Our Story

Our Story
pengantaran terakhir.



Tidak ada pergerakan dari Lintang sepanjang prosesi, dari pemandian jenasah dan penutupan keranda. Wajah Lintang tetap datar, tidak menunjukkan wajah sedih maupun mata yang berembun.


Gadis itu selalu melihat jenasah Satya di setiap proses bagaimana layaknya akan di kebumikan. Tidak satu katapun keluar dari bibir Lintang, Menjawab pertanyaan Bimo atau Abbas pun ia abaikan. Seakan bibir begitu keluh, mata tak bisa lepas dari pandangan lelaki yang selalu ada untuknya, kini sudah berpulang ke tempat alam yang berbeda.


Ketika jenasah Satya sudah di masukkan ke dalam keranda, ibu dan kakak Satya kembali menangis histeris. Tak rela bila putra bungsu meninggalkannya untuk selama-lamanya.


Setelah sholat jenasah dan di masukkan ke dalam ambulane, untuk menuju pekamakan Lintang masih tetap memperhatikannya hingga pintu ambulane tertutup rapat.


" Kita pulang ya Lin?" Ucap Bimo, membuat Lintang menoleh ke arahnya.


" Aku mau mengantar Satya." Kata Lintang. " Ayo." Imbuhnya, seakan ia tegar dan tidak ada kata kasihan pada Satya yang sudah tak ada lagi raga dan nyawa.


Bimo menatap dalam Lintang, mata sahabatnya tidak setetes pun mengeluarkan air mata sejak ia mengatakan Satya kecelakaan dan mendapat kabar duka.


Tidak tau apa perasaan Lintang saat ini, gadis di hadapannya begitu sangat tegar. Seakan sudah lelah untuk mengeluarkan air matanya kembali.


Dulu kehilangan ibunya, sepanjang waktu Lintang menangis melihat prosesi pemakaman ibunya. Begitu kehilangan seorang ibu Lintang menunjukkan sisi lemahnya.


Tapi lihatlah, begitu tegarnya sekarang kehilangan orang terdekat yang selalu bersamanya setiap waktu.


Bimo, Lintang dan Abbas mengikuti ambulane dan orang-orang yang ingin mengantar jenasah untuk terakhir kali. Lintang berboncengan bersama Abbas, di balik punggung Abbas, ia menundukkan kepala. Matanya mulai berembun, tapi sekuat mungkin ia akan tahan. Karena Satya pernah bilang padanya.


" Apapun keadaannya nanti, jangan pernah menangis. Air mata kamu sangat berharga."


Mengepalkan tangan, mencoba kuat dan tidak menangis walaupun sangat terasa sesak dada ini.


Abbas tau bagaimana perasaan kakak tirinya. hidup satu atap selama tiga tahun bersama Lintang, ia tau kakaknya sedang berjuang menyembunyikan kesedihan. Lintang lebih suka menyendiri, hingga dia benar-benar lelah dan menangis dalam ruang kegelapan.


Bersama dengan Satya, Lintang bisa merasakan bahagia. Tersenyum, tertawa dan juga berbagi kesedihan. Hanya Satya, yang bisa memahami perasaan dan kesedihannya. Hanya Satya yang bisa membuatnya terasa nyaman saat bersama lelaki. Dalam sandaran dan juga pelukannya Lintang merasa damai bersamanya.


Malam dengan awan mendung, semua orang sudah berkumpul di pemakaman. Ambulane berhenti, tepat di depan pemakaman. Keranda penutup hijau dengan hiasan bunga di atasnya mulai di keluarkan dan satu persatu kerabat membopong keranda.


Masih terdengar isak tangis sang ibu dan juga kakak Satya. Untuk yang ke dua, Lintang mengantar kepergian orang yang di sayanginya menuju keperistirahatan.


Rasa ingin sekali menerobos segerumbulan orang yang ikut mendoakan dan menyaksikan tubuh Satya di tidurkan di liang lahat setinggi tiga meter.


Suara tangisan histeris ibu dan kakak semakin membuat Lintang mengepalkan tangan, menundukkan kepala dan menutup matanya erat.


" Kamu cantik kalau tersenyum."


" Kamu jelek kalau nangis, ingusnya sampai keluar gitu. Tapi aku tetap suka kamu."


" Aku pamit ya?"


" Sampai mati, aku akan cinta sama kamu."


