Our Story

Our Story
Hadiah



" Makasih sudah di anterin pulang." Ucap Lintang, memberikan helm yang di pakainya pada Satya.


" Sama-sama baby." Jawab Satya senyum menggoda.


" Ih.. Geli Sat!"


Satya tertawa, senang sekali menggoda Lintang. Tapi ia memang suka memanggil Lintang baby, baginya Lintang masih seperti bayi kecil yang menggemaskan.


" Udah sana pulang, sudah malam." Usir Lintang.


" Ogah pulang nih Lin.. Mau sama kamu terus! Aku boleh gak tidur di sini."


" Mau di gorok kamu sama Pak Teguh!" Seru Lintang melototkan mata pada Satya yang semakin mengesalkan.


Satya tertawa sambil menggelengkan kepala. Tidak mungkin juga ia bisa menginap di rumah Lintang. yang ada benar kata Lintang kalau pastinya akan di gorok Om Teguh bila berani menginap di rumah seorang gadis.


" Ya sudah sana pulang!" Ketus Lintang, sebal sekali melihat Satya. Walau sebenarnya ia juga masih ingin bersama lelaki itu, tapi sayang jamnya sudah menunjukkan alarm untuk balik ke rumah, meskipun itu di hari libur.


" Sebentar Lin. Aku punya sesuatu buat kamu." Ucap Satya, sambil menggeledah tas ransel kuliahnya. Membuat Lintang mengerutkan kening melihatnya.


" Ini." Satya menjulurkan kotak berudu kecil berwarna hitam pada Lintang.


" Apa?"


" Lihat saja sendiri." Ucap Satya, membuat Lintang mengendus kesal dan mengambilnya sedikit ketus.


" Kamu mau ngelamar aku?"


" Boleh, kalau kamu mau besok aku lamar deh!"


" Hih!" Sebal Lintang, dan membuka kotak warna hitam.


Sepasang anting putih berbentuk bulan di tambah hiasan gantung bawah berbentuk bintang. Begitu elegan dan manis.


Lintang tersenyum tipis, ia mengerti apa arti hadiah yang di kasih Satya padanya. Anting yang tidak pernah lagi menghiasi telinganya semenjak ia menjualnya untuk membayar pendaftaran sekolah saat ke dua orang tuanya bercerai dan menelantarkannya.


" Kamu pasti cantik kalau pakai itu di acara nikah Yasmin nanti." Kata Satya.


" Pakai ya? Jangan pernah di lepas." Imbuhnya dengan senyum.


" Aku gak janji. Tapi makasih hadiahnya." Ucap Lintang, ikut tersenyum menutup kotak kecil hitam dan menaruhnya ke dalam tas.


" Aku pamit ya, besok mau pergi."


" Kemana?"


" Ke hati kamu, selamanya?"


" Ih!!"


Satya tertawa. " Ada acara tour kampus ke luar kota tiga harian di sana. Jadi aku gak bisa jemput kamu dan ngobrol lagi selama tiga hari."


" Lewat telpon kan bisa Sat?"


" Kalau kamu gak malas balas atau angkat telpon."


" Sibuk Satya!" Bela Lintang.


Memang begitu sibuk, sampai ponsel pun jarang sekali ia pegang. Membalas pesanpun lama, mengangkat telpon apa lagi. Butuh berkali-kali ponselnya harus berdering hingga terdengar di telinga Lintang.


Bukan maksud mengabaikan sebenarnya, tapi memang Lintang sangat sibuk dan selalu menghadap layar laptop saat ia mulai bekerja ofline.


" Jangan nakal, jangan lupa makan, jaga kesehatan dan jangan suka keluyuran malam-malam lagi kalau enggak ada aku." Ucap Satya.


Lintang menatap dalam satya, lelaki di hadapannya seakan pergi jauh saja darinya. Padahal hanya ke luar kota selama tiga hari, tapi nasehatnya begitu panjang.


" Dengarkan Lintang?"


" Iya Satya, iya!" Decak Lintang. " Udah sana pulang!" Usirnya.


" Iya, aku pulang. Nanti kalau sudah sampai rumah aku kabarin."


Senyum itu seakan tak akan pernah bisa hilang dalam ingatannya, dan lelaki yang kini sudah menghilang dari pandangannya seakan tak rela untuk dia pergi.


" Miss you too, Satya." Gumam Lintang.


