Our Story

Our Story
berdebat



" Maaf ya kak. Nanti aku ke cafe, ambil motor juga."


"...."


" Enggak usah kak. Biar nanti aku nebeng teman aku."


" Iya kak." Panggilan di akhiri dengan Yasmin tersenyum dan menaruh kembali ponselnya di atas laci.


Aiman menelponnya, menanyakan dimana ia berada. karena sewaktu aiman menjemputnya di sekolah. Aiman tak melihat Yasmin berada di tempat biasanya dirinya menunggu aiman. Ponselnya memang sengaja di matikan saat berada di kelas dan lupa untuk mengaktifkan kembali ponselnya.


Mungkin memang Yasmin lelah dan juga kesal karena sudah bertengkar serta berani melawan kakak kelasnya. Mungkin keberaniannya juga karena berkat Lintang dan Bimo. Atau memang dirinya sudah ingin sekali menelampiaskan semua kemarahannya yang terpendam selama ini.


Mungkin.


Menghembuskan nafas lelah, beranjak dari duduknya dan melangkah keluar kamar untuk mencari temannya yang pastinya sedang berada di dapur untuk menghabiskan makanannya.


Tidak usah di ragukan lagi tentang serakahnya bimo kalau soal makan memakan. Apapun yang ada di dapur, dalam isi lemari es, atau di atas meja. Bila ada makanan pasti dia embat dan tak peduli siapa yang punya.


" Hmmm... Makan terus!!Cibir Yasmin, duduk di samping bimo yang lahap makan tanpa menoleh kanan kiri.


" Kalau ada makanan di meja, Jangan kau sia-siakan." Jawabnya sambil bersenandung nyanyi.


" Cih!!" Cibir Yasmin, mengambil paha ayam untuk dirinya makan.


" Nanti aku bareng ya Bim."


" Ke cafe?" Di anggukkan Yasmin dengan senyum.


" Ambil motor." Ucap Yasmin. " Tadi Kak aiman jemput, tapi akunya lupa." Imbuhnya.


" Ya sudah nanti sore-sorean aja, aku ngantuk. Numpang tidur dulu." Kata Bimo, beranjak dari meja makan, selesai meneguk air putih.


" Tidur di rumah sana. Rumahku bukan hotel tau... Udah minta makan, sekarang numpang tidur lagi." Ketus Yasmin


" Bodo amat. Gak ada yang gratis di bumi ini. Harus saling menguntungkan."


" Cih!! Dasar tukang peritungan." Gerutu Yasmin. " Kalau habis makan piringnya di cuci woy!!"


" Cuciin Yas!! Aku ngantuk."


" Kebiasaan." Sebal Yasmin.


selalu bimo yang habis makan tak pernah menaruhnya di tempat cuci piring dan selalu memintanya untuk membersihkannya. Padahal dirinya pemilik rumah, dan Bimo selalu menjadi raja bila di rumahnya.


" Biar bibik saja mbak Yas, yang nyuci piringnya." Kata Bik Sum, tersenyum melihat tingkah Yasmin dan Bimo bila berada di rumah.


Sedikit mengobati rasa rindu, rumah yang ramai akan kehadiran teman Anak majikannya.


" Gak usah bik, biar aku saja. Bibik terusin yang lain aja biar cepat selesai pekerjaannya." Jawab Yasmin. Membuat Bik Sum mengangguk tersenyum dan pergi kembali ke belakang untuk menyelesaikan pekerjaannya.


" Dasar Jin tomang." Dumel Yasmin, mencuci piring bekas Bimo makan.


****


" Kamu ngapain sih Bim... ikut segala." Dumel Yasmin, berjalan beriringan di samping Bimo yang ternyata juga ikut masuk ke cafe dengan masih memakai seragam Sekolah. Tapi tubuhnya, terbalut jaket hingga tak terlihat seragam atasnya.


" Mau cari gratisan." Cengir Bimo, berjalan terlebih dulu menuju pantry barista.


Mengendus sebal, mengerucutkan bibir karena Bimo bisa saja memanfaatkannya di kala dirinya hanya meminta antarkan ke cafe tanpa harus ikut masuk.


" Bang!" Seru Bimo, mengangkat satu tangan menyapanya dengan riang.


" Woy!!" Seru balik Denis barista yang melihat Bimo berjalan ke arahnya.


Aiman hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum melihat Bimo datang bersama Yasmin yang mengerucutkan bibir berada di belakangnya.


" Seperti biasa bang. Ice americano sama hot dog ya satu. Yasmin yang bayar." Ucap Bimo santai.


