
" Mbak kalau pulang sore itu bilang-bilang.. Atau kabari aku gitu? Biar bunda gak cemas, biar ayah juga gak marah sama mbak." Ucap Abbas, menasehati Lintang yang duduk di jok motor belakang dengan wajah datar.
" Udah biasa ayah tiri kamu marah-marah sama aku." Jawab Lintang.
" Ya kan marahnya demi kebaikan kamu mbak? Lagian ayah mbak Lintang juga takut mbak kenapa-napa. Di telpon gak bisa, di kirim pesan masih belum centang biru." Kata Abbas.
Bukan membela Ayah tiri dan bundanya, tapi memang raut wajah ke dua orang tuanya sangat khawatir dengan anak putrinya yang tak kunjung pulang dari sekolah sampai menjelang matahari terbenam.
Bila Lintang mengabarinya, tentu saja orang tua tak akan sekhawatir ini. Apa lagi Bundanya, Seakan Lintang yang paling di sayang di antara dua anak lelakinya.
Saskia tipe ibu-ibu yang sangat perhatian dan takut dengan keadaan anak-anaknya, termasuk Lintang. putri tirinya yang selalu bisa membuatnya cemas dan menangis. Putri tiri yang tak ada habis dengan kelakuan nakalnya, tapi tetap dia menyayangi putri tirinya. Abbas tak habis pikir dengan sikap ibunya itu. Semua kejelekan Putri tirinya seakan di sembunyikannya, entah itu pada kerabat, orang lain atau juga pada suaminya sendiri.
Tidak pernah Saskia sekecil pun membuka aib putri tirinya. Dan akan selalu bundanya itu membela serta melindungi Lintang, seperti bunda melindungi dua anak kandungnya.
Lintang juga merasa bersalah, melihat ibu tirinya yang khawatir padanya. Ada rasa di hati seakan sesak melihat ibu tirinya khawatir padanya.
Kenapa itu bukan ibu kandungnya? Kenapa orang lain yang khawatir padanya.
Ketulusan ibu tiri seakan membuat dinding pembatas di hatinya perlahan-lahan retak untuk menghancurkan rasa yang sulit sekali untuk ia inginkan sebagai seorang anak.
Entah kenapa kali ini Lintang tidak seperti biasanya. Saat Ayahnya memarahinya, dirinya akan melawan. Tapi kenapa malam itu Lintang diam dan tak menjawabnya. Dan ibu tirinya selalu menjadi penengah serta membelanya.
Mungkin inilah, keajaiban dari ibu tiri baik.
" Mbak? Dengar gak sih!" Tegur Abbas. sebagai adik, dirinya juga harus perlu menasehati kakaknya ya walaupun bukan saudara kandung.
Lintang berdecak, membuang nafas " Iya?" Jawab Lintang.
" Jangan iya iya aja. Harus di ingat!" Tekan Abbas.
" Iya, Abbas!! aastaga, bawel banget tau gak kamu pagi ini." Ketus Lintang, memalingkan wajahnya untuk melihat ke samping.
" Demi kebaikan!" Ucap Abbas ketus. melajukan kembali motornya menuju sekolah Lintang.
****
Lintang yang biasanya ikut bersama Yasmin dan Bimo ke kantin. Kini dirinya memilih menyendiri, mencari tempat sepi untuk biasa menenangkan pikiran rumit akhir-akhir ini.
Berjalan menuju belakang sekolah, terdapat gudang tua yang sudah tidak di gunakan. Duduk di bawah rindang pohon, terdapat bebeberapa kayu tua bertumpukan. Lintang, lebih suka menyendiri di saat pikiran dan hatinya mulai rumit.
Mengeluarkan satu bungkus rokok dan pematik di dalam saku rok sekolahnya. Lintang mengambil sebatang rokok dan menyalakan pematik untuk membakar ujuk rokoknya.
Sudah terbiasa dan candu menghisap rokok baginya yang menenangkan. Mungkin orang akan bilang, dirinya gadis nakal. Dan akan Lintang akui, memang dirinya anak yang nakal tapi tak pernah mengajak temannya untuk mengikuti jejaknya. Bersembunyi adalah yang terbaik.