" love you Baby."


Dan satu tetes air mata keluar membasahi pipi Lintang. Hancur sudah hatinya, ia di tinggalkan Satya untuk selama-lamanya. Remuk sudah raganya, lelaki yang mencintainya kini pergi dan tidak bisa lagi untuk bersama. Dan sakit sudah jiwanya, karena cinta yang tak akan pernah tersampaikan padanya.


Satu persatu para pelayat meninggalkan pemakaman, kini hanya tinggal keluarga Satya.


Ayah Satya merengkuh tubuh istrinya, mengajaknya untuk pulang karena setetes air dari langit mulai turun.


Orang tua Satya dan kakaknya berhenti tepat di depan Lintang. Entah lintang melihatnya atau tidak, tapi mata Lintang hanya tertuju pada makam Satya.


" Sudah malam. Kalian belum pulang. Hujan mau turun." Kata Ayah Satya menatap Bimo, dan melirik Lintang yang sama sekali tidak menoleh padanya.


" Iya om, sebentar lagi kita pulang." Jawab Bimo.


" Ya sudah, hati-hati. Makasih sudah anterin Satya sampai keperistirahatannya." Kata Ayah Satya, Bimo hanya mengangguk dan tersenyum.


Bagi Bimo, Satya juga sudah seperti teman. Lelaki itu sering membantu rumah singgah, dan sering sekali nongkrong bareng bersamanya. Satya lelaki baik, lelaki ramah dan juga teman yang setia. Terbukti, dia selalu menemani sahabatnya susah maupun senang.


Sekali lagi, orang tua satya menatap Lintang sebelum mereka melangkah pergi dari pemakaman putranya. Entah apa dalam pikiran mereka pada Lintang, tapi yang pasti orang tua Satya tau, putranya menyukai gadis berwajah dingin yang di lihatnya sekarang.


" Mbak, ayo pulang." Kata Abbas, menyentuh bahu lintang untuk menyadarkannya.


Lintang mengangguk, mengiyakan ajakan adiknya. Sejujurnya, ia masih ingin di pemakaman. Tapi, ia juga tidak akan mungkin di pemakaman tengah malam, meskipun ia berani sendiri.


" Bas, Kamu pulang ya sama Bimo." Kata Lintang.


" Mbak mau kemana?" Tanya Abbas, khawatir dengan kakak tirinya. Dan dirinya tak bisa meninggalkan Lintang dengan keadaan yang kacau.


" Mau ke rumah singgah." Jawab Lintang.


" Aku i-,"


" Aku pengen sendiri." Sela Lintang, tidak memberikan celah untuk Abbas berkata.


Abbas tidak bisa memaksa, begitupun Bimo. Mereka tau Lintang orang yang sangat sulit untuk di paksa dan tidak suka untuk di bantah. Abbas memberikan kunci motornya pada Lintang, ia pun pulang bersama dengan Bimo meskipun hatinya tak rela Lintang sendiri dalam keadaan sedih.


Melihat Bimo dan Abbas sudah pergi menghilang dari pandangannya. Menaiki motor Abbas, satu dalam tujuannya saat ini. Tak peduli, meraka tau dirinya atau tidak. Ia akan tetap menuju ke tempat dimana ia harus menangis, meraung, di tempat yang seharusnya bukan tempatnya.


Rumah Satya.


Dalam perjalanan, air mata begitu saja menetes. Mengingat masa kenangan Satya bersamanya. Di depan rumah Satya, masih terlihat kerabat satya berkumpul. Lintang berjalan pelan, tepat di depan halaman ia berhenti.


" Saya ingin bertemu orang tua Satya." Kata Lintang pada salah satu kerabat Satya.


" Duduk dulu Nak." Lintang hanya mengangguk, duduk di kursi plastik yang sudah di siapkan. Lintang selalu menunduk, menghapus air mata yang tidak bisa di tahan.


Entah kenapa ia ingin ke rumah Satya. Padahal ia tau, Satya sudah berbaring tenang di pemakaman.


" Lintang?" Panggil Ayah Satya, membuat Lintang mendongak dan menatap sepasang suami istri di depannya.


Lintang berdiri, mengusap ke dua pipinya yang basah. Dan sedikit tersenyum menatap ke dua orang tua Satya.


" Izinkan saya tidur di kamar Satya. Sekali ini saja, tante, om." Pinta Lintang.