Our Story

Our Story
ajak jalan



Ujian kelas tiga sudah di mulai. Semua siswa siswi kelas tiga mulai mempersiapkan diri menuju kelulusan. Kesibukan kelas tiga membuat suasana sedikit lengah. Dan ada rasa lega saat jam ujian telah usai, meskipun rasa hatinya khawatir dengan lembaran jawaban soal ujian. Benar atau tidaknya, takut nilai jelek dan atau salah mengisi lembaran jawaban.


Lintang terakhir bertemu dengan Satya hanya saat di kantin dengan nasehat larangan membolos sekolah. Tidak lagi bertemu dengan Satya, membuatnya sedikit tenang dan bisa leluasa mengobrol bersama dua sahabatnya. Tapi entah kenapa, hatinya terasa sepi saja. Terbiasa di ganggu dan juga sering bertemu Satya, Rasanya seperti ada hiburan tersendiri. Ya, meskipun selalu dongkol dan sebal dengan Satya.


Sekolahan kini di isi siswa siswi kelas satu dan dua saja. Setelah kelas tiga selesai ujian dan mendapat waktu libur sejenak merilekskan otaknya.


Pulang sekolah, seperti biasa. Lintang berdiri di sebrang jalan menunggu jemputan. Dan jemputan itu bukan, Abbas tapi jemputan dari ojek online yang di pesannya melalui aplikasi ponselnya.


Ya, kesibukan abbas yang juga sama sedang mengejar kelulusan dan mendaftar di sekolah favorit membuat Lintang mengerti dan tidak marah atau protes karna tidak di jemput.


Salah dirinya sendiri, kenapa tak pernah mau memakai motor yang sudah di belikan ayahnya dan mengangguk di garasi terparkir rapi bersama sepeda milik Ali.


Menaiki Ojek onlie dan memilih bersinggah sebentar ke rumah singgah. Hanya ingin memastikan adik-adiknya sehat, baik-baik saja, dan tidak kekurangan apapun. Karna Tina dan Ferdi kini mereka ber dua sudah bekerja. tidak menyalahkan Tina dan Ferdi, Karna mereka juga butuh uang untuk tuntutan hidupnya serta adik-adiknya.


Meskipun mereka sibuk, tapi Tina dan Ferdi sebelum berangkat kerja, mereka selalu menyiapkan makan pagi dan siang hari. Dan untuk malam hari, Lintang yang akan memesankan makanan luar lewat aplikasi ojek online. Memberikan alamat rumah singgah dan tidak perlu malam-malam dirinya ke rumah singgah.


Bukannya harus begitu, berbagi tugas dan saling menyemangati.


Lintang memberikan uang pada ojek online setelah dirinya sampai di titik pemberhentiannya. Sebelum sampai ke rumah singgah, Lintang menyempatkan ke toko klontong membeli beberapa bahan makanan, seperti minyak, telur dan mie instan untuk stock anak-anak rumah singgah.


Soal beras, setiap bulan Lintang sudah menyetok dua karung beras, dua puluh lima kilo dan akan habis di akhir bulan. Tak perlu khawatir untuk kelaparan, yang terpenting ada beras dan juga telur tersimpan di kulkas. Anak-anak singgah juga tak masalah soal makanan. Makan dengan krupuk pun dulu juga pernah mereka rasakan. Tapi kini tidak lagi, semenjak Lintang mengasuhnya.


Dua kantong plastik penuh, Lintang membawanya dengan sedikit kesusahan. Hampir terjatuh bila tidak ada yang menahan plastik Lintang dari bawah. Dan membuat Lintang menoleh ke samping.


" Sini aku bawakan." Ucap si penolong, merebut satu plastik dari tangan Lintang. Hingga membuat Lintang berdecak.


" Kamu kenapa di sini?" Tanya Lintang.


" Ngikutin kamu." Jawab enteng Satya.


Ya, siapa lagi bila bukan Satya.


" Ngikutin aku!" Ulang Lintang, membuat Satya mengangguk tersenyum.


" Aku tadi ke sekolah, lihat kamu naik Ojek. Pastinya aku sudah tau kalau kamu akan ke sini. Ya sudah, aku ikutin kamu saja." Ucap Satya. " Ayo." Ajaknya lagi, untuk berjalan menuju motor terparkir tidak jauh dari toko klontong.