Satu kali mengeluarkan asap dari bibir mungil Lintang, menatap langit awan putih yang berjalan dengan pelan hingga berganti awan lain.
Stres membuatnya tak bisa berpikir jernih. Ibu Sambung yang baik, Ayah yang di benci, pekerjaan sambilan yang menumpuk dan anak-anak asuh yang butuh kebutuhan setiap hari.
Bila ada yang bilang uang jajan Lintang begitu banyak hingga bisa memberikan anak-anak rumah kita kebutuhan tercukupi itu salah. Lintang seperti anak pada umumnya. Setiap hari, uang jajan Lintang tak lebih dari lima puluh ribu. Uang yang cukup lah untuk anak pelajar.
Memang cukup buat lintang jajan. Tapi tak cukup di sisihkan untuk anak-anak rumah kita. Mempunyai otak cerdas, Lintang mencari kerja tambahan sebagai seorang freelance. Pekerjaan sampingan yang bisa menggajinya dua sampai tiga juta lebih dalam sebulan.
Sekali lagi, Lintang menghisap nikotin di tangannya. Bersandar di pohon dan sedikit menutup mata.
" Ekhhmm." Tegur suara laki-laki dari belakang, membuat Lintang membuka mata. membuang sisa batang rokok dan menjatuhkan bungkus rokok serta pematik di samping kakinya. Menggesernya kebelakang dengan kakinya agar siapa lelaki itu tidak melihat bungkus rokoknya.
Takut bila itu seorang guru atau penjaga sekolah.
" Kamu ngerokok?" Tanyanya, yang kini sudah berada di samping Lintang. Membuat Lintang menoleh dan mendongak menatap wajahnya.
Bernafas lega dan berdecak sebal saat melihat siapa ysng membuat jantungnya hampir copot.
" Kamu Bim?" Lirihnya. " Kenapa kamu di sini?, Yasmin mana." Tanyanya. Menoleh kebelakang mencari Yasmin yang mungkin juga ikut memergokinya.
" Yasmin ada di kelas." Jawab Bimo. Masih menatap lekat Lintang dan melihat putung rokok di samping kaki Lintang yang belum terinjak sempurna.
" Terua kenapa kamu di sini?"
" Ya, seharusnya aku yang tanya. Kenapa kamu di sini, ngerokok lagi!" Kata Bimo, mata menunjuk bawah samping kaki Lintang.
Lintang segera menginjak putung rokoknya. Dan menatap kembali Bimo yang mengerutkan kening.
" Kenapa? Gak boleh? atau gak mau lagi temenan sama aku, yang ternyata anak nakal suka ngerokok." Sinis Lintang, Kini membuat Bimo menggelengkan kepala cepat.
" Ngomong apaan sih kamu Lin! Gak gitu juga kali." Sinis Bimo, kini duduk di samping Lintang yang sedang memungut bungkus rokok dan juga pematik.
" Ternyata omongan kamu benar ya, kalau kamu pernah di keluarin sekolah karna ngerokok." Ingat Bimo, saat pertama kali berkenalan dengan Lintang. Bimo pikir gadis ini hanya membual dan tak mungkin bisa merokok.
Nyatanya dirinya terheran-heran. Apa yang di katakan dan di lihatnya langsung membuatnya percaya. Bila Lintang memang gadis perokok.
" Cih... ternyata kamu pikir aku anak pembohong." Sinis Lintang. melirik sinis pada Bimo, membuat Bimo meringis dan menggaruk kepala yang tak datang.
" Sekarang aku percaya kok!" Kata Bimo, memiting leher Lintang dan mengacak rambutnya berkali-kali.
" Bimo!!!" Seru Lintang, memukul tangan Bimo yang mengacak rambutnya.
" Ayo cepat ke kelas, aku sama Yasmin udah bawain jajan banyak buat kamu." Ucap Bimo menarik tangan Lintang masih duduk di atas kayu. Mengendus kesal Lintang berdiri dengan malas dan berjalan di sisi Bimo.
" Kamu tau dari mana aku di sini?" Tanya Lintang. Membuat Bimo menoleh dan tersenyum.
" Rahasia!" Seru Bimo. Lagi-lagi berdecak dan melangkah cepat meninggalkan Bimo yang tertawa.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