
Sudah tiga hari Lintang membohongi ke dua orang tuanya menginap di rumah Yasmin. Tiga hari pula Lintang tidur di rumah sakit, menemani Ferdi bergantian dengan Tina.
Tiga hari membuat tubuh Lintang sedikit lelah, pagi harus sekolah mengerjakan tugas hingga sore dan malam kembali ke rumah sakit menggantikan Tina serta mencoba kembali menulis online hingga menjelang malam dan tidur tidak teratur.
Pagi-pagi sekali Lintang pulang ke rumah, ia melupakan seragam sekolahnya yang seharusnya ia bawa ke rumah sakit, tidak perlu lagi pulang ke rumah.
Ayahnya sudah bangun, pagi-pagi selalu baca koran di ruang tamu dan Bunda, tentu saja sibuk menyiapkan makanan bersama bibik di dapur.
" Pagi Yah?" Sapa Lintang, membuat Teguh menurunkan koran dan menatap suara putrinya di ambang pintu.
" Kenapa pulang?" Ucap Teguh, melipat koran menaruhnya di atas meja. Sedikit menatap tajam putrinya, yang beberapa hari tak pernah bertemu dan tidak ada di rumah.
Alasannya selalu ada tugas kelompok bersama Yasmin dan lebih memilih tidur di rumah temannya untuk beberapa hari ini.
Padahal bila di kerjakan di rumah sendiri juga tidak apa-apa, tanpa harus menginap di rumah teman sampai berhari-hari. Seperti tidak punya rumah saja! Mangka dari itu Teguh sedikit kesal dengan putrinya, tapi tidak bisa berbuat apa-apa karna istrinya selalu saja membela Putri sambungnya.
Lintang bukan gadis manja, apa lagi bisa merayu ayahnya untuk tidak marah-marah. Hanya menghembuskan nafas, terasa lelah bila harus berdebat di pagi hari dengan ayahnya.
" Seragam sekolah Lintang ketinggalan yah." Jawab Lintang, niat ingin mencium tangan Ayahnya rasa malas pun enggan karna suara sambutan ketus ayahnya. Lintang menaiki anak tangga meninggalkan Teguh yang masih menatapnya tajam.
" Kapan anak itu bisa berubah!" Gumam Teguh, memijat keningnya yang tiba-tiba berdenyut.
Berurusan dengan putrinya membuatnya harus extra sabar, bila tidak ingin darah tingginya naik ke ubun-ubun dan harus berakhir ke rumah sakit terdekat untuk meminta obat penurun darah.
" Kenapa mas?" Tanya Saskia, melihat suaminya memijat kening. Menaruh secangkir teh di atas meja dan duduk di samping Teguh.
" Putri kamu pulang itu... Pagi-pagi sudah buat mas begini." Jawab Teguh.
" Lintang pulang.? Pagi sekali?" Gumam Sakia. " Ih.. Lintang putri mas juga!" Imbuhnya, memukul lengan suaminya. Gemas sekali rasanya.
" Lagian selalu saja manjain Lintang." Gerutu Teguh, membuat Saskia mengerucutkan bibir.
" Ya sudah, kalau gitu mas juga gak perlu manja lagi tiap malam." Ketus Saskia, berdiri melengos pergi menuju meja makan menyiapkan sarapan bersama sebelum rumah kembali sepi.
" Ya gak bisa gitu Bun!!" Seru Teguh, Ancamannya selalu saja tidak bisa membuat dirinya berkutik. mengikuti langkah istrinya ke meja makan.
" Masak apa bunda? ." Tanya Ali duduk di kursi melihat menu makanan di atas meja. Di ikuti Abbas yang juga baru turun dari kamarnya.
" Bunda masak Ayam goreng, sayur bayam. Ada nasi goreng juga. Adek mau makan apa." Tanya Saskia, mengambilkan nasi putih untuk suaminya.
" Mau ayam goreng saja Bun." Kata Ali.
" Mas Abbas?" Tanya Saskia.
" Nasi goreng Bun." Jawab Abbas.
" Bun.. Bawain aku bekal ya, nasi goreng sama telur mata sapi." Pinta Ali.
" Iya, habis ini bunda buatin." Jawab Saskia. " Mbak Lintang belum turun?"
" Memang mbak Lintang semalam pulang?" Tanya balik Abbas, sambil menguyah nasi.
