
" Seharusnya kamu cerita semua sama aku, bukan kamu pendem sendiri kesedihan kamu ini Dek. Apa kamu gak percaya sama kakak?" Kata Aiman, merengkuh bahu Yasmin, menyandarkan kepalanya di dada Aiman.
Mengusap rambut Yasmin dengan lembut, duduk di sofa ruang tamu, menikmati berdua dengan kekasihnya. Tidak peduli lagi pada siapa pun di dalam rumah Yasmin, entah itu Bik Imah atau nanti Mamanya Yasmin yang terbangun dan keluar memergoki mereka bermesraan.
" Setiap hari aku kirim kamu pesan, telpon kamu. Tapi gak pernah kamu bales, angkat pun juga jarang.. Mulai saat itu aku khawatir sama kamu. Aku gak tenang Dek, sumpah.. aku kepikiran terus!" Imbuhnya.
Ya, bagaimana setiap hari dirinya tidak pernah mendapat kabar pesan dari Yasmin, tidak pernah kekasihnya menelpon seperti biasanya. Apa lagi Yasmin juga tidak pernah berkunjung ke cafenya. Setiap Aiman mengirim pesan, Yasmin tak pernah membalasnya.
Menelpon pun juga jarang di angkat. Pernah sekali Yasmin mengangkat telpon darinya, dan suaranya tidak seperti biasanya yang ceria. Suaranya serak dan lirih, di situlah Aiman merasa aneh dengan suara Yasmin. Ada yang tidak beres dengan kekasihnya.
Aiman memang sibuk dengan cafe, tapi ia tidak pernah melupakan perhatiannya pada Kekasihnya. Ia selalu menyempatkan waktu sedikit untuk Yasmin. Yasmin juga tidak pernah menuntutnya, dan Yasmin juga tak pernah meminta apapun padanya. Ya, walaupun memang manja bila di dekatnya, tapi bukan berarti selalu memanfaatkan kemanjaannya pada kekasihnya.
Yasmin berbeda. Sangat berbeda dengan mantan kekasihnya.
Dan Aiman menyukainya. Mencintai gadis sekolah terpaut umur cukup banyak. Tapi Cinta tidak memandang umur kan? Cinta juga tidak memandang kasta, Hanya saja orang-orang yang merasa iri saat melihat kebahagian orang lain lebih jauh darinya.
Merasa di cintai oleh Aiman, membuat hati Yasmin menghangat. Memeluk Aiman begitu erat mendongak menatap wajah Aiman yang tegas dan lembut saat mata saling menatap.
" Kalau ada apa-apa cerita ke kakak ya? Jangan menghindar gini. Kita bisa cari solusi bersama, dan Aku gak bisa jauh sama kamu." Kata Aiman.
Ucapan terakhir, bagai hati Yasmin melambung tinggi. Manis dan menenangkan. Tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya, Yasmin tersenyum memajukan wajahnya tepat di depan wajah Aiaman. Aiman yang belum siap, terkesiap begitu saja saat kekasihnya dengan mudah mengec*p bibirnya.
Oh.. Di ruang terbuka seperti ini. Mata Aiman melirik ke kana ke kiri. Takut bila-bila ada yang melihat, Suasana terlihat sepi dan aman Yasmin yang akan melepas bibirnya dari bibir Aiman di tahan tengkuk wanita itu. Dan kembali mel*mat bibir manis Yasmin yang tidak bergerak sama sekali saat menempelkannya.
Tidak boleh di sia-siakan?
Belum tentu bisa datang ke dua kalinya.
Kini giliran Yasmin yang terkejut, mendapat respon begitu lembut dan sedikit agresif membuatnya terlena, hingga tanpa sadar ia membalas dan menikmati ci*man panas di siang hari. Tanpa mempedulikan pintu rumah terbuka.
Berdua menikmati ci*man begitu lama, saling menatap dan saling terbuai. Aiman yang masih terjaga dan mulai sedikit tak bisa mengontrol hawa panas di sekujur tubuhya. Perlahan melepaskan ci*mannya, mengusap bibir mungil basah dengan seliva mereka. Membuat Yasmin malu dan menundukkan kepala.
Sungguh Yasmin tak habis pikir, kenapa bisa tergoda oleh Aiman. Dan kenapa bisa membalasnya di saat keluarganya belum sepenuhnya pulih benar.
" Jangan lakukan ini sama siapa pun, cukup sama aku saja Dek." Ucap Aiman.
Aiman hampir seperti pedofil, yang hampir hilang kesadaran saat berc*uman dengan Yasmin yang masih di bawah umur dua puluh tahun.
Bila tidak ingat Yasmin masih sekolah, mungkin sudah ia terkam. Membawanya ke dalam hubungan yang lebih dan akan membuatnya tak bisa meninggalkannya lagi.
