
" Aku belum menjawab ajakan nikah Kak Aiman." Ucap Yasmin.
" Takut?" Tebak Bimo.
Membuat Yasmin menghembuskan nafas berat dan berkata. " Aku tidak takut nikah, aku cuma takut sama orang tua kak Aiman saja."
Bimo berdecak menghembuskan nafas berat dan menatap kasihan sahabatnya. Bukan Hanya Bimo, Lintang juga sama kasihan dengan Yasmin. Ya, menikah tidak membuat Yasmin takut. Hanya saja yang ia takuti tidak mendapat restu dari ke dua orang tua Aiman. Apa lagi masa lalu ibu Yasmin sangat fatal, dan para calon mertua pastilah tak akan ada yang mau berbesanan seperti ibu Yasmin.
Bukankah mencari calon menanatu harus menentukan bibit, bebet dan bobot. Hal yang sangat mengecewakan, bila harus mengurus tingkat derajat dan kapasitas calon menantu. Apa lagi Aiman seperti bukan dari keluarga yang biasa-biasa saja.
" Belum pernah bertemu orang tua kak Aiman?" Tanya Lintang.
" Belum pernah." Jawab Yasmin, menggeleng pelan. Hingga Bimo dan Lintang kembali diam, menatap lekat sahabatnya.
" Memangnya kenapa harus takut?" Kini Galuh bersuara, menyimak bercakapan tiga temannya yang belum sepenuhnya ia pahami tapi bisa ia mengerti akan permasalahan Yasmin.
" Takut kalau tidak di restui?" Imbuhnya.
Yasmin mengangkat ke dua bahunya, ia juga tak tahu kenapa harus takut. Mungkin itu juga salah satunya?
Tidak di restui.
Tapi bukankah itu adalah rintangan yang harus di lalui sebagai sepasang kekasih, untuk meminta restu walaupun tidak di restui akan tetap selalu mencoba hingga benar-benar sepasang kekasih itu lelah dan tak sanggup lagi harus berbuat apa meluluhkan hati orang tuanya.
" Belum bertemu sama orang tua Kak Aiman kan? Jangan berprasangka buruk, coba saja dulu. siapa tau di restui." Kata Galuh.
" Kalau mereka tau latar belakang keluargaku, apa lagi.. Mama aku."
" Yas?" Lintang menepuk lengan Yasmin. Membuat Yasmin menoleh padanya.
" Benar kata Galuh. Jangan berprasangka buruk dulu, Kamu belum mencobanya. Orang tua kak Aiman memang belum tau latar belakang keluarga kamu. Mungkin... awalnya mereka akan menerima, tapi setelah tau? Mereka akan memutuskan merestui atau tidak. Tapi, kamu harus siapkan diri dan jangan pernah menyalahkan mama kamu suatu saat nanti. Bagaimana pun kamu harus membelanya. Karena kamu satu-satunya yang di milikinya, setelah suaminya." Jelas Lintang.
Ada rasa nyeri di hati Yasmin, tapi benar kata Lintang. Jangan pernah menyalahkan keadaan, terutama pada masa lalu pekerjaan mamanya. Menyiapkan mental dan hati yang kuat. Mungkin ia tidak bisa melaluinya sendiri, tapi ia tidak sendiri. ada tiga sahabat, mama dan juga bik Sum yang masih peduli dan sayang dengannya. Memberikan dukungan dan juga pelukan keluarga hingga membuat dirinya tidak merasa sendiri lagi.
Menyerah atau masih berlanjut.
Menyerah saat sudah tak bisa lagi untuk berjuang sendiri. Atau berlanjut dan akan menerima akibatnya suatu saat mendatang.
Pilihan yang sulit, tapi Yasmin akan mencobanya. Mengalahkan rasa takut dan mental hati yang harus kuat.
*****
" Maaf lama jemputnya." Ucap Satya, duduk di atas motor berada di depan rumah Yasmin.
" Enggak apa-apa." Jawab Lintang, menerima helm dari tangan Satya dan memakainya.
" Lulus?"
Lintang mengangguk, tersenyum menngembang.
Lintang senyum malu, menutup kaca helm Satya agar lelaki di hadapannya ini tidak menggodanya terus menerus.
