
" Masih pusing?" Tanya Lintang, duduk di kursi panjang bersama Satya yang mengolesi minyak kayu putih di tengkuk leher dan juga perut.
" Udah enggak, cuma perut masih enggak enak." Jawab Satya.
" Maaf ya, gara-gara aku kamu muntah-muntah." Ucap Lintang, merasa bersalah sudah memaksa Satya ikut naik ke wahana halilintar.
Jelas sekali wajah Lintang khawatir dan merasa bersalah. Tapi sungguh, dirinya tidak menyalahkan Lintang. Memang Satya ingin sekali mencoba wahana halilintar, demi bisa menjadi keren dan macho di hadapan cewek yang di sukai. Meskipun pada akhirnya, ia malu sendiri.
Wahana yang tidak ingin di coba saat mengunjungi wisata ini, walaupun di paksa dan di beri imbalan berapa pun Satya tidak akan mau. Membagongkan memang, hanya demi mengejar cinta, rela apapun di lakukan. Meski raga lepas dari tubuhnya.
" Bukan gara-gara kamu Lin?" Ucap Satya tersenyum padanya. " Ayo jalan lagi, belum semuanya kita naiki. Apa lagi masuk ke dalam rumah hantu." Imbuhnya, dengan semangat.
Berdiri dari duduknya mengulurkan tangan ke arah Lintang. Membuat Lintang mendongak menatapnya, menerima uluran tangan Satya menggenggamnya erat dan berjalan bersama.
Kali ini tidak ada kata penolakan dari Lintang, tidak ada paksaan dan keterpaksaan. Lintang berjalan bersisian dengan Satya, saling mengayunkan tangan yang tergenggam erat dengan senyum mengembang.
Seperti sepasang kekasih.
Kembali menjajahi wahana dengan puas hingga menjelang sore hari. Tawa dan senyuman tak lepas dari dua anak ramaja menikmati liburannya. Liburan mendadak terkesan menyenangkan, tidak ada perdebatan dan tidak ada rasa lelah dari dua anak remaja itu. Ini suatu keajaiban bagi Satya, melihat Lintang tertawa, tersenyum dan juga ceria. Dan itu membuat dirinya senang, tidak sia-sia membawa Lintang ke wahana ini.
Satu yang mencuri perhatian Lintang saat masuk ke wisata ini.
Bianglala.
Pemandangan sore hari, di lihat dari ketinggian. Itu yang ia inginkan. Ingin menikmati jingga dan terbenamnya matahari.
" Mau naik itu?" Ucap Satya, membuat Lintang menoleh ke arahnya.
Ingin Lintang bilang iya, tapi apa bisa? Takut bila Satya kembali lagi takut akan ketinggian.
" Ayo?" Ajak Satya, tau bila Lintang ingin sekali menaiki bianglala. Apa lagi dengan pemandangan indah di sore hari ini.
Belum sempat menjawab, Satya menggenggam tangan Lintang. Menariknya untuk berjalan menuju wahana Bianglala.
Antrian yang sangat panjang, siapa yang tidak ingin menikmati bianglala di sore hari. Semua pengunjung ingin sekali, termasuk Lintanh san Satya. Dan kali ini harus bersabar mengantri hingga dua kali orang-orang turun dari bianglala dengan senyum sempurna.
Kini giliran Lintang dan Satya, duduk berdua di kurungan besi tanpa ada orang lagi di dalamnya. Beruntung sekali bisa menikmati berdua tanpa ada yang mengganggunya.
" Kamu gak takut?" Tanya Lintang, pada Satya.
Aneh sekali, kenapa Lintang yang bertanya seperti itu. Kenapa bukan Satya?
" Apa wajahku terlihat tegang?" Kata Satya. Lintang menelisik wajah Satya, tidak ada ketegangan seperti saat menaiki roll coster. Lintang menggelengkan kepala, membuat Satya tersenyum.
Bianglala perlahan mulai naik, Lintang menoleh ke samping melihat pemandangan yang mulai terlihat. Satya tidak menyia-nyiakan Lintang tersenyum melihat pemandangan. Ia mulai mengambil ponselnya dari saku celana, mulai membuka kamera dan mengabadikan beberapa foto Lintang di ponselnya. Merekam beberapa detik hingga Lintang menoleh tepat ke arah kamera dan menutup wajahnya dengan tangannya.
" Ih... Satya! Malu!!" Seru Lintang, membuat Satya terkekeh dan mematikan kameranya.
Satya tau, Lintang gadis yang tidak suka berfoto-foto seperti gadis lainnya. Dan ini untuk pertama kalinya, Lintang memanggil namanya. Hatinya semakin berbunga-bunga.
" Maaf?" Ucap Satya. Lintang berdecak, memanyunkan bibir dan sedikit terkejut kala bianglala berhenti tepat dirinya berada di atas.
