Our Story

Our Story
janji



Membawanya dalam dekapan dan memberikan sandaran untuknya menangis, tujuan yang tepat bagi Satya. Lintang menangis kembali dalam dekapannya, memberikannya ruang untuknya menangis hingga lelah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Bukan tidak mau memberikan kata-kata menenangkan untuk Lintang, Bukan. Dirinya juga bingung harus berkata apa, semuanya tentang keluarga Lintang dan Lintang. Tidak bisa menyalahkan gadis ini yang sudah terlanjur kecewa dan marah dengan ke dua orang tuanya.


Orang tua yang berpisah, bisa berakibatkan mental anak hancur dan itu bisa di lihat Satya dari Lintang contohnya. Andai saja bila ke dua orang tuanya memberi pengertian dan juga kasih sayang yang lebih meskipun mereka sudah berpisah. Mungkin, Lintang tidak akan menjadi gadis pecandu nikotin. Tidak akan pula menjadi gadis pembuat onar.


Sangat di sayangkan, kenapa perceraian bisa membuat perilaku anak berubah dan mengakibatkannya sangat marah besar pada ke dua orang tuanya.


Mungkin ada alasan kenapa ke dua orang tua Lintang memutuskan bercerai. Tapi kata-kata Lintang terakhir sungguh membuat hatinya ikut sedih.


Ke dua orang tua Lintang sudah menikah lagi, kembali bahagia dengan pasangan barunya. Tapi Lintang justru merasa tidak bahagia, Kenapa? Dan apa alasannya?


Bukannya yang selama ini dirinya Lihat Lintang baik-baik saja, tidak pernah menunjukkan rasa sedih pada orang lain. Ya, meskipun Lintang sering menunjukkan wajah datar dan tidak suka di ganggu, sering membalas cemooh orang serta berkelahi bila di rasa orang itu masih saja mengganggunya. Jelas itu sebagai rasa telampiasannya, agar hatinya merasa lega. Tapi tetap saja, masih tidak bisa mengurangi rasa kecewanya.


Tangisan Lintang mulai mereda, perlahan-lahan nafas mulai teratur. Entah berapa lama Lintang berada dalam dekapannya, Satya mengurai pelukannya, menatap mata Lintang sayup dan hampir menutup mata.


" Lin?" Panggil lembut Satya, sambil mengusap pipi Lintang.


" Mataku berat.. sulit sekali di buka." Gumam Lintang, membuat Satya tersenyum samar.


Tentu saja sulit di buka, ternyata menangis bisa membuat gadis ini cepat tertidur. Apa lagi mata bawahnya terlihat sangat membengkak, mungkin bangun tidur nanti masih saja tetap membengkak. Tapi sedikit lega karna sudah mengeluarkan semua unek-unek di hatinya.


" Ya udah, kamu sekarang tidur, berbaring sana di kasur." Perintah Satya, mengusap kedua pipi Lintang lembut.


" Hmm." Gumam Lintang, tersenyum tipis dan mengangguk.


Melepaskan ke dua tangan, Lintang dengan cepat merebahkan tubuhnya di kasur. Tidur seperti bayi dan memeluk guling. Satya yang melihatnya gemas sekali, Lintang begitu cepat saja melupakan tangisannya. Mungkin lelah dan juga mengantuk, hingga cepat sekali tertidur. Satya mengambil selimut, menutupi setengah badan Lintang dan mengusap lembut pipinya.


" Di balik nakal kamu, ternyata kamu mempunyai kesedihan. Kecewa dan marah kamu sangat besar Lintang. Aku janji, akan berusaha membuat kamu kembali seperti dulu dan aku akan menghapus kesedihan kamu itu." Lirih Satya, mengusap pipi Lintang.


Sungguh menyedihkan gadis yang di sukainya itu ternyata anak broken home. Satya berjanji, akan menemani Lintang dan membuat Lintang bahagia. Tidak akan membiarkan gadis yang di sukainya menangis pilu lagi. Sudah cukup, Lintang harus bahagia, harus tertawa dan juga ceria seperti dulu. Bagaiman pun caranya, Satya akan berusaha.


****


" Sayang?" Panggil Roy, saat Rosa mengerjabkan mata menyesuaikan pandangan sedikit terang.


" Mas?"