" Traktirnya nanti saja, anterin aku dulu ke mama, bisa?" Pinta Lintang.
" Asal tidak ada banjir-banjir air lagi di pipi kamu."
" Enggak janji."
" Ya sudah gak akan aku antar."
" Ya sudah gak papa, aku bisa minta tolong Bim-,"
" Iya iya aku anterin!" Potong Satya, susah sekali mengancam gadis di depannya ini. Dan sulit untuk menolak permintaannya. Malah dirinya yang mendapatkam ancaman.
Lintang tersenyum dan naik di atas motor Satya. "Ayo!" Semangat Lintang, membuat Satya itut tersenyum. Menyalakan motor gedenya dan menuju ke tempat di mana sang putri menginginkannya.
Tidak perlu bertanya kemana tujuan Lintang dan di mana alamatnya, karena satya sendiri sudah tau dan selalu dirinya yang menemani Lintang berkunjung tempat mamanya.
Tempat di mana yang selalu membuat Lintang menangis dan bercurah hati kerinduan pada mamanya, tempat di mana Lintang sering berkunjung dan berlama-lama di sana. Tidak peduli siang, sore dan malam. Hingga dirinya harus menyadarkan gadis rapuh itu untuk tidak lagi berlarut-larut dalam kesedihan.
Kerana apa yang sudah di ambil Tuhan tidak akan pernah bangkit lagi. Dan apa yang selalu di tangisi akan membuat orang di sana juga ikut menangis dan tidak akan tenang hidup damai di dunia lain.
Ya, di sinilah tujuan Lintang bertemu Mamanya. Gundukan tanah berlapis marmer hitam mengitarinya di tambah tulisan batu nisan bernama Rosa, serta tanggal lahir dan wafatnya almarhum mamanya.
Sebuket bunga Mawar untuk mamanya, Lintang duduk samping makam dan mengusap mana mamanya di dalam tulisan nisan.
" Ma.. Lintang datang." Lirih Lintang dengan senyum.
" Maaf ya ma, dua minggu ini aku enggak pernah jenguk mama. Aku sibuk sama ujian sekolah... Tapi mulai hari ini, aku udah enggak sibuk lagi ma. Ujian ku sudah selesai, dan aku lulus sekolah. Mama pasti bangga kan kalau nilaiku bagus. pasti mama senang, meluk aku nagis bahagia karena aku lulus dan pasti mama akan berikan aku hadiah seperti dulu." Setetes air mata Lintang kembali membasahi pipinya, Lintang tak sanggup lagi menahannya.
Menghembuskan nafas berat, menghapus air mata dan berucap kembali. " Ma.. Aku kangen mama." Imbuhnya.
Ya, inilah yang membuat Satya selalu khawatir melihat Lintang menangis di atas batu nisan mamanya. Ia tidak bisa melihat Lintang menangis, hatinya begitu perih seperti tertusuk jarum. Walaupun ia tau bila kehilangan orang tua sangatlah menyakitkan hati. Terutama kehilangan seorang ibu.
Rosa meninggal tiga bulan yang lalu, di mana semua permasalahan masa lalu sudah berakhir dengan damai dan saling memaafkan. Dan dua bulan Lintang menghabiskan waktu bersama ibunya di rumah sakit tanpa mau ada yang menggantikan posisinya.
Ia ingin merawat ibunya, menebus semua kesalahan yang pernah ia buat sebelum ia menyadari tindakan ibunya demi dirinya dan juga Ayahnya.
Dua bulan bersama ibunya terasa sangat singkat. Berbagi satu ranjang di ruang kamar inap, tidur bersama saling berpelukan. Menyuapi ibunya dan juga membasuh tubuh ibunya. Sungguh ia masih kurang berbakti pada sang ibu, yang begitu menyayanginya tanpa pamrih.
Air mata Lintang terus mengalir deras hingga terdengar suara isak kecil dari bibirnya. Satya menyentuh bahu Lintang, membuat Lintang tersadar dan dengan cepat menghapus air matanya.
" Sudah mau magrib, ayo kita pulang." Ajak lembut Satya.
Lintang tersenyum tipis dan mengangguk.
" Aku pulang ya ma. Besok aku ke sini lagi." Pamitnya, sambil mengusap batu nisan dan menciun nama ibunya di sana.