
" Kan sudah aku bilang, jangan sok uzon dulu sama orang tua kak Aiman! Buktinya orangnya baik kan!" Seru Galuh, di hadapan Yasmin yang sudah mengatakannya bila bertemu dengan orang tua Aiman.
" Iya, orang tua kak Aiman baik. Aku gak nyangka, beliau menerima aku." Ucap Yasmin, mengingat siang itu pertemuan pertama kali Yasmin dengan orang tua Aiman yang sangat membuatnya tersentuh hati dan terkejut.
" Terus gimana? Kamu terima lamaran Mas Aiman?" Tanya Bimo. Kini tiga sahabatnya menatap Yasmin, menunggu jawaban yang membuat mereka mati penasaran.
Yasmin tersenyum malu, ia juga tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya sendiri. Tiga sahabatnya harus tau, karena merekalah yang sudah membuat dirinya yakin untuk bertemu orang tua Aiman.
" Iya, aku menerima lamaran kak Aiman." Ucap Yasmin, dan menunjukkan cincin putih di jari manis kanannya.
Lintang, Bimo dan Galuh terkejut membulatkan mata melihat cincin melingkar di jari manis Yasmin. Seperti tak percaya apa yang di lihatnya saat ini.
" Wauww!!" Pekik Galuh, takjub sekali melihat cincin putih melingkar di jari Yasmin.
" Beneran di lamar! Kampr*t!!" Seru Bimo. " Auw.!" Jeritnya, mengusap lengan yang di cubit Lintang karena berteriak di sampingnya dan membuat Yasmin tertawa.
" Selamat Yas, aku senang dengarnya." Ucap Lintang, ikut bahagia melihat sahabatnya sudah di lamar oleh kekasihnya.
Tidak menyangka, perjalan cinta Yasmin begitu mudah dan bisa menjejang ke yang lebih seriua dan akan menjalani rumah tangga di usia mudamya. Bisakah ia seperti Yasmin kelak? Tapi ia juga tak mungkin bisa menjalin komitme. Ia ingin bebas, tanpa adanya sang pengatur dalam kehidupannya.
" Ah.. Makasih!" Seru Yasmin, memeluk Lintang dengan terharu. " Ini juga berkat dukungan kalian, aku mau ketemu sama orang tua kak Aiman, dan menerima lamarannya. Kalau kalian gak ngasih solusi mungkin aku gak akan nikah sama kak Aiman dua minggu lagi."
Tentu, pendengaran tiga sahabatnya masih berfungsi sangat jelas dan mendengar setiap ucapan Yasmin meskipun begitu lirih.
" Tunggu!" Lintang melepas pelukan Yasmin, dan menatapnya dengan mata membulat.
" Dua minggu lagi? Kamu akan menikah?" Tanya Lintang.
" Sama Mas Aiman?" Tanya Galuh, membuat dirinya mendapat tabokan dari Bimo.
" Kamu pikir sama siapa lagi Yasmin nikah kalau bukan sama Mas Aiman beg*k!" Gerutu Bimo.
" Sorry lupa!" Cengir Galuh, membuat Lintang dan Bimo berdecak bersamaan.
" Dua minggu lagi Yas, beneran?" Tanya Lintang.
Yasmin tersenyum malu, dan mengangguk. " Iya, kurang dua minggu lagi."
" Terus sekarang kamu santai begini, dua minggu lagi kamu menikah?" Kata Bimo.
" Semuanya sudah di atur sama Mamanya Kak Aiman. Nanti sore Kak Aiman jemput, mau di ajak ke butik." Jelas Yasmin.
" Ngukur baju pengantin?" Ucap Galuh.
" Fitting baju Galuh!" Sela Lintang.
" Sama aja Lintang!" Seru Galuh, Lintang hanya berdecak. Memang sama hanya saja Fitting lebih terbilang modern mendengarnya.
" Aku ingin kalian nanti datang di hari bahagiaku. Aku gak punya siap-,"
" Kita pasti akan datang Yasmin?" Sela Lintang, menggenggam tangan Yasmin dan tersenyum hangat.
" Hari kebahagian kamu juga hari kebahagiaan kita. Kita sudah seperti saudara, Jadi jangan pernah bilang enggak punya siapa-siapa. Kita pasti datang dan akan bantu kamu. Jangan merasa sendiri, masih ada kita, tante dan bik Imah." Jelas Lintang.