" barusan pulang, lupa seragam sekolahnya enggak di bawa." Jawab Ayahnya.
" Kangen mbak Lintang." Kata Ali.
Lintang yang sedang menuju ke arah meja makan mendengar ucapan Ali, menghampiri adiknya dan mengacak gemas rambutnya.
" Mbak juga kangen Ali." Kata Lintang, membuat Ali mendongak dan tersenyum mendengarnya.
" Bun.. aku berangkat ya, sudah telat ada piket di kelas." Pamit Lintang.
" Enggak sarapan dulu mbak?" Tanya Saskia, saat putrinya mencium tangannya.
" Itu bekalnya siapa? Lintang bawa ya?" Ucapnya, melihat bekal makan yang sudah siap di atas meja.
" Bawa saja mbak! Nanti aku minta bunda buatin lagi." Saut Ali, tau bila itu bekalnya dan rela demi kakak ia memberikannya.
" Beneran ya!" Seru Ali senang.
" Iya." Jawab Lintang, mengambil kotak makan Ali.
" Lintang berangkat Yah." Salim Lintang pada Ayahnya.
" Hmm.. Hati-hati." Teguh menerima uluran tangan.
" Cepetan makannya... Awas telat!!"
" Bawe!" Seru Abbas.
" Hati-hati mbak, jangan ngebut." Teriak Saskia, membuat Lintang Mengangguk.
Selesai dengan sarapan, Teguh, Ali dan Abbas. kini mereka berjalan ke ruang tamu, memakai sepatu sebelum berangkat menuju rutinitasnya.
Abbas melihat amplop putih tergeletak di teras. Ia pun mengambilnya, mengulurkannya pada Ayahnya.
" Ada surat Yah." Kata Abbas.
" Surat apa?" Tanya Teguh, mengambil amplop putih di tangan Abbas membaliknya untuk melihat nama sang pengirim.
Rumah sakit medica.
Mengerutkan kening melihat nama tulisannya.
" Surat rumah sakit?"
" Surat rumah sakit? Memang siapa yang sakit Yah?" Tanya Saskia, mendengar ucapan suaminya dan menyerahkan dua bekal makan siang untuk Ali dan suaminya.
Sedangkan Abbas malu bila harus membawa bekal makan, apa lagi remaja ini sudah memasuki sekolah menengah atas.
" Enggak tau Bun." Jawab Teguh. Mencoba membukanya amplop yang sudah terbuka, membacanya dan satu persatu ia keluarkan semua.
" Ferdiansyah. Lintang." Gumamnya.
" Lintang?" Ulang Saskia, ikut duduk di samping suaminya dan melihat bukti pembayaran obat serta perawatan rumah sakit atas nama Lintang.
Saling membaca saling mencerna untuk melihat kembali surat rumah sakit. Hingga membuat Saskia serta Teguh saling memandang.
" Yah? Kenapa Lintang membayar pengobatan anak ini. Lintang dapat uang dari mana?" Terlihat Saskia mulai khawatir dengan putrinya.
" Apa kita di bohongin Bun. Tidak ada tugas kelompok, tidak juga anak itu tidur di rumah Yasmin kecuali hari sabtu." Tutur Teguh, mengingat beberapa hari putrinya terlalu sibuk hingga tak pernah makan dan istirahat di rumah.
" Pulang sekolah Yasmin suruh datang ke rumah. Ayah ingin bicara sama dia." Perintah Teguh pada Saskia.
Saskia juga harus perlu mencari tau kebenarannya, hanya Yasmin yang tau. Dan gadis ini juga terlibat dengan Lintang putrinya.
Sepertinya bukan cuma Yasmin saja yang terlibat dalam kebohongan Lintang. Satu sahabat lelakinya, Bimo, juga pastinya tau akan hal ini.
Mas Bimo pasti tau?" Gumam Abbas.
Abbas bimbang, antara ingin mengatakan dan bertanya pada Bimo. Atau dirinya diam saja pura-pura tidak tau akan permasalahan ini. Tapi ia tidak tega, bila Lintang akan di marahi Ayahnya. Meskipun bukan saudara kandung seharusnya ia bisa melindungi kakaknya.
Dan, Ya. Lintang pintar sekali dalam menyembunyikan sesuatu hingga akhirnya kesalahan kecil mulai terungkap. Dan Abbas menyayangkan itu.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