Our Story

Our Story
Perpisahan.



" Aku janji, enggak akan ninggalin kamu. Aku akan selalu ada buat kamu, jangan malu nangis di hadapan aku. Tapi aku enggak suka kamu nangis."


" Lintang, nama yang pantas buat kamu. Gadis kuat dan pemberani. Kamu manis kalau tersenyum."


" Aku suka kamu bersandar di bahuku, bagi kesedihan kamu sama aku. Rasanya pengen lama meluk kamu kayak gini.. Soalnya wangi banget rambut kamu."


" Nikah muda yuk lin, aku takut kamu nanti di ambil orang."


" Aku serius loh Lin, suka sama kamu."


" Mau ya, nikah sama aku."


" Aku sayang kamu Lintang!


" Aku cinta kamu!"


" Aku pamit ya. Jangan nakal, jangan keluyuran malam, jangan cengeng, makan dan istirahat yang teratur."


Menangis tertahan, duduk di samping ranjang sambil memeluk bingkai foto yang terdapat di atas meja belajar Satya. Foto dirinya bersama Satya, saat berada di atas ketinggian bianglala.


Memeluk erat, menangis tersedu sendiri di kamar Satya untuk pertama kalinya. Ia tidak peduli dengan kerabat Satya tentang siapa dirinya. Ia hanya ingin bermalam di kamar Satya untuk terakhir kalinya. Lintang hanya ingin Satya, dirinya rindu dan juga marah dengan Satya.


Kedua orang tua Satya mengijinkannya bermalam di kamar Satya, beliau tau siapa Lintang di mata putranya. Gadis yang selalu membuat Satya tersenyum, cemberut dan terkadang uring-uringan sendiri.


Putranya yang jatuh cinta dengan gadis manis tapi berwajah dingin. Gadis yang selalu di ceritakan Satya, dan gadis itu yang selalu keluar dengan putranya.


Gadis yang mandiri, bisa membangun rumah singgah untuk anak-anak jalanan. Gadis yang di bilang tidak pernah pantang menyerah dan begitu baik dengan anak-anak jalanan.


Tidak pernah Satya mengatakan kepribadian buruk Lintang pada ke dua orang tuanya. Satya selalu memujanya, hingga ke dua orang tua dan kakaknya begitu penasaran dengan sosok Lintang.


Pintu kamar Satya terbuka, menampilkan sosok seorang ibu yang kembali meneteskan air mata melihat gadis yang di sukai putranya menangis tersedu sambil memeluk bingkai foto.


Ibu Satya berjalan ke arah Lintang dan duduk di atas ranjang samping Lintang sambil mengusap kepala gadis itu yang menunduk erat memeluk bingkai.


" Tante pikir, tante yang rapuh kehilangan Satya. Tapi ternyata.. Tante salah, kamu lebih rapuh dari tante Lintang." Ucap Ibu Satya, masih mengusap lembut rambut Lintang.


Lintang bisa mendengarnya, tapi ia tidak bisa menahan tangisannya. Ia benar-benar rapuh saat ini. Kehilangan Satya, dan kehilangan cinta pertama yang belum tersampaikan.


" Satya selalu bercerita tentang kamu, tentang gadis yang di sukainya, gadis yang selalu membuatnya khawatir dan gadis yang selalu membuatnya tersenyum sendiri. Ternyata benar kata putra tante, kalau gadisnya itu manis dan suka menangis."


Ibu Satya kembali menitikan air maya, Mengingat cerita putranya tentang Lintang. gadis yang selalu di bangga-banggakan Putranya.


Lintang mendongak, menatap ibu Satya tertunduk menangis lirih. Lintang merebahkan kepala di pangkuan ibu Satya menangis bersama menumpahkan kesedihan di tinggalkan Satya untuk selama-lamanya.


Bila di dunia ini yang begitu rapuh, sebenarnya sosok seorang Ayah lah yang rapuh. Tapi ia berpura-pura tegar di hadapan istri dan anak yang lain. Menangis tertahan, hingga beliau menidurkan jasad anaknya sendiri di tempat peristirahatan terakhir.


Tanpa sadar Ayah Satya meneteskan air mata, hanya melihat istri dan gadis yang di sukai putranya menangis bersama di dalam kamar Satya punuh kenangan.