" Oke." Kata Denis, segera membuatkan pesanan Bimo.


" Satu dot dog besar!" teriak Denis di jendela dapur pada karyawan bagian memasak makanan.


" Enak aja.. Bayar sendiri." Ketus Yasmin memukul lengan Bimo kencang. Susah duduk nyaman di depan pantry.


" Masih banyak kembaliannya tadi. Di kantin saja gak sampai lima puluh."


" Iya gak sampai lima puluh. Tapi kerusakan jajan di atas meja karna kalian tadi bertengkar harus di ganti. Dan uangku ledes karna kamu sama Lintang." Gerutu Bimo.


" Gak iklas nich ceritanya!" Manyun Yasmin.


" Bukan gak iklas Yas... Tap-."


" Tunggu bentar." Sela Aiman, sedari tadi mendengar perdebatan Yasmin dan Bimo.


Yasmin dan Bimo saling berpandangan, beralih menatap Aiman dan kembali saling memandang. Lupa bila mereka sedang berada di cafe Aiman.


" Siapa yang bertengkar tadi." Tanya Aiman.


" Yasmin Mas." Ucap Bimo.


" Aku gak bertengkar, Viola dulu yang mulai." Sela Yasmin, dan di anggukkan Bimo.


" Kenapa bisa bertengkar." Tanya Aiman.


Membuat Bimo melirik Yasmin. Yasmin diam enggan menjawab, mungkin tak ingin Aiman tau tentang pembullyan atau hinaan yang di lontarkan oleh sebagian siswa sekolah soal taunyab tentang pekerjaan ibunya.


Yasmin belum menceritakan tentang ibunya. Hanya kesedihan di kala ayahnya sudah tiada dan juga kesepian di tinggal ibunya bekerja ke luar kota. Hanya itu yang selalu di keluhkan Yasmin pada Aiman. Tidak ada yang lain.


Dan soal pembulyan atau hinaan dari teman kelas maupun kakak kelas serta adik kelas. Yasmin belum pernah menceritakannya pada Aiman. Bimo pun juga merahasiakannya dari aiman, karna Yasmin sendiri yang meminta untuk tidak boleh menceritakannya pada Aiman maupun ibunya.


Cukup Yasmin, Bimo dan seluruh sekolah saja yang tau. Yasmin juga tak ingin ibunya malu maupun sedih bila mengetahui anaknya di bully dan di hina karena ulahnya.


" Kenapa diam." Tanya Aiman, menelisik dua remaja di hadapannya bergantian.


" Viola siapa, dan Lintang itu siapa." Tanyanya lagi.


" Lintang anak baru, sebangku sama Yasmin Mas." Jawab Bimo.


" Kalau Viola."


" Kakak kelas." Jawab Yasmin.


" Jadi... Bertengkar sama kakak kelas." Kesimpulan Aiman, membuat Bimo mengangguk dan Yasmin menundukkan kepala.


Seperti sidang saja. Hawa atmosfir di ruangan cafe memdadak seperti di dalam ruang guru BK.


" Karena apa." Tanya aiman, Kini pandangannya menatap Yasmin yang tak mau menatapnya.


" Ini pesanannya." Ucap Denis, menaruh makanan dann minuman di depan Bimo


" Bungkus bisa gak mas, jangan lama-lama ya." Lirih Bimo. Takut akan lirikan Aiman.


" Tumben minta bungkus." Denis Mengerutkan kening.


" Ada pesan masuk dari mama, katanya suruh pulang. Cepetan mas. Aku tunggu di parkiran aja ya." Ucap Bimo, berdiri dari kursi dan mengambil tas di bawah kakinya.


" Mas aku pulang dulu. Sudah di cariin mama." Pamit Bimo, nyelonong pergi tanpa mempedulikan lagi Yasmin yang melototkab mata padanya.


" Ya." Jawab singkat Aiman. dan tak mempedulikan Bimo pergi dari cafenya.


" Temen kamu kenapa Yas." Tanya Denis. Yasmin hanya mengedikkan bahu dan kembali menundukkan kepala.


Denis memandang bergantian Aiman dan Yasmin. Sudah mengerti raut wajah bosnya yang berubah, Denis melangkah ke dapur untuk membungkus semua pesanan Bimo.


" Kamu bisa ke atas, tunggu kakak di sana." Perintah Aiman. Membuat Yasmin mengangguk kecil dan berjalan menuju tangga untuk ke ruangan Aiman.


.


.


.


🍃🍃🍃🍃