Pemandangan yang sangat luar biasa di lihat dari ketinggian. Langit berwarna jingga, matahari bulat sempurna tanpa cahaya yang menyilau dan lautan yang tenang di isi beberapa kapal terdiam tanpa berlayar.
" Indah?" Gumam Lintang, tanpa sadar bibir menciptakan senyuman menawan.
" Hmmm, di lihat dari ketinggian memang indah." Jawab Satya, ikut memandang keindahan langit dan lautan.
Lintang menoleh ke arahnya, duduk berdua saling berhadapan tanpa ada halangan. Satya tersenyum, membuat Lintang ikut tersenyum.
" Makasih." Ucap Lintang. Membuat Satya mengerutkan kening.
Ucapan tulus dan juga senyuman terindah membuktikan, Bila gadis ini benar-benar habagia dan senang menikmati liburannya.
" Sama-sama." Jawab Satya. kembali ikut menikmati pemandangan indah.
Momen yang pas, matahari perlahan turun jingga mulai memudar perlahan berganti warna gelap dan Satu momen tanpa di sia-siakan lagi. Mengabadikan foto Lintang dari samping meskipun cahaya sedikit gelap ia bisa lihat Lintang tersenyum.
****
" Makasih sudah di anterin pulang?" Ucap Lintang, menyerahkan helm pada Satya.
" Sama-sama. Ini udah malam, Aku jadi gak enak sama orang tua kamu." Kata Satya.
Mengantarkan Lintang pulang malam hari dan gadis ini masih memakai seragam sekolah. Satya takut bila Lintang akan terkena marah pada orang tuanya.
" Enggak apa-apa kali... Aku juga sudah ijin tadi sama Bunda." Jawab Lintang. " Sudah sana pulang." Imbuhnya lagi, mulai mode galak.
" Gak mau aku pamitkan ke orang tua kamu?"
" Enggak perlu.. Udah sana." Usirnya lagi.
Satya berdecak dan mematap rumah sedikit jauh dari tempatnya berhenti. " Ya sudah aku pulang." Pamit Satya, membuat Lintang mengangguk.
Satya mulai melajukan motornya meninggalkan Lintang yang masih menatap kepergiannya hingga tak terlihat. Lintang melangkah berjalan menuju rumahnya dan tepat di depan pintu rumah ia menghembuskan nafas panjang, rasa takut mulai menjalar pada hatinya.
Kali ini akan ada lagi kemarahan dari ayahnnya, Anak perempuan pulang malam tanpa memberi kabar pada bunda dan adiknya.
Ya, Lintang berbohong pada Satya bila dirinya sudah meminta ijin dan memberi kabar pada orang tuanya. Nyatanya, Lintang lupa tidak memberi kabar pada ke dua orang tuanya ataupun adiknya. Dan kini dirinya akan menerima hukuman oleh ayahnya.
Ia sudah siap dan tidak ingin Bundanya terkena marah lagi oleh Ayahnya. Sudah cukup sekali saja Bundanya itu di bentak ayahnya dan cukup untuk tidak boleh menangis lagi.
Lintang membuka pintu, tidak terkunci dan lampu masih menyala. Perlahan masuk dan menutup pintunya kembali, meneguk seliva saat suara ayahnya terdengar.
" Dari mana kamu Lintang, jam segini baru pulang." Tanya Ayah teguh, Lintang berbalik menatap ayahnya yang berdiri di ruang tamu. Tidak jauh dari belakang ayahnya, ada Bundanya yang menatapnya.
" Ada tugas sekolah yah." Jawab Lintang. " Maaf, Lintang lupa mengirim pesan sama Ay-,"
" Kan sudah aku bilang mas... Kalau Lintang memang sedang ada tugas sekolah. Mas ini selalu aja gak percaya sama Bunda." Potong Saskia, berjalan ke arah ayah dan anak.
" Kamu sudah makan mbak?" Tanya Saskia, Lintang yang sedikit terperangah tersadar.
" Sudah Bun, tadi di rumah teman." Jawab Lintang.
" Ya, sudah sana masuk ke kamar. Istirahat, pasti capek... Tugasnya banyak kan?" Lintang menganggukkan kepala.
" Selamat malam Bun, Yah." Pamit Lintang sebelum menaiki anak tangga.
" Selamat malam sayang." Ucap Saskia, tersenyum hangat pada putri sambungnya.
Teguh hanya memperhatikan putrinya hingga menghilang dari tangga. Dan menatap istrinya yang tersenyum lembut padanya, Hanya bisa menghembuskan nafas lelah dan berjalan terlebih dulu masuk ke dalam kamar. Meninggalkan istrinya yang juga sama menghembuskan nafas lelah.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