****


Menabur bunga di atas gundukan tanah basah dan masih penuh dengan bunga segar di atasnya. Menyiramkan air suci di atas nisan kayu tertuliskan nama Satya.


Datang sendiri dengan mata sembab, beberapa kali menabur bunga dan doa untuk Satya.


" Aku sudah berusaha tidak menangis di tempat kamu berada sekarang Sat. Tapi air mata ini begitu saja keluar. Aku cengeng kan? Iya, aku pura-pura kuat di depan kamu sekarang, tapi aku enggak bisa. Sesak dadaku Sat, sesak sekali! Aku gak sanggup kehilangan kamu satya!" Isak Lintang.


" Kamu bilang gak akan ninggalin aku, kamu akan tetap bersamaku bagaimapun nanti keadaannya. Kamu bohong sat, kamu bohonh. kamu jahat! Kamu ninggalin aku, kamu gak sayang sama aku. Kamu gak cinta sama aku Satya! Kamu gak cinta!" Menangis tersedu-sedu, kembali menumpahkan kekesalan di hatinya pada gundukan tanah penuh dengan bunga.


Tidak peduli Satya mendengarnya atau tidak, ia benar-benar marah dan sedih Satya pergi meninggalkannya. Kata-kata perpisahan terakhir satya selalu terngiang di pikirannya. Andai, waktu itu ia tau itu adalah pertemuan terakhirnya dengan Satya. Mungkin, Lintang akan melarang Satya ikut tour kampusnya.


Bodoh sekali Lintang, sangat menyesalinya. Dan tak akan melupakan perpisahannya dengan Satya.


Senyum yang indah, wajah cerah, masih ingin bersama dan kata-kata berpamitan padanya. Akan selalu Lintang ingat dalam memori menyedihkan.


Menghapus pipinya dengan cepat, menghembuskan nafas berat dan mencoba tidak menangis meskipun air mata kembali menggenang.


" Kamu ingin jawaban kan Sat. Aku akan jawab sekarang, aku juga cinta sama kamu satya, aku sayang sama kamu. Jangan tanya, kapan aku mulai cinta sama kamu. Aku gak akan jawab, karena kamu sudah gak ada lagi di sampingku. Bodoh kamu satya ninggalin aku, kamu bodoh!" menangis kembali.


Tidak seharusnya ia mengumpat orang yang sudah meninggal. Tapi Lintang tidak bisa mengendalikan kekecewaan dan marahnya. Entah itu pada satya atau pada keadaan. Karena dirinya, kini kembali sendiri lagi.


Tanpa adanya pelukan dan sandaran bahu ternyamannya.


Menyedihkan.


Seakan Tuhan belum memperbolehkan dirinya tersenyum sebentar saja. Seakan alam, begitu bahagia melihatnya sedih.


Oh, Tuhan. Kapan dirinya bisa bahagia.


Dirinya sudah berdamai, tapi kenapa Tuhan selalu memberikan cobaan berat. Seakan ia sanggup untuk menghadapinya sendiri lagi.


Mengambil Satya darinya.


Begitukah Tuhan menyayanginya?


Berat, sungguh amat berat. Takdir begitu pahit untuk Lintang lalui kembali tanpa adanya Satya sekarang.


Seperti mimpi. Bukan, ini kenyataan bukan mimpi. Kenyataan harus kehilangan lelaki yang selalu ada untuknya. Merelakan dia pergi untuk selama-lamanya. Walaupun hati tak rela di tinggalkan.


Bisakah ia bertemu lagi nanti, rasanya tidak mungkin. Berbeda alam sangatlah menyakitkan. Menahan rindu dan kesendirian. Ia belum mencoba, tapi sudah menyerah.


Lintang kembali menghapus air matanya, menghembuskan nafas berat dan berdiri di sisi makam Satya.


" Aku akan coba Sat, berdiri sendiri tanpa kamu sekarang. Kembali seperti Lintang yang dulu."


" Makasih tentang masa kita, dan makasih kamu pernah mencintaiku. Aku pergi, semoga kamu tenang di sana." Ucap Lintang, tersenyum lembut pada nisan tertulis nama Satya.