Lintang mengikuti Satya, Satya menaruh belanjaan Lintang di depan jok motornya dan satu lagi di bawa Lintang sendiri karna berisi telur yang takutnya akan pecah bila terkena gronjalan.


Naik ke boncengan motor matic Satya, mengendarai pelan di perkampungan penuh penduduk. Sampai di depan rumah singgah, Lintang turun dari boncengan di ikuti Satya dan juga membawa plastik belanjaan.


Rumah singgah sedikit lengah, membuka slot kunci dari dalam rumah melalui jendela kaca. Lintang menaruh barang belanjaannya, di atas meja dan menuju kamar anak-anak untuk melihat mereka.


Sudah terbiasa, di jam siang anak-anak tertidur lelap dan sebagai anak tertua ke tiga setelah Tina. Boni juga ikut tidur siang, bocah laki-laki itu sekarang harus menggantikan Tina menjaga adik-adiknya dengan baik.


Lintang tersenyum. menutup kembali pintu kamar dan berbalik terkejut mendapati Satya ada di belakangnya.


" Ngapain sih, di belakang segala!" Ketus Lintang, berjalan kembali menuju meja dapur. menata barang belanjaan dan memasak.


" Mereka tidur?"


" Enggak.. Mainan." Ketus Lintang" Udah tau tidur, masih nanya aja!" Imbuhnya, membuat Satya tersenyum.


Kenapa juga tanya, padahal dirinya juga sudah liat. bila anak-anak singgah tidur dengan pulas. Salah besar harus menanyakan lagi pada Lintang.


Lintang yang sudah selesai, berjalan menuju kamarnya. Duduk di kursi meja belajar, membuka laptop menyalakannya dan mulai bekerja menguras otak.


Lintang harus bekerja, Ya. Harus, karena sudah kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai pendiri yayasan rumah singgah yang belum resmi. Lintang jenuh dengan pekerjaannya, sedikit. Lintang butuh reflesing otaknya, butuh sedikit hiburan untuk mengembalikan mood otak yang mulai.


Menutup kembali laptopnya, mendesah pelan dan menyenderkan kepalanya di atas laptopnya.


Aku butuh liburan?" Keluh Lintang dalam hati.


" Jalan-jalan yok!" Ajak Satya di ambang pintu. Membuat Lintang menegakkan tubuh dan menoleh ke belakang.


" Ke Mall.. aku tunggu di depan." Imbuhnya lagi, mengedipkan mata dan melangkah mundur.


Seulas senyum terbit di bibir Lintang, ia harus menerima tawaran Satya. Walaupun sebenarnya dirinya enggan keluar dengan dia. Apa salahnya bila di coba, mungkin moodnya bisa kembali dan mulai bekerja dengan senang hati.


Menyambar jaket, mengenakannya dan mengambil tas. Berjalan keluar menemui Satya yang sedang menunggunya. Ternyata Satya sudah berada di atas motornya, senyum mengembang melihat dirinya dan tangannya memegang helm mengarahkan padanya.


Seakan lelaki itu tau bila dirinya butuh hiburan sebentar saja.


" Kemana?" Tanya Lintang, naik di boncengan motor Satya dan memakai helmnya.


" Ke Mall." Jawab Satya.


" Tau ke Mall..., Mall mana!" Seru Lintang.


Satya hanya meringis, padahal tidak salah tapi selalu salah di hadapan Lintang. Bukannya tanya yang benar malah dirinya yang terkena jawaban ketus dari Lintang.


Wanita itu, selalu ingin benar!


" Royal Plaza, Udah naik?"


" Dari tadi juga sudah naik, kamunya saja yang lambat."


Tuh kan tuh kan... Gemas sekali rasanya dengan Lintang. Ingin Satya sekali-kali menerkam bibir gadis di belakangnya ini yang tidak pernah menunjukkan sikap lembut padanya. Tapi karna suka, tidak mungkin juga menganiayanya.


Menghembuskan nafas sabar, menyalakan motor dan mulai meninggalkan rumah singgah menuju Mall yang sudah di ucapkannya tadi.


Tidak mungkin bila dirinya berbelok ke arah mall yang bukan di ucapkannya pada Lintang. Bisa-bisa, Lintang akan menggerutuinya kembali.


Demi mengejar cinta, ia rela sabar.


.


.


.


.


🍃🍃🍃🍃


"