
" Sudah? Ayo sekarang Ayah antar kalian pulang." Ucap Teguh, setelah selesai membayar administrasi biaya rawat inap Ferdi.
Lintang, Tina dan Ferdi mengangguk tersenyum. Membantu Ferdi turun dari ranjang dan duduk di kursi roda. Lintang mendorong kursi roda ferdi, Tina membawa dua tas berisi pakaian Ferdi selama di rumah sakit.
Teguh berada di sisi Putrinya, sedangkan Saskia ikut membantu Tina membawakan satu tasnya.
" Makasih Yah." Ucap Lintang, saat berada di pintu lift tertutup.
" Sama-sama Nak?" Jawab Teguh, mengusap rambut anaknya dengan lembut.
Untuk pertama kali selama tiga tahun kini Lintang bisa merasakan kembali kasih sayang ayahnya, Kasih sayang yang ia rindukan dulu.
Saskia bisa melihat, senyum indah Lintang pertama kali terbit di bibir manisnya. Ia tau putrinya itu hanya ingin sekali di sayang dan juga di berikan perhatian oleh ayahnya.
Semalam saat dirinya berada di kamar bersama Teguh, ia memberikan pengertian pula pada suaminya. Memberikan kata-kata yang mungkin membuat hati suaminya terbuka.
" Lintang hanya perlu kasih sayang dan perhatian dari ke dua orang tuanya Mas? Aku tidak menyalahkan mas atau mbak Rosa. Tapi perceraian itu memang sangat terdampak pada anak-anak. Abbas juga pernah merasakannya Mas? Tapi aku, memberikan semua pengertian pada Abbas. Kalau papa dan bundanya tidak bisa bersama lagi. Sebisa mungkin, aku akan membuat Abbas tidak haus dengan kasih sayang dari orang tuanya? "
" Jadi... coba mas berikan perhatian pada Lintang, Habiskan waktu mas untuk Lintang kali ini. Lintang hanya butuh kasih sayang ayahnya. Itu saja. Jangan khawatir mas tidak bisa adil dengan Ali dan Abbas. Aku akan membuat mereka mengerti."
Dan begitulah, sudah empat hari ini Teguh memberikan perhatian lebih pada Lintang. Memberikan kebebasan pada putrinya untuk berpendapat dan apa yang sedang ia inginkan, Teguh akan mencoba memberikannya. Hari Ferdi di mana sudah di bolehkan pulang, Lintang berkata pada Teguh, bila uangnya untuk melunasi biaya rumah sakit tidak cukup hingga itu, ia meminta tolong pada Ayahnya untuk melunasi sebagian biaya administrasinya dan berjanji Lintang akan mengembalikan uangnya bila dirinya sudah mendapatkan gaji bulan esok dari hasil kerja oflinenya.
Teguh mengatakan bila tidak perlu untuk di kembalikan, anggap saja ayahnya memberikannya untuk Ferdi dan juga putrinya yang sudah menjadi anak berbakti sosial pada anak-anak yang membutuhkan.
Teguh dan Saskia sepakat akan menjadi donatur tetap di rumah singgah yang di bangun putrinya dengan perjuangannya sendiri. Lintang senang, dan terharu dengan keinginan ke dua orang tuanya. Itu artinya, anak-anak singgah tidak akan lagi merasakan kelaparan dan meminta sumbangan ke sana kemari.
Tidak hanya itu saja, dua orang tuanya juga akan membantunya mencari donatur untuk rumah singgah. Mempromosikannya pada teman-teman ayah atau bundanya.
Kini sudah ada empat donatur tetap, dan keinginan anak-anak singgah yang ingin sekolah tinggi pasti akan tercapai. Semoga saja, dan Lintang akan tetap memperjuangkan pendidikan anak-anak singgah.
Berhenti tepat di lobby rumah sakit.
" Ayah mau ambil mobil dulu." Ucap Teguh.
" Tungguh yah?" Cegah Lintang, membuat teguh berhenti dan menatapnya.
" Aku tidak bisa ikut anterin Ferdy, Nanti biar Tina yang nunjukin jalannya. Gak apa-apa kan Yah, Bun?"
" Kamu mau kemana?" Tanya Teguh, menelisik mata putrinya yang kini berubah sendu.