" Iya sayang." Jawab Roy, begitu lega mendengar suara istrinya yang sudah bangun. " Apa ada yang sakit?" Tanyanya perhatian, mengusap lembut pipi Rosa.


" Enggak ada." Geleng Rosa tersenyum, dan ia sudah meyakini bila kini dirinya kembali masuk dalam rumah sakit.


Ia takut, dan sangat takut akan kehilangan Rosa. Apa lagi dirinya sudah pernah kehilangan orang yang di cinta, dan kini rasanya tidak ingin kehilangan lagi. Apakah Tuhan tidak menyayanginya, apakah dirinya kurang beramal.. Hingga Tuhan selalu saja ingin mengambil orang yang di cintainya kembali.


Rosa terharu dengan cinta Roy, apa lagi lelaki di sampingnya ini begitu menerima kekurangan dan juga penyakitnya. Yang membuat dia rela mengeluarkan uang banyak demi kesembuhannya.


Tuhan begitu baik memberinya lelaki begitu cinta dan sayang dengannya, Tuhan seakan mengerti bagaimana penderitaannya saat ia sendiri tanpa ada yang mengetahui penyakitnya. Dulu, mantan suaminya juga sama seperti Roy, hanya saja ia tidak bisa membebani mantan suaminya dulu karna Rosa mengerti kapasitas kemampuan Ayah Lintang. Ekonominya dulu saat masih bersama ayah Lintang juga belum cukup baik, tapi masih cukup untuk memenuhi kebutuhannya dan tidak ada kekurangan pun di dalam rumah tangganya.


Perceraiannya dengan Teguh bukan karna bosan dengan suaminya, Bukan. Teguh melarang keras dirinya bekerja, dan Rosa dengan keras kepalanya ingin mencari pekerjaan. Untuk membantu perekonomian keluarganya dan juga pengobatannya.


Tentu saja Teguh murka, Rosa seakan tidak mendengarkan ucapannya. Cek cok pun terjadi, dan sering terjadi saat Rosa mulai bekerja serta sedikit melalaikan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga yang baik seperti dulu.


Rosa tanpa memberitahu suaminya, ia sudah mengajukan surat permohonan cerai di pengadilan. Teguh lagi- lagi marah, tidak mengerti apa sebab Rosa menceraikannya. Sebagai lelaki harga dirinya seperti di injak-injak dan tidak di hargai sama sekali. Teguh menerima keputusan Rosa, dan mengabulkan permohonan cerai Rosa tanpa adanya rintangan.


Mungkin di situlah Teguh mulai membenci dirinya. Begitu pula Putri kandungnya, yang ikut membencinya. Mungkin karna Teguh sudah memberitahu Lintang, siapa yang lebih dulu meminta pisah tanpa alasan.


Menyesal, tentu tidak. Karna dirinya yang sudah berpisah dengan teguh merasa bebannya sedikit ringan dan bisa mengobati menyakitnya tanpa anak dan mantan suaminya khawatir.


Tuhan mungkin kasihan dengannya, yang menderita sendirian hingga Tuhan mendatangkan Roy sebagai penyemangat untuknya sembuh. Roy benar-benar tulus mencintainya, ia bisa rasakan itu dari mata Roy dan juga perlakuan lembutnya. Tanpa pernah membentak atau menyakiti hatinya.


" Maafin aku mas, sudah buat khawatir kamu." Ucap Rosa, bersalah karna membuat suaminya bersedih.


" Mas mohon jangan ulangi lagi." apinta Roy, Membuat Rosa mengangguk tersenyum


" Mas mengerti.. Kamu hanya ingin bertemu Lintang. Tapi keadaan kamu bertemu dengan putri kamu bukan seperti ini sayang? Dan mereka sedikit curiga dengan kamu. Apa lagi kamu mimisan dan pingsam sayang." Imbuhnya,


Rosa sangat menyesal, bagaimana dirinya bisa ceroboh dan tidak mempertimbangkan apa yang nanti terjadi. Membuat Anak serta mantan suaminya mulai curiga. Rosa hanya rindu dan ingin bertemu putrinya, tapi kenapa justru kesan ke duanya sangat menyedihkan.


Rosa hanya berharap semoga saja Lintang dan mantan suaminya tidak menggali tentang dirinya yang sekarang memjadi wanita penyakitan.


.


.


.


.


🍃🍃🍃🍃