekali tidak terganggu dengan suara bising di kelas.


" Ya, Udah tunggu aja di sini." Kata Bimo, Yasmin mengangguk mengerti dan mengambil tasnya untuk mencari kesibukan sambil menunggu Lintang bangun dan juga Bimo membelikannya makanan di kantin.


Bimo keluar kelas, berjalan ke kantin sendirian. Membeli cemilan, minuman botol dan juga nasi dalam styrofoam bertulisan ayam geprek. Setelah membayar, Bimo langsung kembali lagi ke kelas tanpa mau duduk dulu bersama teman-teman kelasnya yang menyapanya.


Galuh yang sudah selesai makan memilih beranjak dan mengejar Bimo. Membuat Bimo mengaduh saat Galuh memukul lengannya.


" Anj*ng!" Umpat Bimo, Galuh bergelak. Bimo mencebik.


" Aku nanti ikut ke rumah sakit ya.. Mau njenguk Ferdi. Sekalian juga mau ke rumah singgah, ada sedikit rejeki dari bapakku." Kata Galuh.


" Oke.. Aku juga kebetulan mau ke rumah singgah. Beras di sana habis katanya." Kata Bimo, berjalan beriringan dengan Galuh dan juga tersenyum ramah saat adik kelas menyapa dirinya dan Galuh.


" Masih belum ada Donatur?" Tanya Galuh.


" Terus buat biaya Ferdi?"


" Lintang masih ada tabungan katanya?" Jawab Lintang. " Aku juga akan minta bantuan orang tuaku atau Masku buat sumbangin biaya pengobatan Ferdi. Kasihan aku lihat Lintang." Imbuhnya, Galuh mengangguk mengerti.


" Kalau gitu aku juga usahakan buat bantu Lintang. Gak tega juga itu Lintang jadi tulang punggung anak singgah sendiri." Sambung Galuh.


Meskipun Galuh tidak pernah bergabung dengan Bimo, Yasmin dan Lintang. Tapi lelaki ini selalu ikut dalam kegiatan mereka. Selalu ikut membantu dan juga menyumbang untuk anak singgah.


Di saat akan masuk kelas, Bimo melihat Abbas berdiri di depan pintu. Menepuk bahu adik tiri Lintang, hingga membuat adik kelasnya sedikit terkejut.


" Cari Lintang?" Tanya Bimo. Galuh lebih dulu memilih masuk membawa makanan yang di titipkan Bimo untuk Yasmin.


" Iya mas." Angguk Abbas.


" Penting gak Bas, Soalnya Lintang lagi tidur."


" Tidur?" Abbas membeo, mendengar ucapan Bimo. " Mbak Lintang sakit?" Tanya Abbas


" Enggak." Sahut cepat. "Mumpung jam istirahat katanya, mangkanya ia pengen tidur." Jelas Bimo.


" Oh!!" Abbas mengangguk mengerti.


" Aku pengen bica-." Belum sempat mengucap suara bel istirahat telah usai.


" Cepet banget jamnya!" Keluh Bimo. " Aku masuk dulu ya, belum makan siang!" Pamit Bimo masuk ke dalam kelas tanpa menunggu ucapan Abbas yang menggantung.


Abbas mendesah, bagaimana bisa bertanya dan menyampaikan sesuatu pada Bimo sahabat kakak tirinya itu. Kenapa juga jam istirahat begitu cepat? Atau dirinya saja yang lambat dan pelupa. Andai saja ia tidak melupakan ponselnya di rumah. Mungkin? Ia bisa mengatakannya lewat pesan untuk Bimo atau bertanya dengan Lintang.


Dan bagaimana ini? Apa ia bisa membantu kakak tirinya dalam kemarahan ke dua orang tuanya? Berdoa saja, semoga Lintang tak akan sampai di marahi begitu keras oleh ayahnya.


Di dalam kelas, Lintang sudah di bangunkan Yasmin. Membuat wajah gadis itu khas, seperti bangun tidur. kantong mata sedikit sembab, matanya sedikit merah dan bibirnya mulai menguap tanda belum puas dengan tidurnya.


" Makan dulu, sebelum guru datang?" Perintah Bimo, memutar tubuhnya menghadap dua sahabatnya.


" Kalian belum makan?" Tanya Lintang, sudah duduk di kursi dan menatap meja ada kotak bekal makanan dirinya dan juga dua styrofoam di dalam plastik putih.


" Belum nunggu kamu bangun. Ayo cepetan makan, keburu gurunya datang!" Kata Yasmin, mulai membuka styrofoam berisi nasi dan ayam geprek serta sendok plastik di dalamnya.


Yasmin sudah sangat lapar, tidak menunggu Lintang dan Bimo yang menatapnya geli. Lintang juga mulai makan, bekal makanan Ali ternyata berisi nasi goreng dan juga telor mata sapi. Sedikit merasa bersalah, ternyata bekal yang dirinya bawa. Bekal makan kesukaan Ali. Lintang berjanji, setelah pulang sekolah nanti ia akan membelikan es cream dan juga cemilan kesukaan adik tirinya itu.


.


.


.


.


🍃🍃🍃🍃