Mata Yasmin berkaca-kaca, dulu dirinya hanya bersama Bimo. Tapi kini, Ada Lintang dan juga Galuh yang selalu mendukung serta ada di saat mereka saling membutuhkan.
Bimo yang melihat dua sahabatnya berpelukan, ia pun akhirnya juga ikut memeluk Yasmin serta Lintang. Ia juga tau bagaimana perjuangan Yasmin dulu, dari yang mulai di bully, menyendiri, sedih dan tentunya gadis pejuang tangguh melawan penderitaannya.
Dirinya yang selalu menemani dan selalu menjadi pelindung Yasmin, kini merasa lega sahabatnya sudah menemukan pendamping hidup yang baik dan bisa melindunginya lebih dari dirinya.
Tidak ada yang namanya jatuh cinta pada sahabatnya sendiri, walaupun sebenarnya ia juga sedikit mempunyai rasa pada Yasmin. Tapi bukan berarti ia cinta dengan Yasmin. Karena bagi Bimo, Yasmin sudah ia anggap sebagai saudaranya.
Galuh tidak tinggal diam, ia juga ikut memeluk Yasmin dan Lintang. Bersama tiga temannya, ia bisa merasakan arti pertemanan yang sebenarnya meskipun ia bergabung tidak begitu lama dengan mereka. Dan tiga temannya, mengajarkannya arti berteman tanpa memandang status dan kedudukan.
****
Tempat biasa sepasang muda mudi selalu bertemu di malam hari, mendengar cerita dan saling berbagi cerita setiap aktivitasnya. Tak lupa, dua cappucino cap yang di belinya dari ibu langganan menjajahkan jualan minuman hangat atau dingin di taman tengah kota.
" Jadi dua minggu lagi Yasmin nikah muda?" Kata Satya.
" Hmm, iya." Jawab Lintang.
" Kamu gak mau ikutan nikah muda kayak Yasmin."
" Belum tertarik nikah muda."
" Kenapa? Padahal enak nikah muda. Halal, bisa nglakuin apa saja sama pasangan kita." Ucap Satya. Membuat Lintang memukul lengan Satya.
" Pikiran kamu perlu di cuci deh Sat! Ngeres mulu!" Geram Lintang. Dan Satya tertawa mendengarnya.
Ia juga tidak tau kenapa dekat dengan Lintang akhir-akhir ini otaknya selalu jorok. Apa lagi dirinya tidak bisa melupakan kejadian seminggu yang lalu di puncak. Di mana ia harus tidur semalaman dengan Lintang di kamar penuh maksiat dan dosa para orang-orang yang menginap di sana.
Di tambah ia harus menahan malu untuk membeli benda keramat wanita saat datang bulan. Di tambah lagi ia harus mengusap perut Lintang yang katanya sakit tak tertahankan, karena efek derasnya datang bulan.
Oh.. Benar-benar sial.
" Aku gini juga gara-gara tidur di puncak. Hawanya pengen aja nikahin kamu." Kata Satya.
Menatap malas Satya dan mengendus kesal mendengarnya.
" Kuliah yang bener! Cari kerjaan baru nikah."
" Maunya gitu! Tapi nunggu lulus kuliah lama, belum lagi cari kerjaan. Pastinya tambah lama buat nikahin kamu." jelas Satya.
" Masih banyak Sat, cewek yang lebih baik dari aku."
" Tapi aku maunya kamu, Lintang." Sela Satya, membuat Lintang menatapnya lekat.
" Kamu itu.. Limited edision. Dan sangat sulit untuk di dapetin." Imbuhnya dengan senyum.
" Cih! Gombal." Ucap Lintang, tersenyum dan menggelengkan kepala. " Udah Ah.. Yok pulang. Udah malam."
Lintang berdiri, berjalan terlebih dulu tanpa menunggu Satya. Jantungnya berdebar, ia takut Satya akan mendengarnya. Jujur, ia mulai suka dengan Satya, tapi ia juga tidak bisa menjalin percintaan yang membuatnya pasti akan terkekang. Ia lebih suka berteman mesra tanpa adanya ikatan.
Karena baginya, cinta itu menyakitkan. Akan ada yang berkorban demi cinta.
Seperti, Mamanya?