" Ya, enggak lah kak! Ini juga pertama kali aku sama cowok." Jawab Yasmin, sedikit ketus.
Pertama kali! Waauww.
Itu berarti Aiman yang mendapatkan ciuman pertama Yasmin.
" Kok sudah mahir ya?" Goda Aiman, membuat mata Yasmin melebar.
Memukul lengan Aiman, sedikit menjaga jarak. Menatap antara kesal dan malu. Bisa-bisanya kekasih ini begitu menyebalkan.
Bukannya ciuman itu gampang, dia bukan gadis lugu bukan pula gadis polos. Masalah soal ci*man itu sangat mudah, walaupun jantungnya berdetak cepat, tapi tetap menikmati hal yang baru dan nyata. tanpa harus melihat lagi film drakor adegan wauw.
" Ih.. Kakak!!" Seru Yasmin cemberut. Membuat Aiman tertawa dan kembali merengkuh baru Yasmin. Mengacak-acak rambutnya dan mencubit gemas pipi Yasmin yang sedikit tirus.
" Sudah siang. Kamu sudah makan?" Tanya Aiman.
" Belum juga, Jangan telat makan jaga kesehatan juga." Perhatian Aiman.
" Hhmm, iya.. mau temanin aku makan gak kak. Bik Imah sudah masak tadi."
Aiman melihat jam dinding, sudah lebih tiga jam ia di rumah Yasmin. Aiman meninggalkan cafe cukup lama, dan juga ada hal pekerjaan penting ia tinggalkan hanya demi ingin menemui Yasmin.
Sebenarnya ia ingin pergi, tapi melihat Yasmin berharap rasanya tidak tega meninggalkannya. Apa lagi kekasihnya sama sekali belum makan dan juga wajahnya terlihat tirus, pipinya tak secaby dulu. Ia juga masih kangan dengan kekasihnya.
Ah.. Sial, ternyata ia juga masih menginginkan ci*man itu lagi.
" Gak bisa ya kak? Kakak mau pu-,"
" Enggak, ayo aku temani makan." Sela Aiman, tidak ingin membuat kekasihnya kecewa.
Yasmin mengangguk tersenyum, berdiri dan berjalan bersama menuju ruang makan yang berada di dapur.
Aiman melihat-lihat sekeliling dalam rumah Yasmin, terlihat rapi dan sedikit luas. Rumah dua lantai hanya di tempati bertiga, dan semua penghuninya perempuan.
Yasmin duduk di meja makan, memperhatikan Yasmin mengambil piring dan nasi. Dapur bertepatan dengan halaman belakang yang tidak terlalu luas, mungkin untuk tempat menjemur di sana. karna halaman belakang terbuka tanpa atap hanya dinding tinggi sebagai batasan.
" Bik Imah mana?" Tanya Aiman, menerima sepiring nasi putih dari Yasmin.
" Mungkin di kamar kak.. Kasihan bibik juga capek jagain mama kalau aku sekolah." Jawab Yasmin, membuka tudung saji di atas meja makan. Beberapa menu makan siang sederhana di masak oleh bik imah.
" Maaf ya kak, Bik imah cuma masak ini. Gak apa-apa kan?" Ucap Yasmin, menyuguhkan makanan sederhana pada kekasihnya.
Sayur bayam, bergedel jagung, tempe dan juga tahu goreng. tidak lupa juga sambal terasi. Makanan simpel di saat Yasmin harus mulai mengirit pengeluaran. Karna mamanya sedang sakit dan juga butuh biaya cukup banyak.
Dan ya, dirinya harus mulai mencari pekerjaan sampingan agar bisa bertahan hidup. Dan mungkin, ia juga harus memberhentikan bik Imah, karna tidak mungkin ia mempekerjakan Bik Imah di saat ekonominya mulai sulit.
Bila dulu mamanya bekerja, menghamburkan uang dan bisa menghidupinya dengan cukup. Tapi saat ini, mamanya masih terlihat trauma dan takut untuk keluar hingga uang tabungan mama tidak mungkin cukup bertahan sampai dua bulan ke depan.
Bagaimana pun caranya Yasmin akan mencari pekerjaan. Ya, ia akan menanyakannya pada Lintang nanti.
" Enggak apa-apa dek... Ini juga sudah nikmat. Ayo makan." Jawab Aiman dengan senyum.
Makanan sederhana, yang sudah terbiasa ia makan sebelum mengenal Yasmin dan berusaha sendiri hidup sederhana tanpa bantuan ke dua orang tuanya.
Yasmin membalas senyuman Aiman, dan menikmati makan siang bersama dengan kekasihnya di rumahnya untuk pertama.
Kesan yang sedikit buruk." Ucap Yasmin dalam hati.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