Lagi-lagi ia bimbang, ingin mengatakan sesuatu. Sekelebet pandangan matanya melihat suami mamanya sedang mengantri obat dengan wajah sedikit lelah. ia tidak bisa membiarkan suami mamanya menanggung kelelahannya sendiri, sudah tiga hari ia tidak menjenguk atau bergantian merawat mamanya bersama Om Roy. Ia merasa bersalah, karna terlalu sibuk dengan sekolah dan juga pengobatan ferdi. Padahal, om Roy pasti juga sangat membutuhkan dirinya.
" Aku masih ada urusan di sini Bun, Yah?" Jawab Lintang. " Aku janji akan cerita sama ayah dan Bunda nanti, Jadi tolong bunda sama Ayah jangan tanya lagi... Ada urusan apa aku di sini. Bunda, Ayah tenang saja. Aku enggak akan macam-macam." Imbuhnya.
Ada nada peringatan dan juga sedikit tekanan untuk ayah dan bundanya tidak mencaritau tentang apa yang akan di lakukannya.
" Baik, Ayah percaya. Tapi ingat, gak boleh pulang malam-malam." Kata Teguh, mempercayai putrinya.
Walau sebenarnya ia sangat penasaran akan apa yang di lakukan putrinya di rumah sakit. Pasalnya Ferdi sudah keluar dari rumah sakit, untuk apa putrinya ingin menetap di rumah sakit lagi?
Sama halnya dengan Saskia, ia penasaran hanya saja putri sambungnya sudah memperingatkan dan mengatakan akan menceritakannya nanti. Ia tidak bisa memaksa, karna Lintang tidak bisa di paksa. Gadis itu pasti akan menceritakannya sendiri setelah dia akan tenang dengan pikirannya atau beban yang semakin berat di otaknya.
" Kalau gitu bunda dan Ayah pulang anterin Ferdi sama Tina. Kamu hati-hati ya mbak, jangan pulang larut malam. Kabari Bunda atau Ayah bila terjadi sesuatu." Ucap Saskia lembut.
Lintang mengangguk tersenyum, dan memeluk Bundanya tanpa malu. Lintang bersyukur mempunyai ibu sambung yang baik seperti Saskia. Wanita itu begitu sabar dan perhatian dengannya, Ayahnya sangat beruntung mendapatkannya.
Bukan ayahnya saja yang beruntung mendapatkan pasangan sangat baik, Mamanya juga sama. Mendapatkan pasangan yang sangat baik serta merawatnya dengan tulus. Mungkin, bila lelaki itu bukan Om Roy, sudah pasti Mamanya akan terlantar dan di tinggalkan. Karna Mamanya wanita yang mempunyai penyakit serius.
Hanya sepuluh persen dari lelaki yang setia mau merawat wanitanya. Dan hanya wanita yang tulus menerima lelaki apa adanya.
Lintang melambaikan tangan saat kedua orang tua dan dua temannya sudah masuk ke dalam mobil dan berjalan pelan keluar halaman rumah sakit. Lintang tersenyum, bernafas lega urusan Ferdi sudah selesai. Dan kini hanya tinggal satu yang harus ia rawat dengan penuh perhatian.
Mamanya.
Lintang melangkah kembali masuk ke dalam rumah sakit. Menaiki lift menuju ruang rawat inap di mana Mama dan papa tirinya ada di sana.
Membuka pintu kamar, mendapati seorang lelaki menyuapi mamanya dengan lembut.
" Lintang?" Sapa Roy. Membuat Rosa sedikit terkejut dengan hidung yang masih terdapat selang oksigen.
" Ada putri kamu?" Bisik Roy. Mata Rosa berkaca-kaca bibir pucatnya tidak bisa menyembunyikan senyuman indah kala Lintang melangkah menuju ke arahnya.
" Mama?" Sapa Lintang lembut.
Tidak bisa menyembunyikan air mata kebahagiannya saat putrinya memanggilnya mama. Rosa menelantangkan ke dua tangannya, meminta sang anak untuk masuk ke dalam pelukannya. Dengan senang hati, Lintang menghambur memeluk mamanya, menangis bersama dalam rasa bahagia dan juga kesedihan.
Sungguh ini pertemuan yang memilukan.