
Suara ponsel berdering, membuat Lintang yang sedang duduk di balkon kamar Yasmin sambil menghisap rokok menatap sumber suara.
Satya.
Lintang tersenyum tipis, rasanya enggan sekali untuk mengangkatnya. Tapi, bila tidak di angkat telponnya, Satya akan berulang kali menelponnya. Apa lagi dia tahu bila ini adalah hari sabtu malam minggu, pastinya sudah tau apa kebiasaan Lintang.
Menginap di rumah singgah, atau di rumah Yasmin.
Satu panggilan tak terjawab, Lintang hanya menatap ponselnya yang sudah gelap. Hanya tersenyum, tidak berniat untuk menelponnya balik. Lihat saja dalam hitungan ke tiga akan ada lagi suara ponselnya berbunyi.
Satu, dua, ti-.
Dan benar saja, ponsel Lintang kembali berbunyi. Masih dengan nomer dan nama yang sama.
Satya.
Lintang menaruh rokok di atas asbak, mengeluarkan asap terlebih dulu dari bibirnya. Sebelum dirinya akan mengangkat telpon Satya.
" Di mana?" Tanyanya di sebrang sana tanpa mengatakan Hallo atau Berbasa basi.
Lintang berdecak, tersenyum miring saat mendengar Satya dari sambungan telponnya.
" Kenapa!" Ketus Lintang.
" Kamu di mana? Aku di rumah Sa-,"
" Aku di rumah Yasmin?" Potong Lintang, tanpa mau tau Satya ada di mana. Lagian untuk apa Satya memberitahunya, tidak ada gunanya juga baginya. Toh.. Itu urusan Satya, dan mana mungkin dirinya akan menyusul Satya ke sana.
Lintang yang akan mematikan ponselnya, segera di cegah Satya dengan mengatakan begitu cepat hingga membuat Lintang terkejut.
" Ferdi kecelakaan, aku sekarang lagi di rumah sakit sama Tina. Aku akan kirim alamat rumah sakitnya." Ucap Satya.
Belum sempat Lintang bertanya, Satya sudah mematikan telponnya lebih dulu.
" Ferdi kecelakaan?" Ulang Lintang, dan tidak beberapa lama mendapatkan pesan dari Satya.
Rumah sakit medika, Jln. xxx.
" Ya Tuhan.." Ucap Lintang, jantungnya mulai berdetak cepat tubuhnya sedikit bergetar saat mengetahui Ferdi masuk rumah sakit.
Lintang berdiri dengan cepat, masuk ke dalam kamar. Mengambil kunci motor dan tas di atas meja belajar Yasmin. Menuruni anak tangga begitu tergesa-gesa, membuat Aiman yang masih terjaga di ruang tv mendongak dan mengerutkan kening menatap Lintang.
" Lintang?" Panggil Aiman, membuat Lintang menoleh dan menatap Aiman yang masih menonton film sendiri. Dan Yasmin yang kembali dari dapur membawa minuman dingin untuk kekasihnya, ikut melihat Lintang yang memakai helm.
" Kamu mau ke mana Lin?" Tanya Yasmin, menaruh minuman dingin di atas meja. menghampiri Lintang yang hendak bersiap keluar rumah.
Aiman berdiri, berjalan ke arah Yasmin dan berhenti tepat di belakangnya. Terlihat ada raut wajah khawatir dari sahabat kekasihnya.
" Aku mau ke rumah sakit.. Sorry Yas, aku gak bisa nginap di rumah kamu." Kata Lintang.
" Ke rumah sakit! Siapa yang sakit Lin!" Cegah Yasmin, panik mendengar kata Lintang.
" Ferdi!" Jawab Lintang, tidak perlu lagi untuk menjelaskan siapa Ferdi. Yasmin sudah tau bila Ferdi anak rumah singgah, dan tentu saja sahabatnya itu mengenalnya. " Aku berangkat dulu."
" Malam-malam gini kamu ke rumah sakit sendiri... Aku ikut!" Kata Yasmin, mengekori Lintang dari belakang.
Lintang berbalik mengerutkan kening menatap sahabatnya. " Kamu itu capek! barusan pulang kerja.. Besok juga kerja pagi. Gak boleh ikut!" Larang Lintang.
Benar, Yasmin esok akan bekerja pagi karna setiap minggu ia sudah mendapatkan jadwal shift kerja di pagi hari. Dan sorenya ia bisa bersantai dengan mama atau para sahabatnya hingga lama. teman-teman kerjanya pun juga tidak ada masalah, mereka menyadari bila Yasmin juga butuh sift pagi hari meskipun itu setiap minggu.
