
Sehari menikmati bahagia, kini harus merasa sedih kembali. Di mana dirinya pulang dari sekolah, harua melihat pemandangan memilukan dan menyedihkan.
Pandangan kala ibunya di keroyok dua wanita dengan mengenaskan di halaman rumah pagar terbuka. Bik imah yang mencoba menolong, di hadang seorang lelaki. hanya bisa menangis dan mencoba memberontak, tapi tidak bisa, Karna bik Imah tidak terlalu kuat.
" Mama!!" Teriak Yasmin, tanpa melepas helm dan menghampiri ibunya yang meringkuk akibat tendangan dari dua wanita itu.
Yasmin mendorong salah satu wanita tua hingga tersungkur dan menabrak kursi di depanya.
Gadis muda dan lelaki yang menahan bik imah terkejut. Menghampiri wanita tua yang terjatuh dan menatap tajam Yasmin.
" Mama?" Ucap Yasmin, memeluk ibunya yang menangis ketakutan.
Bik Imah yang terlepas dari lelaki muda itu, segera menghampiri majikan dan anaknya. Ikut memeluk majikannya dan menangis untuk menenangkannya.
Sungguh pilu, melihat mamanya yang babak belur, rambut berantakan dan juga menangis ketakutan.
" Kalian apa-apaan hah!! Kenapa mukulin mamaku!!." Sungut Yasmin, menatap tajam balik dua wanita pengeroyok mamanya.
" Dasar Anak pelak*r!!!" Sinis gadis muda. Membuat Yasmin melototkan mata.
" Gara-gara mama kamu, keluargaku hancur! Gara-gara mama kamu, Papaku pergi dari rumah dan buat mamaku menangis. Itu semua karena mama kamu!!" Imbuhnya dengan teriak dan menunjuk Mama Yasmin dalam pelukannya.
" Kamu sembunyikan di mana papaku pelak*r, di mana!!" Teriaknya kembali.
" Mamaku bukan pelak*r!" Sargah Yasmin.
" Kalau bukan pelakor apa! Jal*ng, Iya." Sinis gadis muda, membuat Yasmin mengepalkan tangannya.
Melepaskan pelukan mamanya, berdiri dan menghampiri gadis itu dengan tatapan menajam. Gadis itu juga berdiri, tidak takut akan tatapan Yasmin, seakan sudah siap untuk melawannya.
Dendam dan marah, karena papanya di rebut oleh wanita pelak*r. Membuat ibunya sering sekali manangis dan keluarganya tidak lagi sehangat dulu. Gadis itu benci sekali dengan pelak*r, apa lagi di hadapannya saat ini. Gadis semurannya, anak dari pelak*r, seakan mendukung sekali ibunya
" Mamaku bukan pelak*r, apa lagi dengan ucapan mu terakhir itu." Ucap Yasmin, tepat di depan anak wanita yang dirinya dorong.
" Oh... Iya?" Tawa sinis gadis itu.
" Iya." Tegas Yasmin.
Seakan dirinya tidak takut meskipun sebenarnya ia tau apa pekerjaan mamanya hingga membuat semua wanita benci dan marah dengan profesi itu.
Sebagai seorang anak, ia memang marah pada ibunya. Tapi ia juga tidak bisa menghakimi ibunya di depan orang-orang yang sudah memukulinya. Ia anak satu-satunya, anak yang harus melindungi dan menjaga ibunya. Walaupun ibunya telah berbuat salah besar. Tidak mungkin meninggalkan ibunya dengan keadaan mengenaskan seperti ini.
Senyum sinis jelas di perlihatkan oleh gadis di hadapan Yasmin ini.
" Kamu ingin bukti, kalau mama kamu itu pelak*r. Mau aku tunjukkan?" Ucap gadis itu, membuat mata Yasmin kembali melebar dengan wajah tegang. Tapi masih bisa ia kendalikan, untuk menutupi ketegangannya.
Gadis itu mengambil ponsel di tasnya, mengotak-atik ponselnya dan menunjukkan rekaman beberapa menit di depan Yasmin.
Yasmin tentu terkejut, melihat remakan vidio mamanya bersama seorang lelaki tanpa malu bermesraan di sebuah club malam. Bercumbu mesra, bergelayut manja dan tanpa rasa malu pula berjoget sambil berpelukan di tengah-tengah orang yang sama seperti mamanya.
" Masih belum puas! Ini.. Lihat." Kata gadis itu lagi, melihatkan beberapa foto mesra ibu dengan papa gadis itu saat berbelanja di salah satu toko perhiasan terkenal.