*****


" Bagaimana persiapan nikahan kamu Yas?" Tanya Lintang, duduk bersama tiga sahabatnya di cafe tempat milik kekasih Yasmin.


Ya, mereka berjanjian berkumpul di cafe Aiman selepas dari tempat sekolah mengurus berkas kelulusan.


" Tujuh puluh pesen, berkat mama Kak Aiman semuanya berjalan cepat." Jawab Yasmin, sambil melihat kekasihnya yang sedang menjadi kasir.


" Enggak akan ilang Yasmin! Dari tadi lihat calon suami melulu!" Gerutu Bimo, membuat Yasmin mengerutkan bibir.


" Lain kali kalau ngumpul jangan di sini, salah aku cati tempat!" Gumamnya.


" Aku malah suka di sini. Gratis!" Timpal Galuh, mendapat tatapan malas dari Bimo.


" Beneran enggak mau kasih undangan buat teman kelas kita?" Tanya Lintang.


Yasmin menggeleng. " Enggak, cukup kalian saja. Lagian aku juga gak mau ngrayain pesta pernikahan."


" Pihak kak Aiman?" Sela Galuh.


" Itu pasti, mama kak Aiman ingin pesta buat kak Aiman. katanya juga ingin rekan-rekan kerja papa Kak Aiman biar tau, kalau putranya sudah menikah." Jawab Yasmin.


" Kamu keberatan?" Tanya Bimo.


" Enggak, malah aku marasa bersalah. Seharusnya pihak perempuan juga turut adil, tapi akunya saja yang enggak mau pesta pernikahan." jelas Yasmin.


merasa bersalah karena pernikahan Aiman tidak seperti apa yang di harapkan Mamanya. Meskipun begitu, Mama Aiman tidak menyalahkannya. Beliau tau bila itu adalah privasi keluarga Yasmin, karena ingin melindungi mamanya dari orang-orang yang mungkin saja mengenal mamanya. Dan juga Yasmin tak ingin Mertuanya nanti juga mendapat cemooh dari orang yang mengenal mamanya.


Dirinya seperti anak durhaka saja, tapi ini juga demi kebaikan ke dua pihak. Agar tidak di rugikan satu sama lain. Dan untungnya Aiman menyetujuinya.


" Itu memang yang terbaik Yas." Dukung Lintang, membuat Yasmin tersenyum.


Suara pesan di ponsel Lintang berbunyi. Lintang membukanya dan tersenyum saat mendapatkan pesan dari Satya.


Satu foto Satya berdiri di hamparan kebun teh, di pagi hari.


" Aku ganteng ya." Tulis Satya, membuat Lintang menahan senyum.


" Lagi di mana?" Tanya Satya.


" Jadi benar kamu pacaran sama mas Satya?" Tanya Galub, yang entah kapan sudah ikut melihat pesan di ponselnya. Dan Lintang menonyor kening Galuh.


" Kepo!" Seru Lintang.


" Beneran Lin! Kamu pacaran sama Mas Satya." Tanya Yasmin, antusias sekali menanyakan kedekatan Lintang dengan Satya, kakak kelasnya dulu.


" Enggak, kata siapa?" Elak Lintang.


" Tuh, Bimo." Kata Yasmin.


" Satya sering masang status foto kamu di chatnya. Mangkanya aku kira kamu pacaran sama dia." Terang Bimo, tidak terima terintimidasi dari tatapan Lintang.


" Aku enggak pacaran sama Satya Bim! Sok tau kamu."


" Tapi kenapa tu Satya sering update status foto kamu Lin kalau kalian enggak pacaran."


" Mana aku tau! Tanya aja sama dia. Intinya aku sama dia cuma teman, enggak lebih." Terang Lintang.


Tapi memang benar, Satya selalu mengapdate fotonya di story chat maupun media sosialnya. Tidak pernah lelaki itu mengapdate foto wanita lain selain keluarganya dan dirinya. Foto yang tidak pernah Lintang tau kapan Satya memfoto dirinya tiap bertemu.


Seperti lelaki itu sering sekali mengabadikan foto dirinya dan bisa mungkin memenuhi memori ponselnya.


" Teman tapi mesra." Goda Bimo, di ikuti Yasmin dan Galuh ikut tersenyum menggoda padanya.


Lintang berdecak, sedikit menggelengkan kepala dan tersenyum melihat tiga sahabatnya.