" Tapi ini sudah malam! Kamu mau sendirian ke rumah sakitnya? Biar kak Aiman yang antar kamu Lin kalau gitu." Kata Yasmin
" Mau kan Kak?" Pinta Yasmin pada Aiman yang ada di belakangnya.
" Gak us-,"
" Iya gak apa-apa, lagian ini juga sudah malam. Aku antar saja ke rumah sakit." Potong Aiman, membuat Yasmin tersenyum lebar sedangkan Lintang hanya berdecak.
" Tunggu sebentar, aku ambil kunci mobilnya dulu." Kata Aiman, berjalan menuju ruang tv untuk mengambil kunci serta ponselnya.
Apa gadis ini tidak takut?
Atau sebegitu percayanya?
Rasanya sungguh tak elok, dan risih sekali bila di antar oleh kekasih Yasmin. Dalam persahabatan pun, bila sudah mempunyai kekasih tidak seharusnya juga melibatkan kekasih dalam persahabatan. Takut bila akan terjadinya kesalah pahaman ataupun rasa yang pastinya akan berubah dan pastinya akan menjadi pertengkaran hingga putusnya persahabatan atau putusnya hubungan.
Lebih baik menjaga jarak dari sekarang.
Itu adalah yang terbaik.
" Gak usah sungkan gitu kenapa sih Lin!" Sungut Yasmis. " Ini malam tau... Banyak kejahatan di jalan, apa lagi malam-malam. Aku enggak mau sahabatku kenapa-napa." Imbuhnya, sambil memasang mimik wajah sedih.
Lintang berdecak, menghembuskan nafas berat. Sungguh sahabat satunya ini begitu polos atau begitu baik. Hingga kebaikannya pasti akan menimbulkan penyesalan.
Andai ada Bimo, mungkin Lintang akan di antar Bimo dari pada di antar kekasih sahabatnya.
Menyebalkan
" Ayo." Ucap Aiman menghampiri Yasmin dan Lintang.
" Ayo Lin!" Seru Yasmin, berjalan mengapit tangan Lintang dan membawanya keluar rumah.
" Hati-hati ya Kak?" Ucap Yasmin sampai di depan mobil Aiman.
" Iya.. Kamu cepat tidur, jangan begadang. Besok bangun pagi." Perhatian Aiman.
" Iya." Jawab Yasmin tersenyum dan mengangguk.
" Kabarin aku Lin gimana keadaan Ferdi nanti." Ucapnya pada Lintang, yang sudah membuka pintu mobil.
" Hmmm.. Iya kalau gak lupa." Jawab Lintang.
" Lintang!!" Seru Yasmin, sebal sekali dengan jawaban sahabatnya dan masuk begitu saja tanpa mau mendengar protesnya.
Aiman mengacak-acak rambut Yasmin, tertawa kecil menggelengkan kepala.
" Kakak berangkat."
" Iya, hati-hati." Kata Yasmin, memeluk kekasihnya sebelum pergi mengantar Lintang.
Lintang yang melihat hanya bisa menggelengkan kepala, tersenyum tipis karna Yasmin sangat manja pada kekasihnya.
" Di mana alamat rumah sakitnya." Tanya Aiman menoleh sebentar pada Lintang, menjalankan mobil keluar dari perumahan Yasmin.
" Rumah sakit medica, jalan. xxxx." Jawab Lintang, melihat pesan Satya sekali lagi.
Aiman mengangguk mengerti, dan sedikit mulai mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang di saat jalanan sudah sepi pengendara.
Tidak ada obrolan di dalam mobil, hanya kesunyian dan suara deru mobil atau sekali-kali sautan motor yang melaju kencang menyalip mobil Aiman. Sekali-kali Aiman hanya melirik Lintang yang diam menatap jalanan, tanpa mau mengobrol dengannya.
Mungkin Aiman tau, bila Lintang merasa canggung dengannya. Dan Aiman juga tau, di mana sahabatnya di antar kekasih sahabatnya.
Satya juga tidak mengirim pesan lagi pada Lintang. Mungkin Satya sedang sibuk mondar mandir mengurus keperluan ferdi di rumah sakit.
Lintang berdoa, semoga Ferdi tidak mengalami kecelakaan yang serius. Sungguh ia takut itu dan juga ia takut akan biaya rumah sakit yang mungkin tidak akan sedikit, karna tabungan Lintang tidak begitu banyak.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