" Mama kamu mau menikah dengan papaku! Dan aku enggak terima itu... Ngerti kamu!!" Geram Gadis itu. mata memerah, menahan tangisannya di hadapan Yasmin.
Sungguh gadis itu juga sama rapuhnya dengan Yasmin. Anak mana yang rela ibunya di sakiti, ayahnya di ambil dari wanita lain dan kelurganya hancur berderai karena datangnya orang ke tiga.
Tanpa sadar Yasmin meneteskan air mata, sama seperti gadis di hadapannya yang menangis terisak. Yasmin menghapus air matanya, menatap gadis itu dan juga wanita tua yang ada di pelukan anak laki-lakinya.
" Saya sebagai anaknya, meminta maaf. Maaf sudah buat keluarga anda dalam pertengkaran. Maaf atas perbuatan ibu saya kepaada Anda tante.. dan saya janji, ini terakhir kali mama saya tidak akan lagi mengganggu suami tante. Saya pastikan itu." Ucap Yasmin, sekali lagi meneteskan air mata.
Ucapan perminta maafnya begitu tulus, tidak ada keraguan dan juga kemarahan di dalam perkataannya.
" Apa aku bisa memegang janji kamu?" Tanya lelaki yang memeluk ibunya.
" Ya, pegang janji aku." Tegas Yasmin.
" Saya ingin ada surat perjanjian, di atas ketas. Saya enggak ingin ibu kamu kembali berhubungan suami saya." Ucap wanita tua, yang kini menatapnya dengan sendu.
Yasmin menghembuskan nafas berat, melirik ibunya yang ada di belakangnya. Masih begitu takut, menundukkan kepala tidak berani menatap wanita yang sudah menganiayanya.
" Iya, saya bersedia tante." Ucap Yasmin.
Lebih baik menerima perjanjian, dari pada harus terulang kembali. Dan tidak ingin mamanya di keroyok lagi. Berharap adanya surat perjanjian itu, mamanya tidak akan mengulangi kesalahan dan berubah demi kebaikannya.
Ya, itu yang Yasmin inginkan.
Yasmin mempersilahkan wanita tua dan dua anaknya masuk ke dalam rumah. Mama serta Bik imah juga ikut masuk ke dalam rumah, menuntun mamanya duduk di sofa, dengan setia bik imah memeluk majikannya.
Anak laki-laki dari wanita itu pergi untuk membeli materai dan anak gadis seumuran dengannya sedang menulis surat perjanjian yang di saksikan oleh dirinya dan di bacanya dengan seksama.
Yasmin memberikan surat itu pada mamanya, untuk ikut membacanya. Lagi-lagi mamanya hanya menunduk dan enggan untuk melihatnya. Seakan semua sudah di limpakan pada putrinya.
Yasmin hanya tersenyum kecut, mengusap punggung mamanya untuk menguatkannya. Ia tidak akan pergi, ia akan tetap di sisi mamanya apapun yang sudah terjadi.
Setelah melihat isi surat perjanjian dan membacanya. Yasmin tidak keberatan dengan isi surat itu. Ia menandatanganinya di atas materai, dan wanita itu juga menandatanganinya. Masing-masing memegang surat asli dan menghembuskan nafas lelah atau lega.
Sebelum anak dan wanita itu pergi, Yasmin menghentikannya " Tolong hapus vidio dan foto mama ku. Dan tolong jangan di sebarkan." Ucap Yasmin, permintaannya pada gadis yang masih terlihat marah dengan mamanya.
" Iya. Aku juga tidak bodoh, membuat papa dan mamaku malu karna vidio ini." Kata gadis itu, mengambil ponselnya menghapus vidio dan foto di depan Yasmin.
" Terima kasih. Dan sekali lagi aku minta maaf atas perbuatan mamaku." Ucap Yasmin.
Gadis itu sedikit mengangguk, dan menuntun mamanya keluar dari rumah wanita yang sudah membuat mama dan papanya bertengkar.
Yasmin menghampiri mamanya, duduk di samping mamanya, memegang tangannya lembut dan membuat mamanya berani menatapnya. Hingga kembali menangis histeris, Yasmin memeluknya ikut menangis dengan apa yang saat ini terjadi di keluarganya. Sungguh ia tidak berani marah pada mamanya, ia tidak berani untuk membenci mamanya dan tidak berani menghakimi mamanya sendiri di kala wanita yang melahirkannya sangat menyedihkan dan rapuh.
Mamanya butuh dukungannya, butuh perhatiannya dan butuh proses penyembuhan yang mungkin mengakibatkan trauma berkepanjangan.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